Menyelami Konsep Dakwah Rasulullah saw.

Prolog

 

Allah bangga dengan hamba-Nya yang senantiasa berdakwah di jalan-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat:33)

Perhatikan betapa Allah telah menegaskan bahwa perkataan yang paling baik adalah perkataan para dai. Sebab mereka tidak berkata kecuali ajaran. setiap kalimat yang mereka ucapkan semata untuk menyebarkan kebaikan, dan kedamaian bagi manusia.

Sungguh kita hidup di zaman, di mana tangan-tangan kebatilan bekerja keras untuk merusak tatanan. Mereka gerogoti aqidah muslim dengan menyebarkan khurafat melalui film-film yang mengagungkan para dukun. Mereka rusak ekonomi dengan sistem ribawi. Mereka cemari budaya budaya dengan tebar budaya pornografi sehingga tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang. Mereka raih media dengan menawarkan hiburan yang menggerogoti akhlak dan moral generasi muda. Orang diajak tertawa dalam rentetan hiburan yang tidak bermakna. Padahal ulama mengatakan bahwa tertawa mematikan hati.

Perlu diketahui, Allah menegakkan alam ini dengan sistem yang sangat rapi. Para ahli astronomi menemukan fakta-fakta ilmiah bahwa seandainya matahari bergeser dari posisinya menjadi lebih dekat ke bumi, barang satu centimeter, niscaya bumi akan terbakar. Atau sebaliknya jika ia bergeser lebih jauh dari bumi barang satu centimeter, bumi akan beku. Perputaran siang dan malam yang dengannya Allah bersumpah dalam Al-Qur’an, “Wallaili idzaa yaghsya wan nahaari idzaa tajalla (Al-Lail:1-2), adalah bukti kerapian sistem alam ini. Tidak hanya untuk alam, untuk manusia Allah juga meletakkan sistem dan aturan. Nabi dan rasul dipilih untuk mengajak manusia mengikuti sistem dan aturan ilahi. Bila manusia melakukan penyimpangan, ia pasti akan mendapatkan akibatnya, cepat atau lambat. Al-Qur’an menyebutkan penyimpangan tersebut dengan istilah thagha (melampaui batas). Lihatlah kesudahan kaum Aad, Tsamud dan Firaun beserta tentaranya.

Jalan dakwah adalah keniscayaan. Setiap diri yang mengaku muslim hendaknya berdakwah. Berdakwah bukan hanya berceramah seperti yang banyak orang pahami. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib r.a, “Mengajak satu orang kepada hidayah Allah itu lebih baik bagimu dari unta merah (harta yang sangat kau banggakan).”

Rasulullah saw. menegaskan bahwa mengajak satu orang kepada kebaikan adalah dakwah. Maka dengan ini kegiatan dakwah tidak hanya terbatas pada kegiatan berceramah. Melainkan ia lebih berupa kegiatan menggunakan segala kemampuan, fasilitas dan kemungkinan lainnya untuk mempengaruhi orang lain agar taat kepada Allah. Orang bisa berdakwah dengan segala kemampuannya, menulis buku, berkomunikasi dengan orang lain dan lain sebagainya.

Ingat, dakwah adalah keniscayaan. Tanpa dakwah agama akan hilang. Tanpa dakwah kemanusiaan akan hancur. Selamat di dunia maupun di akhirat tidak ada pilihan kecuali dengan berdakwah di jalan Allah.

 

Sekelumit Perjalanan Awal Dakwah Rasulullah

 

Pada masa permulaan dakwah, Rasulullah saw berdakwah kepada orang yang beliau rasa telah bersedia untuk menerima Islam, tanpa mengira umur, kedudukan, bangsa, atau tempat. Baginda Rasulullah saw tidak pernah melakukan diskriminasi. Beliau mengajak manusia tanpa ada pilih kasih dan selalu memperhatikan kesediaan mereka untuk menerima Islam, sehinnga banyak yang hatinya terpikat oleh Islam. Tak sampai disitu mereka pun merelakan diri menerima Islam dengan segala konsekuensinya.

