Berbahagialah memiliki cinta

Cinta bisa bikin hati kita berbunga-bunga, dunia serasa begitu indah, pikiran tenang, jasmani sehat, bahkan kita jadi kreatif disebabkan oleh cinta. Jadi, berbahagialah memiliki cinta.

Kamu pernah dengar lagunya Teh Nicky Astria yang begini nih liriknya: “Tak ingin cinta dinodai tak ingin dihancurkan/Tak ingin kudisakiti tak ingin kudilukakan…. Aku…. ingin dicintaimu dan mencintai… Aku… ingin bila terjaga kau di sampingku selamanya…” Well, lagu berjudul “Mengapa” itu dinyanyikan dengan kemampuan suara prima Teh Nicky, seolah ingin menekankan, bahwa memiliki rasa cinta dan dicintai itu adalah sebuah anugerah terbesar yang sulit digantikan oleh rasa yang lain. Sehingga tak rela bila cinta berakhir dengan luka di hati.

Ah, kalo kebetulan yang denger lagu itu sedang kasmaran, bisa jadi tuh lagu berubah derajat sebagai lagu kebangsaan. Dinyanyikan di mana pun dia suka. Diputer kapan saja dia mau. Ya, cinta memang bisa mengubah segalanya menjadi begitu indah. Hidup terasa lebih rileks, fresh, dan tentunya lebih bersuara dan punya tenaga. Aliran darah deras mengalir tanpa sumbatan. Energinya akan memicu rasa senang yang berlebih bagi yang merasakannya.

Itu sebabnya, jangan heran pula jika jutaan lagu sudah digubah, ratusan puisi ditulis, ribuan film dibuat, entah sudah berapa ribu pula kanvas yang dilukis, untuk menggambarkan tentang cinta. Lengkap dengan definisi cinta yang beragam itu.

Tapi yang jelas dan pasti, cinta begitu indah untuk dinikmati. Cinta kelewat mahal untuk dibiarkan begitu saja tanpa dirasakan. Memang sih, cinta universal. Kita bisa mencintai ortu kita, mencintai kakak-adik, juga mencintai teman-teman kita. Bahkan dalam dimensi lain, cinta kita mampu menembus batas negara ketika melihat saudara kita di belahan dunia lain menderita. Dan… kita juga bisa mencintai Allah Swt. dan RasulNya dengan sepenuh hati dan jiwa. Yup, cinta memang universal.

Tapi kenapa cinta kepada lawan jenis selalu membuat kita betah berjam-jam membahasnya? Hampir pasti kita rayakan kemenangannya saat berhasil pdkt? Nyaris tak bisa diganti dengan rasa lain, saat kita jatuh cinta kepada seseorang yang mampu mencairkan dinding es yang selama ini kita bangun di hati. Meleleh bagai es krim kena angin. Ah, rasanya cinta kepada lawan jenis membutuhkan energi tersendiri untuk membahasnya, mengobrolkannya, dan bahkan menuliskannya.

Mungkin, alasan yang masuk akal (atau sengaja diakal-akalin nih?) adalah karena untuk menerjemahkan cinta kepada lawan jenis tidak terlalu sulit. Untuk bisa mencintai lawan jenis, cukup lewat pesonanya yang mudah ditangkap. Bisa lewat pandangan, bisa lewat pendengaran, dan bahkan kekuatan bahasa dalam sebuah tulisan. Cinta bisa datang dari situ. Buktinya, banyak yang jatuh hati ketika melihat sosok wajah yang eksotik, atau mendengar suaranya yang seksi dan menggemaskan dari sambungan telepon, dan sangat boleh jadi kita jatuh hati ketika membaca tulisannya di e-mail atau via SMS yang menaburkan benih-benih cinta dan tumbuh subur di hati kita.

Bikin hidup lebih hidup

Kayaknya udah jadi ‘kesepakatan’ umum kalo cinta itu bisa membuat hidup lebih hidup (meski bagi sebagian kalangan, cinta juga bisa menciptakan kematian dalam hidup. Itu kalo cintanya yang nggak kesampaian). Nah, secara umum pada tahap awal, setiap orang yang merasakan jatuh cinta selalu berbunga-bunga dan ceria. Kenapa? Karena cinta konon kabarnya mengandung segala perasaan indah tentang kebahagiaan (happiness), menyenangkan (comfort), kepercayaan (trust), persahabatan (friendship), dan kasih-sayang (affection).

Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Jalaluddin Rumi juga pernah bersyair: “Karena cinta, duri menjadi mawar. Karena cinta, cuka menjelma anggur segar…”. Itu sebabnya, nggak usah heran kalo naluri mencintai akan mendorong manusia untuk memenuhi keinginan cintanya itu. Orang yang jatuh cinta akan melakukan apa saja untuk menarik perhatian orang yang ia cintai (itu karena terlihat indah kali ye?).

Kalo VMJ alias Virus Merah Jambu udah menginfeksi hati kita, perasaannya kok inget terus sama si dia, pengennya ketemu terus, rindu terus ingin ngobrol, seharian nggak kirim SMS aja rasanya sakauw berat, pokoknya meski jauh jaraknya bukan halangan untuk komunikasi. Ehm, untuk menggambarkan itu seorang teman nulis puisi di internet : “walau jarak kita bagai Matahari dan Pluto saat aphelium/amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku” Huhuy!

Karena cinta bikin kita kreatif

Jangan heran kalo Napoleon Bonaparte bisa membuat puluhan ribu surat cinta kepada kekasihnya Josephine Beuharnais. Nggak usah kaget pula bila teman kamu (atau kamu sendiri?) tiba-tiba jadi penulis karbitan atau ngedadak jadi pujangga dengan lahirnya puisi-puisi keren. Itu artinya cinta memang membuat “penderitanya” jadi kreatif.

Simak penggalan surat cinta dari seorang anak teknik kimia yang, tentu saja sedang jatuh cinta, yang tersebar di beberapa mailing list: “Waktu kutulis surat ini, aku sedang menyelesaikan run-ku yang keduapuluhdua. Entahlah.. kala memandang kukus jenuh yang mengepul manja hingga terbirit malu meninggalkan boiler, aku lihat bayanganmu di sana. Bayangan syahdu, gemulai, sendu yang dihiasi dengan senyum continuous yang meneduhkan, namun di balik keteduhan itu terdapat cahaya yang sanggup memancarkan ber-joule-joule energi untuk menggerakkan turbin hatiku.”

Oke, itu contoh surat cinta hasil kreativitas yang patut dihargai. Ini kian menunjukkan bahwa cinta mampu membuat seseorang yang merasakannya menjadi lebih dinamis dalam hidup ini, menggerakkan semua potensi yang dimilikinya untuk menyambut kehadiran cinta dan menumbuh-kembangkannya di taman hati. Itulah uniknya cinta, terlepas dari cara dalam mengekspresikannya di jalur yang benar atau jalur salah, cinta tetap menciptakan kreativitas yang tak pernah ada habisnya.

Ehm, apakah kamu sudah punya cinta? Kalo belum, siap-siaplah menunggu kehadiran cinta. Ekspresikan cinta dengan tanpa cacat cela dan tanpa pelanggaran terhadap syara’. Tahan, dan tunggu saatnya ketika kuncup menjadi mekar dan berbunga. Selamat menikmati cinta dengan tenang dan (semoga) menyehatkan. [solihin]

Akhir dari sebuah penantian

Sebenarnya aku cukup sering jatuh hati kepada seorang wanita. Aku juga sudah terbiasa jatuh cinta kepada seorang gadis. Tapi biasanya itu kandas di tengah jalan. Bukan aku yang tidak cocok, tapi sang wanita yang tak merasa cocok denganku. Sehingga setiap kali mengatakan cinta setiap kali itu pula aku ditolak.

Suatu ketika, aku pun jatuh hati dan jatuh cinta pada pandangan permata kepada seorang akhwat. Tapi karena aku agak trauma, jadi kusimpan saja dalam direktori hati. Tunggu saja saatnya nanti, pikirku waktu itu. Benar saja, Allah kembali mengujiku. Aku ”ditakdirkan” jadi mak comblang oleh seorang teman untuk menyampaikan surat khitbah kepada seorang gadis yang, ternyata inceranku. Gimana rasanya coba? Perih!

Tapi aku mencoba menghibur diri, dan selalu berpikir bahwa jodoh nggak akan ke mana larinya. Singkat kata, pernyataan khitbah temanku ditolak sama akhwat inceranku itu. Tapi rupanya Allah masih mengujiku, pada kesempatan berikutnya seorang teman datang dan meminta aku menyampaikan surat pinangan kepada akhwat inceranku lagi. Ah, rasanya terlalu berat kali ini. Tapi aku tak ingin mengecewakan temanku, maka aku sampaikan juga surat khitbah itu. Entah kebetulan atau tidak, setelah berjalan sekian lama, sang teman mengundurkan diri. Jujur saja, hati kecilku gembira.

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengkhitbahnya. Alhamdulillah diterima. Asli surprise banget. Ternyata aku yang jadi ’pemenangnya’. Namun ujian itu datang kembali. Calon mertuaku ”menggantung” keputusannya dengan alasan perbedaan asal daerah. Sampai hampir setengah tahun aku nyaris dibuat frustasi. Bahkan sempat untuk mengundurkan diri saja dan meminta calonku itu untuk mencari ikhwan lain saja.

Menunggu selama hampir setahun ternyata tidak sia-sia. Penantian itu berakhir dengan jawaban dari calon mertuaku yang membolehkan kami menikah tahun itu juga. Alhamdulillah, jodoh memang tak akan lari ke mana. Cinta, ternyata juga adalah ujian, yang bisa berakhir dengan derita, atau malah bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: