Jejak Berdarah Pasukan Salib

8 Januari 2009

oleh: Hepi Andi

Jika imperium Kristus di Asia Tenggara benar-benar berdiri, tak hanya akan memporak-porandakan keutuhan bangsa, tapi juga martabat kemanusiaan akan diinjak-injak. Jejak berdarah pasukan salib dalam sejarah, masih basah.

Di balik upaya AS memberangus gerakan Islam sebenarnya tersembunyi niat busuk teramat jahat; ingin mendirikan imperium Kristus di Asia Tenggara. Ambisi ini telah direncanakan sejak beberapa tahun silam. Berbagai bukti pun mulai terkuak, baik melalui penemuan dokumen rahasia maupun aksi yang mereka gelar.

Jika ambisi ini terwujud, sebenarnya, bukan umat Islam saja yang patut khawatir, tapi juga dunia. Sebab, jika komunitas ini berkuasa, ia tak hanya menghancurkan keutuhan suatu bangsa, tapi juga menginjak-injak martabat masyarakatnya, tanpa pandang bulu. Slogan kasih yang mereka hembuskan hanyalah isapan jempol yang manis di bibir tapi pahit dirasakan.

Ketika Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan Salib pada 15 Juli 1099, terjadilah keganasan luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Seorang ahli sejarah Perancis, Michaud menyebutkan, “Ketika orang Kristen menaklukkan Jerussalem pada 1099, kaum muslimin dibantai di jalan-jalan dan di rumah-rumah. Jerussalem tidak punya tempat lagi bagi mereka yang kalah. Beberapa orang berusaha mengelak dari kematian dengan cara mengendap-endap dari benteng, yang lain berkerumun di istana dan berbagai menara untuk mencari perlindungan terutama di masjid-masjid. Namun, mereka tetap tidak bisa menyembunyikan diri dari kejaran orang-orang Kristen itu.”

Aksi pembantaian hanya berhenti beberapa saat, yakni ketika pasukan Salib berkumpul untuk merayakan upacara kemenangan mereka. Setelah upacara itu selesai, pembantaian diteruskan lebih ganas lagi. Michaud melanjutkan, “Orang-orang Islam dipaksa terjun dari puncak menara dan bumbung-bumbung rumah. Mereka dibakar hidup-hidup, diseret dari tempat persembunyian bawah tanah, dan digantung di tiang gantungan.”

Jejak berdarah pasukan Salib di Bosnia pada 1992 pun masih basah dalam ingatkan kita. Kaum muslimin, khususnya para ulama dibantai di depan keluarga mereka sendiri oleh pasukan Serbia. Seperti ditulis Muhammad Abdul Mun’im dalam karyanya al-Bushna wal Hersik Ummah Tudzbah wa Syu’ab Yubaa’, para pemuda muslim ditelanjangi. Jika mereka diketahui dikhitan berarti muslim, yang harus dibinasakan. Tempat tinggal kaum muslimin dimusnahkan. Tak boleh ada atap yang tersisa. Kaum muslimin yang masih bertahan hidup dipaksa menyingkir, bukan untuk mengungsi, tapi pergi selama-lamanya. Di beberapa tempat, pasukan ganas Serbia menunggu kaum muslimin yang tengah melaksanakan shalat di masjid. Mereka memaksa keluar dua orang muslim dan menyiksanya. Setelah itu pasukan Serbia segera memuntahkan isi senjatanya ke arah jamaah kaum muslimin yang tengah beribadah. Hari itu, ratusan kaum muslimin dibantai, syahid di tangan pasukan Serbia.

Di beberapa tempat lainnya, mereka mendirikan tenda-tenda dan menyekap para muslimah yang menjadi tawanan. Setelah dirusak kehormatannya, mereka dibunuh dengan keji dan tanpa welas asih. Para muslimah yang sedang hamil dibelah perutnya, lalu dibunuh seperti binatang.

Pembantaian di negeri kita sendiri tak kalah kejinya. Ketika tragedi Poso meletus pada 1998, ratusan muslim dibantai. Diceritakan, ketika pasukan Salib yang menamakan diri Kelelawar Hitam, berhasil menguasai Pesantren Wali Songo, puluhan warga dibariskan menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat. Ada yang tiga orang, lima, enam atau delapan orang. Tangan mereka diikat ke belakang satu sama lain dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah.

Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah itu berkelebat memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segar pun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh tidak berdosa itu bergelimpangan ke sungai.

Bersamaan dengan itu, air sungai Poso yang sebelumnya bening berubah warna menjadi merah darah. Sesaat tubuh orang-orang yang dibantai itu menggelepar meregang nyawa sambil mengikuti aliran sungai. Tidak semuanya meninggal seketika, masih ada yang bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. Namun, regu tembak siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan ranting, dahan, batang pisang, atau apapun untuk menyelamatkan diri.

Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian umat Islam di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga Pesantren Walisongo merupakan salah satu sasaran yang dibantai. Di komplek pesantren yang terletak di Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak kurang 300-an orang yang tinggal. Mulai dari ustadz, santri, pembina, dan istri pengajar serta anak-anaknya. Tak seorang pun tersisa. Sebagian besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan menyelamatkan diri. Bangunan yang ada dibakar dan diratakan dengan tanah.

Identitas para pembantai sudah sangat jelas. Mereka adalah orang-orang Kristen yang dikenal dengan Pasukan Kelalawar Hitam. Dalam aksinya mereka mengenakan pakaian serba hitam. Salib di dada dan ikat kepala merah. Mereka juga sering disebut degan Pasukan Merah.

Selain di Pesantren Walisongo, penyerangan dan pembantaian juga dilakukan di sejumlah tempat. Tercatat 16 desa yang penduduknya mayoritas Muslim kampungnya hancur dan terbakar. Dari arah selatan Poso, kerusakan hingga mencapai Tentena. Dari arah Timur hingga Malei, sari arah Barat hingga Tamborana.

Mengapa mereka begitu bersemangat untuk menguasai Indonesia? Menurut seorang penginjil dan sejarawan Kristen Dr Berkhof, Indonesia adalah daerah pekabaran Injil yang sudah ratusan tahun menguasai negeri bibit firman Tuhan. Misi Kristen di Indonesia telah mencapai banyak kesuksesan. Berkhof mengklaim, jumlah orang Kristen Protestan mencapai 13 juta lebih-di saat penduduk Indonesia berjumlah 150 juta jiwa (8,7 persen).

Pada akhir dekade 1990, saat penduduk Indonesia mencapai 200 juta jiwa, kaum Kristen Protestan malah mengklaim, jumlah mereka sudah mencapai 20 persen akibat sukesnya misi Kristen. Mereka menolak jika dikatakan jumlahnya hanya 5-6 persen. Seorang tokoh Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Dr AA Yewangoe mencatat dalam buku Gereja dan Reformasi, bahwa jumlah orang Kristen di Indonesia, sudah mencapai 16-17 persen. “Kalau lebih optimis 20 persen. Malah bisa lebih,” katanya.

Yewangoe menolak data resmi pemerintah yang menyebutkan bahwa jumlah orang Kristen hanya 5-6 persen. Padahal, berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (supas) yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat, bahwa dari 200 juta jiwa penduduk Indonesia persentase umat Islam adalah 87,3%. Sementara umat Kristen (Protestan) 6%, Katolik 3,6%, Hindu 1,8%, Budha 1%, serta lain-lain 0,3%.

Jadi, klaim bahwa umat Kristen sudah mencapai 20 persen (lebih) adalah klaim yang sangat berani. Kalau klaim mereka itu benar, berarti jumlah orang Kristen di Indonesia sudah mencapai 40 juta jiwa. Jumlah yang sangat besar! Anehnya, kaum Muslim menganggap sepi-sepi saja perkembangan mereka.

Padahal, bagi kaum Kristen, soal jumlah sangat penting. Mereka begitu sensitif dalam soal ini, sehingga melakukan gerakan pengusiran warga pendatang muslimin dari kantong-kantong Kristen, seperti Timtim, NTT, dan Maluku. Isu-isu anti transmigran Jawa di Irian Jaya sudah lama dihembuskan.

Saat jumlah kaum Kristen mencapai 50 persen atau lebih (Maluku, Irian Jaya, NTT, Timtim, Sulut), mereka akan memaksa kepala daerah orang seagama dengan mereka. Sedangkan kaum muslimin harus menuruti semua kehendak mereka.

Di daerah-daerah mayoritas Kristen tersebut, mereka menggunakan pedoman mayoritas-minoritas. Namun, pada level nasional, mereka menolak prinsip proporsionalitas berdasarkan asas mayoritas-minoritas. Mereka menuntut hak yang sama dengan mayoritas muslim, dan menolak data statistik resmi pemerintah.
Masih menurut Yewangoe, “Tetapi, memang persentase yang kecil itu dengan sengaja dikemukakan berulang-ulang agar kita dirasuki `sikap mental minoritas’. Sikap mental ini sangat berbahaya, apalagi kalau sudah memasuki generasi muda. Ini akan membawa mereka (dan kita sekalian) kepada minderwaardigheids complex (sifat rendah diri). Lalu terus-menerus menganggap diri warga negara kelas dua.” Karenanya, menurut Yewangoe, “Gereja-gereja harus tegas. Walaupun jumlah kita kurang dari orang lain, tidak berarti kita minoritas, lebih-lebih dalam proses pengambilan keputusan.”

Kaum Muslimin Indonesia hendaknya berhenti membanggakan kemayoritasannya, mengingat begitu besarnya “power” yang sudah digenggam kaum Kristen. Kalau kita lihat data dan fakta di atas, lalu kita hubungkan dengan berbagai temuan yang ada, nampaknya kita tengah menyaksikan jarum jam yang bergerak menuju berdirinya kerajaan besar bernama Imperium Kristus. Inilah proses yang sedang terjadi. Waspadalah!


Bosnia Herzegovina

13 Desember 2008

Ini merupakan salah satu negara kecil di Semenanjung Balkan, Eropa Tenggara, pecahan bekas Republik Federasi Sosialis Yugoslavia. Luas wilayahnya hanya 51.233 km2. Sedikit lebih luas dari Propinsi Jawa Timur. Sejarah Bosnia yang mayoritas (40%) dari 3,6 juta penduduknya beragama Islam, memang tak bisa dipisahkan dari Yugoslavia yang berdiri pada 1918.

Tak lama setelah berdiri, Yugoslavia sebenarnya nyaris mengalami perpecahan seperti sekarang. Pemilu pada 1920 melahirkan kekuatan yang relatif setara dari sejumlah partai yang mewakili setiap etnis di Yugoslavia. Akibatnya, pada 6 Januari 1929 konstitusi dibatalkan dan Yugoslavia memasuki sistem pemerintahan kerajaan diktatorial di bawah Raja Alexander. Sistem pemerintahan republik dengan konstitusi baru diterapkan selepas PD II pada November 1945 di bawah kepemimpinan Josip Broz Tito.

Pada 1991, keruntuhan Yugoslavia benar-benar menjadi kenyataan. Awalnya, Slovenia dan Kroasia yang menyatakan memisahkan diri dari Yugoslavia, menjadi negara berdaulat. Selepas itu, Yugoslavia menjadi negara yang senantiasa berubah, baik wilayahnya maupun populasinya. Menyusul Slovenia dan Kroasi, Bosnia melalui suatu referendum pun menyatakan pemisahan diri dari Yugoslavia dan menjadi negara berdaulat dipimpin Presiden Alija Izatbigovic. Inilah yang memicu pembantaian rakyat Muslim Bosnia oleh bangsa Serbia pimpinan Slobodan Milosevic pada 1992.

Serbia berupaya mempertahankan kesatuan Yugoslavia. Etnis Serbia yang umumnya bergama Kristen Ortodox ini ingin mendominasi pemerintahan, militer dan administrasi negara. Di Serbia terdapat sekitar 6 juta etnis Serbia, sedangkan di Bosnia 1,36 juta jiwa dan di Kroasia 0,5 juta jiwa. Milosevic berobsesi mewujudkan Negara Serbia Raya yang bersifat monoetnis, maka ia menentang habis-habisan berdirinya Bosnia Herzegovina yang mayoritas Muslim dengan melakukan pembersihan etnis non-Serbia.

Menghadapi aksi Serbia yang membabi buta, pada 1994 etnis Kroasia di Bosnia dan Musim Bosnia bersatu melawan kebiadaban Serbia. Namun karena persenjataan yang tak berimbang, mereka jadi bulan-bulanan Serbia. Perang sipil selama 44 bulan itu, diperkirakan memakan korban tak kurang 200 ribu jiwa, jutaan lainnya kehilangan rumah dan terpencar-pencar dari keluarga. Mayoritas dari mereka adalah ummat Islam.

Milosevic didukung Panglima Angkatan Bersenjata Radovan Karadzic, melakukan pembantaian membabi buta. Saat itulah nama Bosnia Herzegovina mencuat ke dunia dan mengundang simpati khususnya dari negara-negara Islam. Namun Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)-lah yang akhirnya menghentikan aksi brutal Serbia dengan serangan udara ke Serbia dan Montenegro. Pada penghujung 1995 NATO memaksa Serbia menandatangani perjanjian damai yang dilakukan di Dayton, Ohio, AS.

Islam masuk ke kawasan Balkan, termasuk Bosnia, sekitar tahun 1389. Yaitu saat wilayah Balkan ada di bawah kekuasaan Turki Ottoman antara abad XII hingga akhir abad XIX. Setelah berada dalam dominasi kekuasaan komunis, umat Islam Bosnia mengalami sekularisasi yang kuat.

Selama berada di bawah Yugoslavia, Bosnia Herzegovina termasuk yang paling miskin dibandingkan negara bagian lain. Kondisi ini kemudian diperparah oleh konflik etnis dengan Serbia. Saat ini Bosnia beribukota Sarajevo, wilayah dikelilingi Kroasi di utara, barat dan selatan. Sedangkan di timur berbatasan dengan Serbia.

Untuk memulihkan kondisi ekonomi, Bosnia masih harus mengandalkan bantuan luar negeri. Antara lain dari Bank Pembangunan Islam (IDB) yang pada September 2000 mendirikan Bank Internasional Bosnia. Bank tersebut dibentuk dengan modal dasar sebesar 300 juta dolar AS dengan modal disetor sebesar 60 juta dolar AS. Modal tersebut antara lain berasal dari IDB serta bank Islam lainnya sebagai pendiri seperti Bank Islam Abu Dhabi, Bank Islam Dubai, Bank Islam Bahrain serta dari investor swasta muslim lainnya.


Peran Muslimin Australia yang Mulai Terlupakan

11 Desember 2008

Kaum Muslim dikenal pelopor di Australia. Dari India, Pakistan dan Afghan dengan membawa onta dan membuka lahan yang tadinya belum tersentuh manusia

Guna memberi penghargaan terhadap kontribusi kaum Muslim di Australia, Perpustakaan Nasional Australia di Canberra mengadakan pameran yang berisi rekaman perjalanan pengendara unta yang kali pertama menginjakkan kakinya di Australia.

Pameran bertajuk, “Pioneers Of The Inland: Australia’s Muslim Cameleers, 1860s-1930s” (Pionir Daerah Pedalaman: Muslim Pengendara Unta Australia) yang diselenggarakan Perpustakaan National Australia. Pameran ini menunjukkan, betapa besar peran kaum Muslim di negeri itu. Mereke membantu ‘menaklukkan’ pedalaman Australia yang semua belum tersentuh manusia.

Pameran itu menunjukkan besarnya peran kaum Muslim. Di tahun 1800-an, kala itu, lebih dari 2000 pengendara dan 15.000 armada unta secara khurus didatangkan dari Afghanistan, India utara dan Pakistan. Unta-unta ini didatangkan guna mempercepat eksplorasi di bagian pedalaman Australia yang semula belum terpetakan dan terjamah manusia. Sebagian besar yang ikut berperan dalam ekplorasi pengembangan wilayah itu adalah kaum Muslim.

Dimulai Rabu (12/12), fokus pameran tersebut memang merujuk pada armada unta yang dikemudikan Muslim keturunan Arab dalam membuka akses ke sejumlah daratan Australia. Mereka membuka jalan kering di Benua Kanguru tersebut pada awal abad ke-19.

Berdasar catatan, dalam ekspedisi tersebut, demam emas memicu pendatang kulit putih untuk mengeksplorasi daerah pedalaman Australia. Dalam membuka lahan-lahan tersebut, kaum kulit putih memanfaatkan unta dan pengendaranya untuk menelusuri jalur-jalur baru. Sayang, kontribusi Muslim itu jarang dihargai warga Australia.

“Pengendara unta mendampingi hampir seluruh ekspedisi utama ke daerah pedalaman Australia, diawali dari ekspedisi Burke dan Wills pada 1860,” kata Philip Jones, kurator museum.

“Diakui atau tidak, mereka (pengendara unta, Red) memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi pengembangan peradaban dan ekonomi Australia,” lanjutnya.

Menurut Jones, di era eksplorasi heroik, kaum Muslim hampir tidak pernah dihargai atas jasa-jasa mereka. Meski, kata dia, sejumlah diary ekspedisi menggambarkan kelayakan mereka untuk disebut penjelajah Australia. Karena itu, dalam catatan pameran dijelaskan bahwa pionir Muslim berjasa dalam membuka akses transportasi dan komunikasi ke daerah terpencil, menghubungkan pesisir dan pegunungan, serta membuka lahan pertambangan baru dan desa-desa perhentian.

Jones menambahkan, mayoritas penunggang unta kembali ke rumah masing-masing setelah kontrak kerja berakhir. Hanya sebagian kecil yang akhirnya menetap. Muslim yang menetap itu menikahi orang Eropa dan keturunan Aborigin. Mereka kemudian membentuk peradaban Islam di Australia.

Anehnya, jika para akademi mengakui jasa-jasa kaum Muslim itu, namun faktanya, hingga hari ini, keberadaan kaum Muslim masih saja ada yang mendapat perlakuan diskriminatif.