Dalam metode Rasulullah saw, beliau bersungguh-sungguh untuk mentarbiyah (mendidik dan membentuk) pemeluk-pemeluk Islam dan menyempurnakan tsaqafah mereka mengenai agama Islam, disamping mengajarkan Al-Quran kepada mereka. Sahabat-sahabat ini bahkan telah membentuk satu kumpulan dan selanjutnya bergandengan tangan dalam menyebarkan dakwah Islam.

Dari hari kehari jumlah mereka semakin meningkat melebihi 40 orang, yang beranggotakan oleh lelaki dan perempuan, mereka datang dari pelbagai lapisan masyarakat, dan kebanyakan dari mereka usianya masih setahun jagung. Bukan saja dari golongan berada, malah tidak terkecuali golongan miskin, ada yang lemah dan juga yang kuat. Jamaah orang-orang Islam yang beriman kepada Rasulullah saw dan mengembangkan dakwahnya antaranya:

Abu Bakar Ash-Shiddiq

Khadijah binti Khuwailid

Ali bin Abu Thalib, dan para sahabat lainnya

Setelah tiga tahun, ketika para sahabat telah matang dan terbina dengan hadharah Islam, hati dan logika mereka menjadi padu dengan mafahim (konsep) Islam, tidak ada hal lain yang dinginkan Rasullulah saw. kecuali usaha mengembangkan dakwah Islam. Baginda saw menyakinkan, mereka (para sahabat) telah mempunyai pemahaman yang mendalam mengenai Islam dan telah mencapai tahap syakhshiyah (keperibadian) yang tinggi dalam keimanan mereka kepada Allah SWT. Setelah itu, Rasulullah tidak merasa ragu lagi karena jama’ah ini (para sahabat) telah kuat dan capable untuk berhadapan dengan masyarakat. Inilah yang menjadikan Rasulullah saw berkeyakinan memimpin perhimpunan untuk menghadapi masyarakat jahiliyah Quraisy, karena Allah telah memerintahkannya bertindak demikian.

Mari kita beranjak kepada materi dimana dakwah menjadi ‘senjata’ dalam memakmurkan dunia. Dalam beberapa pembahasan yang akan tertuang berikut, dikemukakan bagaimana sebenarnya tetek bengek pola dakwah Rasulullah saw. Namun harus diperhatikan, penjelasan di bawah ini bersifat global. Artinya tanpa ada pembatasan, siapapun yang mengaku Islam dan mencintai Allah dan Rasulullah termasuk ke dalamnya. Hal lain, ini hanya sebagian kecil, bagaimana konsepsi dakwah Rasulullah saw bisa berjalan dengan keberhasilan dan keunggulan. Hendaknya kepada setiap muslim mengikuti bagaimana sebenarnya keberhasilan dakwah Rasulullah saw.

 

Pengertian dakwah

 

1. Secara Etimologi

Kata dakwah(الدعوة ) artinya:”do’a“,“seruan “,“panggilan”,”ajakan, undangan, dorongan dan permintaan. Bberakar dari kata kerja. “دعا“ yang berarti berdoa, memanggil, menyeru , mengundang, mendorong, dan mengadu. Dakwah secara etimologis bebas nilai, artinya bisa mengajak kepada kebaikan atau ke jalan Allah bisa juga mengajak kepada kemungkaran, jalan setan atau berbuat maksiat seperti apa yang didramatisir oleh Zulaiha dengan mengajak Yusuf berbuat maksiat sebagaimana Firman Allah SWT:

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِر

“Maka dia mengadu kepada Tuhan-Nya, bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, tolonglah aku!

(Al-Qamar[54]:10)

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“ Allah menyeru (manusia) menuju Darussalaam (Surga], dan memberipetunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) (

Yunus[10]:25)

أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“…. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah SWT mengajak ke Surga…… “

(Al-Baqarah[2]:221).

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“ Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cendrung untuk (memenuhi keinginan mereka), dan tentulah aku masuk orang-orang yang bodoh.” (

Q.S.Yusuf[12]:33].

2. Secara Terminologi

Dakwah adalah menyeru, mengajak manusia untuk memahami dan mengamalkan ajaran islam sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw (sabilillah). Sebagaimana Firman Allah Swt :

 

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang rnenyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

(Ali- Imran : 104).

