Kisah Seorang Pencuri Terong

14 November 2008

Di Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami’ At-Taubah. Dia adalah sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanana ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.

Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada disampingnya. Hal ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan diatas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah sebelah. Di situ dia melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.

Rumah-rumah dimasa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada disitu. Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu dia ambil satu, karena rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada ditangannya dan saat itu dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung dia berkata, ‘A’udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di mesjid , pantaskah aku masuk kerumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?’ Dia merasa bahwa ini adalah kesalahn besar, lalu dia menyesal dan beristigfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada ditangannya. Akhirnya dia pulang kembali ketempat semula. Lalu ia masuk kedalam masjid dan mendengarkan syaikh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.

Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tidak ada perempuan kecuali dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggilah ia dan syaikh itu bertanya, ‘Apakah kamu sudah menikah?’, dijawab, ‘Belum,’. Syaikh itu bertanya lagi, ‘Apakah kau ingin menikah?’. Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, ‘Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?’. Syaikh itu menjawab, ‘Wanita ini datang membawa khabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin’, kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokkan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, ‘Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya? Pemuda itu menjawab ‘Ya’. Kemudian Syaikh bertanya kepada wanita itu, ‘Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?’, ia menjawab ‘Ya’. Maka Syaikh itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. Kemudian syaikh itu berkata, ‘peganglah tangan isterimu!’ Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya kerumahnya. Setelah keduanya masuk kedalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.

Sang isteri bertanya, ‘Kau ingin makan?’ ‘Ya’ jawabnya. Lalu dia membuka tutup panci didapurnya. Saat melihat buah terong didalamnya dia berkata: ‘heran siapa yang masuk kerumah dan menggigit terong ini?!’. Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, ‘Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu.


Kisah Pemuda zuhud

14 November 2008

Abdullah bin Al-Faraj adalah seorang yang tekun beribadah dan dikenal sebagai orang yang shalih. Dia hidup pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid.

Suatu ketika Abdullah bin Al-Faraj mempunyai barang-barang yang harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain di dalam rumahnya. Untuk mengerjakan hal tersebut, ia memerlukan seorang pekerja serabutan. Maka ia pun segera pergi ke pasar untuk mencarinya. Setelah mencari ke sana ke mari di dalam pasar, akhirnya ia menemukan seorang pemuda berwajah pucat pasi sedang membawa keranjang besar dan sekop. Pemuda itu mengenakan jubah dan selembar kain sarung yang keduanya terbuat dari bulu domba. Maka Abdullah menghampiri pemuda tersebut dan bertanya kepadanya, “Maukah engkau bekerja untukku?”
“ya,” jawab pemuda itu singkat.
“Berapa imbalannya yang kau minta?” tanya Abdullah kepadanya.
“Satu seperenam dirham,” jawab pemuda itu singkat.
“Baiklah kau dapat bekerja untukku” kata Abdullah.
Tiba-tiba pemuda itu berkata,”Ada satu syarat!”
“Apa syarat yang engkau minta?” jawab Abdullah.
“Bila waktu shalat dzuhur telah tiba dan mu’adzin telah pula mengumandangka adzan, aku akan keluar untuk mengambil air wudlu dan kemudian menunaikan shalat berjama’ah di masjid, setelah itu aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Demikian juga bila telah tiba waktu shalat ashar,” jawab pemuda itu tersebut.
“Ya boleh,”Jawab Abdullah singkat.

Setelah berkata demikian, Abdullah bin Al-Faraj pun mengajaknya pulang ke rumah untuk memulai pekerjaannya. Sesampainya di rumah, pemuda itu pun segera bekerja memindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Dia bekerja dengan rajin dan tidak pernah sedikitpun mengajak Abdullah berbicara. Ketika adzan dzuhur telah dikumandangkan, pemuda tadi lalu berkata kepada Abdullah, “Wahai Abdullah Mu’adzin telah mengumandangkan adzan!”
“Silahkan” kata Abdullah kepadanya.

Pemuda itu pun segera keluar menuju ke masjid untuk segera menunaikan shalat dzuhur berjama’ah bersama kaum muslimin termasuk Abdullah. Ketika keperluannya di masjid sudah selesai, pemuda itu segera kembali pergi kerumah Abdullah bin Al-Faraj. Di sanapun ia bekerja kembali dengan rajin sepanjang siang.

Waktu ashar pun tiba, dan adzan untuk mengajak kaum muslimin shalat berjama’ah di masjid pun berkumandang. Maka pemuda itu pun menghentikan pekerjaannya, dan berkata kepada Abdullah, sang Mu’dzin telah mengumandangkan adzan!”
“Silahkan” kata Abdullah.

Pemuda itupun keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat Ashar bersama kaum muslim lainnya.. usai menunaikan shalat ia pun kembali meneruskan pekerjaannya hingga hari menjelang sore. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Abdullah pun menyerahkan upahnya dan menyuruhnya pulang.

Selang beberapa hari kemudian, Abdullah bin Al-Faraj membutuhkan lagi seorang pekerja serabutan. Istrinya pun berkata kepadanya, “Carilah kembali pemuda yang pernah bekerja kepada kita, karena lewat pekerjaannya itu dia telah banyak memberikan nasihat kepada kita !”

Mendengar saran istrinya tersebut, Abdullah segera pergi kepasar. Sesampainya di pasar, dicarinya pemuda berwajah pucat pasi yang beberapa hari yang lalu pernah bekerja di rumahnya. Namun setelah ia mencarinya kesana kemari, tak ditemukannya pemuda itu. Maka bertanyalah Abdullah kepada orang-orang dipasar perihal pemuda tersebut. Mereka yang ditanyai oleh abdullah menjawab, “Mengapa Anda menanyakan si pemuda pucat yang celaka itu? Dia datang kesini hanya setiap hari sabtu dan kedatangannya itu pun hanya sekedar untuk duduk saja hingga semua orang kembali ke rumah masing-masing”. Mendengar jawaban mereka, Abdullah memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan memutuskan akan mencarinya lagi pada hari sabtu.

Pada hari sabtu, Abdullah bin Al-Faraj pergi ke pasar untuk mencari pemuda tersebut. Ternyata memang benar kata orang-orang, pemuda itu memang berada di sana. Segeralah Abdullah bin Al-Faraj menghampirinya dan menanyainya, “Maukah engkau bekerja lagi untukku?”
“Aku yakin Anda telah mengetahui berapa upah dan syarat-syarat yang kuajukan kepada Anda,” jawab pemuda itu.
“Mengenai hal tersebut, aku telah memohon petunjuk kepada Allah,” kata Abdullah.

Pemuda itu pun berdiri dan mengikuti Abdullah bin Al-Faraj ke rumahnya. Setelah sampai di rumah, pemuda itupun segera bekerja dengan rajin sebagaimana dulu pernah dipekerjakan untuk Abdullah bin Al-Faraj. Sama seperti dulu pula, ketika adzan dzuhur dan ashar berkumandang, pemuda itupun minta izin kepada Abdullah untuk menunaikan shalat berjama’ah di mesjid.

Setelah sore, maka Abdullah pun memberikannya upah sebesar yang telah disepakati. Ternyata Abdullah puas terhadap pekerjaan pemuda tersebut akan diberi upah sekaligus tipsnya, pemuda itu mengambil upahnya dan menolak tips yang diberikan oleh Abdullah bin AL-Faraj.

Beberapa waktu kemudian, Abdullah membutuhkan tenaganya kembali. Dan sesuai dengan pengetahuan yang ia ketahui, maka Abdullah pun mencarinya di pasar pada hari sabtu. Tetapi setelah dicarinya ke sana – ke mari di sekitar pasar, pemuda sederhana itu tidak ditemukannya. Lalu, ia pun bertanya kepada orang-orang yang berada di pasar tentang pemuda itu, dan salah seprang menjawab, “Dia sedang sakit.”

Orang itupun menambahkan, “Pemuda itu tiap sabtu selalu datang ke pasar ini dan dia selalu berkerja dengan imbalan satu seperenam dirham. Dengan uang satu seperenam dirham itulah dia dapat makan setiap hari. Dan kini dia sedang menderita sakit.”

Maka Abdullah pun menanyakan alamat rumah tersebut kepada orang itu. Setelah orang itu memberikan alamatnya, Abdullah segera menuju ke kediaman pemuda yang sedang ia cari tersebut. Ternyata pemuda itu tinggal si sebuah rumah milik seorang wanita yang telah lanjut usia. Ketika wanita lanjut usia itulah yang ditemui oleh Abdullah pertama kali, maka Abdullah pun bertanya kepadanya, “Benarkah di sini kediaman seoran pemuda yang suka melakukan perkejaan serabutan ?”

“Sejak beberapa hari ini dia menderita sakit,” jawab wanita renta itu dengan suara tuanya.

Abdullah pun meminta izin kepada wanita tua itu untuk menemuinya. Wanita renta itu segera mempersilahkan Abdullah masuk dan menunjukkan tempat pemuda tersebut berada. Ternyata benar, pemuda berwajah pucat pasi itu sedang berbaring sakit keras dengan berbantal sebuah batu bata.
“Assalamu’alaikum,” sapa Abdullah kepadanya.
“Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh,” jawab pemuda tersebut.
Abdullah segera bertanya kepadanya,”Adakah yang bisa kubantu untukmu?”
“Ya, jika Anda bersedia,” kata Abdullah.
“Jika aku telah meninggal dunia nanti, tolong jualkan sekop ini. Tolong cucikan jubah bulu dan kain sarung ini. Lalu gunakan kedua akinku ini untuk mengafaniku. Sobeklah saku jubah ini kerena didalamnya ada sebuah cincin. Tanyakan kapan Khalifah Harun Ar-Rasid keluar dari istananya. Bila Anda sudah mengetahuinya, hadanglah dia dan ajaklah dia berbicara serta tunjukanlah cincin itu kepadanya, niscaya dia akan memanggil Anda. Jika Anda sudah menghadapnya, serahkanlah cincin itu kepadanya. Ingat ! Ini harus dilakukan setelah aku dimakamkan nanti!” kata pemuda itu.

“Ya,” jawab Abdullah menyanggupinya.

Kemudian pemuda itu sakit keras selama beberapa waktu dan akhirnya meninggal dunia. Abdullah bin Al-Faraj pun segera menunaikan apa yang diwasiatkan olehnya; menjual sekopnya kemudian mencuci jubah dan sarungnya serta menggunakan kedua kain itu sebagai kain kafan jenazahnya. Setelah jenazah pemuda itu dimakamkan, maka Abdullah pun aktif mencari informasi kapan Khalifah Harum Ar-Rasyid keluar dari istananya.

Setelah mencari-cari tentang hal tersebut, akhirnya tahulah Abdullah kapan Khalifah akan keluar dari istananya. Maka pada hari yang telah dinanti-nantikannya itu, Abdullah segera mencari jalan yang akan dilalui oleh sang Khalifah dan duduk di tepi jalan tersebut. Akhirnya terlihatlah rombongan Khalifah Harun Ar-Rasid semakin dekat dengan tempat ia duduk. Ketika sang Khalifah melintas di depannya, Abdullah segera berteriak,”Wahai Amirul Mukminin, aku mempunyai sebuah titipan untuk tuan !”seraya dia tunjukkan cincin milik pemuda itu.

Ketika Khalifah mendengar seruan tersebut dan melihat cincin yang dipegang Abdullah, segera saja Khalifah dan mengajaknya naik ke atas kendaraannya. Rombongan Khalifah segera pulang menuju istana sedangkan Abdullah belum juga diajak bicara oleh Khalifah sehubungan dengan tindakannya tadi.

Sesampainya di istana, Khalifah Harun Ar-Rasyid memanggil Abdullah bin Al-Faraj untuk menghadapnya. Abdullah pun segera masuk ke ruangan di mana Khalifah berada. Ketika dia sudah masuk, Khalifah lalu memerintahkan semua orang yang ada agar meninggalkan ruangan.

Semua yang ada di situ pun bergegas keluar meninggalkan Abdullah seorang diri di hadapan Khalifah. Ruangan menjadi sunyi senyap. Pertanyaan Khalifah Harun Ar-Rasyid memecah suasana tersebut, “Siapakah Anda ?”
“Abdullah bin Al-Faraj.”
“Dari mana Anda mendapatkan cincin ini ?” tanya Khalifah kepada Abdullah.
Mendengar pertanyaan tersebut, Abdullah menjawabnya dengan bercerita tentang pertemuannya dengan seorang pemuda berwajah pucat pasi hingga kematian pemuda itu.

Mendengar cerita yang dituturkan oleh Abdullah, seketika itu pula Khalifah Harun Ar-Rasyid menangis. Tangisan beliu membuat Abdullah merasa iba kepadanya. Setelah tangis Khalifah agak reda, Abdullah merasa yang tidak tahu mengapa Khalifah menangis ketika mendengar ceritnya, akhirnya bertanya kepada sang Khalifah, “Wahai Amirul-Mukminin, adakah hubungan Anda dengannya ?”

“Dia adalah putraku,” jawab sang Khalifah.
“Bagaimana mungkin itu terjadi ?” tanya Abdullah hreran memohon penjelasan.
“Dia lahir sebelum aku mendapatkan ujian menjadi Khalifah. Saat itu dia tumbuh dengan baik, rajin mempelajari Al-Qur’an, dan menuntut ilmu. Ketika aku telah diangkat menjadi Khalifah, dia pun pergi meninggalkanku dan tidak membawa sedikit pun bekal harta yang kumiliki. Kepada ibunya, aku lalu menyerahkan cincin ini. Ini adalah yaqut yang nilainya sangat mahal. Oleh ibunya, cincin ini lalu diberikan kepadanya, dengan tujuan agar suatu saat kelak cincin ini membawa manfaat baginya. Ibunya telah meninggal dunia, dan sejak itu aku tidak pernah mendengar berita tentang anakku dan baru sekarang ini engkau membawa berita perihal putraku itu,” kata Khalifah Harun Ar-Rasyid menjelaskan.
“Nanti malam, tolong antarkan aku ke makamnya !” kata Khalifah lagi.

Menjelang malam, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Abdullah bin Al-Faraj berdua keluar dari istana berjalan kaku ke makam pemuda sederhana yang ternyata putra seorang Khalifah. Akhirnya, sampailah mereka di makan putra sang Khalifah, lalu Khalifah Harun Ar-Rasyid pun duduk bersimpuh di depan makam putranya sambil menangis pilu.

Mereka berdua terus berada di makam itu sepanjang malam. Hingga saat fajar mulai menyingsing, Khalifah pun mengajak Abdullah pulang seraya berkata, “Engkau harus berjanji kepadaku untuk bersedia datang setiap hari menemaniku ke makam putraku !”

Maka Abdullah pun berjanji kepada sang Khalifah. Sejak saat itu mereka selalu berangkat dan pulang bersama dari berziarah ke makam putra Khalifah Harun Ar-Rasyid.


KISAH RAJA DHOLIM DAN RAJA BIJAKSANA

14 November 2008

Rasulullah pada suatu waktu pernah berkisah. Pada zaman sebelum kalian, pernah ada seorang raja yang amat dzalim.Hampir setiap orang pernah merasakan kezalimannya itu. Pada suatu ketika, raja zalim ini tertimpa penyakit yang sangat berat. Maka seluruh tabib yang ada pada kerajaan itu dikumpulkan. Dibawah ancaman pedang, mereka disuruh untuk menyembuhkannya. Namun sayangnya tidak ada satu tabib pun yang mampu menyembuhkannya.

Hingga akhirnya ada seorang Rahib yang mengatakan bahwa penyakit sang raja itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan tertentu, yang sayangnya saat ini bukanlah musimnya ikan itu muncul ke permukaan. Betapa gembiranya raja mendengar kabar ini. Meskipun raja menyadari bahwa saat ini bukanlah musim ikan itu muncul kepermukaan namun disuruhnya juga semua orang untuk mencari ikan itu. Aneh bin ajaib…. walaupun belum musimnya, ternyata ikan itu sangatlah mudah ditemukan. Sehingga akhirnya sembuhlah raja itu dari penyakitnya.

Di lain waktu dan tempat, ada seorang raja yang amat terkenal kebijakannya. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Pada suatu ketika, raja yang bijaksana itu jatuh sakit. Dan ternyata kesimpulan para tabib sama, yaitu obatnya adalah sejenis ikan tertentu yang saat ini sangat banyak terdapat di permukaan laut. Karena itu mereka sangat optimis rajanya akan segera pulih kembali.

Tapi apa yang terjadi? Ikan yang seharusnya banyak dijumpai di permukaan laut itu, tidak ada satu pun yang nampak..! Walaupun pihak kerajaan telah mengirimkan para ahli selamnya, tetap saja ikan itu tidak berhasil diketemukan. Sehingga akhirnya raja yang bijaksana itu pun mangkat…

Dikisahkan para malaikat pun kebingungan dengan kejadian itu. Akhirnya mereka menghadap Tuhan dan bertanya, “Ya Tuhan kami, apa sebabnya Engkau menggiring ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja yang zalim itu selamat;

sementara pada waktu raja yang bijaksana itu sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut sehingga akhirnya raja yang baik itu meninggal?”

Tuhan pun berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya raja yang zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan. Karena itu Aku balas kebaikannya itu, sehingga pada waktu dia datang menghadap-Ku, tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang dibawanya. Dan Aku akan tempatkan ia pada neraka yang paling bawah !

Sementara raja yang baik itu pernah berbuat salah kepada-Ku, karena itu Aku hukum dia dengan menyembunyikan ikan-ikan itu, sehingga nanti dia akan datang menghadap-Ku dengan seluruh kebaikannya tanpa ada sedikit pun dosa padanya, karena hukuman atas dosanya telah Kutunaikan seluruhnya di dunia!”

Kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah  ini.

Pelajaran pertama adalah: Ada kesalahan yang hukumannya langsung ditunaikan Allah di dunia ini juga; sehingga dengan demikian di akhirat nanti dosa itu tidak diperhitungkan-Nya lagi. Keyakinan hal ini dapat menguatkan iman kita bila sedang tertimpa musibah.

Pelajaran kedua adalah: Bila kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena. Jangan-jangan Allah ‘menghabiskan’ tabungan kebaikan kita. Keyakinan akan hal ini dapat menjaga kita untuk tidak terbuai dengan lezatnya kenikmatan duniawi sehingga melupakan urusan ukhrowi.

Pelajaran ketiga adalah: Musibah yang menimpa seseorang belum tentu karena orang itu telah berbuat kekeliruan. Keyakinan ini akan dapat mencegah kita untuk tidak berprasangka buruk menyalahkannya, justru yang timbul adalah keinginan untuk membantu meringankan penderitaannya.

Pelajaran keempat adalah: Siapa yang tahu maksud Allah ?


KISAH PARA SAHABAT

14 November 2008

Perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. ke Taif

Selama sembilan tahun selepas perlantikan Nabi Muhammad s.a.w sebagai Pesuruh Allah s.w.t., Nabi Muhammad s.a.w telah menjalankan dakwah dikalangan kaumnya sendiri disekitar kota Mekah untuk memimpin dan memperbaiki keadaan hidup mereka.Segelintir manusia sahaja yang telah memeluk agama Islam ataupun yang bersimpati dengan Baginda s.a.w., yang lainnya mencuba dengan sedaya upaya untuk mengganggu dan menghalang Baginda s.a.w dan pengikut-pengikutnya. Diantara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Baginda s.a.w termasuk Abu Talib bapa saudara Baginda s.a.w sendiri. Sungguhpun begitu Abu Talib tidak memeluk agama Islam.

Berikutan dengan kematian Abu Talib, pihak Khuraish berasa bebas untuk memperhebatkan gangguan dan penentangan mereka terhadap Baginda s.a.w. Di Taif, bandar yang kedua terbesar di Hijaz, terdapat Bani Thafiq suatu puak yang sangat kuat dan besar bilangan ahlinya. Nabi Muhammad s.a.w. berlepas keTaif dengan harapan ia dapat mempengaruhi kaum Bani Thafiq untuk menerima Islam dan dengan demikian memperolehi perlindungan bagi pemeluk-pemeluk agama Islam dari gangguan puak Khuraish. Baginda s.a.w juga bercita-cita hendak menjadikan Taif markas kegiatan-kegiatan dakwah Baginda s.a.w. Sebaik-baik sahaja Baginda s.a.w tiba disana, Baginda s.a.w telah mengunjungi tiga orang pemuka Bani Thafiq secara berasingan dan menyampaikan kepada mereka risalah Allah s.w.t. Bukan sahaja mereka tidak mahu menerima ajaran Allah s.w.t. bahkan enggan mendengar apa yang dikemukakan oleh Baginda s.a.w kepada mereka. Baginda s.a.w telah dilayani secara kasar dan sungguh-sungguh biadap. Kekasaran mereka sungguh bertentangan dengan semangat memuliakan dan menghormati yang telah menjadi sebahagian daripada cara hidup bangsa Arab. Dengan terus terang mereka mengatakan yang mereka tidak suka Baginda s.a.w. tinggal ditempat mereka. Baginda s.a.w. berharap yang kedatangan Baginda s.a.w akan disambut dengan sopan santun, diiringi dengan kata-kata yang lemah lembut. Sebaliknya Baginda s.a.w telah dilempari dengan kata-kata yang kasar.

Kata seorang daripada pemuka-pemuka tadi dengan penuh ejekan: “Hoi,benarkah yang Allah s.w.t. telah melantik kamu menjadi PesuruhNya?”Kata seorang lagi sambil ketawa: “Tidak bolehkah Allah memilih manusia selain dari engkau untuk menjadi PesuruhNya?”Yang ketiga pula melempar kata-kata hina yang bunyinya demikian: “Kalau engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin bercakap-cakap dengan engkau kerana perbuatan yang demikian akan mendatangkan bencana kepada diriku.Sebaliknya jika kamu seorang pendusta,tidak guna aku bercakap-cakap dengan engkau.”

Dalam menghadapi penentangan yang sebegini hebat, ketabahan dan kecekalan hati yang merupakan sifat-sifat semulajadi Nabi Muhammad s.a.w. tidak menyebabkan Baginda s.a.w. berasa hampa dan gagal barang sedikit jua pun. Selepas meninggalkan  pemuka-pemuka Banu Thafiq tadi, Baginda s.a.w cuba menghampiri rakyat biasa Disini juga Baginda s.a.w menemui kegagalan. Mereka menyuruh Baginda s.a.w keluar dalam Taif. Apabila Baginda s.a.w menyedari yang usahaBaginda s.a.w tidak mendatangkan hasil yang diingini, Baginda s.a.w pun membuat keputusan hendak menginggalkan kota itu. Tetapi mereka tidak membiarkan Baginda s.a.w keluar dari Taif secara aman. Mereka melepaskan kacang-kacang hantu mereka supaya mengusik,mengejek,mengacau dan melemparinya dengan batu. Pelemparan batu yang dilakukan keatas Baginda s.a.w itu sedemikian rupa hingga badan Baginda s.a.w berdarah akibat luka-luka. Apabila Baginda s.a.w berada agak jauh dari kota Taif, Baginda s.a.w pun berdoa kepada Baginda s.a.w. yang bermaksud:

” Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya uruskanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu. Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah  teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau”

Demikianlah sedihnya doa yang dihadapi kepada Allah s.w.t. oleh Baginda s.a.w sehingga Allah s.w.t. mengutuskan Malaikat Jibrail buat menemui Baginda s.a.w. Setibanya dihadapan Nabi Muhammad s.a.w. diapun memberi salam seraya berkata:Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung ganang disini khas untuk menjalankan sebarang perintah kamu.”

Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat itu dimuka Baginda s.a.w Kata Malaikat ini:”Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung disebelah menyebelah kota ini berlanggaran sehingga penduduk-penduduk dikedua-dua belah mati tertindih. Kalau tidak, Tuan cadangkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini.”

Mendengar janji-janji Malaikat itu, Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan pun berkata:”Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., yang anak-anak mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya.”

Sekarang perhatikanlah tauladan mulia dan suci murni yang telah dipertunjukkan oleh Baginda s.a.w. Kita semua mengakui yang kita menjadi pengikut-pengikutNya, tetapi dalam urusan hidup kita sehari-sehari,apabila cadangan kita ditolak atau tidak dipersetujui maka kita dengan lekasnya melemparkan maki hamun dan terkadang-kadang bercita-cita hendak membalas dendam terhadap mereka yang tidak bersetuju dengan kita.Sebagai pengikut-pengikutnya kita hendahlah mencontohi Baginda s.a.w. Selepas menerima penghinaa ditangan penduduk-penduduk Kota Taif, Baginda s.a.w hanya berdoa. Baginda s.a.w. tidak memarahi mereka,tidak mengutuk mereka dan tidak mengambil sebarang tindakan balas walaupun diberi kesempatan sebaik-baiknya untuk membuat demikian.

KESYAHIDAN ANAS BIN NADHR

Anas bin Nadhr ialah salah seorang daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang tidak mengambil bahagian dalam peperangan Badar. Dia berasa kesal kerana tidak menyertai peperangan tersebut. Oleh hal yang demikian dia senantiasa menanti-nanti peluang untuk menyertai peperangan untuk menebuskan apa yang dianggapnya suatu kerugian bagi dirinya. Kesempatan yang dinanti-nantinya itupun tibalah apabila berlaku perang Uhud pada tahun yang berikutnya. Anas pun dengan serta merta menyertai tentera Muslimin dengan semangat kejihadan yang tulin maju kemedan pertempuran. Sungguhpun bala tentera yang dihadapi mereka berkali-kali ganda banyaknya namun tentera Muslimin sedang mengatasi pihak musuh. Tiba-tiba berlaku suatu kesilapan.

Nabi Muhammad s.a.w. telah menghantar sepasukan pemanah-pemanah yang terdiri daripada 50 orang untuk menguasai tentera berkuda pihak musuh yang mungkin menyerang tentera Muslimin dari belakang. Mereka diperintahkan supaya menetap diatas sebuah bukit dibelakang tentera Muslimin selagi mereka tidak menerima arahan daripada Nabi Muhammad s.a.w. sendiri menyuruh mereka berundur dari situ. Tetapi mereka ini telah mengingkari arahan Baginda s.a.w. Apabila mereka lihat askar-askar musuh lari lintang pikang, diburu oleh Mujahid-Mujahid Islam, mereka menyangka yang kemenangan telah pun tercapai lantas meninggalkan tempat mereka sambil berkejar-kejaran untuk mendapatkan harta rampasan. Yang tinggal diatas bukit itu hanyalah ketua mereka dan beberapa orang yang masih taat. Apabila dilihat oleh pemimpin tentera mushrikin yang bukit itu telah terdedah, dia pun mengerah pasukannya menyebu dan membunuh tentera panah Muslimin yang masih bertahan diatasnya dan melancarkan serangan balas terhadap tentera muslimin dari belakang ketika mereka sedang asyik mengumpulkan tentera rampasan.Dalam keadaan kelam kabut inilah Anas terpandang kepada Saad bin Maaz yang sedang melalui hadapannya. Dia memekik mengatakan:”Ya Saad! Kemana engkau? Demi Allah! Aku mencium bau Syurga yang datangnya dari Jabal Uhud”.

Dengan berkata demikian dia pun menerkam musuh lalu menentang mereka habis-habisan sehingga dia gugur sebagai Syahid dimedan peperangan. Apabila badannya yang berlumuran darah itu diperiksa terdapat tidak kurang dari 80 liang luka semuanya.Tidak ada siapa yang dapat mengenalinya melainkan saudara perempuannya sahaja. Orang yang berjihad dijalan Allah s.w.t.. dengan penuh keikhlasan dan kejujuran akan mengecap nikmat syurga didunia ini dan diakirat. Demikianlah hal keadaannya dengan sahabat Anas bin Nadhr.

PERDAMAIAN HUDAIBIYAH DAN KISAH ABU JANDAL DAN ABU BASIR

Pada tahun Hijrah yang ke enam, Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya telah bertolak keMekah untuk mengerjakan Umrah. Berita mengenai Baginda s.a.w. telah sampai kepengetahuan puak Khuraish, mereka pun bersiap sedia untuk menghalang kemasukan Nabi Muhammad s.a.w Sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w yang berjumlah 1400 orang semuanya dengan semangat keislaman yang berkobar-kobar berazam hendak merempuh masuk keMekah walaupun perbuatan ini akan melibatkan pertempuran secara terbuka tetapi Nabi Muhammad s.a.w. tidak bersependapat dengan mereka. Selepas berfikir sedalam-dalamnya, Baginda s.a.w. memutuskan hendak membuat perjanjian dengan pihak Khuraish serta menerima syarat-syarat yang dikenakan oleh mereka seluruhnya.

Perjanjian yang berat sebelah ini menghampakan perasaan sabahat-sahabat Baginda s.a.w. tetapi kepatuhan dan taat setia mereka kepada Baginda s.a.w. tidak membenarkan mereka menyuarakan bantahan mereka terhadap perjanjian yang tidak adil ini. Pahlawan Islam yang seberani-beraninya seperti Umar pun terpaksa tunduk kepada keputusan yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad s.a.w Mengikut salah satu daripada syarat-syarat perjanjian ini orang-orang Khuraish yang menyerah diri kepada pihak orang Muslimin mesti dikembalikan kepada Khuraish sedangkan orang-orang Islam yang menyerah diri kepada pihak Khuraish tidak akan dikembalikan kepada kaum Muslimin.

Abu Jandal, seorang pemeluk agama Islam sedang menerima penyiksaan yang dahsyat ditangan Khuraish. Apabila ia mendengar yang Nabi Muhammad s.a.w sedang berkhemah diHudaibiah, dia pun melepaskan dirinya lalu lari ketempat perkhemahan Nabi Muhammad s.a.w pada masa Perdamaian Hudaibiah hendak ditantangai. Ayah Abu Jandal,Suhail, yang ketika itu belum lagi memeluk Islam menjadi jurucakap bagi pihak Khuraish dalam perundingan mereka dengan Nabi Muhammad s.a.w untuk merangka butir-butir Perdamaian Hudaibiah. Dia menempeleng anaknya Abu Jandal serta memaksanya balik keMekah. Oleh kerana peristiwa ini berlaku ketika Perdamaian Hudaibiah belum berkuatkuasa lagi, Nabi Muhammad s.a.w berpendapat yang perkara perlarian Abu Jandal kepihak Muslimin tidak tertakluk dibawah perjanjian itu, tetapi ayah Abu Jandal menolak hujah-hujah yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad s.a.w

Penderitaan Abu Jandal ini menyayatkan hati para sahabat, tetapi apakan daya oleh kerana inginkan perdamaian Nabi Muhammad s.a.w terpaksa menyerahkannya kembali kepada pihak Khuraish sambil menyampaikan kata-kata penawar yang berikut:”Janganlah hendaknya kamu bermuram durja, wahai Abu Jandal. Allah s.w.t. sudah tentu akan membuka jalan buat kamu.”

Selepas Perdamaian Hudaibiah ditandatangai dan selepas kepulangan Nabi Muhammad s.a.w. ke Madinah, seorang lagi penduduk Mekah yang beragama Islam telah melepaskan dirinya ke Madinah untuk mendapat perlindungan Nabi Muhammad s.a.w. Orang ini bernama Abu Basir. Permintaan orang yang kedua ini pun terpaksa ditolak oleh Nabi Muhammad s.a.w kerana menghormati Perdamaian Hudaibiah itu.Apabila tiba dua orang wakil puak Khuraish untuk membawanya pulang, ia pun diserahkan kepada orang-orang itu, tetapi sempat  juga Nabi Muhammad s.a.w menasihatinya supaya bersabar dan mengharapkan pertolongan Allah s.w.t.

Dalam perjalanan ke Mekah, Abu Basir telah menggunakan helah untuk melepaskan diri. Kata Abu Basir kepada salah seorang daripada pengawal-pengawal itu:”Kawan, bagus sungguh pedang kamu itu.”Setelah pedangnya dipuji demikian rupa, orang itu pun berasa bangga lalu menghunuskan pedangnya sambil berkata:”Betul kata kau. Pedang ini bagus dan aku telah mencubanya keatas beberapa orang manusia. Nah, tengoklah kalau awak hendak.”

Sebaik sahaja pedang tiba ketangannya, Abu Basir pun membunuh orang itu. Melihat apa yang telah berlaku, pengawal yang seorang lagi cabut lari ke Madinah untuk melapurkan kejadian tadi kepada Nabi Muhammad s.a.w Sementara itu Abu Basir sendiri telah tiba dihadapan Nabi Muhammad s.a.w Katanya kepada Nabi Muhammad s.a.w”Ya Rasulullah, tuan telah kembalikan saya untuk menunaikan janji-janji tuan kepada kafir-kafir Khuraish itu, tetapi saya sendiri tidak ada apa-apa yang hendak ditunaikan. Saya tidak berjanji, Saya melepaskan diri kerana takut kalau-kalau mereka merosakkan keimanan saya”

Sahut Nabi Muhammad s.a.w”Kamu dengan secara tidak sedar sedang menyalakan apa peperangan. Tentu aku berasa suka kalau engkau dapat diberi pertolongan.”

Dari kata-kata Nabi Muhammad s.a.wAbu Basir berpendapat yang dia akan diserahkan kepada kafir Mushrikin sekiranya mereka membuat rayuan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Oleh yang demikian dia pun meninggalkan Madinah lalu menuju ke sebuah tempat dipadang pasir berdekatan dengan pantai. Tidak lama kemudian Abu Jandal pun menyertainya setelah melepaskan dirinya dari puak Khuraish. Bilangan mereka telah meningkat apabila lebih banyak orang perlarian Islam yang terlepas dari puak Khuraish menyertai mereka. Ditempat persembunyian mereka ini, mereka telah menghadapi penderitaan hidup yang maha hebat tetapi oleh kerana tidak tertakluk kepada Perjanjian Hudaibiah, mereka telah mengganggu khalifah-khalifah Khuraish yang berlalu lalang berdekatan dengan tempat persembunyian mereka. Demikianlah hebatnya gangguan-gangguan yang mereka jalankan sehinggan puak Khuraish terpaksa menemui Nabi Muhammad s.a.w dan merayu kepada Nabi Muhammad s.a.w. supaya berusaha memberhentikan gangguan-gangguan itu.

Mengikut cerita Abu Basir sedang menghadapi maut ditempat tidurnya apabila surat kiriman Nabi Muhammad s.a.wsampai ketangannya. Dalam surat itu Nabi Muhammad s.a.w telah membenarkan ia kembali ke Madinah. Dia meninggal sambil memegang surat yang dihantar oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Demikianlah kisah yang menunjukkan kekuatan iman seorang hamba Allah s.w.t. Tidak ada suatu kuasa pun dipermukaan bumi ini yang dapat merosakkan keimanan seseorang asal saja keimanan itu merupakan keimanan yang sejati. Allah s.w.t. tetap akan menolong orang yang benar-benar beriman denganNya.

BILAL DAN PENDERITAANNYA

Bilal r.a.hu adalah salah seorang daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang paling terkenal. Dia merupakan muazzin atau juru azan di Masjid Nabi. Dia merupakan seorang hamba Habshi yang dimiliki oleh seorang kafir di Mekah. Pengislamannya telah menimbulkan kemarahan yang tidak keruan didalam hati pemiliknya. Dia pun diazabkan tanpa perikemanusiaan. Umayyah bin Khalaf, pemusuh ISLAM yang terkemuka yang memiliki Bilal akan membaringkannya atas pasir yang panas membakar serta meletakkan batu besar diatas dadanya sehingga ia tidak dapat menggerakkan tulangnya yang lapan kerat. Kemudian berkatalah Umayyah kepada Bilal:”Tinggalkanlah agamamu. Kalau tidak matilah kamu dalam kepanasan matahari yang tegak.”

Bilal menjawab dengan berkata:”Ahad”-(Tuhan Yang Esa)-”Ahad-(Tuhan Yang Esa).”

Pada waktu malam ia didera dengan cemeti sehingga badannya luka. Pada waktu siang pula, dia dibaringkan diatas pasir yang panas. Tuannya berharap yang ia akan meninggalkan agamanya atau pun mati akibat luka-luka dibadannya. Namun demikian Bilal masih tetap dengan pendiriannya yang teguh. Umayyah, Abu Jahal dan pengikut-pengikut mereka menyiksa Bilal secara bergilir-gilir. Akhirnya Abu Bakar telah menebuskannya dan dari sejak itu hiduplah ia sebagai seorang Muslim yang bebas. Semenjak ia dibebaskan, dia sentiasa berdampingan dengan Nabi Muhammad s.a.w. sehingga Baginda s.a.w. wafat. Selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w., Bilal pun meninggalkan Kota Madinah.

Pada suatu ketika dia telah melihat Nabi Muhammad s.a.w. dalam mimpinya. Berkata Nabi Muhammad s.a.w. kepada Bilal: “Wahai Bilal, mengapakah kamu tidak melawatku?”

Sebaik-baik sahaja dia bangun dari tidurnya, dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke Madinah. Setibanya dia dikota itu dia telah berjumpa dengan Hassan dan Hussain, cucunda Nabi Muhammad s.a.w. Mereka menyuruh dia berazan.Permintaan orang yang dicintainya itu tidak dapat ditolak. Apabila suara Bilal berkumandang diruang angkasa Kota Madinah, penduduk-penduduknya pun tanpa segan dan silu menghamburkan air mata mereka kerana teringat zaman keemasan yang telah mereka lalui semasa hidupnya kekasih mereka Nabi Muhammad s.a.w. Sekali lagi Bilal telah meninggalkan Kota Madinah dan akhirnya meninggal dunia di Damsyik pada tahun Hijiriah yang ke dua puluh.

ISLAMNYA ABUZAR GHIFARI

Abuzar Ghifari merupakan seorang sahabat c yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuan dan kesalehannya.Kata Ali r.a.hu.: “Abuzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tak dapat diperolehi oleh orang lain”

Apabila ia mula-mula mendengar khabar tentang kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., dia telah menghantar saudara laki-lakinya untuk menyiasat dengan lebih mendalam mengenai orang yang mendakwa menerima berita dari langit.Setelah puas menyiasat, saudaranya pun melapurkan kepada Abuzar yang Nabi Muhammad s.a.w. itu seorang yang bersopan-santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibaca kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair. Lapuran yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abuzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataaan. Setibanya di Mekah, dia terus ke Baitul Haram. Pada masa itu dia tidak kenalNabi Muhammad s.a.w. dan memandangkan keadaaan pada masa itu dia berasa takut hendak bertanya darihal Nabi Muhammad s.a.w.Apabila menjelang waktu malam, dia dilihat oleh Ali r.a.hu. Oleh kerana dia seorang musafir Ali r.a.hu terpaksa membawa Abuzar kerumahnya dan melayani Abuzar sebaik-baiknya sebagai tetamu. Ali r.a.hu tidak bertanya sesuatu apa pun dan Abuzar bagi pihak dirinya pun tidak memberitahukan Alitentang maksud kedatangannya ke Mekah. Pada keesokan harinya Abuzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abuzar gagal menemui Nabi Muhammad s.a.w. kerana pada masa itu orang-orang ISLAM sedang diganggu hebat oleh kafir-kafir musrikin. Bagi malam yang keduanya Ali r.a.hu membawa Abuzar kerumahnya. Pada malam yang kedua ini pun Ali r.a.hu tidak bertanya hal Abuzar, tetapi pada malam ketiga Ali r.a.hu bertanya:”Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?”

Sebelum menjawab, Abuzar meminta Ali r.a.hu berjanji supaya bercakap benar. Kemudian ia pun bertanya kepada Ali r.a.hu tentang Nabi Muhammad s.a.w. Ali r.a.hu berkata sebagai menjawab soalan Abuzar:”Dia sesungguhnya PESURUH ALLAH. Esok engkau ikut saja aku dan aku akan membawa kamu menjumpainya. Tetapi awas bencana yang buruk akan menimpai kamu kalau perhubungan kita ditahui orang. Semasa berjalan esok kalau aku dapati bahaya mengancam kita aku akan berpisah agak jauh sedikit daripada kamu dan berpura-pura membetulkan kasutku, tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak mensyaki perhubungan kita.”

Pada esoknya itu Ali r.a.hu pun membawa Abuzar bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w. Tanpa banyak soal-jawab, dia telah memeluk agama ISLAM. O;eh kerana takut kalau-kalau dia diapa-apakan oleh pihak musuh, Nabi Muhammad s.a.w. pun menasihatinya supaya lekas balik dan supaya jangan mengistiharkan pengislaman di khalayak ramai, tetapi Abuzar dengan berani menjawab:Ya Rasulullah, aku bersumpah dengan Allah yang jiwaku ditanganNya bahawa aku akan mengucap KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir musyirikin itu.”

Janjinya pada Nabi Muhammad s.a.w. ditepatinya. Selepas ia meninggalkan Bagimda dia mengarahkan langkahnya ke Baitul Haram dimana dihadapan kaum musyrikin dan dengan suara yang lantang dia telah mengucapkan DUA KALIMAT SYAHADAH

“AKU MENYAKSIKAN YANG TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH DAN AKU MENYAKSIKAN YANG MUHAMMAD ITU PESURUH ALLAH.”

Apatah lagi, demi didengarinya ucapan Abuzar itu, orang-oarang kafir pun menyerbuinya lalu memukulnya. Kalau tidaklah kerana Abbas, (ayah saudara Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu belum memeluk agama ISLAM ) Abuzar sudah tentu menemui ajalnya.Kata Abbas kepada kafir-kafir musyirikin yang menyerang Abuzar:”Tahukah kamu siapa orang ini? Dia ialah dari puak Ghifar. Khalifah-khalifah kita yang berulang alik ke Sham terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, mereka sudah tentu akan menghalang perniagaan kita dengan Sham.”

Pada hari yang berikutnya Abuzar sekali lagi mengucap DUA KALIMAT SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Quraish dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.Keghairahan Abuzar mengucap DUA KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Khuraish sungguh-sungguh luar biasa kalau dikaji dalam kontek larangan Nabi Muhammad s.a.w. kepadanya. Apakah dia boleh dituduh sebagai telah mengingkari perintah Nabi Muhammad s.a.w.

Jawabnya-TIDAK. Dia tahu yang Nabi Muhammad s.a.w. sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya kearah menyibarkan agama Islam. Dia hanya hendak mencontohi Nabi Muhammad s.a.w. walaupun dia mengetahui dengan berbuat demikian dia mendedahkan dirinya kepada bahaya. Semangat keislaman yang sebeginilah yang telah membolehkan para sahabat mencapai puncak kejayaan dalam alam lahiriah serta batiniah. Keberanian Abuzar ini sudah selayaknya dicontohi oleh umat Islam dewasa ini didalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiah. Kekejaman, penganiayaan serta penindasan tidak semestinya melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan Dua Khalimah Syahadah.

PENDERITAAN KHABBAB BIN ALARAT

Khabbab ialah seorang manusia yang telah banyak berkorban kerana agama yang telah dianutinya. Dia awal-awal lagi telah memeluk agama Islam dan oleh yang demikian penderitaan yang ditanggungnya pun agak lama juga. Dia telah dipaksakan memakai baju besi dan disuruh berbaring dipasir, mendedahkan badannya pada panas matahari yang terik hingga kulitnye mengelupas. Khabbab adalah seorang hamba abdi kepada seorang perempuan. Apabila diketahui oleh si perempuan tadi yang dia sering melawat Nabi Muhammad s.a.w kepalanya diselar dengan panas yang merah membara.

Umar r.a.hu semasa beliau  menjadi Khalifah telah bertanya kepaha Khabbab tentang penderitaannya dikala mula-mula menganuti agama Islam dahulu. Sebagai menjawab dia menunjukkan parut-parut luka dibelakang badannya. Kata Umar,”Aku tidak pernah melihat belakang badan yang sedimikian rupa.” Melanjutkan ceritanya dia mengatakan yang dia telah diheret diatas suatu timbunan bara api sehingga lemak-lemak dan darah yang mengalir dari badannya memadamkan bara-bara api itu. Apabila agama Islam telah merebak ke merata-rata tempat, Khabbab sering duduk menangis sambil berkata:”Nampaknya Allah s.w.t. sedang memberi ganjaran bagi segala penderitaan yang kita alami. Mungkin di akhirat nanti tidak ada ganjaran yang bakal kita terima.”

Khabbab bercerita:

Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. telah mengimami kami dalam sembahyang. Rasulullah s.a.w telah memanjangkan suatu rakaat. Diakhir sembahyang itu kami bertanya tentang rakaat yang panjang tadi. Rasulullah s.a.wmenjawab:”Saya telah membuat tiga permintaan kepada Allah s.w.t.. Saya berdoa:”Ya Allah, janganlah hendaknya ummatku mati kerana kebuluran, janganlah hendaknya ummatku dihapuskan oleh musuh dan janganlah hendaknya mereka berkelahi sesama mereka”.”Allah s.w.t.. telah menunaikan hanya dua permintaanku yang pertama.”

Khabbab telah meninggal dunia apabila usianya meningkat tiga puluh tujuh tahun. Dia merupakan sahabat yang pertama sekali dikebumikan di Kufah. Pada suatu ketika apabila Ali r.a.hu melalui pusaranya beliau pun berkata:”Moga-moga Allah s.w.t. memberkhati dan melimpahkan rahmatNya keatas Khabbab. Dia telah memeluki Islam dengan segala senang hati dan telah menumpukan segala tenaganya semasa ia hidup untuk berusaha dijalan Allah, walaupun dengan berbuat demikian dia menderita kesusahan. Berbahagialah orang yang sentiasa mengingati hari Kiamat, yang sentiasa bersiap sedia untuk menghadapi perhitungan diAkhirat nanti, yang berpuas hati dengan hidup berdikit-dikit didunia ini dan yang perbuatannya mendatangkan keridhaan tuhan.”

Keridhaan Allah s.w.t.lah yang menjadi matlamat tunggal perjuangan hidup para sahabat semuanya. Semoga kita semua juga akan mendapat keridhaan Allah s.w.t.

AMMAR DAN IBUBAPANYA

Ammar dan kedua-dua orang tuanya termasuk dalam golongan kaum Muslimin yang disaksikan oleh pemusuh-pemusuh Islam kerana menerima ajaran Nabi Muhammad s.a.w. Mereka telah diazabkan diatas batu-batu dan tanah yang panas membakar. Apabila Rasullullah s.a.w. lalu berdekatan mereka Nabi Muhammad s.a.w. akan menggesa mereka supaya bersabar sambil memberi khabar gembira mengenai syurga. Yasir, ayah kepada Ammar telah meninggal dunia setelah menerima penyiksaan yang berpanjangan. Ibunya yang telah tua pula ditikam mati dengan dengan lembing oleh Abu Jahal. Dia enggan meninggalkan agamanya walaupun disiksa dengan pedihnya. Dia merupakan wanita pertama yang sahid kerana mempertahankan agama.

Apabila Nabi Muhammad s.a.w. hendak berhijrah ke Madinah, Ammar telah menawarkan hendak membuat sebuah binaan dimana Nabi Muhammad s.a.w. boleh duduk, berehat diwaktu petang dan mengerjakan solat. Binaan ini didirikan dengan batu-batu yang dipungutkan oleh dirinya sendiri. Dia menentang musuh-musuh Islam dengan penuh keghairahan dan keberanian. Dalam suatu pertempuran dia telah berkata dengan gembiranya: “Aku akan menemui kawan-kawan aku tak lama lagi. Aku akan berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. dan sahabat-sahabatnya.”

Kemudian ia meminta air untuk diminum tetapi dia diberi susu. Sambil mengambil susu itu dia berkata: Aku mendengar Nabi Muhammad s.a.w.. berkata padaku:”susu inilah minuman kau yang terakhir didunia!”

Dia bangun lalu meneruskan perjuangannya menentang musuh sehingga ia gugur. Pada masa itu dia berusia sembilan puluh empat tahun.

ISLAMNYA SOHAIB

Sohaib dan Ammar memeluk Islam pada waktu yang sama. Pada masa itu Nabi Muhammad s.a.w. tinggal ditempat kediaman Arqam. Mereka datang secara berasingan untuk memeluk agama Islam dan telah bertemu dipintu rumah  Arqam. Sohaib seperti Ammar telah menderita akibat penyiksaan yang diterima ditangan pemusuh-pemusuh Islam. Akhirnya dia memutuskan hendak berhijrah ke Madinah.Kafir-kafir Quraish tidak mahu dia berbuat demikian lantas menghantar suatu gerombolan untuk memaksanya balik ke Mekah.Sebaik-baik sahaja kafir-kafir musyrikin itu mendekatinya, dia memekik kepada mereka:”Kamu semua tahu yang aku ini pemanah yang lebih handal daripada kamu. Selagi ada anak panah pada ku selama itulah kamu tidak dapat menghampiri aku. Apabila habis anak panah ku aku akan menggunakan pedang aku pula. Kalau kamu suka pergilah ambil wangku yang kutinggalkan di Mekah dan dua orang sahaya perempuanku sebagai penebusan diriku.”

Mereka bersetuju. Dia pun memberitahu tempat dimana wangnya disimpan. Selepas itu dia meneruskan perjalanannya ke Madinah. Berkenaan dengan perbuatan Sohaib ini Allah s.w.t. telah menurunkan ayat yang berikut kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud:

“Dan dari antara manusia ada yang menjual dirinya kerana hendak mencari keridhaan Allah dan Allah itu amat penyayang kepada hamba-hambaNya.”

Pada ketika menerima ayat ini Nabi Muhammad s.a.w.. berada di Qubo. Apabila dilihatnya Sohaib, Baginda s.a.w. pun berkata: “Penjualan yang baik sungguh, Sohaib.”

ISLAMNYA UMAR

Umar r.a.hu selepas ia memeluk agama Islam, menjadi kebanggaan orang-orang Islam dan musuh ketat kafir-kafir musyrikin tetapi sebelum itu dia menentang Nabi Muhammad s.a.w. dan mengganggu orang-orang yang menganuti Islam. Dalam suatu mesyuarat orang-orang Quraish, pada suatu hari mereka telah memutuskan hendak meminta salah seorang daripada mereka supaya membunuh Nabi Muhammad s.a.w.

Umar telah tampil kehadapan sebagai sukarelawan yang ingin mengusahakan pembunuhan itu. Tiap-tiap Quraish yang menghadiri mesyuarat itu berkata serentak”Ya, engkaulah yang dapat melakukannya,Umar!”

Dengan pedang yang bergantungan dilehernya, Umar pun mengarahkan langkah menuju ketempat kediamanNabi Muhammad s.a.w. Dalam perjalanannya ia telah menemui Saad bin Abi Waqqas. Saad berkata: “Kemana kau, Umar?”Umar menjawab: “Aku hendak pergi menamatkan riwayat hidup Nabi Muhammad ” Saad: “Kalau begitu Banu Hashim, Banu Zuhrah dan Banu Abdi Manaf akan membunuh kamu sebagai tindakan balas.”Umar(gelisah dengan amaran itu) berkata: “Nampaknya kau juga telah meninggalkan agama nenek moyang kau. Biar aku kerjakan kau dahulu.”

Umar dengan serta merta menghunus pedangnya. Sambil mengistiharkan pengislamannya Saad juga berbuat demikian. Sebelum bertarung dengan Umar  sempat juga berkata:”Lebih baik kau menguruskan rumahtangga kau dahulu. Saudara perempuan kau dan iparkau, kedua-duanya telah memeluk agama Islam”

Kemarahan Umar ketika mendapat cerita itu tak dapat diceritakan lagi. meninggalkan Saad, dia menggerakkan langkahnya kearah rumah saudara perempuannya. Setibanya dirumah itu dia dapati rumah itu telah berkunci dari dalam. Sambil mengetuk-ngetuk pintu itu dia menjerit dengan sekuat tenaga kepada saudaranya supaya pintu itu dibuka. Mendengar suara Umar, Khabbab telah lari bersembunyi meninggalkan masyaf-masyaf Quran yang sedang mereka baca. Apabila pintu dibuka Umar dengan cepat menempeleng saudaranya sambil berkata:”Hai pengkhianat dirimu sendiri, engkau juga telah meninggalkan agamamu.”

Tanpa menghiraukan kepala saudaranya yang berdarah, dia masuk kedalam sambil bertanya: “Apakah kelian sedang buat tadi dan siapa dia orang yang suaranya aku dengar dari luar?” Iparnya menjawab:”Kami hanya berbual-bual.” Umar bertanya kepada iparnya “Adakah kamu juga telah meninggalkan agama nenek moyang kamu dan memeluk agama baru?” Ipar Umar menjawab:” Bagaimana pula agama baru itu lebih baik dari agama kita yang lama itu?” Jawapan itu menyebabkan Umar memukul dengan kejam  dan menarik-narik janggutnya. Saudaranya yang datang hendak melerai mereka juga dipukul sehingga mukanya berlumuran dengan darah. Sambil menangis saudara  perempuannya berkata:”Umar! kami dipukul hanya kerana kami memeluk agama Islam. Kami berazam hendak mati sebagai orang-orang Islam Kau bebas melakukan apa saja yang kau suka atas diri kami.”

Apabila hatinya sejuk sedikit dia berasa malu atas perbuatannya terhadap saudara perempuannya itu. Tiba-tiba ia terpandang akan masyaf-masyaf yang ditinggalkan oleh Khabbab tadi. Katanya:”Baiklah, tunjukkan masyaf-masyaf ini.” “Tidak,” kata saudaranya.: “Badan kau tak bersih dan orang yang tak bersih tak seharusnya memegang  masyaf-masyaf ini.” Umar akhirnya membersihkan badannya dan mula membca masyaf-masyaf tadi. Surah yang dibacanya ialah SURAH TAHA.Dia membaca dari permulaan surah itu.Seluruh sikap dan pandangannya berubah apabila  ia sampai ke ayat yang bermaksud:

“Akulah Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Aku. Oleh itu sembahlah Aku dan dirikanlah sembahyang buat mengingati Aku.”

Kata Umar: “Baiklah, bawa aku bertemu dengan Muhammad “

Mendengar kata-kata Umar itu Khabbab pun keluarlah dari tempat persembunyiannya sambil berkata:”Ya Umar, ada berita baik untuk kamu. semalam (iaitu malam Juma’at)Nabi Muhammad s.a.w. telah berdoa kepada Allah s.w.t..: “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau Abu Jahal, siapa yang Engkau suka.”.Nampaknya Allah s.w.t. telah memilih engkau sebagai menunaikan permintaan Nabi Muhammad s.a.w.

Umar telah menemui Nabi Muhammad s.a.w. dan pada pagi Juma’at dia telah memeluk agama Islam Pengislaman Umar merupakan merupakan suatu pukulan yang hebat kepada puak musyrikin. Sungguh pun begitu bilangan orang Islam terlalu kecil kalau dibandingkan dengan bilangan puak musuh. Kafir-kafir musyrikin telah memperhebatkan usaha-usaha mereka untuk menghapuskan orang-orang Islam serta agama mereka. Dengan Islamnya Umar, kaum Muslimin telah bertambah berani dan sekarang mereka mendirikan sembahyang di Baitul Haram. Kata Abdullah bin Masud: “Pengislaman Umar merupakan suatu kejayaan besar kepada kaum Muslimin, perpindahannya menguatkan kami dan perlantikannya sebagai Khalifah merupakan suatu keberkatan kepada kami.:”

PERPINDAHAN KE HABSHAH DAN PEMULAUAN DILEMBAH IBNU ABI TALIB

Kesusahan dan penderitaan yang ditanggung oleh kaum Muslimin semakin bertambah-tambah. Baginda s.a.w akhirnya membenarkan mereka meninggalkan Mekah. Negeri Habshah pada masa itu diperintahkan oleh seorang raja Kristian (kemudiannya telah memeluk Islam) yang masyhur dengan belas-rahim dan keadilannya. Dalam bulan Rejab, selepas selepas lima tahun Nabi Muhammad s.a.w. menjalankan dakwahnya, kumpulan orang-orang pelarian yang pertama telah berlepas ke Habshah. Kumpulan ini terdiri daripada lima belas orang lelaki dan lima orang perempuan. Puak Quraish yang mengejar mereka tiba dipelabuhan selepas kapal mereka bertolak. Setibanya mereka diHabshah , mereka mendengar khabar angin yang mengatakan bahawa kesemua puak Quraish telah beriman dan menerima ajaran Islam. Kegembiraan mereka bukan kepalang. Mereka pun memutuskan hendak kembali ketanah air mereka, tetapi apabila hampir-hampir tiba keMekah mereka dapati yang berita angin yang mereka dengar semasa diHabshah tidak benar sama sekali. Kempen mengganggu orang-orang Islam tidak sedikit pun berkurangan. Oleh hal yang demikian setengah daripada mereka terpaksa belayar kembali keHabshah sedangkan yang lainnya memasuki kota Mekah dengan perlindungan orang-orang yang berpengaruh. Peristiwa ini dikenali dengan ‘PERPINDAHAN KEHABSHAH YANG PERTAMA’. Tidak lama kemudian satu rombongan yang lebih besar terdiri daripada lapan puluh orang lelaki dan lapan belas perempuan telah berlepas keHabshah. Pemergian yang kedua ini disebut sebagai ‘PERPINDAHAN KEHABSHAH YANG KEDUA’. Ahli-ahli rombongan yang kedua ini termasuk juga sebilangan kecil para sahabat Nabi Muhammad s.a.w.

Pemergian orang-orang Islam keHabshah menimbulkan kemarahan kafir-kafir Quraish. Suatu rombongan puak Quraish lengkap dengan hadiah-hadiah yang akan diberi kepada Raja Habshah, pembesar-pembesar istananya dan paderi-paderi Kristian telah berlepas kesana. Setelah pembesar-pembesar istana disogok mereka dengan senang masuk keistana penghadapan untuk menemui Raja. Mereka disujudkan dihadapan Raja sambil meletakkan hadiah-hadiah didepannya.

Mereka pun berbicara: “Tuanku, sebilangan kecil orang-orang kami telah meninggalkan agama mereka yang turun termurun dan telah memeluk agama baru yang bertentangan dengan agama kami dengan agama kamu. Merka telah datang untuk tinggal disini. Pembesar-pembesar Mekah, ibu bapa dan kaum kerabat mereka telah menghantar kami untuk membewa mereka balik. Kami memohon Tuanku supaya mereka diserahkan kepada kami.”

Jawab Raja Habshah:” Kami tidak dapat menyerah orang yang telah diminta perlindungan kami tanpa usul periksa. Biarlah mereka dibawa kehadapan kami supaya dapat kami mengkaji hujah-hujah mereka. Kalau tuduhan kemurtadan yang telah kamu melemparkan terdapat mereka itu benar kami akan serahkan mereka kepada kamu.”

Oleh Raja Habshah disuruhnya pegawai-pegawainya membawa orang Islam kebalai penghadapan.Orang-orang Islam itu berasa gelisah kerana tidak tahu apa yang mesti diperbuat tetapi Allah s.w.t. telah memberikan peransang. Sebaik-baik sahaja mereka sampai sampai dihadapan Raja mereka menyampaikan salam kepadanya. Seorang pegawai istana telah membantah mengatakan yang mereka tidak bersujud dihadapan raja. Mengikut adat kebiasaan orang-orang Habshi mereka menerangkan:”Nabi kami telah melangkan kami supaya bersujud kepada sesiapa melainkan Allah s.w.t.”

Kemudian Raja Habshah telah menyuruh mereka membentangkan hujah-hujah mereka sebagai mempertahankan diri dari pertuduhan puak Quraish. Jaafar r.a.hu bangun lalu berucap:”Tuanku! Kami ini manusia yang jahil. Kami tidak mengenal Allah s.w.t. dan Pesuruh-pesuruhNya.Kami menyembah batu-batu, memakan bangkai serta mengerjakan segala jenis kejahatan.Kami tidak menunaikan kewajipan kami terhadfap kaum kerabat kami. Yang kuat diantara kami akan menindas yang lemah. Akhirnya bangunlah seorang Nabi yang membawa pembaharuan didalam penghidupan kami. Keturunan yang mulia,  perangainya yang lurus dan kehidupannya yang suci bersih diketahui umum.Dia menyeru kami supaya kami menyembah Allah s.w.t. dan meninggalkan perbuatan-perbuatan syirik.Dia mengajar kami melakukan perbuatan yang Ma’ruf dan meninggalkan yang Mungkar. Dia mengajarkan kami supaya bercakap benar, menunaikan amanah, menghormati kaum-kaum kerabat dan berbuat baik dengan jiran tetangga. Daripadanya kami belajar sembahyang, berpuasa, berzakat dan berkelakuan baik. Kami diajar supaya menjauhi perbuatan-perbuatan jahat dan pertumpahan darah. Dia melarang perzinaan, perbuatan-perbuatan lucah, bercakap bohong, memakan harta-harta anak yatim dengan secara haram, mengada-adakan fitnah dan sebagainya. Dia mengajar kami Quran dan Kitabullah yang mengkagumkan. Jadi kami percayakan kepadanya, kami mengikuti jejak langkahnya dan menerima ajaran yang dibawanya.Oleh kerana inilah maka kami telah menggangui dan disiksa dengan harapan kami akan kembali kepada keadaan sediakala.Apabila kejaman orang-orang kami melampui batas-batas perikemanusiaan, kami pun dengan doa restu Nabi kami telah datang kemari untuk berlindung ditempat Tuanku.”

Kata Raja Habshab:”Perdengarkan sedikit kuma Quran yang telah kamu pelajari daripida Nabi kamu.” Jaafar pun membacalah ayat-ayat pada permulaan ‘Surah Mariam’. Ayat-ayat yang dibaca begitu mengharukan hati nurani para pendengar sehingga pipi mereka dibasahi air mata.”Demi Allah!” kata Raji Habshah.”Perkatan-perkataan ini dari perkataan-perkataan yang diturunkan kepada Musa merupakan cahaya dari suatu sumber sinaran yang sama.”

Menoleh kepada perwakilan puak Quraish, Dia berkata yang dia enggan menyerahkan orang-orang pelarian itu kepada mereka.Sungguhpun orang-orang Quraish telah berasa malu dan hampa namun mereka tidak mahu mengaku kalah. Mereka mengadakan mesyuarat dimasa salah seorang daripada mereka telah berkata,:”Aku ada satu rancangan yang sudah tentu akan menimbulkan kemarahan baginda terhadap mereka.”Rancangan ini tidak dipersetujui oleh rombongan-rombongan Quraish yang lain. Mereka berpendapat bahawa jiwa orang-orang Islam akan terancam jika ianya berhasil. Mereka tidak ingin membahayakan orang yang sedarah sedaging dengan mereka. Tetapi orang mencadangkan itu tiddak mahu membatalkannya. Pada esoknya, dipengaruhi pleh orang lain, perwakilan Quraish telah menghasut Raja Habshah dengan menatakan yang orang perlarian Islam tidak percaya yang Nabi Musa itu anak Allah s.w.t. Sekali lagi orang-orang Islam dibawa menghadap raja. Meraka gementar kerana ketakutan apabila ditanya mengenai pendirian mereka tentang Nabi Musa a.s mereka dengan tegas menjawab: “Kami percaya kepada kata-kata Allah yang telah diturunkan kepada Nabi kami mengenai Isa iaitu dia hanya seorang hamba dan Pesuruh Allah Kami juga percaya dengan kata-kata Allah s.w.t. yang telah disampaikanNya kepada Maryam”

Negus (Raja Habshah) berkata:”Demikian juga dakwah Isa mengenai dirinya.”Paderi-paderi yang mendengar kata-kata Negus bersungut-sunut sebagai membantah tetapi dia tidak menghiraukan mereka. Dia mengembalikan hadiah-hadiah yang telah diberikan oleh perwakilan Quraish. Berpaling kepada pelarian-pelarian Islam, dia berkata:”Pergilah hidup dengan aman. Orang-orang yang menganiayai kamu akan menerima hukuman yang berat.”Satu pengistiharan diraja telah dirasmikan mengenai perkara ini. Rombongan Quraish telah balik dengan perasaan sedih dan memalukan.

Kegagalan perwakilan Quraish dan kemenangan orang-orang Islam telah menyebabkan  pihak mushrikin Mekah bertambah berang..Api merahan mereka telah bersemarak lagi apabila Umar telah memeluk agama Islam. Akibat kemarahan yang berleluasa ini, suatu persidangan yang dihadiri oleh pemuka-pemuka puak Quraish telah diadakan. Tujuan utama mesyuarat ini ialah hendak merancang pembunuhan  Baginda s.a.w. Mereka hendak mengatasi masalah Nabi Muhammad s.a.w. dengan sekali gus tetapi pembunuhan ini bukan satu perkara yang senang diselenggarakan. Banu Hashim, puak Nabi Muhammad s.a.w. sangat banyak bilangan ahli-ahlinya dan sangat kuat pengaruhnya dikalangan bangsa Quraish. Sungguhpun  banyak diantara mereka tidak menganuti agama Islam mereka sudah tentu tak akan berdiam diri kalau salah seorang daripada mereka dibunuh. Oleh hal yang demikian pemuka-pemuka Quraish telah memutuskan hendak menjalankan pemulauan sosial keatas Banu Hashim. Mereka telah menyusun satu dokumen dalam mana dinyatakan puak-puak Quraish lainnya tidak akan bergaul dan berjual-beli dengan puak Banu Hashim selagi mereka tidak menyerahkan Nabi Muhammad s.a.w.untuk dibunuh. Dokumen yang ditandatangi oleh pemuka-pemuka Quraish itu digantung di Kaabah. Pemulauan itu berjalan dan berkuatkauasa selama tiga tahun dan selama itu pula Nabi Muhammad s.a.w. dan puak Banu Hashim terkepung didalam satu lembah diluar Kota Mekah. Mereka tidak dibenarkan keluar dari lembah itu dan tidak boleh berjual-beli dengan puak-puak Quraish yang lain hatta dengan pedagang-pedagang asing sekalipun. Mereka yang melewati batas ‘penjara’ mereka ataupun yang cuba membeli barang-barang makanan dipukul dengan sekejam-kejamnya. Pemulauan ini sudah tentu mengakubatkan puak Bani Hashim menghadapi kebuluran. Mujur juga ada sedikit makanan yang telah diseludup oleh lelaki puak Quraish yang lain yang telah berkahwin dengan wanita-wanita Banu Hashim. Penderitaan yang dialami oleh mereka tidak dapat dibayangkan. Walau bagaimanapun Nabi Muhammad s.a.w dan para sahabatnya tetap teguh dengan keimanan mereka dan dalam keadaan yang tidak menyenangkan ini sempat juga mereka menyaampaikan ajaran Ilahi kepada manusia yang senasib dengan mereka.

Akhirnya selepas tiga tahun dengan khudrat dan iradat Allah s.w.t. dokumen yang digantung diKaabah telah hancur dimakan oleh anai-anai dan pemulauan yang dikenakan keatas Banu Hashim dengan sendirinya terbatal.

Demikianlah dengan serba ringkasnya gambaran penderitaan yang telah dialami oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabatnya. Kita yang mendakwa kita sebagai pengikut-pengikut mereka patut bertanya kepada diri kita sendiri menegenai usaha-usaha yang telah kita jalankan untuk menegakkan Syariat-syariat Islam. Apakah pengorbanan yang telah kita lakukan dijalan Allah s.w.t.? Kita ingin majukan duniawi dan nikmat hidup ukhrawi tetapi kita lupa yang ini semua tidak mungkin diperolehi tanpa pengorbanan dijalan Allah s.w.t.

KETAKUTAN NABI MUHAMMAD S.A.W SEWAKTU BERLAKU RIBUT

Telah berkata Aishah r.a.hu apabila angin ribut yang membawa awan hitam bertiup,wajah Nabi Muhammad s.a.w. kelihatan pucat kerana takutkan Allah s.w.t.. Baginda s.a.w. keluar masuk dalam keadaan gelisah sambil membaca doa berikut yang maksud: “Wahai Tuhanku, aku memohon kepadaMu kebajikan angin ini dan kebajikan yang ada didalamnya dan kebajikan apa yang Engkau kirim dengannya dan aku berlindung dengan Engkau dari kejahatan yang Engkau kirimkan dengannya.”

Kata Aishah lagi: “Apabila hujan mulai turun terbayang tanda-tanda kesukaan diwajah Nabi Muhammad s.a.w. Aku bertanya kepadanya: “Ya Rasulullah, apabila kelihatan semua orang merasa suka kerana yang demikian menandakan hujan akan turun tetapi mengapa aku melihat kamu pula berasa cemas?” Baginda s.a.w.menjawab. “Ya Aishah, bagaimana aku dapat menentukan bahawa angin yang bakal mendatang itu tidak menandakan kemurkaan Allah s.w.t.? Kaum A’ad telah dihapus oleh angin. Mereka berasa gembira apabila melihat awan-awan hitam tetapi bukannya hujan yang dibawa bahkan pembinasaan mereka sendiri.”

“Maka takkala mereka melihat (ancaman) itu sebagai awan menghadap kelembah-lembah mereka, mereka berkata”Ini awan yang akan menurunkan hujan keatas kita.” “Bukan! bahkan ialah ancaman yang kamu mintaya disegerakan iaitu angin yang didalamnya azab yang pedih- yang binasakan tiap-tiap suatu dengan perintahnya, sehingga jadilah mereka tidak kelihatan melainkan tempat-tempat mereka. Demikianlah kami balas kaum yang derhaka.”

Tuhan telah berjanji melalui sepotong ayat dalam SURAH AN-ANFAL yang Dia tidak akan mengazabkan manusia selagi Nabi Muhammad s.a.w. ada bersama-sama mereka. Dalam pada itu pun tiap-tiap kali angin kencang bertiup Nabi Muhammad s.a.w. tetap merasa takut. Bandingkan pula perasaan Baginda s.a.w. dengan perasaan kita apabila kilat memancar ataupun banjir berlaku. Yang takut segelintir sahaja. Merekalah yang mengucap Istighfar. Yang lain sibuk dengan keseronokkan hidup masing-masing.

AMAL PERBUATAN ANAS SEWAKTU RIBUT BERLAKU

Diceritakan oleh Nadhr bin Abdullah.

“Pada suatu hari ketika Anas masih hidup cuaca telah menjadi kelam. Saya pergi berjumpa dengannya sambil bertanya: “Pernah kau lihat perkara yang seperti ini berlaku semasa hayat Rasullullah s.a.w.?” Dia menjawab:”Aku berlindung dengan Allah s.w.t.. Pada masa itu kalau berlaku angin ribut kami akan bersegera kemasjid takut kalau-kalau berlaku hari kiamat.”Abu Darda bercerita: “Apabila angin kencang bertiup Nabi Muhammad s.a.w. akan berasa cemas. Baginda s.a.w. akan pergi kemasjid.”

Amalan seperti ini jarang sekali diperbuat oleh umat Islam sekarang sama ada dari golongan orang kebanyakan ataupun ulama. Mungkin mereka tidak ketahui yang amalan ini merupakan satu sunnah Baginda Rasullullah s.a.w.

RASULULLAH S.A.W. PADA MASA GERHANA MATAHARI

Matahari telah gerhana pada suatu hari. Para sahabat telah meninggalkan pekerjaan mereka masing-masing. Kanak-kanak kecil yang sedang berlatih memanah berlari-lari menuju kemasjid untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh  Nabi Muhammad s.a.w.

Nabi Muhammad s.a.w. telah mendirikan sembahyang dua rakaat yang sangat panjang sehingga ada orang yang jatuh pengsan. Dalam sembahyang itu   Nabi Muhammad s.a.w. telah menangis sambil berkata:”Ya Tuhanku, engkau telah berkata yang engkau tidak akan menyiksa (umatnya) selagi aku berada bersama mereka dan selagi mereka meminta keampunan engkau.”

Disini terjelaslah yang  Nabi Muhammad s.a.w.. merujuk kepada ayat Al-Quran yang bermaksud:

“Tetapi Allah tidak akan mengazabkan mereka selagi engkau ( Nabi Muhammad s.a.w.) bersama mereka dan DIA tidak akan mengazabkan, mereka meminta keampunan.” – (surah AL-ANFAL-33)

Kemudian dia mengucap kepada para jemaah:

“Kamu hendaklah bersegera melakukan solat apabila berlaku gerhana bulan atau matahari. Kalau kamu tahu tanda-tanda hari Kiamat sebagaimana aku ketahui tentu kamu banyak menangis dan sedikit ketawa. Peristiwa-peristiwa seperti ini memerlukan kita bersembahyang, berdoa kepada Allah s.w.t. dan bersedekah kepada fakir-miskin.”

TANGISAN NABI MUHAMMAD S.A.W. SEMALAMAN

Sekali, Nabi Muhammad s.a.w. telah menangis semalam-malaman sambil mambaca berkali-kali dalam sembahyang Tahajjudnya ayat yang bermaksud:

“Jika Engkau siksa mereka maka sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hambaMu dan jika Engkau ampunkan mereka maka sesungguhnya Engkaulah yang maha kuasa dan bijaksana”

Tangisan seperti ini pernah sekali dilakukan oleh IMAM ABU HANIFA (RAHMATULLAH ALAIHI) sambil membaca ayat ini yang bermaksud:

“Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berdosa”

Ayat ini membawa makna yang orang-orang yang mendurhakai Allah s.w.t. akan disuruh berpisah daripada mereka yang berbakti kepadaNya dan tidak dibenarkan bergaul dengan para salehin sebagaimana yang diperbuat oleh mereka didunia. Mengenangkan peristiwa yang bakal berlaku ini, maka mereka yang bertakwa sering menangis lantaran takut dimasukkan kedalam golongan yang mengengkari Allah s.w.t. pada hari Perhitungan kelak.

CONTOH TAKWA YANG DIPERTUNJUKKAN OLEH ABU BAKAR

Tidak syak lagi bahawa Abu Bakar r.a.hu merupakan manusia yang paling tinggi mertabatnya dikalangan para sahabat. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri pernah menyampaikan berita gembira mengenai kedudukannya yang utama diantara penguni-penghuni syurga  yang maha mulia.

Kata Nabi Muhammad s.a.w.:”Nama Abu Bakar akan diseru daripada segenap pintu syurga dan dialah pengikutku yang pertama akan memasukinya.”

Namun demikian perasaan takutnya kepada Allah s.w.t. tetap bertakhta dikalbunya. Dia sering berkata: “Alangkah baiknya kalau aku menjadi sebatang pokok yang ditebang dan dijadikan kayu api” Kadang-kadang dia berkata: “Alangkah baiknya kalau aku ini sehelai rumput yang riwayat hidupnya akan tamat apabila dimakan oleh seekor binatang ternakan.”

Pada suatu hari dia telah pergi kesebuah taman dimana ia lihat seekor burung sedang berciap-ciap. Katanya: “Wahai burung! Sungguh bertuah kamu. Kau makan minum dan bertebangan dibawah naungan pokok-pokok kayu tanpa sebarang perasaan takut tentang hari perkiraan  Aku ingin menjadi seperti engkau,wahai burung.”

Rabi’ah Aslami r.a.hu telah bercerita:

“Pada suatu hari saya telah bertentangan dengan Abu Bakar. Semasa pertengkaran itu berjalan, dia telah mengeluarkan sepatah perkataan kesat terhadap saya. Dengan serta-merta itu juga, dia telah menyedari akan kesalahannya itu lalu berkata: “Wahai saudara, gunakanlah perkataan itu terhadap saya sebagai tindakan balas.”

Saya enggan berbuat demikian. Dia menggesa-gesakan saya supaya menggunakan perkataan kesat tadi dan berkata hendak merujukkan perkara itu kepada Nabi Muhammad s.a.w. Saya tidak juga mahu mengalah. Dia lalu bangun lalu meninggalkan saya. Beberapa orang ahli dari puak saya yang menyaksikan peristiwa tadi mencemuh: “Ganjil betul orangnya, dia yang melakukan kesalahan dan dia pula mengancam hendak mengadu kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Saya dengan segera menyampuk: ” Kamu tahukah siapa dia? Dia adalah Abu Bakar. Menyinggungnya bererti menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. dan menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. bererti menyinggung Allah s.w.t., kalau perbuatan aku menyinggung Allah s.w.t., siapakah gerangannya yang akan menyelamatkan aku?”

Saya pun bangun lantas pergi menghadap Nabi Muhammad s.a.w. kepada Nabi Muhammad s.a.w. saya bercerita apa yang telah berlaku. Kata Nabi Muhammad s.a.w.:”Keengganan kamu mengeluarkan kata-kata kesat itu sudah kena pada tempatnya, tetapi untuk mengeluarkan penderitaan batinnya, kamu sekurang-kurangnya dapat berkata: “Semoga Allah s.w.t mengampuni kamu wahai Abu Bakar.”

Begitulah takwa yang telah dipertunjukkan oleh Abu Bakar. Keengganannya menerima pembalasan dialam akhirat menyebabkan dia memaksa Rabiah Aslami supaya mengambil tindakan balas terhadapnya. Kekesalannya dan penderitaan batinnya akibat kesalahannya itu sedemikian rupa sehingga dia sanggup menceritakan segala-galanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dengan harapan Nabi Muhammad s.a.w. dapat menolong. Bagaimanakah pula perasaan kita, ummat Islam kini selepas melakukan kesalahan yang seperti diatas? Kita seringkali melakukan kesalahan tanpa perasaan takut akan pembalasan sama ada didunia atau pun diakhirat nanti.

CONTOH TAKWA YANG DITUNJUKKAN OLEH UMAR

Umar r.a.hu kerap memegang sehelai jerami sambil berkata: “Alangkah baiknya kalau aku dapat menjadi jerami seperti ini.” Kadang-kala dia berkata: “Alangkah baiknya kalau aku tidak dilahirkan oleh ibuku!”

Pada suatu ketika Umar sedang sibuk dengan urusan yang penting. Tiba-tiba datang satu hamba Allah dengan satu pengaduan yang berkehendakkan pembetulan. Oleh Umar dicemetinya orang itu dibahagian bahunya. Umar berkata: “Bila aku duduk hendak menerima pengaduan engkau tidak datang tetapi bila aku sibuk dengan urusan penting engkau datang menggangui aku.”

Tanpa berkata apa-apa orang itu pun meninggalkan Umar. Sejurus kemudian ia dibawa kehadapan Umar sekali lagi. Sambil mengunjukkan cemeti tadi padanya Umar berkata: “Pukullah aku sebagai membalas perbuatan tadi.” “Kata orang itu: “Saya mengampuni awak kerana Allah s.w.t.”

Kekesalan Umar tidak dapat dibayangkan. Dengan cepat dia kembali kerumahnya lalu mendirikan sembahyang sebanyak dua rakaat. Dia mengkritik dirinya sendiri seperti berikut: “Wahai Umar, dahulu kedudukanmu rendah tetapi kini telah ditinggikan oleh Allah s.w.t.. Dahulu kamu sesat tetapi kini telah dipimpin oleh Allah s.w.t. dan Dia telah memberi kamu kuasa keatas hamba-hambaNya. Apabila salah seorang daripada mereka datang untuk mendapat keadilan ia dipukul dan disakiti. Apakah alasan yang hendak kamu berikan dihadapan Allah s.w.t.?”

Soalan ini dihadapkan kepada dirinya bukan sekali malah beberapa kali. Pada suatu malam Umar sedang meronda disuatu tempat dipersekitaran kota Madinah dengan hambanya Aslam. Tiba-tiba kelihatan cahaya api tidak jauh dari tempat mereka berada. Dia berkata: “Nun ditengah-tengah padang pasir nampaknya ada khemah, mungkin kepunyaan suatu khalifah yang tidak dapat memasuki kota kerana kegelapan malam. Mari kita uruskan perlindungan mereka.”

Setibanya mereka ditempat perkhemahan itu, yang kelihatan hanyalah seorang perempuan dengan beberapa orang anaknya. Si ibu tadi sedang menjerang secerek air, sambil memberi salam dia meminta izin untuk mendekatinya.

Umar: “Mengapa kanak-kanak ini menangis”

Perempuan: Kerana mereka lapar”

Umar: “Apa yang ada didalam cerek itu?”

Perempuan: “Hanya air untuk memperdayakan mereka supaya mereka tidur dengan sangkaan yang makanan sedang disediakan untuk mereka. Ah, Allah s.w.t. akan mengadili pengaduanku terhadap Umar pada hari kiamat nanti kerana membiarkan aku didalam keadaan begini.”

Umar:(Menangis)”Semoga Allah s.w.t. mengampuni kamu tetapi bagaimanakah Umar hendak mengetahui tentang penderitaan kamu!”

Perempuan:”Orang yang menjadi Amir patut tahu akan keadaan setiap rakyatnya.”

Umar balik kekota dan terus ke Baitulmal. Dia mengisikan sebuah karung dengan tepung, buah tamar, minyak dan kain baju. Dia mengeluarkan juga sedikit wang. Apabila karung tadi telah penuh Umar pun berkata kepada Aslam: “Letakkan karung ini keatas belakangku Aslam”

Aslam: “Tidak, tidak, ya Amirul Mu’minin! Biar saya yang memikulnya”

Umar: “Apa! Adakah engkau yang akan memikuli dosaku dihari kiamat kelak? Aku terpaksa memikulinya kerana akulah yang akan dipersoalkan nanti mengenai perempuan ini”

Dengan perasaan serba salah Aslam meletakkan karung itu diatas belakang Umar. Dengan diikuti oleh Aslam dia telah berjalan dengan pantas menuju khemah perempuan itu. Dia memasukkan sedikit tepung, buah tamar dan minyak kedalam cerek tadi lalu mengacaunya. Dia sendiri meniup bara untuk menyalakan api. Kata Aslam: “Saya melihat asap mengenai janggutnya”

Sebentar kemudian makanan itu pun siaplah. Umar sendiri menghidangkan kepada keluarga miskin itu. Selepas kenyang perut kanak-kanak itu, mereka pun bermainlah dengan gembiranya. Melihat keadaan anak-anaknya, perempuan itu pun berkata:”Semoga Allah s.w.t. memberi ganjaran kepada kamu kerana kebaikan hatimu. Sesungguhnya kamu lebih layak memegang jawatan khalifah daripada Umar.” Umar melipurkan hati perempuan itu lalu berkata: ” Apabila kamu datang berjumpa dengan  khalifah, kamu akan menjumpai aku disana.”

Setelah melihat kanak-kanak itu bermain beberapa ketika, Umar pun beredar dari situ. Dalam perjalanan pulang Umar telah bertanya kepada Aslam:”Kamu tahu tak mengapa aku duduk disitu beberapa ketika?”Aku ingin melihat mereka bermain-main dan gelak ketawa kerana kesukaan setelah melihat mereka menangis kelaparan.”

Mengikut riwayat ketika mengerjakan solat fajar Umar sering membaca SURAH “KAHF, TAHA” dan lain-lain surah yang hampir-hampir sama dengan surah-surah itu. Waktu inilah dia kerap menangis sehingga tangisannya jelas kedengaran beberpa saf kebelakang. Pada suatu subuh ketika membaca ayat SURAH “YUSUF” yang bermaksud:

Hanya aku mengadukan kesusahanku dan kedukacitaanku kepada Allah.

(SURAH YUSUF-86)

Dia telah menangis teresak-esak sehingga tidak dapat meneruskan pembacaannya.

Wahai kaum muslimin, kisah-kisah Umar yang baru saja diceritakan sepatutnya dijadikan bahan rujukan oleh kita bersama. Umar diketahui umum merupakan kesatriaan Islam yang terkenal kerana gagah beraninya. Namanya saja sudah dapat mengecutkan perut pemusuh-pemusuh Islam. Namun demikian dihadapan Allah s.w.t. dia menangis ketakutan. Dimanakah seorang Raja atau Pemimpin negara yang bersedia menunjukkan belas rahimnya kepada seorang hamba rakyatnya yang hina seperti mana yang telah ditunjukkan oleh Umar? Demikianlah kesucian, kemurnian dan ketinggian sopan santun yang dikehendaki oleh Islam, Agama yang kita semua akui sebagai penganut-penganutnya.

TEGURAN OLEH ABDULLAH BIN ABBAS

Diceritakan oleh Wahab bin Munabbah:

“Abdullah bin Abbas telah kehilangan penglihatannya semasa ia telah tua. Pada suatu hari aku telah memimpininya ke Masjidil Haram. Disana ia telah menedengar beberapa orang sedang bertengkar dengan suara yang lantang. Dia meminta supaya aku membawanya kehadapan mereka. Dia pun memberi salam kepada mereka, selepas membalas salamnya mereka mempersilakan ia duduk sambil melahirkan keengganannya berbuat demiakian, dia pun berkata:

“Izinkan aku menceritakan darihal hamba-hamba Allah s.w.t. yang sebenar-benarnya. Mereka adalah manusia yang tidak ingin berkata-kata kerana takutkan Allah s.w.t… Sungguhpun mereka tidak bisu dan sebaliknya dapat menggunakan bahasa dengan fasihnya tetapi oleh kerana selalu memuji-muji Allah s.w.t.. maka mereka tidak dapat memperkatakan sesuatu yang sia-sia. Apabila mereka tiba keperingkat keimanan yang demikian rupa maka mereka segera kearah kebaikan. Mengapakah kamu sekelian telah menyeleweng dari jalan ini? Selepas peristiwa ini aku tidak melihat manusia berkumpul di  Masjidil Haram.”

Kisah Abdullah bin Abbas ini menunjukkan kepada kita suatu jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kebaikan. Caranya ialah dengan memikirkan tentang kebesaran Allah s.w.t. Kalau ini dapat dilakukan maka lain-lain perbuatan yang baik dapat dilakukan juga dengan senang dan penuh kejujuran.

GERAKAN BALA TENTERA MUSLIMIN KE TABUK

Sampai pula berita kepada Nabi Muhammad s.a.w. bahawa tentera Rumawi sedang berkumpul hendak datang menyerang. Tanpa membuang masa Nabi Muhammad s.a.w. telah mengerahkan kaum Muslimin untuk menyiapkan segala alat kelengkapan berperang. Kebetulan pada masa itu orang sedang menghadapi musim kemarau yang dahsyat. Oleh kerana tentera musuh yang bakal dihadapi itu besar dan kemungkinan mengalami berjenis-jenis kesukaran itu banyak. Orang-orang mewah dan agak berada serta senang hidupnya, Nabi Muhammad s.a.w.. galakkan menghulurkan pertolongan membekalkan mereka yang susah

Pada masa itu Abu Bakat r.a.hu telah mendermakan segala hartanya. Apabila ditanya apa yang tinggal kepada keluarganya, ia menjawab:”Aku tinggalkan Allah s.w.t. dan RasulNya kepada mereka.”

Umar r.a.hu telah mendermakan separuh dari harta kekayaannya sedangkan Usman r.a.hu telah membekalkan alat kelengkapan perperangan untuk sepertiga daripada semua tentera Muslimin. Tiap-tiap sepuluh orang askar dibekalkan dengan seekor unta sahaja disebabkan kekurangan binatang ini. Oleh sebab inilah maka gerakan ketenteraan ini dinamakan “KEMPEN KEPICIKAN”.

Tentera-tentera Muslimin terpaksa berjalan jauh dalam cuaca panas terik membakar ketempat yang ditujui. Kebetulan pada masa itu kebun-kebun mereka penuh dengan buah-buah tamar yang telah masak. Ini merupakan ujian Allah s.w.t. terhadap mereka. Tiba-tiba mereka diseru untuk menghadapi musuh yang paling gagah sebagai menguji keimanan mereka. Natijah keimanan mereka yang teguh inilah maka mereka tidak ingin ditinggalkan diMadinah kecuali kaum wanita, kanak-kanak, orang-orang munafik dan mereka yang tidak ada kenderaan. Ada diantara mereka yang menangis-nangis kerana tidak dapat menyertai Nabi Muhammad s.a.w. dan tentera-tentera Muslimin yang lain. Mengenai orang-orang ini Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud:

MEREKA BERPALING SEDANG MATA MEREKA MENGALIR AIRMATA KERANA SEDIH YANG MEREKA TIDAK ADA KEMAMPUAN YANG BOLEH MEREKA BELANJAKAN”

Diantara mereka-mereka yang beriman hanya tiga orang sahaja yang tidak menyertai tentera Muslimin tanpa sebarang alasan.(Kisah mereka akan dibentangkan sekejap lagi).

Sementara itu dalam perjalan para tentera Muslimin keTabuk, tentera Muslimin telah sampai ke perkampungan Thamud. Disini Nabi Muhammad s.a.w. telah menutupi wajahnya sambil mempercepatkan perjalanannya. Nabi Muhammad s.a.w. memerintahkan supaya para sahabatnya berbuat demikian juga. Nabi Muhammad s.a.w. menasihatikan mereka supaya menangis dan takutkan penyiksaan Allah s.w.t. agar  Allah s.w.t. tidak mengenakan siksaan keatas mereka seperti mana yang dikenakan keatas Thamud.

Lihatlah sikap yang dipertunjukkan oleh  Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabatnya ketika melalui perkampungan Thamud yang telah dibinasakan oleh Allah s.w.t. Beginilah pula sikap yang seharusnya dimiliki oleh kita, tetapi kebanyakkan kita tidak merasa sedih atau takut apabila menghadapi sesuatu malapetaka atau bencana alam. Sebaliknya kita mengadakan pesta keramaian ditempat berlakunya sesuatu kecelakaan itu

KISAH TIGA ORANG MUKMIN YANG TIDAK MENYERTAI NABI KE TABUK

Diantara puak munafikin jumlah yang tidak menyertai gerakan keTabuk boleh dikatakan banyak juga. Bukan sahaja mereka gagal menyahut seruan Nabi Muhammad s.a.w. malah mereka cuba mempengaruhi orang-orang lain supaya berbuat demikian.

Kata mereka: “Janganlah berpergian dalam keadaan panas” (SURAH AT-TAUBAH ayat 81)

Allah s.w.t. menjawab: “API NERAKA LEBIH PANAS LAGI”

Diantara orang-orang yang beriman pula seperti mana yang telah dikatakan tadi, hanya tiga orang sahaja yang tidak menyertai tentera Muslimin. Mereka ini ialah Murarak bin Rabi, Hilal bin Umayyah dan Ka’ab bin Malik. Murarah tidak bersama-sama Nabi Muhammad s.a.w. dan sahabatnya kerana buah-buah tamar dikebunnya telah masak dan terpaksa dikutip. Dia menyangka yang penyertaannya dalam lain-lain peperangan terdahulu daripada ini dapat melepaskan dirinya daripada peperangan yang sedang dihadapi. Disini dia telah melakukan kesalahan mementingkan hartanya daripada Allah s.w.t.. Apabila dia menyedari kesalahannya dia mendermakan kebunnya kepada orang. Akan Hilal pula dia sibuk mendampingi kaum keluarganya yang pulang ke Madinah selepas meninggalkan kota itu beberapa ketika lamanya. Seperti Murarah, dia juga telah menyertai beberapa peperangan yang terdahulu.Ternyata yang Hilal telah melakukan kesalahan mementingkan kaum keluarga nya daripada Allah s.w.t.. Setelah menyedari kesalahannya dia telah emmutuskan perhubungan dengan kaum kerabatnya. Mengenai Ka’ab pula, dengarlah cerita seperti yang diceritakan olehnya sendiri. Cerita Ka’ab ini terkandung didalam semua buku-buku Hadis. Katanya:

“Semasa berlaku gerakan  keTabuk keadaan hidup aku agak mewah.Aku mempunyai dua ekor unta kepunyaan saya sendiri. Sebelum ini saya tidak pernah memiliki bilangan unta seperti tersebut tadi. Telah menjadi amalan  Nabi Muhammad s.a.w. yang ia tidak suka memberitahu kepada umum tentang tempat yang ditujui oleh gerakan tentera Muslimin, tetapi sekali ini oleh kerana jauhnya perjalanan yang mensti ditempuhi, kerana musim kemarau pada masa itu dan oleh kerana kekuatan tentara kafir, ia terpaksa menceritakan segala-galanya agar persiapan-persiapan dapat diperbuat dengan sempurnanya. Orang-orang yang bakal memnyertai pergerakan keTabuk terlalu banyak sehingga tidak mungkin diketahui nama-nama mereka semuanya. Demikian juga payahnya untuk mengetahui nama-nama meraka yang tidak menyertai Nabi Muhammad s.a.w.. Pada ketika itu kebun-kebun diMadinah telah penuh dengan buah-buah yang telah masak.Tiap-tiap pagi saya bercita-cita hendak membuat persiapan-persiapan agar dapat menyertai tentera Muslimin, tetapi entah bagaimana keazaman saya itu tidak menjadi kenyataan. Saya ketahui benar-benar yang saya dapat menyertai mereka bila-bila masa sahaja. Dalam keadaan saya yang demikianlah maka berita mengenai keberangkatan tentera Muslim telah sampai kepengetahuan saya. Saya masih berpendapat yang saya mendahului mereka sekiranya saya dapat bersiap sedia dalam sehari-dua.”

“Penangguhan saya untuk melakukan sesuatu yang tegas berlanjutan sehingga tibalah masanya tentera-tentera Muslimin hampir tiba diTabuk. Dalam keadaan yang demikian pun saya masih juga menangguh-nangguh.Tiba-tiba apabila saya melihat orang-orang yang tertinggal diMadinah saya menyedari yang kebanyakkan daripada mereka ini terdiri daripada kaum-kaum munafikin dan mereka yang telah sengaja diuzurkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. kerana sebab-sebab yang tertentu. Setibanya Nabi Muhammad s.a.w. keTabuk, Baginda s.a.w. pun bertanya: ‘Mengapa aku tidak melihat Ka’ab?” Jawab salah seorang daripada para sahabat: ” Ya Nabi Muhammad s.a.w., kebanggaannya kepada harta dan kesenangan kehidupannya telah menyebabkan dia tertinggal kebelakang.’ Maaz mencelah sambil berkata:”Tidak, Ini tidak mungkin. Setahu kami dia adalah seorang Mukmin yang sebenar-benarnya.” Nabi Muhammad s.a.w. tidak mengeluarkan sepatah katapun.”

Ka’ab meneruskan ceritanya:

“Selepas beberapa hari saya pun mendengar berita mengenai kepulangan  Nabi Muhammad s.a.w. saya tiba-tiba dirundungi oleh perasaan sedih dan kesal yang maha hebat. Beberapa alasan iaitu yang mungkin dikemukakan kepada Nabi Muhammad s.a.w. mengelakkan kemurkaan  Baginda s.a.w. terbayang-bayang dikepala saya. Saya juga telah meminta nasihat daripada orang-orang yang cerdik pandai dikalangan keluarga saya, tetapi akhirnya alasan-alasan ini saya ketepikan dan saya membuat keputusan hendak bercakap benar kepada Nabi Muhammad s.a.w.Telah menjadi kebiasaan Rasulullah s.a.w.., apabila Baginda s.a.w.balik dari suatu perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. akan singgah dimasjid untuk mendirikan Solat Tahyatul Masjid serta beramah mesra dengan pelawat-pelawatnya. Pada ketika ini datanglah orang munafik bersumpah-sumpah sambil memberi sebab-sebab mengapa mereka tidak menyertai Nabi Muhammad s.a.w.  keTabuk. Nabi Muhammad s.a.w.menerima saja alasan-alasan yang diucapkan oelh lidah-lidah mereka sedangkan kandungan batin mereka tinggalkan kepada Allah s.w.t.untuk membereskannya. Kemudian saya pun tibalah untuk menemui Rasulullah s.a.w. lantas memberi salam kepada Baginda s.a.w.. Suatu senyuman yang tawar, Baginda s.a.w. menolehkan mukanya kearah lain. Saya berkata:” Wahai Rasulullah ,Tuan memalingkan muka Tuan dari saya.Demi Allah s.w.t., saya bukannya munafik dan saya tidak meragui kebenaran agama saya.” Baginda s.a.w. menyuruh saya mendekati lalu bertanya: “Apa yang menghalangi kamu? Bukankah kamu telah membeli unta?” Saya menjawab: “Ya Rasulullah s.a.w., kalau kepada orang lain sudah tentu saya dapat memberi alasan-alasan yang sesuai kerana Allah s.w.t. telah mengurniakan saya dengan kefasihan bercakap, tetapi kepada Tuan, walaupun saya dapat memberi keterangan-keterangan dusta yang memuaskan hati Tuan, sudah tentu Allah s.w.t. akan memurkai saya. Sebaliknya kalau saya menimbulkan kemarahan Tuan dengan bercakap benar saya percaya lambat-laun kemarahan Tuan itu akan dihapuskan oleh Allah s.w.t. . Oleh itu saya bercakap benar. Demi Allah s.w.t. saya tidak ada sebarang alasan pun sedangkan pada masa itu hidup saya mewah.” Kata Nabi Muhammad s.a.w.”Dia sedang bercakap benar.” Kemudian Baginda s.a.w berkata: “Pergilah kamu dan Allah s.w.t.. akan menentukan sesuatu bagi kamu.”

Apabila saya meninggalkan Nabi Muhammad s.a.w.. orang-orang dari puak saya telah menyalahi saya kerana telah bercakap benar dihadapan Rasulullah. Kata mereka: Kamu sebelum ini tidak pernah melakukan sebarang kesalahan . Kalaulah setelah memberi satu-satu alasan yang sesuai, kamu meminta Nabi Muhammad s.a.w. berdoa untuk diampunkan oleh Allah s.w.t., yang demikian itu sudah tentu mencukupi. “Kemudian saya bertanya kalau-kalau ada orang yang hal keadaannya seperti saya. Mereka menceritakan mengenai Hilah bin Umayyah dan Murarah bin Rabi. Mereka juga telah mengakui kesalahan mereka dan menerima jawapan yang sama. Saya tahui yang mereka ini adalah penganut-penganut agama Islam  yang sejati dan telah mengambil bahagian dalam Peperangan Badar. Nabi Muhammad s.a.w. sudah memerintahkan supaya kami bertiga dipulaukan.Tidak ada seorang pun yang berani bergaul dan bercakap-cakap dengan kami. Pada masa itu saya berasa seolah-olah saya tinggal berdagang dirantau orang. Kawan-kawan berkelakuan seperti orang asing. Dunia yang begitu luas menjadi sempit. Kalau saya mati Nabi Muhammad s.a.w. tidak akan mengimami sembahyang jenazah saya. Sebaliknya kalau Baginda s.a.w. wafat sudah tentu  pemboikotan yang dikenakan keatas saya akan berterusan sehingga keakhir hayat saya. Kawan-kawan saya yang berdua itu tidak menampakkan diri mereka diluar rumah sedangkan saya memberanikan diri dengan berjalan-jalan dipasar dan bersembahyang berjemaah tetapi saya tidak dihiraukan oleh sesiapa pun. Kadang-kadang saya memberanikan diri menghampiri  Nabi Muhammad s.a.w. sambil memberikan salam. Saya menunggu-nuggu jawapannya dengan penuh harapan.Kerapkali selepas menunaikan solat fardhu saya akan menunaikan solat sunnat berhampiran dengan Nabi Muhammad s.a.w. kerana ingin mengetahui sama ada Baginda s.a.w.  akan memandang saya atau tidak. Ya, Baginda s.a.w. memandangkan saya semasa berada dalam sembahyang. Diluar sembahyang Baginda s.a.w. memalingkan pandangannya dari saya.”

“Pada suatu hari apabila saya rasa yang saya tidak dapat lagi menderitai pemulauan sosial yang dikenakan keatas saya, saya telah memanjat tembok kebun sepupu saya,Qatadah. Saya mengucapkan salam kepadanya tetapi dia tidak menjawab. Saya menggesanya supaya menjawab hanya satu soalan sahaja. Saya bertanya:”Engkau tahu atau tidak yang aku mencintai Allah s.w.t. dan RasulNya?” Soalan saya itu terpaksa diulangi sebanyak tiga kali. Pada kali yang ketiganya baharulah dia menjawab:” Hanya Allah s.w.t.dan RasulNya yang mengetahui.” Mendengar jawapannya itu saya menangis lalu meninggalkannya.”

“Pada suatu ketika sedang saya melalui sebatang jalan di Madinah, saya terpandang akan seorang Kriastian bangsa Mesir yang telah datang dari Sham. Rupa-rupanya orang itu sedang mencari saya. Apabila orang ramai disitu menunjukkan saya dia pun menghampiri saya sambil menyerahkan sepucuk surat daripada Raja Keristian yang memerintah Ghassan. Surat itu berbunyi:” Kami telah mengetahui akan penganiayaan yang kamu perolehi dari ketua kamu. Allah s.w.t. tidak akan membiarkan kamu dalam keadaan hina dan malu. Eloklah kamu menyertai kami dan kami akan memberi segala pertolongan kepada kamu.” Apabila saya membaca surat ini saya mengucapkan:”INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN.” Demikianlah hal keadaan saya sehingga orang-orang kafir menyangka yang saya akan murtad. Saya tidak dapat membayangkan segala kecelakaan yang menimpa diri saya. Dengan serta merta saya mencampakkan surat itu kedalam api dan saya pun terus pergi berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. Kata saya:”Ya Rasulullah s.a.w., saya telah tergelincir didalam jurang kehinaan yang amat dahsyat sehinggakan orang-orang kafir menyangka yang saya akan murtad.”

“Selepas empat puluh hari pemboikotan itu berjalan seorang utusan  Nabi Muhammad s.a.w. mendatangi saya dengan membawa satu perintah baru dari  Nabi Muhammad s.a.w. Saya diperintahkan supaya berpisah dari isteri saya. Saya bertanya kepada utusan itu sama ada isteri saya terpaksa diceraikan. Dia hanya menmyuruh saya berpsah dari isteri saya. Perintah yang sama diberikan kepada sahabat-sahabat yg berdua itu. Kata saya kepada isteri saya:”Pergilah kamu tinggal bersama-sama orangtuamu sehingga Allah s.w.t. menetukan sesuatu bagiku.” Isteri Hilal pun telah pergi berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. sambil mengadu kepada Baginda s.a.w :”Ya Rasulllah,Hilal sudah tua dan tidak ada orang untuk menjaganya. Kalau aku meninggalkannya sudah tentu dia akan mati. Izinkan aku supaya menjagainya.”Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Baiklah tetapi jangan melakukan perhubungan jenis.” Kata isteri Hilal:”Ya Rasulullah ,dia sudah tidak ada keinginan semenjak pemulauan dikenakan keatasnya. Dia menghabiskan masanya dengan menangis.”

Ada orang yang mecadangkan kepada saya supaya meminta kebenaran daripada Nabi Muhammad s.a.w. untuk membolehkan isteri saya tinggal bersama-sama saya tetapi saya enggan berbuat demikian kerana saya masih muda sedangkan Hilal sudah tua. Lagi pula saya tidak berani membuat permintaan yang demikian. Sehingga ini pemulauan telah dijalankan keatas kami selama lima puluh hari.

Pada pagi yang kelima puluh itu sedang saya duduk-duduk diatas bumbung rumah saya, setelah melakukan Solat Faja, saya terdengar orang menjerit dari kemuncak bukit Salak. “Ada berita gembira buat kamu ya Ka’ab.” Sebaik sahaja saya mendengar berita itu saya pun bersujud dengan gembiranya sambil mengucapkan syukur kepada Allah s.w.t.. Saya tahu yang saya telah perolehi keampunan daripada Allah s.w.t.. Sebenarnya Nabi Muhammad s.a.w. mengistiharkan keampunan Allah s.w.t. kepada kami bertiga selepas solat Subuh itu.Kemudian datang pula seorang penunggang kuda membawa berita yang sama. Oleh kerana kegembiraan yang amat sangat saya telah menghadiahkan pakaian yang terlekat dibadan saya kepada pembawa berita gembira itu.Pada masa itu saya hanyai miliki pakaian yang sedang saya pakai tadi. Oleh hal yang demikian saya meminjam sehelai pakaian dari sahabat saya dan memakai pakaian itu dan saya terus pergi berjumpa dengan Rasulullah s.a.w.. Apabila saya tiba dimasjid orang-orang yang sedang berbual-buak dengan Rasulullah s.a.w. datang menerpa dan memegang tangan saya sambil mengucapkan tahniah. Orang yang mula-mula mengucapkan tahniah kepada saya ialah Talhah.Kemudian saya pun menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad s.a.w. . Muka Baginda s.a.w. berseri-seri dengan cahaya kegembiraan. Saya berkata kepada Baginda s.a.w. :”Ya Rasulullah, saya bercadang hendak mendermakan semua harta saya sebagai mengucapkan syukur kepada Allah s.w.t. yang telah sudi menerima taubat saya.” Baginda s.a.w.. berkata: “Janganlah habiskan semua harta kamu. Tinggalkan sedikit untuk kepentingan dirimu.” Saya pun mendermakan harta saya kecuali rampasan yang diperolehi dalam Peperangan Khaibar.”

“Kebenaran telah menyelamatkan saya dan oleh itu saya berazam hendak bercakap benar pada setiap masa.”

Kisah diatas dengan jelas menunjukkan sifat-sifat yang sepatutnya terdapat pada semua penganut-penganut Islam yang bernar-benar beriman.

1) Pentingnya berusaha dijalan Allah s.w.t. Orang yang selama ini telah mematuhi segala perintah Allah s.w.t. dan yang telah menyertai semua peperangan menetang musuh pun terpaksa menanggung penderitaan akibat kesalahan yang dilakukan hanya sekali sahaja.

2) Kepatuhan menjunjung perintah Nabi Muhammad s.a.w. Selama lima puluh hari masyarakat Islam termasuk kaum kerabat dan sanak saudara serta sabahat handai mereka sendiri telah memulau Ka’ab dan kawan-kawannya pula telah menjalani hukuman dengan pebuh ketaatan. Dengan lain-lain perkataan, yang memulau pada suatu pihak dan yang kena pulau disuatu pihak yang lain masing-masing mematuhi arahan Nabi Muhammad s.a.w.

3) Keimanan yang teguh Ka’ab telah menerima surat dari seorang raj Kristian yang cuba mempengaruhinya supaya melakukan kemungkaran. Perkataan-perkataan dan perbuatannya selepas menerima surat itu merupakan bukti yang nyata mengenai keteguhan imannya.

Sekarang marilah kita memeriksa perbadi kita sendiri untuk menentukan banyak atau sedikitnya kepatuhan yang terdapat pada diri kita. Adakah kita mematuhi segala perintah-perintah Allah s.w.t.? Adakah kita mendirikan sembahyang- Perintah Allah s.w.t. yang paling sedikit memakan belanja? Adakah kita berasa sedih apabila meninggalkannya?

NABI MUHAMMAD S.A.W. MEMARAHI SAHABAT-SAHABAT YANG KETAWA

Pada suatu ketika apabila Nabi Muhammad s.a.w. sampai kemasjid untuk mendirikan solat, Baginda s.a.w. dapati beberapa orang sahabat sedang gelak ketawa. Baginda s.a.w. berkata: “Kalau kamu selalu mengingati maut sudah tentu aku tidak mendapati kamu semua dalam keadaan demikian. Pada setiap masa kamu hidup kamu mesti mengingati maut. Setiap waktu tanah perkuburan memekik mengatakan:’ Aku ini merupakan semak samun. Aku dipenuhi dengan debu. Aku ini penuh dengan serangga. ‘

Apabila seorang mukmin dikebumikan didalamnya, bumi berkata ‘Aku ucapkan selamat datang kepada mu. Diantara manusia yang bertebaran atas muka bumi ini, engkaulah yang paling aku sukai. Baik sungguh hatimu kerana mahu memasuki ku. Sekarang lihatlah bagaimana aku menghiburkan hatimu?’

Kemudian bumi membesar sejauh mata memandang. Sebuah pintu syurga terbuka dihadapannya. Melalui pintu inilah bau-bauan yang semarak harumnya menyusupi lubang hidungnya.

Tetapi apabila seorang yang jahat dimasukkan kedalamnya, bumi akan berkata:’Tidak ada kata alu-aluan buatmu. Diantara manusia yang hidup didunia, engkaulah yang paling aku benci. Sekarang lihatlah layanan aku terhadapmu.’

Kemudian ia dihimpit oleh bumi sehingga tulang-tulang rusuknya saling bertikam tikaman dan berselisih antara satu sama lain. Sebanyak tujuh puluh ekor ular akan mematuknya sehingga hari kiamat.Ular-ular ini terlalu berbisa hinggakan kalau seekor sahaja menyemburkan bisanya dipermukaan bumi maka sehelai rumput pun tidak akan tumbuh.Kemudian Nbi Muhammad s.a.w berkata: “Kubur boleh merupakan syurga ataupun neraka.”

Sifat takut kepada Allah s.w.t. pasti terdapat pada manusia yang benar-benar beriman. Sifat takut ini dapat diwujudkan dan dipupuk  sehingga ia tumbuh dengan suburnya kalau kita dalam kehidupan kita sehari-hari dapat mengingati akan MATI !!!

TAKUTNYA NIFAK YANG DIPERTUNJUKKAN OLEH HANZLAH

Kami berhadapan dengan Nabi Muhammad s.a.w.. apabila Baginda s.a.w. berkhutbah pada suatu hari. Kutbah Baginda s.a.w.. menakutkan hati kami. Kami mencucuri airmata mengenangkan keadaan kami pada masa itu, kemudian saya pun kembali kerumah menemui anak dan isteri saya. Ditengah-tengah kesibukan kami sekeluarga, kesan kuthbah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. sebentar tadi semakin hilang. Saya menyedari yang keadaan saya telah berubah. Kalau tadi saya berdukacita kini saya berasa gembira.Tiba-tiba saya berkata didalam hati saya:”Oh Hanzlah, engkau ini seorang munafik.” Perasaan hiba yang menyelubungi fikiran saya yang tidak dapat dibayangkan. Saya meninggalkan rumah saya sambil berkata: “Hanzlah telah menjadi seorang munfik.” Apabila saya menemui Abu Bakar saya meneruskan kata-kata saya tadi. Katanya: “Subhanallah! Apa yang kamu katakan ini. Hanzlah tidak mungkin menjadi seorang munafik.”

Saya menceritakan segala-galanya kepadanya. Kata saya:”Semasa kita mendengar kutbah Nabi Muhammad s.a.w. tadi terasa oleh kita bahawa syurga dan neraka seolah-olah berada dihadapan kita, tetapi apabila balik bertemu dengan keluarga kita dirumah, kita melupakan kampung akhirat.” Kata Abu Bakar: “Ya, keadaan aku pun demikian juga.” Kemudian kami bersama-sama menuju ketempat kediaman Nabi Muhammad s.a.w.

Kata saya kepada Nabi Muhammad s.a.w.:”Ya Rasulullah, saya telah menjadi munafik.” Setelah mendengar penjelasan saya Nabi Muhammad s.a.w..:”Demi Allah , yang jiwaku ditanganNya, seandainya kamu dapat memeliharakan selama-lamanya keghairahan yang diwujudkan dalam sanubari kamu semasa berada disisiku, sudah tentu para malaikat akan mengucap selamat kepadamu semasa kamu berjalan dan semasa kamu tidur, tetapi wahai Hanzlah, ini adalah satu perkara yang jarang-jarang berlaku.”

Menurut pendapat  Nabi Muhammad s.a.w. walau bagaimanapun teguhnya keimanan seseorang, dia tidak dapat menumpukan segala tenaganya terhadap urusan ‘Ukhrawinya’ semata-mata kerana sebagai seorang manusia dia terpaksa bertanggung jawab terhadap urusan-urusan’Duniawi’ yang lain. Walaupun ada manusia yang boleh berbuat demikian sudah tentu bilangan mereka itu terlalu kecil. Namun demikian, kita hendaklah memupukkan perasaan yang akan membolehkan kita sentiasa mencurigai tentang keteguhan iman kita sepertimana yang telah dipertunjukkan oleh sahabat Hanzlah.

GERAKAN TENTERA AL-AMBAR

Nabi Muhammad s.a.w. telah mengerahkan satu ketumbukan tentera Muslimin yang terdiri daripada tiga ratus orang. Tentera yang diarahkan kesebuah tempat berdekatan dengan pantai diketuai oleh Abu Ubaidah. Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi sekarung buah tamar sebagai bekalan makanan mereka. Belum pun genap lima belas hari, makanan yang mereka bawa telah kehabisan. Qais r.a.hu sebagai usaha kearah mengelakkan daripada kelaparan telah membeli tiga ekor unta tiap-tiap hari daripada orang-orangnya sendiri untuk menjadi hidangan para mujahid sekelian. Ini bermakna yang alat pengakutan mereka semakin berkurangan tiap-tiap hari. Abu Ubaidah telah mengarahkan supaya penyembelihan unta dihentikan dengan serta merta. Dia mengumpulkan buah tamar yang masih ada pada tiap-tiap seorang lalu menyimpannya didalam sebuah bekas. buah-buah ini lah dicatukan sebanyak sebiji kepada seorang, tiap-tiap hari. Apabila Jabir r.a.hu menceritakan kisah ini kepada orang, salah seorang daripada pendengar-pendengarnya telah bertanya: “Bagaimana kamu hidup sehari suntuk dengan sebiji kurma?” Jabir r.a.hu menjawab:” Setelah beberapa lama yang sebiji itu pun tidak diperolehi. Kami telah mendekati pinggir kbuluran. Kami terpaksa menyirami daun-daun kayu dengan air dan kemudian memakannya.”

Tiba-tiba Allah s.w.t. seperti biasa telah mencucuri rahmatNya keatas orang yang tahan penderitaan. Seekor ikan besar yang bernama AMBAR telah terlempar dari laut lalu jatuh keatas pantai.Ikan itulah yang menjadi makanan mereka selama lapan belas hari. Yang bakinya dibuat bekalan dalam perjalanan mereka balik keMadinah. Apabila peristiwa ini diceritakan kepada Nabi Muhammad s.a.w., Baginda s.a.w. berkata: “Ikan itu ialah bekalan yang dikurniakan oleh Allah s.w.t. untuk kamu semua.” Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda: “Penderitaan yang paling pahit disediakan kepada para Nabi dan kemudian kepada mereka-mereka yang paling baik dikalangan Muslimin lainnya.”

Kesusahan dan pederitaan hidup adalah perkara biasa dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kepada orang yang mempercayai Allah s.w.t. kesusahan merupakan suatu ujianNya.  Ujian yang dihadapkan kepada seseorang insan itu seimbang dengan kedudukannya disisi Allah s.w.t. Paling dekat dengan Allah s.w.t.., paling dahsyatlah ujian yang bakal diteimanya. Orang yang lulus ujianNya akhirnya menerima rahmat keselesaan hidup dan ketenteraman jiwa dari sisiNya.


KISAH 3 PEMUDA DALAM GOA

14 November 2008

Dari Nafi’ diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga orang dari umat sebelum kalian yang sedang mengadakan perjalanan. Tiba-tiba mereka ditimpa oleh hujan, maka mereka berteduh di dalam sebuah gua. (Tanpa disangka), gua tersebut menyekap mereka, (karena pintunya tertutup oleh sebuah batu besar). Maka ada sebagian dari mereka yang berkata kepada yang lain: “Demi Allah, tidak akan ada yang dapat menyelamatkan kalian kecuali sifat jujur (keikhlasan), oleh karenanya, saya harap agar masing-masing kalian berdo’a (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan perantara (wasilah) suatu amal yang dia yakin dikerjakan dengan penuh kejujuran (keikhlasan).

Seorang dari mereka berdo’a: “Ya Allah, Engkau tahu bahwa dulu aku punya seorang pekerja yang bekerja padaku dengan imbalan 3 gantang padi. Tapi, tiba-tiba dia pergi dan tidak mengambil upahnya. Kemudian aku ambil padi tersebut lalu aku tanam dan dari hasilnya aku belikan seekor sapi. Suatu saat, dia datang kepadaku untuk menagih upahnya. Aku katakan padanya, ‘Pergilah ke sapi-sapi itu dan bawalah dia’. Dia balik berkata, ‘Upahku yang ada padamu hanyalah 3 gantang padi’. Maka aku jawab, ‘Ambillah sapi-sapi itu, sebab sapi-sapi itu hasil dari padi yang tiga gantang dulu’. Akhirnya dia ambil juga. (Ya Allah), bila Engkau tahu bahwa apa yang aku perbuat itu hanya karena aku takut kepadaMu, maka keluarkanlah kami (dari gua ini).” Tiba-tiba batu besar (yang menutupi gua itu) bergeser.

Seorang lagi berdo’a: “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku mempunyai bapak-ibu yang sudah tua. Setiap malam aku membawakan untuk keduanya susu dari kambingku. Suatu malam aku datang terlambat pada mereka. Aku datang kala mereka sudah tidur lelap. Saat itu, isteri dan anak-anakku berteriak kelaparan. Biasanya aku tidak memberi minum buat mereka sehingga kedua orang tuaku terlebih dahulu minum. Aku enggan membangunkan mereka, aku juga enggan meninggalkan mereka sementara mereka butuh minum susu tersebut. Maka, aku tunggu mereka (bangun) sampai fajar menyingsing. (Ya Allah), bila Engkau tahu bahwa hal tersebut aku kerjakan hanya karena takut padaMu, maka keluarkanlah kami (dari gua ini). Tiba-tiba batu besar itu bergeser lagi.

Yang lain lagi juga berdo’a: “Ya Allah, Engkau tahu aku mempunyai saudari sepupu (puteri paman), dia adalah wanita yang paling aku cintai. Aku selalu menggoda dan membujuknya (berbuat dosa) tapi dia menolak. Hingga akhirnya aku memberinya (pinjaman) 100 dinar. (Jelasnya), dia memohon uang pinjaman dariku (karena dia sangat membutuhkan dan terpaksa), maka (aku jadikan hal itu sebagai hilah untuk mendapatkan kehormatannya). Maka aku datang kepadanya membawa uang tersebut lalu aku berikan kepadanya, akhirnya dia pun memberiku kesem-patan untuk menjamah dirinya. Ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia berkata, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, janganlah engkau merusak cincin kecuali dengan haknya’. Maka dengan segera aku berdiri dan keluar meninggalkan uang 100 dinar itu (untuknya). Ya Allah, bila Engkau tahu bahwa apa yang aku kerjakan itu hanya karena aku takut kepadaMu, maka keluarkanlah kami (dari gua ini)”. Tiba-tiba bergeserlah batu itu sekali lagi, dan Allah pun mengeluarkan mereka . (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Kisah Saidina Umar ra. yang paling menyayat hati

14 November 2008

Berikut ialah sebuah kisah yang menyayat hati yang

menimpa keluarga Khalifah Saidina Umar ra. yang

dipetik daripada laman web Jabatan Mufti Negara Brunei

Darus Salam. Semoga ianya dapat menginsafkan kita

semua.

KETEGASAN MELAKSANAKAN HUKUM ALLAH

Khalifah Sayyidina Umar ibnu Khattab terkenal dengan

ketegasannya dalam menjalankan hukum-hukum Allah.

Dengan sebab ketegasannya itulah, orang merasa segan

dan hormat kepadanya.

Sayyidina Umar mempunyai beberapa orang anak

laki-laki, di antaranya ialah Abdul Rahman bin Umar.

Ia juga terkenal dengan panggilan Abu Syahamah.

Suatu hari Abu Syahamah diuji oleh Allah dengan satu

penyakit yang dideritainya selama kira-kira setahun.

Berkat kesabaran dan usahanya akhirnya penyakit

tersebut dapat disembuhkan. Sebagai mensyukuri dan

tanda gembira terlepas dari ujian Allah ini, Abu

Syahamah yang sudah lama tidak keluar rumah itu

menghadiri majlis jamuan besar-besaran di sebuah rumah

perkampungan Yahudi atas jemputan kawan-kawannya yang

juga terdiri daripada kaum Yahudi. Abu Syahamah dan

kawan-kawannya berpesta sehingga lupa kepada larangan

Allah dengan meminum arak sehingga mabuk.

Dalam keadaan mabuk itu, Abu Syahamah pulang melintasi

pagar kaum Bani Najjar. Dia ternampak seorang

perempuan Bani Najjar sedang berbaring, lalu

mendekatinya dengan maksud untuk memperkosa. Apabila

perempuan itu mengetahuinya dia berusaha untuk

melarikan diri sehingga berjaya mencakar muka dan

mengoyakkan baju Abu Syahamah. Malangnya dia tidak

berdaya dan berupaya menahan Abu Syahamah yang sudah

dikuasai oleh syaitan. Akhirnya terjadilah perkosaan.

Akibat perkosaan tersebut perempuan itu hamil. Setelah

sampai masanya anak yang dikandung oleh perempuan itu

pun lahir, lalu dibawa ke Masjid Rasulullah Sallallahu

‘Alaihi Wasallam untuk mengadap Amirul Mukminin bagi

mengadukan hal kejadian yang menimpa dirinya.

Kebetulan yang menjawat jawatan khalifah pada waktu

itu ialah Sayyidina Umar ibnu Khattab.

“Wahai Amirul Mukminin, ambillah anak ini kerana

engkaulah yang lebih bertanggungjawab untuk

memeliharanya daripada aku.”

Mendengar kenyataan tersebut, Sayyidina Umar merasa

terkejut dan hairan. Perempuan itu berkata lagi: “Anak

damit ini adalah keturunan darah daging anak tuan yang

bernama Abu Syahamah.”

Sayyidina Umar bertanya: “Dengan jalan halal atau

haram?”

Perempuan itu dengan berani menjawab: “Ya Amirul

Mukminin, Demi Allah yang nyawaku di tanganNya,

daripada pihak aku anak ini halal dan daripada pihak

Abu Syahamah, anak ini haram.”

Sayyidina Umar semakin kebingungan dan tidak faham

maksud perempuan Bani Najjar ini lalu menyuruh

perempuan ini berterus terang.

Perempuan itu pun menceritakan kepada Sayyidina Umar

peristiwa yang menimpa dirinya sehingga melahirkan

anak itu.

Sayyidina Umar mendengar pengakuan perempuan itu

sehingga menitiskan air mata.

Kemudian Sayyidina Umar menegaskan: “Wahai perempuan

jariyah (jariyah adalah panggilan budak perempuan bagi

orang Arab), ceritakanlah perkara yang sebenarnya

supaya aku dapat menghukum perkara kamu ini dengan

sebenar-benarnya dan seadil-adilnya.”

Perempuan itu menjawab: “Ya Amirul Mukminin,

penjelasan apa yang tuan kehendaki daripadaku? Demi

Allah!, Sesungguhnya aku tidak berdusta dan aku

sanggup bersumpah di hadapan mushaf al-Qur’an.”

Lalu Sayyidina Umar mengambil mushaf al-Qur’an dan

perempuan itu pun bersumpah bermula dari surah

al-Baqarah hingga surah Yassiin. Kemudian bertegas

lagi: “Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya anak ini

adalah dari darah daging anakmu Abu Syahamah.”

Kemudian Sayyidina Umar berkata: “Wahai jariyah! Demi

Allah engkau telah berkata benar.” Kemudian beliau

berpaling kepada para sahabat, katanya “Wahai sekalian

sahabat Rasulullah, aku berharap kamu semua tetap di

sini sehingga aku kembali.”

Tak lama kemudian Sayyidina Umar datang lagi sambil

membawa wang dan kain untuk diberikan kepada perempuan

malang itu: “Wahai jariyah, ambillah wang sebanyak

tiga puluh dinar dan sepuluh helai kain ini dan

halalkanlah perbuatan anakku terhadapmu di dunia ini

dan jika masih ada lagi bakinya, maka ambillah sewaktu

berhadapan dengan Allah nanti.” Perempuan itu pun

mengambil wang dan kain yang diberikan oleh Sayyidina

Umar lalu pulang ke rumah bersama-sama dengan anaknya.

Setelah perempuan itu pulang Sayyidina Umar berkata

kepada sahabat-sahabatnya: “Wahai sekalian sahabat

Rasulullah, tetaplah kamu di sini sehingga aku

kembali.”

Sayyidina Umar terus pergi menemui anaknya Abu

Syahamah yang ketika itu sedang menghadapi hidangan

makanan. Setelah mengucap salam dia pun berkata:

“Wahai anakku, hampirilah padaku dan marilah kita

makan sama-sama. Tidakku sangka inilah hari terakhir

bekalanmu untuk kehidupan dunia.”

Mendengar perkataan ayahnya itu, Abu Syahamah terkejut

seraya berkata, “Wahai ayahku, siapakah yang

memberitahu bahawa inilah hari terakhir bekalanku

untuk kehidupan dunia? Bukankah wahyu itu telah putus

setelah wafatnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi

Wasallam.”

Kata Sayyidina Umar: “Wahai anakku, berkata benarlah

sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Dia tidak dapat

dilihat dengan pandangan mata dan Dialah Maha Luas

Penglihatannya.” Sambung Sayyidina Umar lagi: “Masih

ingatkah engkau, hari semasa engkau pergi ke satu

majlis di perkampungan Yahudi dan mereka telah

memberikan kamu minum arak sehingga kamu mabuk?

Kemudian dalam keadaan mabuk kamu pulang melintasi

perkampungan Bani Najjar di mana engkau bertemu dengan

seorang perempuan lalu memperkosanya? Berkata benarlah

anakku, kalau tidak engkau akan binasa.”

Abu Syahamah mendengar kenyataan ayahnya itu dengan

perasaan malu sambil diam membisu. Dengan perlahan

beliau membuat pengakuan: “Memang benar aku lakukan

hal itu, tapi aku telah menyesal di atas perbuatanku

itu.”

Sayyidina Umar menegaskan: “Tiada guna bagimu menyesal

setelah berbuat suatu kerugian. Sesungguhnya engkau

adalah anak Amirul Mukminin tiada seorang pun yang

berkuasa mengambil tindakan ke atas dirimu, tetapi

engkau telah memalukan aku di hadapan sahabat

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Kemudian Sayyidina Umar memegang tangan Abu Syahamah

lalu membawa ke tempat para sahabat yang sudah sekian

lama menunggu.

“Mengapa ayahanda melakukan ini?” Tanya Abu Syahamah.

“Kerana aku mahu tunaikan hak Allah semasa di dunia

supaya aku dapat lepas daripada dituntut di akhirat

kelak,” jawab Sayyidina Umar dengan tegas.

Abu Syahamah dengan cemas merayu: “Wahai ayahandaku,

aku mohon dengan nama Allah, tunaikanlah hak Allah itu

di tempat ini, jangan malukan aku di hadapan sahabat

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Jawab Sayyidina Umar: “Engkau telah membuat malu

dirimu sendiri dan engkau telah menjatuhkan nama baik

ayahmu.”

Apabila sampai di hadapan para sahabat mereka pun

bertanya: “Siapakah di belakangmu wahai Amirul

Mukminin?” Jawab Sayyidina Umar: “Wahai sahabatku,

sesungguhnya di belakang aku ini adalah anakku sendiri

dan dia telah mengaku segala perbuatannya, benarlah

perempuan yang menyampaikan khabar tadi.”

Kemudian Sayyidina Umar memerintah budaknya

(hambanya): “Wahai Muflih, pukullah anakku Abu

Syahamah, rotanlah dia sehingga dia merasa sakit,

jangan kasihani dia, setelah itu kamu aku merdekakan

kerana Allah.”

Muflih agak keberatan untuk melakukannya kerana

khuatir tindakannya itu akan memberi mudharat kepada

Abu Syahamah, tetapi terpaksa mengalah apabila

diperintah oleh Sayyidina Umar. Tatkala dia memukul

Abu Syahamah sebanyak sepuluh kali, kedengaranlah Abu

Syahamah dalam kesakitan: “Wahai ayahandaku, rasanya

seperti api yang menyala pada jasadku.”

Jawab Sayyidina Umar: “Wahai anakku, jasad ayahmu ini

terasa lebih panas dari jasadmu.”

Kemudian Sayyidina Umar memerintah Muflih memukul

sebanyak sepuluh rotan lagi. Berkata Abu Syahamah:

“Wahai ayahandaku, tinggalkanlah aku supaya aku dapat

mengambil sedikit kesenangan.”

Jawab sayyidina Umar: “Seandainya ahli neraka dapat

menuntut kesenangan, maka aku pasti akan berikan

kepadamu kesenangan.”

Setelah itu Sayyidina Umar menyuruh Muflih memukul Abu

Syahamah sebanyak sepuluh rotan lagi. Abu Syahamah

merayu: “Wahai ayahandaku aku mohon kepadamu dengan

nama Allah, tinggalkanlah aku supaya aku dapat

bertaubat.”

Jawab Sayyidina Umar dengan pilu: “Wahai anakandaku,

apabila selesai aku menjalankan hak Allah, jika engkau

hendak bertaubat pun maka bertaubatlah dan jika engkau

hendak melakukan dosa itu lagi pun maka lakukanlah dan

engkau akan dipukul seumpama ini lagi.”

Selanjutnya Sayyidina Umar menyuruh Muflih memukul Abu

Syahamah sebanyak sepuluh kali sebatan lagi.

Abu Syahamah terus merayu: “Wahai ayahandaku, dengan

nama Allah aku mohon kepadamu berilah aku minum

seteguk air.”

Sayyidina Umar menjawab dengan tegas: “Wahai

anakandaku, seandainya ahli neraka dapat meminta air

untuk diminum, maka aku akan berikan padamu air

minum.”

Perintah Sayyidina Umar diteruskan dengan meminta

Muflih memukul lagi sebanyak sepuluh rotan. Abu

Syahamah mohon dia dikasihani: “Wahai ayahandaku,

dengan nama Allah aku mohon kepadamu kasihanilah aku.”

Sayyidina Umar dengan sayu menjawab: “Wahai

anakandaku, kalau aku kasihankan kamu di dunia, maka

engkau tidak akan dikasihani di akhirat.”

Sayyidina Umar selanjutnya memerintahkan Muflih

memukul lagi sebanyak sepuluh kali sebatan. Abu

Syahamah dengan nada yang lemah berkata: “Wahai

ayahandaku, tak kasihankah ayahanda melihat keadaan

aku begini sebelum aku mati?”

Sayyidina Umar menjawab: “Wahai anakandaku, aku akan

hairan kepadamu sekiranya engkau masih hidup dan jika

engkau mati kita akan berjumpa di akhirat nanti.”

Sayyidina Umar terus memerintahkan Muflih memukul lagi

sebanyak sepuluh rotan. Dalam keadan semakin lemah Abu

Syahamah berkata; “Wahai ayahandaku, rasanya seperti

sudah sampai ajalku…..”

Sayyidina Umar dengan perasaan sedih berkata: “Wahai

anakandaku, jika engkau bertemu Rasulullah Sallallahu

‘Alaihi Wasallam, sampaikan salamku kepadanya, katakan

bahawa ayahandamu memukul dirimu sehingga kau mati.”

Di saat yang semakin hiba ini Sayyidina Umar terus

menyuruh Abu Muflih memukul lagi sebanyak sepuluh kali

rotan. Setelah itu Abu Syahamah dengan kudrat yang

semakin lemah berusaha memohon simpati kepada para

hadirin: “Wahai sekalian sahabat Rasulullah, mengapa

kamu tidak meminta pada ayahandaku supaya memaafkan

aku saja?”

Kemudian salah seorang sahabat pun menghampiri

Sayyidina Umar dan berkatas: “Wahai Amirul Mukminin,

hentikanlah pukulan ke atas anakmu itu dan kasihanilah

dia.”

Sayyidina Umar dengan tegas berkata: “Wahai sekalian

sahabat Rasulullah, apakah kamu tidak membaca ayat

Allah dalam surah an-Nuur ayat 2 yang tafsirnya:

“Jangan kamu dipengaruhi kasihan belas pada keduanya

dalam menjalankan hukum Allah.”

Mendengar penjelasan Sayyidina Umar itu, sahabat

Rasulullah pun diam tidak membantah, sementara itu

Sayyidina Umar terus memerintah Muflih memukul sepuluh

sebatan lagi.

Akhirnya Abu Syahamah mengangkat kepala dan

mengucapkan salam dengan suara yang sangat kuat

sebagai salam perpisahan yang tidak akan berjumpa lagi

sehingga hari kiamat.

Kemudian berkata Sayyidina Umar: “Wahai Muflih,

pukullah lagi sebagai menunaikan hak Allah.” Muflih

pun meneruskan pukulan untuk ke seratus kalinya.

“Wahai Muflih, cukuplah pukulanmu itu,” perintah

Sayyidina Umar apabila melihat anaknya tidak bergerak

lagi. Setelah itu Sayyidina Umar mengisytiharkan:

“Wahai sekalian umat Islam, bahawasanya anakku Abu

Syahamah telah pergi menemui Allah.” Mendengar

pengumuman itu ramailah umat Islam datang ke masjid

sehingga masjid menjadi sesak. Ada di antara mereka

sedih dan terharu, malah ramai yang menangis melihat

peristiwa tersebut.

Menurut sumber lain, daripada Kitab Sirah Umar bin

al-Khattab al-Khalifatul Rasyid umumnya masyarakat

berpendapat kematian Abu Syahamah adalah disebabkan

oleh pukulan rotan ayahnya sendiri Sayyidina Umar

Radhiallah ‘Anhu.

Setelah selesai jenazah Abu Syahamah dikebumikan, pada

malamnya Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma bermimpi

bertemu dengan Rasulullah Sallalllahu ‘Alaihi Wasallam

yang wajah baginda seperti bulan purnama, berpakaian

putih manakala Abu Syahamah duduk di hadapan baginda

dengan berpakaian hijau. Setelah itu Rasululah

Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Wahai anak bapa

saudaraku, sampaikan salamku pada Umar dan beritahu

kerpadanya bahawa Allah telah membalas setiap

kebajikannya kerana tidak mencuai-cuaikan hak Allah

dan suatu kebahagiaan baginya sebab Allah telah

menyediakan baginya beberapa mahligai dan beberapa

bilik di dalam Jannatun Na’im. Bahawa sesungguhnya Abu

Syahamah telah sampai pada tingkatan orang-orang yang

benar di sisi Allah Yang Maha Kuasa.