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 

Artinya: “ Serulah (manusia] kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan perdebatan dengan santun. Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui siapa saja yang tersesat dari jalan Nya dan mengetahui siapa saja yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl[16]:125)

Sebagai tambahan, jika ditilik dari segi terminologi, dakwah memiliki beberapa pengertian. Menurut Ensiklopedia Islam, dakwah berarti setiap kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah, sesuai dengan garis akidah, syariat dan akhlak Islamiah.

Dalam konteks agama, dakwah ialah menyeru ke jalan Allah. Perkataan dakwah juga bermaksud masyarakat Islam. Pada masa Dinasti Fatimiyyah, dakwah berarti doktrin, agama, masyarakat, mazhab dan patuh kepada imam.

Menurut Idris Ahmad, dakwah ialah mengajak manusia kepada pengabdian diri kepada Allah. Ia adalah suatu tugas mulia dan ia juga merupakan tugas para nabi dan rasul ketika mendapat mandat menjadi rasul.

Menurut Abu ‘Urwah, pengertian dakwah dari segi bahasa bermaksud menyeru atau memanggil, baik kepada perkara yang hak atau batil. Selain itu, dakwah pun bermaksud seruan kepada Allah.

Muhammad al-Ghazali menjelaskan maksud dakwah sebagai satu program lengkap. Kesemua tingkatannya mengandung ilmu pengetahuan dengan komprehensif yang diperlukan oleh manusia untuk menjelaskan tujuan dan cita-cita hidup. Ditambah lagi, untuk menyingkap petunjuk jalan yang telah digariskan Allah.

Menurut Ibn Taimiyyah dakwah adalah satu usaha seruan untuk beriman kepada Allah dan apa yang disampaikan oleh rasul-rasul Nya. Caranya dengan membenarkan segala perkara yang disampaikan oleh para rasul dan mentaati perintah mereka. Tugas dakwah antaranya adalah menyuruh (Al-Amru) melaksanakan apa yang disukai Allah dan rasul-Nya perihal perkara wajib dan sunat, zahir dan batin. Tugas dakwah juga berupa mencegah (An-Nahyu) segala larangan Allah dan rasul-Nya sama ada zahir atau batin. Tidak sempurna dakwah, jika tidak ditujukan ke arah melaksanakan apa yang dikehendaki Allah dan meninggalkan apa yang tidak disukai-Nya,baik itu perkataan atau perbuatan.

Berdasarkan pengertian tersebut, dakwah merupakan satu kegiatan yang dijalankan oleh segolongan manusia untuk menjalankan menyeru manusia kepada mentaati Allah s.w.t dan Rasulullah s.a.w. Di samping itu menegah manusia yang melakukan kemungkaran agar kembali ke jalan yang benar.

 

Hukum Dakwah

 

Jika min yang ada pada Surat Ali Imron ayat. 125 di atas ( minkum ] adalah ‘min lil bayaniyah’, maka dakwah menjadi kewajiban individual setiap muslim (Fardhu ‘Ain), tetapi jika min dalam ayat tersebut adalah, maka dakwah menjadi kewajiban ummat secara kolektif atau fardhu kifayah. Dua pengertian tersebut dapat digunakan sekaligus. Untuk hal-hal yang mampu dilaksanakan secara individual, dakwah menjadi kewajiban setiap muslim ( fardhu ‘ain) , sedangkan untuk hal-hal yang hanya mampu dilaksanakan secara kolektif, maka dakwah menjadi kewajiban yang bersifat kolektif ( fardhu kifayah). min littab‘idhiyyah

Setiap muslim dan muslimat yang sudah baligh wajib berdakwah, baik secara aktif minimal secara pasif. Secara pasif dalam arti semua sikap dan prilaku dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Islam sehingga dapat menjadi contoh dan tuntunan bagi masyarakat. Kewajiban berdakwah bagi setiap individu, selain dinyatakan dalam ayat tersebut di atas ditegaskan juga dalam Al-Qur’an, dan pesan Rasulullah Saw pada waktu Haji Wada’, :

وَالْعَصْرِ

 

 

(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

(3)

“ Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran “.(Al-‘Ashr[103]:1-3)

 

فَلْيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّهُ رُبَّ مُبَلِّغٍ يُبَلِّغُهُ لِمَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ

 

 

(رواه البخا رى

)

“Maka hendaklah yang menyaksikan di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena boleh jadi muballigh menyampaikan kepada orang yang lebih kompeten. ”(H.R. Bukhari)

Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda :

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

 

 

“Sampaikanlah apa yang (kamu terima) dariku, walaupun satu ayat…” (HR Bukhari)

 

Tujuan Dakwah

 

Pada dasarnya tujuan takwah sifatnya bertahap, dan sangat beragam, ini terkait dengan heteroginitas objek dakwah, dan perbedaan-perbedaan problematik yang dihadapi oleh objek dakwah. Dengan demikian, secara global tujuan dakwah paling tidak dapat dibagi menjadi dua garis besar sebagai berikut :

Tujuan Umum : Agar manusia memahami ajaran Islam, dan melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang diperintahkan. dan menjauhi larangan Allah Swt sebagai mana yang dilarang oleh Allah Swt.

Tujuan Khsuus :

1. Agar orang kafir menjadi masuk Islam

2. Agar orang Islam dapat memahami sumber-sumber, dan pokok-pokok ajaran Islam.

3. Agar orang Islam bisa bertuhan, beribadah, berakhlaq, dan bisa bermu’amalah sesuai dengan al-Qur’an, dan Sunnah Nabi SAW.

 

Materi Dakwah

 

Allah SWT telah memberi petunjuk tentang materi dakwah yang harus disampaikan , untuk lebih jelasnya perlu mencermati firman Allah Swt sebagai berikut :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar…… (Ali-Imran [3]: 104)

 

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ

 

“ Serulah [ manusia ] kepada jalan Tuhanmu…..” (An-Nahl[16]: 125)

Dalam ayat tersebut yang dimaksud al-Khair adalah nilai-nilai universal yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, Al-Khair menurut Rasulullah Saw sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Katsir dalam Tafsirnya adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nbi Muhammad Saw, sedangkan Al-Ma’ruf adalah sesuatu yang baik menurut pandangan umum suatu masyarakat selama sejalan dengan Al-Khair. Yang dimaksud dengan Sabili Rabbika adalah jalan yang ditunjukkan Tuhanmu yaitu; Ajara Islam. Dari dua ayat tersebut dapat difahami bahwa materi dakwah pada gasis besarnya dapat dibagi dua :

1. Al-Qur’an dan Hadits

2. Pokok-pokok ajaran Islam yaitu ; aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalah mencakup pendidikan, ekonomi, social, politik, budaya dll.

Metode Dakwah

 

Metode dakwah adalah cara mencapai tujuan dakwah, untuk mendapatkan gambaran tentang prinsip-prinsip metode dakwah harus mencermati firman Allah Swt, dan Hadits Nabi Muhammad Saw :

 

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

 

“ Serulah [ manusia ] kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik …….“ (An-Nahl [16]: 125)

Dari ayart tersebut dapat difahami prinsip umum tentang metode dakwah Islam yang menekankan ada tiga prinsip umum metode dakwah yaitu ; Metode hikmah, metode mau’izah khasanah, meode mujadalah billati hia ahsan, banyak penafsiran para Ulama’ terhadap tiga prinsip metode tersebut antara lain :

1. Metode hikmah menurut Syekh Mustafa Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa hikmah yaitu; Perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.

2. Metode mau’izhah hasanah menurut Ibnu Syayyidiqi adalah memberi ingat kepada orang lain dengan pahala dan siksa yang dapat menaklukkan hati.

3. Metode mujadalah dengan sebaik-baiknya menurut Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menegaskan agar orang-orang yang melakukan tukar fikiran itu tidak beranggapan bahwa yang satu sebagai lawan bagi yang lainnya, tetapi mereka harus menganggap bahwa para peserta mujadalah atau diskusi itu sebagai kawan yang saling tolong-menolong dalam mencapai kebenaran. Demikianlah antara lain pendapat sebagaian Mufassirin tentang tiga prinsip metode tersebut. Selain metode tersebut Nabi Muhammad Saw bersabda :

 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

 

“ Siapa di antara kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya, dan yang terakhir inilah selemah-lemah iman.” (H.R. Muslim)

Dari hadis tersebut terdapat tiga tahapan metode yaitu ;

1. Metode dengan tangan (bilyad), tangan di sini bisa difahami secara tektual ini terkait dengan bentuk kemunkaran yang dihadapi, tetapi juga tangan bisa dipahami dengan kekuasaan atau power, dan metode dengan kekuasaan sangat efektif bila dilakukan oleh penguasa yang berjiwa dakwah.

2. Metode dakwah dengan lisan (billisan). Maksudnya dengan kata-kata yang lemah lembut, yang dapat difahami oleh mad’u, bukan dengan kata-kata yang keras dan menyakitkan hati.

3. Metode dakwah dengan hati (bilqalb). Yang dimaksud dengan metode dakwah dengan hati adalah dalam berdakwah hati tetap ikhlas, dan tetap mencintai mad’u dengan tulus, apabila suatu saat mad’u atau objek dakwah menolak pesan dakwah yang disampaikan, mencemooh, mengejek bahkan mungkin memusuhi dan membenci da’I atau muballigh, maka hati da’i tetap sabar, tidak boleh membalas dengan kebencian, tetapi sebaliknya tetap mencintai objek, dan dengan ikhlas hati da’i hendaknya mendo’akan objek supaya mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Selain dari metode tersebut, metode yang lebih utama lagi adalah uswatun hasanah, yaitu dengan memberi contoh prilaku yang baik dalam segala hal. Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW banya ditentukan oleh akhlaq belia yang sangat mulia yang dibuktikan dalam realitas kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. Seorang muballigh harus menjadi teladan yang baik dalam kehidupan sehar-hari.

 

Sistematika Dakwah

 

Dakwah sebagai suatu ilmu yang relatif muda bila dibandingkan dengan ilmu filsafat. Dakwh sebagai suatu ilmu memiliki sistimatika yang terdiri dari 8 subsistem. Kurang berhasilnya gerakan dakwah pada umumnya lebih disebabkan oleh lemahnya sub sistem dakwah secara keseluruhan. Oleh karena itu agar gerakan dakwah lebih efektif, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah membangun keseluruhan sub sistem dakwah secara keseluruhan. Uraian secara global akan diarahkan kepada 8 subsistem dakwah sebagai berikut :

1. Subjek Dakwah (Da’i)

Da’I atau muballigh adalah setiap orang yang mengajak, memerintahkan orang di jalan Allah [ fi-Sabiilillah ], atau mengajak orang untuk memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah nabi Muhammad SAW. Berhasil tidaknya gerakan dakwah sangat ditentukan oleh kompetensi seorang da’i. Yang dimaksud dengan kompetensi da’i adalah sejumlah pemahaman, pengetahuan, penghayatan, dan prilaku serta keterampilan yang harus dimiliki oleh para da’i, oleh karena itu para da’i harus memilikinya, baik kompetensi substantif maupun kompetensi metodologis :

Kompetensi Substantif :

Memahami agama Islam swecara konverhensif, tepat dan benar

Memiliki akhlaq al- kariimah. Seorang pribadi yang menyampaikan ajaran yang mulia, dan mengajak orang menuju kemuliaan, tentulah harus memiliki ahlak mulia yang terlihat dalam seluruh aspek kehidupannya. Seorang da’i harus memiliki sifat shiddiq, amanah, sabar,tawadlu , adil, lemah lembut dan selalu ingin meningkatkan kualitas ibadahnya, dan sifat-sifat mulia lainnya. Lebih dari itu kunci utama keberhasilan da’i adalah selaras dan serasi antara kata dan perbuatan. Allah mengancam seorang da’i atau siapa saja yang perkatannya tidak sejalan dengan perbuatannya atau hanya bisa berkata tapi tidak mau berbuat. Allah SWT berfirman, “Sungguh besar kemarahan Allah kepada irang-orang yang berkata namun tak berbuat.” (Ash-Shaaf [63]:3)

Mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan yang relatif luas. Yang dimaksud dengan pengetahuan di sini adalah cakupan ilmu pengetahuan yang paling tidak terkait dengan pelaksanaan dakwah, antara lain, ilmu bahasa, ilmu komunikasi, ilmu sosiologi, psikologi dakwah, teknologi informasi baik cetak maupun elektronik, ilmu patologi sosial dan lainnya.

Memahami hakikat dakwah. Hakikat dakwah pada dasarnya adalah mengadakan perubahan sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits, artinya perubahan yang bersifat normatif.

Mencintai objek dakwah ( mad’u) dengan tulus. Mencintai mad’u merupakan salah salah satu modal dasar bagi seorang da’i dalam berdakwah. Rasa cinta dan kasih sayang terhadap mad’u akan membawa ketenangan dalam berdakwah. Seorang da’i harus menyadari bahwa objek dakwah adalah saudara yang harus dicintai, diselamatkan dan disayangi dalam keadaan apapun, walaupun dalam keadaan objek dakwah menolak pesan yang disampaikan atau meremehkan bahkan membeci. Kecintaan da’i terhadap mad’u tidak boleh berubah menjadi kebencian. Hati da’i boleh prihatin dan dibalik keprihatinan tersebut, seyogyanya da’i dengan ikhlas hati mendo’akan agar mad’u mendapat petunjuk dari Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “Tidak sempurna iman seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya sama seperti ia mencintai dirinya.

Mengenal kondisi lingkungan dengan baik. Da’I harus memahami latar belakang kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, budaya dan berbagai dimensi problematika objek dakwah. Paling tidak mendapat gambaran selintas tentang kondisi mad’u secara umum, agar pesan dakwah komunikatif atau sesuai dengan kebutuhan mad’u.

Memiliki kejujuran dan rasa ikhlas, karena keihklasan dan kejujuran merupakan faktor yang sangat prinsip dan menentukan diterimanya amal ibadah oleh Allah SWT. Aktifitas dakwah yang dilaksanakan secara ikhlas akan selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT.

Kompetensi Metodologis :

Da’i atau muballigh harus mampu mengidentifikasi permasalah dakwah yang dihadapi. Mampu mendiagnosis dan menemukan kondisi objektif permasalahan yang dihadapi oleh objek dakwah.

Muballigh harus mampu mencari dan mendapatkan informasi mengenai ciri-ciri objektif objek dakwah serta kondisi lingkungannya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dengan kemampuan pertama dan kedua di atas, seorang da’I akan mampu menyusun langkah-langkah perencanaan bagi kegiatan dakwah yang dilakukannya

Berkemampuan untuk merealisasikan perencanaan tersebut dalam melaksanakan kegiatan dakwah.

Objek Dakwah (mad’u)

Objek dakwah ( mad’u ] ialah orang yang menjadi sasaran dakwah, yaitu semua manusia, sebagaimana firman Allah SWT,“ Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba’ [34]: 28 ).

Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami, objek atau sasaran dakwah secara umum adalah seluruh manusia. Sedang objek dakwah secara khusus dapat ditinjau dari berbagai aspek detilnya mulai dari aspek umur, kelamin, agama, sosiologis, struktur kelembagaan, kultur keberagamaan, ekonomi, pekerjaan, kekurangan dan aspek-aspek lainnya yang notabene tersebar di masyarakat.

Para da’I tidak cukup hanya mengetahui objek dakwah secara umum dan secara khusus tersebut, tetapi yang lebih penting lagi yang harus diketahui adalah hakikat objek atau sasaran dakwah itu sendiri. Adapun hakikat objek dakwah adalah seluruh dimensi problematika hidup objek dakwah, baik problem yang berhubungan dengan aqidah, ibadah, akhlaq, mu’amalah ( pendidikan, sosial, ekonomi, politik, budaya dll)

 

Komparasi Metode Beberapa Nabi dan Rasul Sebelum Nabi Muhammad saw

 

Metode dakwah Nabi Nuh a.s

 

Beliau adalah satu di antara ‘ulul-’azmi minar rusul (Rasul-rasul yang memiliki ‘azzam yang kuat yang merupakan rasul-rasil yang paling tinggi derajatnya disisi Allah SWT.Nabi Nuh a.s. merupakan rasul paling lama berdakwah mengajak kaumnya. Dikatakan dalam Al-Quran, Nabi Nuh a.s. berdakwah dalam komunitas kaum musyrik selama 950 tahun. Namun dalam masa yang lama tersebut, tak ada dari kaumnya yang mengikuti beliau, kecuali hanya segelintir orang saja.

Nabi Nuh a.s. memiliki berbagai metode dakwah yang telah ditempuh. Mulai dari sembunyi-sembunyi, terang-tarangan bahkan menggabungkan kedua metode tersebut. Allah SWT berfirman, “Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” (Nuh [71]:8-9)

 

Metode Dakwah Nabi Harun

 

Kita dapati pula ijtihad lain dari Nabi Harun sebagaimana dituturkan dalam ayat yang mulia berikut ini, “Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu tarik janggutku dan jangan (pula rambut) kepalaku; Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu Telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.” (Thaha[20]:94)

Imam At-Thabari menafsirkan kalimat, “Sungguh aku takut kamu berkata… dst”; maknanya menurut sebagian ulama adalah Harun kawatir sebagian kaumnya akan mengikutinya sementara sebagian yang lain akan menyelisihinya. Sementara menurut sebagian ulama yang lain, maknanya adalah Harun kawatir sebagian memerangi sebagian yang lain.

Sehinnga jika ditarik konklusi, Nabi Harun a.s. mengambil metode ‘diam’. Namun diam tersebut tidak pasif apalagi skeptic. Diamnya Nabi Harun a.s. dikarenakan beliau melihat kemaslahatan di dalamnya. Praktek paganisme yang dilakukan Banu Israil mempunyai nilai kemadharatan. Namun jika ditindak, kemadharatan akan makin membesar. Dengan sebab itu, Nabi Harun a.s. meilih diam dan membiarkan mereka melakukan paganisme, takut terjadi kemadlaratan lebih besar. Bisa itu, peperangan satu sama lainnya atau Banu Israil akan terceraiberai.

 

Epilog

 

Dakwah amar ma’ruf nahi munkar secara praktis telah berlangsung sejak adanya interaksi antara Allah dengan hamba-Nya (periode Nabi Adam AS), dan akan berakhir bersamaan dengan berakhimya kehidupan di dunia ini. Pada awalnya Allah mengajar Nabi Adam AS nama-nama benda, Allah melarang Nabi Adam mendekati pohon dan Allah memerintahkan para malaikat sujud kepada Nabi Adam, semua Malaikat pada sujud kecuali Iblis, dia enggan dan takabur. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di bumi. Berdakwah, beramar makruf dan bernahi munkar adalah salah satu fungsi strategis kekhalifahan manusia, fungsi tersebut berjalan terus-menerus seiring dengan kompleksitas problematka kehidupan manusia dari zaman ke- zaman, dakwah tidak berada dalam sket masyarakat yang statis, tetapi berada dalam sket masyarakat yang dinamis dan tantangan dakwah yang semakin luas dan komplek, oleh karena itu peningkatan kualitas kompetensi muballigh harus secara terus menerus dilakukan secara efektif.

Dakwah juga tidak dibatasi dimensi ruang dan waktu. Kapanpun dan dimanapun, dakwah bisa terus berjalan, seperti air mengalir dan udara yang berhembus. Terakhir, dakwah harus dilandasi keikhlasan hati. Tak usah mengharapkan pujian, harta, kedudukan dan apapun yang bersifat materi semu. Semua hanya kembali kepada Allah. Dialah Maha Pemberi dan Pengasih.

Wallaaahua’lam

Allaahumma Qad Ballaghtu Allaahumma Fasyhad

 

Daftar referensi

 

Al-Quranul Karim beserta terjemahannya

Shahih Bukhari, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari

Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi

Fathu Al-Bari syarh Shahih Al-Bukhari, Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani

Al-Jami’ li Ahkaami Al-Quran(Tafsir Al-Qurthubi), Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi

Tafsir Ibnu Katsir, ‘Imaduddin Abul Fidaa Sulaiman bin Umar bin Katsir

Tafsir Ath-Thabari, Ibnu Jarir Ath-Thabari

Da’wah Al-Fardiyyah, Ali abdul Halim Mahmud

Fiqh Sirah, Said Ramadhan Al-Buthi

Ihyaa ‘Uluumuddin, Abu Hamid Al-Ghazali

Tafsir Al-Maraghi, Muhammad Mushtafa Al-Maraghi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: