Agar Tidak ‘Asal’ Menikah Dini

17 Januari 2009

“Aku ini bukan menikah dini loh, dek,” demikian ungkapan yang mengalir dari seorang saudari yang memutuskan untuk menikah ketika beliau masih kuliah. Menurut beliau, seseorang disebut menikah dini adalah jika menikah tanpa kesiapan apapun atau dengan kata lain orang tersebut sebenarnya belum layak untuk menikah.

Ada beberapa parameter yang dapat digunakan sebagai cara untuk menentukan seseorang itu layak menikah atau tidak. Mengutip salah satu hadist Rasulullah: “Wahai para syabab, barangsiapa diantara kalian telah mencapai kemampuan ba’ah maka kawinlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu akan lebih mampu menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum memiliki kemampuan (istitha’ah) maka hendaklah ia berpuasa karena sesungguhnya puasa itu akan meredakan gejala dan hasrat seksual.”
Berdasarkan hadist diatas, minimal ada tiga kriteria utama yang dapat dijadikan landasan bagi sesorang untuk mengukur dirinya sudah layak untuk menikah atau belum.

Yang pertama adalah syabab. Dalam hadist ini Rasululah saw menggunakan kata syabab yang sering dimaknakan sebagai pemuda. Akan tetapi, siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan syabab? Dalam buku ‘Indahnya Pernikahan Dini’, Ust. Mohammad Fauzil Adhim mengatakan bahwa syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh (kedewasaan berpikir) dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Masa ini seharusnya telah dialami oleh tiap-tiap orang pada rentang usia sekitar 14-17 tahun. Salah satu tanda yang biasa dipakai sebagai patokan adalah datangnya ihtilam (mimpi basah). Akan tetapi, pada masa sekarang, datangnya ihtilam sering tidak sejalan dengan telah cukup matangnya pikiran. Sehingga generasi yang lahir pada zaman ini banyak yang telah memiliki kematangan seksual tetapi belum memiliki kedewasaan berpikir.
Oleh karena itulah nabiyullah telah menggariskan syarat tambahan bagi seorang syabab untuk menikah yaitu kemampuan istitha’ah atau kemampuan untuk memenuhi tanggung jawab. Banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh seseorang yang telah menikah. Sebagai seorang suami ia harus mampu menjadi imam bagi keluarganya, wajib memberi pakaian kepada istrinya dan juga menyediakan tempat tinggal sesuai dengan kesanggupanya. Sementara sang istri wajib menerima penunaian tanggung jawab suaminya dengan hati yang terbuka, dan tidak menuntut suami untuk memberikan sesuatu di luar kesanggupannya. Harus ada suatu mekanisme saling memahami antara keduanya. Jangan sampai ada kekecewaan apabila kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan yang dimiliki.
Satu hal yang perlu ditekankan adalah mengenai tanggung jawab dalam hal materi. Tidak boleh dilupakan bahwa ada perbedaan yang mendasar antara memiliki pekerjaan tetap dengan tetap memiliki pekerjaan. Terkadang masa kuliah bisa menjadi hambatan bagi seseorang untuk memiliki pekerjaan tetap. Tetapi ia masih memiliki penghasilan walaupun pekerjaannya esok bisa jadi berbeda dengan hari ini. Jangan sampai muncul stigma bahwa seseorang berpenghasilan adalah hanya orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap. Karena banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap masih dapat memiliki penghasilan asalkan ia masih tetap mau berusaha.

Kriteria terakhir adalah kriteria ba’ah atau kriteria mampu melakukan hubungan suami istri menurut definisi yang diberikan ibnu Qayyim Al Jauzi.
Akhirnya, semua orang perlu mempersiapkan diri menghadapi gerbang pernikahan. Manusia adalah makhluk yang terdiri dari tiga unsure: unsur fikriyah, unsur jasadiyah atau fisik dan unsur ruhiyah. Persiapan seseorang untuk menikah itu ibarat persiapan seseorang yang akan melakukan perjalanan jauh. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan ketiga unsur ini.
Pertama, unsur fikriyah yaitu pengetahuan. Pengetahuan seseorang akan bertambah bilamana ia mau belajar. Buku-buku tentang pernikahan islami sudah banyak diterbitkan, apalagi majalah. Bertanya kepada teman atau saudara yang sudah lebih dahulu menikah juga baik.

Kedua, unsur jasadiyah atau fisik. Allah lebih menyukai muslim yang kuat. Maka jangan sampai mengecewakan pasangan dengan kelemahan fisik kita. Olahraga, menambah pengetahuan tentang jasad, banyak mempelajari tentang pemenuhan gizi seimbang, menjalani pola hidup sehat bisa membantu menjaga kondisi tubuh.
Dan yang terakhir adalah unsur ruhiyah. Manusia diturunkan oleh Allah untuk beribadah. Jadi, seluruh aspek dalam hidup kita harus dalam rangka ibadah, termasuk melaksanakan pernikahan. Jangan sampai pernikahan malah menjadi sebab seseorang mengingkari kebesaran-Nya.

Ada kisah menarik dari cucu Rasululah saw, Al Hasan bin Ali ra. Suatu ketika seorang laki-laki berkata kepada cucu nabi ini, “Saya mempunyai seorang putri. Jika ada yang berniat menikahinya, saya akan nikahkan dia.”
Maka Al hasan berkata,”Nikahkan putrimu dengan laki-laki yang bertakwa kepada Allah SWT. Jika ia menyukai putrimu, ia pasti akan memuliakanya. Dan jika ia sedang marah, ia tidak akan menzalimi putrimu.”
Artinya, jika sesorang memiliki kebersihan ruhiyah dengan ketakwaan kepada-Nya, sikapnya akan tetap terkendali oleh ketakwaan. Kalaupun emosinya memuncak, Insya Allah peringatan Allah dalam kitab suci-Nyua akan meredam gejolak emosi itu.

Wallahu a’lam bisshawab.


Mengapa Harus Menikah

13 Desember 2008

Sebelum kita memulai pembicaraan khususnya tentang masalah tersebut maka wajib atas kita untuk mengetahui secara yakin bahwa hukum-hukum syariat semuanya adalah dalil dan semuanya sesuai pada tempatnya, tidak ada darinya sedikitpun perkara yang sia-sia dan kebodohan. Demikian itu dikarenakan hukum-hukum tersebut berasal dari sisi Dzat yang Maha Hakim dan Maha Mengetahui, adapun bagi hukum yang ada pada kalian apakah semuanya bagi makhluk? Sesungguhnya kaum Adam sangat terbatas keilmuannya, pemikirannya dan akalnya sehingga tidak mungkin dia akan mengetahui segala sesuatunya dan tidak diilhamkan untuk mengetahui segala sesuatu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“…. dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit??. (QS. Al Isra : 85)

Jika demikian… maka hukum-hukum syariat yang telah Allah syariatkan bagi para hambaNya wajib atas kita untuk meridhainya -sama saja- apakah kita telah mengetahui hikmahnya ataupun belum kita ketahui. Karena sesungguhnya manakala kita tidak mengetahui hikmah-hikmahnya, maka bukan berarti bahwa hal itu tidak ada hikmahnya di alam nyata. Tidak lain hal ini hanyalah disebabkan karena dangkalnya akal-akal kita dan pemahaman kita untuk menjangkau hikmahnya.

Diantara hikmah dari sebuah pernikahan ialah :

1) Pemeliharaan terhadap masing-masing dari sepasang suami-istri dan penjagaan terhadap keduanya, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian yang telah memiliki kemampuan (ba-ah) maka hendaklah dia menikah karena sesungguhnya menikah lebih menjaga kemaluan dan barangsiapa yang belum memiliki kemampuan maka hendaknya dia berpuasa karena berpuasa merupakan tameng baginya (HR. Bukhari Muslim)

2) Menjaga masyarakat dari kejelekan dan rusaknya akhlak sehingga kalau sekiranya tidak ada pernikahan sungguh niscaya tersebarlah berbagai bentuk akhlak yang jelek di antara kaum pria dan wanita.

3) Masing-masing dari pasangan suami istri dapat merasakan kesenangan satu sama lainnya dengan ditunaikan kewajiban baginya dari hak-hak dan hubungan kekeluargaan. Sehingga seorang lelakilah yang akan memelihara wanitanya dan yang akan menunaikan nafkah bagi wanita tersebut baik berupa makanan, minuman, tempat tinggal maupun pakaian dengan baik, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Dan bagi mereka (para istri) kewajiban kalianlah (para suami) untuk memberikan rizki mereka dan pakaian mereka dengan baik (HR. Ahmad)

Isteri pun memelihara hak suami dengan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya di rumah dari masalah penjagaan dan perbaikan, bersabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam :

… dan istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan yang bertanggung jawab dari yang dipimpinnya

4) Merupakan sarana untuk menyembungkan antara keluarga dan suku sehingga berapa banyak dua keluarga yang saling berjauhan tidak saling mengenal satu sama lainnya, dengan adanya pernikahan menghasilkan kedekatan dan hubungan di antara keduanya. Oleh karena inilah Allah Subhaanahu wa Ta’aala jadikan mushaharah sebagai bahagian bagi nasab sebagaimana yang telah lalu.

5) Melanggengkan suatu jenis manusia dengan jalan yang benar sehingga pernikahan itu menjadi sebab bagi (kelangsungan) keturunan yang menyebabkan berlangsungnya (kehidupan) manusia, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (QS. An Nisaa : 1)

Dan kalau sekiranya tidak ada pernikahan niscaya akan terjadi salah satu dari dua kemungkinan:
Pertama: Binasanya (keturunan) manusia
Kedua : Atau munculnya generasi manusia dari hasil perzinahan yang tidak mengenal asal usulnya dan tidak bermoral.


Ta’aruf Syar’i, Solusi Pengganti Pacaran

13 Desember 2008

Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari

Pertanyaan:

1. Apabila seorang muslim ingin menikah, bagaimana syariat mengatur cara mengenal seorang muslimah sementara pacaran terlarang dalam Islam?

2. Bagaimana hukum berkunjung ke rumah akhwat (wanita) yang hendak dinikahi dengan tujuan untuk saling mengenal karakter dan sifat masing-masing?

3. Bagaimana hukum seorang ikhwan (lelaki) mengungkapkan perasaannya (sayang atau cinta) kepada akhwat (wanita) calon istrinya?

Jawab :

Benar sekali pernyataan anda bahwa pacaran adalah haram dalam Islam. Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang-orang kafir negeri Barat dan lainnya, kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam (kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Syariat Islam yang agung ini datang dari Rabb semesta alam Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan tujuan untuk membimbing manusia meraih maslahat-maslahat kehidupan dan menjauhkan mereka dari mafsadah-mafsadah yang akan merusak dan menghancurkan kehidupan mereka sendiri.

Ikhtilath (campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram), pergaulan bebas, dan pacaran adalah fitnah (cobaan) dan mafsadah bagi umat manusia secara umum, dan umat Islam secara khusus, maka perkara tersebut tidak bisa ditolerir. Bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (Al-Ma`idah: 79-78)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:

“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)

Maka, pacaran berarti menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri darinya. Hal itu karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syariat sebagai berikut:

1. Ikhtilath, yaitu bercampur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umatnya dari ikhtilath, sekalipun dalam pelaksanaan shalat. Kaum wanita yang hadir pada shalat berjamaah di Masjid Nabawi ditempatkan di bagian belakang masjid. Dan seusai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam sejenak, tidak bergeser dari tempatnya agar kaum lelaki tetap di tempat dan tidak beranjak meninggalkan masjid, untuk memberi kesempatan jamaah wanita meninggalkan masjid terlebih dahulu sehingga tidak berpapasan dengan jamaah lelaki. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih Al-Bukhari. Begitu pula pada hari Ied, kaum wanita disunnahkan untuk keluar ke mushalla (tanah lapang) menghadiri shalat Ied, namun mereka ditempatkan di mushalla bagian belakang, jauh dari shaf kaum lelaki. Sehingga ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai menyampaikan khutbah, beliau perlu mendatangi shaf mereka untuk memberikan khutbah khusus karena mereka tidak mendengar khutbah tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal itu dikarenakan dekatnya shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek, dan jauhnya shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Apabila pada ibadah shalat yang disyariatkan secara berjamaah, maka bagaimana kiranya jika di luar ibadah? Kita mengetahui bersama, dalam keadaan dan suasana ibadah tentunya seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. Maka bagaimana sekiranya ikhtilath itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepatnya mengikuti peredaran darah . Bukankah sangat ditakutkan terjadinya fitnah dan kerusakan besar karenanya?” (Lihat Fatawa An-Nazhar wal Khalwah wal Ikhtilath, hal. 45)

Subhanallah. Padahal wanita para shahabat keluar menghadiri shalat dalam keadaan berhijab syar’i dengan menutup seluruh tubuhnya –karena seluruh tubuh wanita adalah aurat– sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31, tanpa melakukan tabarruj karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka melakukan hal itu dalam surat Al-Ahzab ayat 33, juga tanpa memakai wewangian berdasarkan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan yang lainnya :

“Hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang siapa saja dari mereka yang berbau harum karena terkena bakhur untuk untuk hadir shalat berjamaah sebagaimana dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 53:

“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka berinteraksi sesuai tuntutan hajat dari balik hijab dan tidak boleh masuk menemui mereka secara langsung. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Maka tidak dibenarkan seseorang mengatakan bahwa lebih bersih dan lebih suci bagi para shahabat dan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan bagi generasi-generasi setelahnya tidaklah demikian. Tidak diragukan lagi bahwa generasi-generasi setelah shahabat justru lebih butuh terhadap hijab dibandingkan para shahabat, karena perbedaan yang sangat jauh antara mereka dalam hal kekuatan iman dan ilmu. Juga karena persaksian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para shahabat, baik lelaki maupun wanita, termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah para nabi dan rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pula, dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah menunjukkan berlakunya suatu hukum secara umum meliputi seluruh umat dan tidak boleh mengkhususkannya untuk pihak tertentu saja tanpa dalil.” (Lihat Fatawa An-Nazhar, hal. 11-10)

Pada saat yang sama, ikhtilath itu sendiri menjadi sebab yang menjerumuskan mereka untuk berpacaran, sebagaimana fakta yang kita saksikan berupa akibat ikhtilath yang terjadi di sekolah, instansi-instansi pemerintah dan swasta, atau tempat-tempat yang lainnya. Wa ilallahil musytaka (Dan hanya kepada Allah kita mengadu)

2. Khalwat, yaitu berduaannya lelaki dan wanita tanpa mahram. Padahal Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami? ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kebinasaan.” (Muttafaq ‘alaih, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Hal itu karena tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)

3. Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata . Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan. Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)

Meskipun sentuhan itu hanya sebatas berjabat tangan maka tetap tidak boleh. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim)

Demikian pula dengan pandangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat An-Nur ayat 31-30:

“Katakan (wahai Nabi) kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari halhal yang diharamkan) –hingga firman-Nya- Dan katakan pula kepada kaum mukminat, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari hal-hal yang diharamkan)….”

Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”

Adapun suara dan ucapan wanita, pada asalnya bukanlah aurat yang terlarang. Namun tidak boleh bagi seorang wanita bersuara dan berbicara lebih dari tuntutan hajat (kebutuhan), dan tidak boleh melembutkan suara. Demikian juga dengan isi pembicaraan, tidak boleh berupa perkara-perkara yang membangkitkan syahwat dan mengundang fitnah. Karena bila demikian maka suara dan ucapannya menjadi aurat dan fitnah yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).” (Al-Ahzab: 32)

Adalah para wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di sekitar beliau hadir para shahabatnya, lalu wanita itu berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepentingannya dan para shahabat ikut mendengarkan. Tapi mereka tidak berbicara lebih dari tuntutan hajat dan tanpa melembutkan suara.

Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Demikian pula halnya berkunjung ke rumah calon istri atau wanita yang ingin dilamar dan bergaul dengannya dalam rangka saling mengenal karakter dan sifat masing-masing, karena perbuatan seperti ini juga mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Wallahul musta’an (Allah-lah tempat meminta pertolongan).

Adapun cara yang ditunjukkan oleh syariat untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Fathimah bintu Qais ketika dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, lalu dia minta nasehat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda:

“Adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya . Adapun Mu’awiyah, dia adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim)

Para ulama juga menyatakan bolehnya berbicara secara langsung dengan calon istri yang dilamar sesuai dengan tuntunan hajat dan maslahat. Akan tetapi tentunya tanpa khalwat dan dari balik hijab. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (130-129/5 cetakan Darul Atsar) berkata: “Bolehnya berbicara dengan calon istri yang dilamar wajib dibatasi dengan syarat tidak membangkitkan syahwat atau tanpa disertai dengan menikmati percakapan tersebut. Jika hal itu terjadi maka hukumnya haram, karena setiap orang wajib menghindar dan menjauh dari fitnah.”

Perkara ini diistilahkan dengan ta’aruf. Adapun terkait dengan hal-hal yang lebih spesifik yaitu organ tubuh, maka cara yang diajarkan adalah dengan melakukan nazhor, yaitu melihat wanita yang hendak dilamar. Nazhor memiliki aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan yang membutuhkan pembahasan khusus .

Wallahu a’lam.


Batas-batas Kebolehan Bersolek

8 Desember 2008

Apa yang dimaksud dengan bersolek dalam firman-Nya SWT, “Dan jangan1ah kamu berhias seperti orang-orang Jahiliyah dahulu ” (QS. al-Ahzab: 33) dan apa maksud dari hadis Nabi saw, “Pada umatku yang terakhir akan terdapat perempuan-perempuan yang berpakaian namun [hakikatnya] mereka telanjang, mereka menyimpang [dari kebenaran] dan tidak berpendirian seperti onta-onta gemuk yang tak berguna (kaasminati al-bukhti al-ijaf), laknatlah mereka karena mereka memang terlaknat.”

Ayat tersebut ingin menegaskan tentang pelarangan bersolek, yaitu keluarnya wanita dengan menampakkan perhiasannya yang mencolok, baik dengan memakai kosmetik maupun membuka wajahnya (tidak berjilbab), atau dengan memakai pakaian yang seksi di mana kewanitaannya bergerak di luar lingkungan kaum wanita, yang berakibat secara langsung atau tidak langsung kepada adanya ketertarikan dari lawan jenis seperti yang disebutkan dalam ayat yang lain, “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. ” (QS. al-Ahzab: 32) Sesungguhnya Al-Qur’an al-Karim tidak menginginkan wanita keluar rumah dengan gaya yang memancing keadaan “berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. ” Atau, gaya bicaranya mengundang hasrat seksual itu. Dan barangkali maksud dari perempuan-perempuan yang berpakaian namun mereka telanjang adalah wanita-wanita yang memakai pakaian, tetapi perilaku mereka di tengah-tengah masyarakat persis seperti perilaku wanita yang telanjang, sebab ia menelanjangkan keadaannya untuk menarik lawan jenis, dan ia menelanjangkan sisi feminisme di dalamnya, di mana sama saja baginya baik ia memakai pakaian atau tidak.

Kapan wanita berhak untuk berhias? Dan apa batas-batas yang diletakkan dalam hal itu? Dan apakah berhak baginya dalam keadaan seperti ini untuk bersolek dengan pakaian popularitas? Mengapa?

Wanita berhak untuk memasang semua perhiasannya di kalangan sesama wanita, sampai pada batas tidak menjadi faktor adanya daya tarik kalangan wanita sendiri kepadanya, yang boleh jadi akan mendorong penyimpangan seksual sesama wanita (lesbian- pent.). Dan wanita dapat menikmati sifat femininnya sampai pada puncaknya bersama suaminya, karena tidak ada hal yang diharamkan antara suami dan istri pada tingkat ini. Adapun ketika ia berada (berkumpul) bersama kaum pria, maka ia harus berusaha untuk tampil sebagai manusia, dimana pria tidak merasakan aroma femininnya yang menarik nalurinya. Atas dasar itu, wanita dapat keluar rumah dengan memakai pakaian yang syar’i yang menunjukkan keseimbangan dan nilai-nilai kemanusiaan, yang menjadikan orang lain melihat kepadanya dengan penglihatan manusia kepada manusia yang lain.

Sedangkan berkaitan dengan pakaian popularitas, maka itu adalah masalah yang menyangkut penjagaan syariat ( tahaffuzh syar’i) bagi laki-laki dan perempuan.

Mengenai perhiasan, apa yang dihalalkan dan diharamkan darinya? Apakah Allah mengharamkan minyak wangi? Allah tidak mengharamkan minyak wangi kecuali jika mempunyai penetrasi yang kuat, sekiranya membentuk unsur seksual bagi lawan jenis, dan tidak mengharamkan perhiasan biasa, misalnya, cincin yang dipakai wanita di tangannya ketika ia keluar rumah. Tetapi, wanita tidak boleh menampakkan perhiasannya seperti kalung dan lain-lainnya, serta semua hal yang memiliki pengaruh negatif atas keseimbangan fitrah.

Apa pendapat Islam tentang usaha mempercantik diri melalui pembedahan dan penggunaan pigmen (zat warna) yang jelas dan yang tidak jelas?

Tidak ada larangan bagi wanita untuk melakukan operasi kecantikan jika ia menemukan sebagian keburukan rupa (cacat) di tubuhnya. Tapi, hendaklah ia memperhatikan aturan-aturan syariat berkaitan dengan dokter laki-laki dan dokter perempuan.

Adapun berhubungan dengan alat-alat kosmetik, dalam hal itu Islam begitu hati-hati, dan terkadang ia mengharamkannya apabila dianggap sebagai perhiasan yang mencolok (menarik perhatian orang lain-pent.).

Bagaimana pendapat Islam dengan orang-orang yang mengubah ciptaan Allah, misalnya, Michael Jackson?

Tidak ada larangan bagi seseorang untuk mengubah bentuk fisiknya. lni termasuk kategori operasi kecantikan.

Bagaimana pendapat Islam tentang wanita yang menghilangkan rambut di wajahnya?

Tidak ada masalah bagi wanita untuk memangkas bulu alisnya, dan tidak apa-apa ia menggunakan sarana apa pun dalam hal itu, kecuali jika menyebabkan keadaan bersolek yang tidak wajar.

Apakah diperbolehkan bagi wanita untuk menyambung rambutnya dengan rambut manusia atau selain manusia pada saat ia menggunakan perhiasan?

Pada hakikatnya hal itu tidak diharamkan, namun ia diharamkan ketika berubah menjadi usaha penipuan, yang wanita berusaha- melaluinya-menampakkan dirinya dengan suatu kecantikan yang tidak ada di dalamnya.

Apa maksud dari perkataan Imam Ali as, “Wanita dilarang untuk mencukur rambutnya?”

Yakni, wanita dilarang untuk mencukur rambutnya dalam keadaan-keadaan biasa, sebab ia bukanlah laki-laki. Demikianlah jika hadis ini benar, namun hadis tersebut belum kuat ( tsabit) bagi kami.

Diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud (ra) bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah melaknat orang yang membuat tatto ” Bagaimana pendapat Anda?

Yang diharamkan pada semua itu adalah menampakkan kecantikan yang tidak ada, sekiranya menipu orang-orang lain sehingga orang yang melihatnya-misalnya, suami-menganggapnya memiliki kecantikan tersebut, padahal pada hakikatnya tidak demikian


Dampak Berat Pernikahan Dini

23 November 2008

Dalam sebuah dialog antar remaja psikolog yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun radio swasta di Jakarta beberapa waktu lalu, seorang remaja laki-laki usia 19 tahun bercerita kepada penyiarnya : “Saya terpaksa menikah karena terlanjur melakukan hubungan intim hingga pacar saya hamil.” Lalu, “Apa yang terjadi setelah menikah?” tanya sang penyiar tadi. “Dunia berubah 180 derajat Dari bangun sembarangan harus berangkat pagi untuk bekerja. Belum lagi, siang malam anak saya menangis, hingga kami tidak bisa tidur barang sekejap pun.”

Dari cerita ini bisa tergambar bagaimana sibuknya seorang remaja menata dunia yang baginya sangat baru dan sebenarnya ia belum siap menerima perubahan ini. Positifnya, ia mencoba bertanggung jawab atas hasil perbuatan yang dilakukan bersama pacarnya. Hanya satu persoalannya, pernikahan usia dini sering berbuntut perceraian. Mampukah remaja itu bertahan?

Ambil contoh pernikahan pasangan artis Wulan Guritno dengan Attila Syah. Keduanya menikah pada usia di bawah 20 tahun. Pada tahun-tahun pertama meski sudah memiliki anak, keduanya mencoba terus bertahan dan menampilkan sosok pasangan cukup bahagia. Namun pertahanan itu jebol juga. Perceraian tak dapat ditolak, pertengkaran pun masih berbuntut panjang meski hakim telah memberikan surat bukti cerai.

Ada apa dengan cinta? Mengapa pernikahan yang umumnya dilandasi rasa cinta bisa berdampak buruk, bila dilakukan oleh remaja? Pernikahan dini atau menikah dalam usia muda, menurut Edi Nur Hasmi, psikolog yang juga Direktur Remaja dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, memiliki dua dampak cukup berat. “Dari segi fisik, remaja itu belum kuat, tulang panggulnya masih terlalu kecil sehingga bisa membahayakan proses persalinan. Oleh karena itu pemerintah mendorong masa hamil sebaiknya dilakukan pada usia 20 – 30 tahun. Dari segi mental pun, emosi remaja belum stabil.”

Kestabilan emosi umumnya terjadi pada usia 24 tahun, karena pada saat itulah orang mulai memasuki usia dewasa. Masa remaja, ungkap Edi, boleh di bilang baru berhenti pada usia 19 tahun. Dan pada usia 20 – 24 tahun dalam psikologi, dikatakan sebagai usia dewasa muda atau lead edolesen. Pada masa ini, biasanya mulai timbul transisi dari gejolak remaja ke masa dewasa yang lebih stabil. Maka, kalau pernikahan dilakukan di bawah 20 tahun secara emosi si remaja masih ingin bertualang menemukan jati dirinya.

“Bayangkan kalau orang seperti itu menikah, ada anak, si istri harus melayani suami dan suami tidak bisa ke mana-mana karena harus bekerja untuk belajar tanggung jawab terhadap masa depan keluarga. Ini yang menyebabkan gejolak dalam rumah tangga sehingga terjadi perceraian, pisah rumah, bahkan bisa mengalami depresi berat,” jelasnya.

Depresi berat atau neoritis depresi akibat pernikahan dini ini, bisa terjadi pada kondisi kepribadian yang berbeda. Pada pribadi introvert (tertutup) akan membuat si remaja menarik diri dari pergaulan. Dia menjadi pendiam, tidak mau bergaul, bahkan menjadi seorang yang schizoprenia atau dalam bahasa awam yang dikenal orang adalah gila. Sedang depresi berat pada pribadi ekstrovert (terbuka) sejak kecil, si remaja terdorong melakukan hal-hal aneh untuk melampiaskan amarahnya. Seperti, perang piring, anak dicekik dan sebagainya. Dengan kata lain, secara psikologis kedua bentuk depresi sama-sama berbahaya.

“Dalam pernikahan dini sulit membedakan apakah remaja laki-laki atau remaja perempuan yang biasanya mudah mengendalikan emosi. Situasi emosi mereka jelas labil, sulit kembali pada situasi normal,” jelas psikolog yang rajin meneliti kehidupan remaja melalui program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang dibina BKKBN.

“Sebaiknya, sebelum ada masalah lebih baik diberi prevensi daripada mereka diberi arahan setelah menemukan masalah. Biasanya orang mulai menemukan masalah kalau dia punya anak. Begitu punya anak, berubah 100 persen. Kalau berdua tanpa anak, mereka masih bisa enjoy, apalagi kalau keduanya berasal dari keluarga cukup mampu, keduanya masih bisa menikmati masa remaja dengan bersenang-senang meski terikat dalam tali pernikahan.”

Usia masih terlalu muda, banyak keputusan yang diambil berdasar emosi atau mungkin mengatasnamakan cinta yang membuat mereka salah dalam bertindak. Meski tak terjadi Married By Accident (MBA) atau menikah karena “kecelakaan”, kehidupan pernikahan pasti berpengaruh besar pada remaja. Oleh karena itu, setelah dinikahkan remaja tersebut jangan dilepas begitu saja.

Pada dasarnya, rumah tangga dibangun atas komitmen bersama dan merupakan pertemuan dua pribadi berbeda. Kalau keduanya bisa saling merubah, itu hanya akan terjadi kalau dua-duanya sama-sama dewasa. Namun, hal ini sulit dilakukan pada pernikahan usia remaja. Pada tahap awal, mungkin wanitanya bisa berubah, tapi laki-lakinya tidak. Sehingga di wanita akan merasa capek sendiri, atau juga sebaliknya. Lalu, perlukah orang ketiga untuk mendamaikan permasalahan remaja?

Terkadang, remaja memiliki ambisi pribadi untuk mempertanggungkan hasil perbuatannya dan akan mudah tersinggung bila orang lain ikut campur dalam kehidupannya. Bahkan orangtua terkadang hanya bisa geleng kepala, melihat tingkat remaja yang tidak mempan diberi nasihat dalam bentuk apapun. Oleh karena itu, orang ketiga yang diharapkan mampu mendamaikan persoalan rumah tangga remaja, tidak selalu orangtua, tetapi orang yang dituakan. Artinya, pihak ketiga itu bisa saja saudara, teman, paman ataupun kerabat lainnya.


Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Pada Remaja

14 November 2008

Oleh: Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi.

Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring dengan berlalunya waktu dan perkembangan selanjutnya, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari ketergantungannya pada orangtua atau orang lain di sekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini merupakan suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Mandiri atau sering juga disebut berdiri diatas kaki sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.

Selama masa remaja, tuntutan terhadap kemandirian ini sangat besar dan jika tidak direspon secara tepat bisa saja menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologis sang remaja di masa mendatang. Ditengah berbagai gejolak perubahan yang terjadi di masa kini, betapa banyak remaja yang mengalami kekecewaan dan rasa frustrasi mendalam terhadap orangtua karena tidak kunjung mendapatkan apa yang dinamakan kemandirian. Ruang konseling di website ini banyak dipenuhi oleh kebingungan-kebingungan dan keluh kesah yang dialami remaja karena banyak sekali aspek kehidupan mereka yang masih diatur oleh orangtua, meski banyak diantara mereka yang sudah berusia lebih dari 17 tahun. Salah satu contohnya adalah dalam hal pemilihan jurusan/fakultas ketika masuk sekolah/Perguruan Tinggi. Dalam hal ini masih banyak ditemui orangtua yang sangat ngotot untuk memasukkan putra/putrinya ke jurusan yang mereka kehendaki meskipun anaknya sama sekali tidak berminat untuk masuk ke jurusan tersebut. Akibatnya remaja tersebut tidak memiliki motivasi belajar, berkehilangan gairah untuk sekolah dan tidak jarang justru berakhir dengan Drop Out dari sekolah tersebut.

Mencermati kenyataan tersebut, peran orangtua sangatlah besar dalam proses pembentukan kemandirian seorang. Orangtua diharapkan dapat memberikan kesempatan pada anak agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dengan demikian anak akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi mandiri.

Kemandirian

Kemandirian, menurut Sutari Imam Barnadib (1982), meliputi “perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain”. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali (1987) yang mengatakan bahwa kemandirian adalah “hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri”. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian:

-Suatu keadaan dimana seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya,

-Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi,

-Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya,

-Bertanggungjawab tetrhadap apa yang dilakukannya

Robert Havighurst (1972) menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu:

Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua.

Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua.

Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.

Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.

Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih mantap.

Untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di sekitarnya, agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri. Pada saat ini peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak sebagai ”penguat” untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Reber (1985) bahwa : “ kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana seseorang secara relatif bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain”. Dengan otonomi tersebut seorang remaja diharapkan akan lebih bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.

Proses Perkembangan Kemandirian

Kemandirian, seperti halnya kondisi psikologis yang lain, dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Mengingat kemandirian akan banyak memberikan dampak yang positif bagi perkembangan individu, maka sebaiknya kemandirian diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai kemampuannya. Seperti telah diakui segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak dini akan dapat dihayati dan akan semakin berkembang menuju kesempurnaan. Latihan kemandirian yang diberikan kepada anak harus disesuaikan dengan usia anak. Contoh: Untuk anak-anak usia 3 – 4 tahun, latihan kemandirian dapat berupa membiarkan anak memasang kaos kaki dan sepatu sendiri, membereskan mainan setiap kali selesai bermain, dll. Sementara untuk anak remaja berikan kebebasan misalnya dalam memilih jurusan atau bidang studi yang diminatinya, atau memberikan kesempatan pada remaja untuk memutuskan sendiri jam berapa ia harus sudah pulang ke rumah jika remaja tersebut keluar malam bersama temannya (tentu saja orangtua perlu mendengarkan argumentasi yang disampaikan sang remaja tersebut sehubungan dengan keputusannya). Dengan memberikan latihan-latihan tersebut (tentu saja harus ada unsur pengawasan dari orangtua untuk memastikan bahwa latihan tersebut benar-benar efektif), diharapkan dengan bertambahnya usia akan bertambah pula kemampuan anak untuk berfikir secara objektif, tidak mudah dipengaruhi, berani mengambil keputusan sendiri, tumbuh rasa percaya diri, tidak tergantung kepada orang lain dan dengan demikian kemandirian akan berkembang dengan baik.

Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Remaja

Memperoleh kebebasan (mandiri) merupakan suatu tugas bagi remaja. Dengan kemandirian tersebut berarti remaja harus belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya. Dengan demikian remaja akan berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan pada orangtua atau orang dewasa lainnya dalam banyak hal. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat para ahli perkembangan yang menyatakan: “Berbeda dengan kemandirian pada masa anak-anak yang lebih bersifat motorik, seperti berusaha makan sendiri, mandi dan berpakaian sendiri, pada masa remaja kemandirian tersebut lebih bersifat psikologis, seperti membuat keputusan sendiri dan kebebasan berperilaku sesuai dengan keinginannya”.

Dalam pencarian identitas diri, remaja cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan psikis orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa. Hal ini dikemukan Erikson(dalam Hurlock,1992) yang menamakan proses tersebut sebagai “proses mencari identitas ego”, atau pencarian diri sendiri. Dalam proses ini remaja ingin mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan, disamping ingin tahu tentang dirinya sendiri.

Kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara remaja dan teman sebaya. Hurlock (1991) mengatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya, remaja belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima (bahkan dapat juga menolak) pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima di dalam kelompoknya. Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan angota keluarganya. Ini dilakukan remaja dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok teman sebayanya sehingga tercipta rasa aman. Penerimaan dari kelompok teman sebaya ini merupakan hal yang sangat penting, karena remaja membutuhkan adanya penerimaan dan keyakinan untuk dapat diterima oleh kelompoknya.

Dalam mencapai keinginannya untuk mandiri sering kali remaja mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan oleh masih adanya kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain. Dalam contoh yang disebutkan diatas, remaja mengalami dilema yang sangat besar antara mengikuti kehendak orangtua atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia mengikuti kehendak orangtua maka dari segi ekonomi (biaya sekolah) remaja akan terjamin karena orangtua pasti akan membantu sepenuhnya, sebaliknya jika ia tidak mengikuti kemauan orangtua bisa jadi orangtuanya tidak mau membiayai sekolahnya. Situasi yang demikian ini sering dikenal sebagai keadaan yang ambivalensi dan dalam hal ini akan menimbulkan konflik pada diri sendiri remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Bahkan dalam beberapa kasus tidak jarang remaja menjadi frustrasi dan memendam kemarahan yang mendalam kepada orangtuanya atau orang lain di sekitarnya.Frustrasi dan kemarahan tersebut seringkali diungkapkan dengan perilaku-perilaku yang tidak simpatik terhadap orangtua maupun orang lain dan dapat membahayakan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan remaja tersebut karena akan menghambat tercapainya kedewasaan dan kematangan kehidupan psikologisnya. Oleh karena itu, pemahaman orangtua terhadap kebutuhan psikologis remaja untuk mandiri sangat diperlukan dalam upaya mendapatkan titik tengah penyelesaian konflik-konflik yang dihadapi remaja.

Bagaimana Orangtua Menyikapi

Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian amatlah krusial. Meski dunia pendidikan (sekolah) juga turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri.

Bagaimana orangtua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian seorang remaja, berikut ini terdapat beberapa saran yang layak Bapak/Ibu pertimbangkan:

Komunikasi. Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja komunikasi disii harus bersifat dua arah, artinya kedua belah pihak harus mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yang lain. Dengan melakukan komunikasi orangtua dapat mengetahui pandangan-pandangan dan kerangka berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Kebingungan seperti yang disebutkan diatas mungkin tidak perlu terjadi jika ada komunikasi antara remaja dengan orangtuanya. Komunikasi disini tidak berarti harus dilakukan secara formal, tetapi bisa saja dilakukan sambil makan bersama atau selagi berlibur sekeluarga.

Kesempatan. Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak remajanya untuk membuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Biarkan remaja tersebut mengusahakan sendiri apa yang diperlukannya dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai masalah yang muncul. Dalam hal ini orangtua hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya boleh melakukan intervensi jika tindakan sang remaja dianggap dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

Tanggungjawab. Bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci untuk menuju kemandirian. Dengan berani bertanggungjawab (betapapun sakitnya) remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampak-dampak negatif (tidak menyenangkan) bagi dirinya. Dalam banyak kasus masih banyak orangtua yang tidak menyadari hal ini. Sebagai contoh: dalam kasus remaja yang ditahan oleh pihak berwajib karena terlibat tawuran, tidak jarang dijumpai justru orangtua lah yang berjuang keras dengan segala cara untuk membebaskan anaknya dari tahanan, sehingga anak tidak pernah memproleh kesempatan untuk bertanggungjawab atas perilaku yang diperbuatnya (bahkan tidak sempat melewati pemeriksaan intensif pihak berwajib). Pada kondisi demikian maka remaja tentu saja tidak takut untuk berbuat salah, sebab ia tahu orangtuanya pasti akan menebus kesalahannya. Kalau begini terus, kapan dong anak bisa bertanggungjawab atas segala perbuatannya dan mampu mandiri?

Konsistensi. Konsistensi orangtua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai kepada remaja dan sejak masa kanak-kanak di dalam keluarga akan menjadi panutan bagi remaja untuk dapat mengembangkan kemandirian dan berpikir secara dewasa. Orangtua yang konsisten akan memudahkan remaja dalam membuat rencana hidupnya sendiri dan dapat memilih berbagai alternatif karena segala sesuatu sudah dapat diramalkan olehnya.

Mungkin masih terdapat banyak cara lain yang patut dipertimbangkan dalam meningkatkan kemandirian sang remaja agar menjadi pribadi yang utuh dan dewasa. Satu hal yang perlu kita ingat adalah: “Jika kita dapat mengasuh dan membimbing anak untuk bisa mandiri melalui keluarga, mengapa kita tidak melakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya mulai dari sekarang”. Negara ini sudah penuh dengan berbagai ketergantungan pada pihak lain, maka jangan lagi kita membangun generasi baru yang juga penuh dengan ketergantungan dan menjadi beban keluarga. Semoga.


‘Inner Handsome’, Ganteng Di Bawah Kulit?

12 November 2008

Jantan nggak selalu identik dengan kekerasan. Keren juga nggak selamanya lekat dengan wajah ganteng. Cos, kegantengan sejati ada di bawah kulit. Kok bisa?

Produser film Superman: Reborn sedang pusing abis. Mereka dikabarkan belum mendapatkan aktor yang pas untuk berperan sebagai Superman. Bukan karena nggak ada aktor yang cakep, tapi susah nian mendapatkan yang cakep dan macho. Dari sekian puluh bintang cowok yang di-casting nggak ada yang matching dengan kriteria sutradara. Dari Hollywood hingga ke Inggris, gambaran Superman seperti itu belum mereka temukan. Kebanyakan, para aktor sekarang adalah cowok pesolek.

Itu juga yang bisa diliat banyak orang dari pemeran Spiderman, Tobey Maguire. Jauh kan banget dari kesan sangar? Bandingkan dengan aktor laga macam Van Damme, Arnold Schwarzenegger, Sylvester Stallone, atau Clint Eastwood. Gaya cowok sekarang lebih mengedepankan kekasepannya (baca: kecakepannya) yang terawat rapi ketimbang tampang liar yang macho. Contohnya si Tobey Maguire dan pesepak bola Inggris David Beckham. Malah Oscar De La Hoya si juara tinju kelas … merasa sah aja tampil bersolek. De La Hoya emang cute kontras banget ama profesinya yang keras. Bandingin juga ama petinju lain macam Mike Tyson atau Lennox Lewis yang serem abis.

Tahun 80-an gaya cowok-pesolek juga udah ada. Grup musik Duran Duran yang ngetop dengan lagu Save A Prayer, tampil modis malah agak-agak feminin.

Gaya cowok-pesolek yang disebut-sebut metroseksual itu kini sedang menggusur gaya sangar. Bagi sejumlah cowok di dunia, kekekaran tubuh dan tampang sangar adalah masa lalu.

Setuju Nggak Setuju

Punya wajah ganteng buat para cowok adalah idaman. Apalagi kalau ditunjang ama bodi yang atletis. Nggak usahlah segede awaknya Ade Rai, yang penting proporsional. Bisa jadi untuk anak cowok sekarang tampang oke jadi nomor satu. Buat apa badan gede tapi wajah nggak beraturan?

So, bukan cuma kaum cewek yang mikirin soal penampilan, para cowok sekarang juga care banget dengan urusan ‘perwajahan’. Tengok aja kamar-kamar cowok sekarang, nggak cuma ada minyak rambut atau obat anti bau badan, tapi ada juga keperluan facial macam obat anti jerawat, pembersih muka sampai bedak. Malah nggak sedikit juga cowok yang rajin ke salon untuk urusan muka ama rambut.

Tentu aja nggak semua cowok setuju dengan gaya macam begini. Menurut sebagian mereka gaya metroseksual itu kebanci-bancian. Masak cowok berdandan. Cowok mah wajar aja bau ketek ama asap rokok, muka ‘berkawah’ karena bekas jerawat dan rambut kagak licin. Ke salon? Ih, amit-amit.

Inner Handsome?

Di kalangan para cewek udah dikenal luas istilah inner beauty atau beauty under skin. Filosofinya, kecantikan sejati itu datang dari dalam hati cewek, bukan kulit alias luarannya. So, biar kata tampang manis dan bodi gorgeous kayak Titi Kamal, tapi hati-nya Mak Lampir ya mana ada cowok yang mau.

Nah, sebetulnya buat cowok hal seperti itu juga harus ada. Kegantengan atau kece-nya seorang cowok nggak bisa diukur hanya dari luaran, dari bodi yang atletis atau wajah yang cute. Kalau kaum cewek punya istilah inner beauty, untuk kaum cowok barangkali inner handsome. Ini istilah untuk cowok only.

Tapi silakan coba, biar pun seorang cowok kasep (baca: handsome) tapi kalau kelakuannya a’udzubillah, semua orang bakal ngacir. Begitu pula cewek mana mau dilamar cowok yang kelakuannya kayak setan. Biar ganteng tapi kalo ulahnya bikin makan ati ya amit-amit.

Prinsip ‘kegantengan dari dalam’ ini adalah firman Allah SWT. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antaramu”(Al Hujurat: 13).

Rasulullah saw. juga udah ngingetin kita kebaikan itu nggak diliat dari penampilan, tapi dari isi hati. “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat pada rupamu dan badanmu, tapi Ia melihat pada hatimu.”

And ternyata, penampilan itu memang bisa menipu. Buktinya nggak ada penipu yang tampangnya asal-asalan. Rata-rata memaniskan diri mereka supaya meyakinkan calon korbannya. Cowok yang banyak gombalnya awalnya disukai tapi pait di ujungnya. Bakal dijauhin.

Tentu saja penampilan cowok makin komplit kalau ia bertakwa, baek, lalu ganteng en atletis. Pasti ia jadi idola banyak orang. Moga-moga kamu jadi yang seperti itu. Amin.[januar]

Agar Kamu Punya Inner Handsome

Supaya kamu jadi cowok yang ber-inner handsome, ada beberapa karakter yang kudu kamu miliki. Mau? Baca aja en amalkan!

Relijius (baca: beriman)

Nggak ada cowok yang demikian baik kalau ia nggak beriman. Cowok yang relijius bawaannya juga kalem, sopan dan optimistik. Kedekatannya ama Allah membuat ia jadi orang yang sadar sesadar-sadarnya kalau hidup itu adalah ladang beramal soleh. Dari sini akan muncul akhlakul karimah atawa aneka perbuatan yang menyenangkan orang lain. Ia juga akan menjaga hubungannya ama lawan jenis dengan ati-ati, karena nggak mau melukai perasaan mereka dan jadi dosa.

Jujur

Kejujuran sikap yang disukai banyak orang. Nah, sikap jujur ini kudu dimiliki para cowok kalau mereka mau jadi orang yang inner handsome, disukai banyak orang en pastinya Allah SWT. Berpura-pura atau memanipulasi penampilan dan sikap emang bisa diterima baik, tapi begitu ketauan ‘belangnya’, orang bakal menjauh. So, nggak usah deh sok jaim atau mengkamuflase diri di depan orang lain. Itu namanya carmuk (cari muka) atau caper (cari perhatian).

Nothing to loose

Percaya aja, nggak ada orang yang suka ama cowok yang kagak mau ngalah, apalagi kala udah jelas-jelas kalah en salah. Sikap keras kepala atau suka ngeles malah membuat dirimu ‘jatuh’ di depan orang lain. Sebaliknya mengakui kekalahan dan kesalahan akan nambah nilai plus buat dirimu. Itu berarti kamu emang gentle.

Sabar

Ada mitos yang salah soal dunia cowok, katanya, kalau ngadepin masalah “pukul baru tanya”. Anak cowok emang udah kepalang didoktrin kudu ngeduluin ototnya ketimbang otaknya. Mereka yang ogah berantem sering dicap banci. Akhirnya, seringkali untuk urusan yang sepele anak-anak cowok sering berantem. Padahal sikap emosional atau brangasan kayak begitu dibenci banyak orang. Alih-alih ngeberesin masalah, malah nambah masalah. Banyak orang yang lebih suka dengan cowok kalem, rasional dan tenang dalam menghadapi masalah. Bukannya yang maen pukul.

Bertanggung jawab

Cowok yang ber-inner handsome adalah yang bertanggung jawab. Dia berani menanggung resiko seberani dia mengambil tindakan. Tau kan kasus Amanda Davina yang dibunuh pacarnya, Ronald? Gara-gara minta pertanggungjawaban akibat dihamili, eh tuh cowok malah nyekek kekasihnya sampai mati.

Sebesar apapun kesalahan yang pernah dikerjakan, seorang cowok yang baek, kudu siap bertanggung jawab. Pasalnya, kalau pun ia bisa lolos dari bertanggung jawab di depan manusia, apa bisa lolos di depan Allah nanti? Kagak la yauw!


Cinta Itu Luas…!

12 November 2008

Cinta ibarat bisul. Kalau belum bucat alias pecah, belum terasa enak. Maka banyak orang berburu cinta. Tapi jangan salah paham, cinta itu nggak cuma ama lawan jenis aja, kok. Ada cinta lain yang kudu ditebarkan. Wajib malah!

Bulan Febuari tiba. Hampir di semua belahan dunia, Barat maupun Timur menyambutnya dengan suka cita. Ini bulan cinta. Warna merah jambu nangkring di mana-mana. Ia ada di kartu ucapan Valentine, boneka imut, baju, sampai casing ponsel. Warna-warna lain harap menyingkir. Kecuali merah-kuning-ijo yang emang dari dulu ada di traffic light (kebayang kalau diganti warna pink).

Febuari memang sudah dinobatkan sebagai hari “kesaktian” cinta. Di bulan ini juga banyak orang berburu cinta. Padahal seperti sering kita ulas, nggak ada hubungannya antara bulan Febuari dengan cinta. Adalah orang-orang Romawi yang merayakan tanggal 14 febuari sebagai festival Lupercalia untuk ngerayain kelahiran dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. And then, dengan latah kaum Nasrani ikutan ngerayainnya. Nggak lain untuk menarik simpati masyarakat Romawi supaya masuk agama mereka. Dan, berhasil! Malah, bukan cuma para pemuda-pemudi Romawi yang ikutan, yang ada di Indonesia juga jadi latah. Ikut-ikutan padahal kagak ngarti apa maksudnya. Pokoknya asyik dan seperti kata Nirina di MTV Getar Cinta, love banget! Padahal sih, haram banget!

Pahami cinta

Syukur deh kalau makin banyak remaja yang nyadar kalau Valentine’s Day emang udah basi. Kagak ada manfaatnya. Lagian, banyak orang yang salah dalam memahami cinta. Mereka nggak bisa ngebedain antara cinta dan nafsu. Ngakunya cinta padahal nafsu. Bilangnya cinta tapi malah suka ngegoda, kalau itu sih namanya nafsuin.

Ibnu Qayyim al-Jauziy yang ulama itu, ngasih penjelasan yang detil banget soal cinta. Kata beliau, cinta (dalam bahasa Arab al-mahabbah), pengertian dasarnya adalah bersih. Sebab bangsa Arab menggunakan istilah ini untuk menyebut gigi yang putih bersih. Lho kok kagak nyambung? Tenang dulu, baca aja terus. Ada juga yang bilang kalau kata al-mahabbah berasal dari akar kata al-habab, yakni air yang menguap karena hujan yang lebat. Sehingga al-mahabbah (cinta) itu bisa diartikan sebagai luapan perasaan saat dirundung kerinduan ingin bertemu kekasih. Oh,gitu.

Ada juga yang mengartikan al-mahabbah sebagai tenang dan teduh, seperti onta yang duduk tenang dan tidak mau bangun lagi setelah menderum. Jadi, seakan-akan orang yang sedang jatuh cinta itu merasa tenang, mantap dan tidak terlintas sedikit pun untuk beralih pada yang lain. Cieee!

Pengertian lain tentang cinta (al-mahabbah) adalah “bara api yang membakar hati, karena keinginan untuk bersama dengan orang yang dicintai”. Ada juga yang mengartikannya “mengingat sang kekasih sebanyak nafas yang terhembus”. Separuh nafasku terbang bersama dirimu… itu sih lagu Dewa.

Luas banget

Kata Syaikh Muhammad Husayn Abdullah, cinta itu muncul dari gharizah al-jinsiy (naluri mempertahankan keturunan). Tapi, naluri itu nggak cuma munculin cinta pada lawan jenis, tapi juga cinta pada yang lain-lain. Jadi, ia luas banget. Nah, ini beberapa di antaranya:

Cinta pada keluarga

Suatu ketika Aisyah r.a. kedatangan seorang wanita miskin dengan dua orang anak perempuannya. Lalu Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu kemudian membagi dua butir kurma itu pada kedua anaknya. Ketika ia akan memakan satu butir kurma bagiannya, mendadak diminta oleh kedua anaknya, maka dibelahnya menjadi dua, dan diberikan pada keduanya. Aisyah merasa terharu dan kagum dengan kasih sayang wanita itu. Ketika kejadian ini disampaikan pada Rasulullah saw., beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menentukan bagi perempuan itu surga, atau Allah telah memerdekakannya dari api neraka.” (HR. Muslim)

Wah, ngomongin cinta orang tua pada anak, nggak ada abisnya. Betapa pengorbanan mereka pada kita emang luar biasa. Mulai dari dalam kandungan, lahir, sampai gede kayak sekarang, semua adalah berkat kasih sayang keduanya. Bukan cuma uang, tapi juga perasaan, keringet, sampai darah mereka kasih buat anak-anaknya. Malah banyak orang tua yang berani ‘pasang badan’, berkorban untuk kebahagiaan anak-anaknya. Jadi nggak usah heran, ortumu ‘cerewet’ ngingetin kamu dalam banyak hal. Itu tandanya mereka care banget sama kamu.

Guyz, tanpa cinta ortu kita semua nggak bakal lahir ke dunia ini. Sudah sepantasnya kita-kita berterima kasih banget, en berbakti pada mereka berdua. Ini juga berlaku meski orang tua kita tidak menaati Allah apalagi berbeda agama. FirmanNya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan diriKu dengan apa yang kamu tidak punya pengetahuan tentangnya, maka janganlah kamu menaati keduanya, akan tetapi tetaplah bergaul dengan keduanya di dunia dengan baik” (QS Lukman : 15)

Syahdan, ibunda terkasih Sa’ad bin Abi Waqqash tidak suka dengan keislaman Sa’ad. Beliau memenjarakan Sa’ad dan mengucilkannya. Tapi Sa’ad tetap pada keimanannya. Hingga sang bunda akhirnya mengambil cara puasa berhari-hari agar Sa’ad kembali pada agama nenek moyangnya. Itupun tak membuat Sa’ad berubah. Akan tetapi dengan tetap dengan kelembutan Sa’ad membujuk bundanya untuk mau makan. “Duhai bunda, meskipun engkau memiliki seratus nyawa dan keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini, terserah engkau mau makan atau tidak.”

Hmm perlu ditiru tuh. Biarpun ortu Sa’ad memusuhi Islam, beliau tetap sabar. Apalagi kalau ortu kita muslim dan rajin ibadah, masak iya mau dimusuhi? Jangan ah.

Cinta Sesama Muslim

“Muslim itu saudara muslim” kata Nabi saw. Agama kita emang canggih nian, saat manusia memperbanyak perang antar kelompok, Islam justru mempersatukannya. Islam menghapus perasaan ta’ashub (kebanggan kelompok/suku/kabilah) dan diganti dengan ikatan akidah. Pokoke siapa yang beriman ia adalah part of this big family. So, kita pun dikenalin dengan yang namanya ukhuwah Islamiyyah, persaudaraan Islam. Salah satu tandanya adalah mencintai sesama muslim. Kata Nabi saw. “Belum sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”

Banyak lho yang bisa kita kerjakan sebagai bukti cinta pada sesama muslim. Mulai dari ngucapin salam, bersikap ramah, menolong sesama muslim, sampai berkorban untuk kepentingan kaum muslimin. Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang melepaskan seorang muslim dari kesulitan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari kesulitan di akhirat.”

Sobat, karena itulah kita nggak usah heran banyak sahabat Nabi saw. juga para alim ulama yang berlomba-lomba berbuat kebaikan pada sesama. Abu Bakar ash-Shiddiq, meski menjadi khalifah tetap rajin memerah susu domba bagi para janda-janda tua. Amirul mukminin Umar bin Khaththab rajin berkeliling Madinah untuk mengetahui kebutuhan dan kesusahan rakyatnya. Abdurrahman bin Auf rajin bersedekah dan memberi pinjaman hutang pada sesama muslim. Pada saat wafatnya beliau memberikan wasiat harta pada veteran Perang Badar masing-masing 400 dinar. Itu setara dengan 1,7 kg emas, bo!

Tentu saja berbuat baik pada sesama nggak mesti diwujudkan dalam pemberian yang sesuatu yang wah – meski kalau bisa itu OK banget –, yang penting adalah adanya simpati dan empati, serta kesiapan membantu sesama muslim. Jangan lupa, semuanya didasarkan atas prinsip tulus-ikhlas, nggak mengharap balas jasa kecuali ridlo Allah Swt.

Cinta pada Kekasih

Salah satu penampakkan dari cinta itu adalah cinta pada lawan jenis. Emang udah fitrahnya seorang pria mencintai wanita, juga sebaliknya. Nggak ada yang melarang, ada juga yang mengatur. Allah Swt. nggak pengen hamba-hambaNya terjebak antara melarang sama sekali pertemuan dengan lawan jenis, atau bebas banget. Yup, seperti kamu tahu, ada budaya masyarakat yang menabukan pertemuan pria dan wanita. Malah beberapa agama dan ajaran di dunia melarang adanya pernikahan bagi para pemeluknya. Mereka menekankan prinsip kerahiban atau kependetaan.

Sebaliknya, yang mengajarkan kebebasan pergaulan juga ada. Jumlahnya malah jauh lebih banyak. Terbukti, tingkat pergaulan bebas, kehamilan di luar nikah, aborsi dan jumlah pengidap PMS (penyakit menular seksual) makin mencemaskan. Itu semua efek samping dari liberalisme yang diusung demokrasi.

Di dalam ajaran Islam, pergaulan pria dan wanita kudu dilandasi ketakwaan. Maka, aktivitas macam dua-duaan, jalan bareng, becandaan apalagi pacaran, bukan jamannya lagi. Udah basi. Yang macam begitu cuma bikin setan jejingkrakan kesenengan karena ada juga yang tunduk pada godaannya. Mereka yang nekat ngelakuin itu semua sebenarnya ngerusak makna cinta, dan udah pasti bakal menanggung akibatnya. Solusi Islam dalam urusan itu emang cuma satu: pernikahan, selain itu no way!

Tentu saja, pernikahan butuh persiapan yang matang. Karena menikah bukan cuma seneng-seneng ama si doi, tapi juga ada tanggung jawab memberi nafkah lahir dan batin. Nyiapin rumah, makanan, pakaian dan jaga kesehatan. Nah, udah sanggup belon? Kalau SPP aja masih nodong ke ortu, be patient guys! Sabar aja, nanti juga ada waktunya kamu-kamu melewati masa pernikahan.

Nah, dari tulisan di atas moga kamu paham bahwa cinta itu nggak melulu berurusan ama lawan jenis. Banyak cinta lain yang kudu kita tebarkan. Wajib malah. Oke, selamat menjadi pecinta!


Cewek di mata Cowok

12 November 2008

Bener nih cowok lebih ngutamain fisik kala menilai cewek? Sejauh mana? Apa bener kepribadian jadi nggak penting?

Mata, mata, mata, matanya lelaki

Kadang suka kadang ngeri dibuatnya

(Mata Lelaki, Nicky Astria)

Entah ini kenyataan yang bikin gembira atau sedih buat kaum Hawa, bahwa penampilan cewek ternyata memikat perhatian kaum cowok at first sight. Seenggaknya ini pengakuan Aji, “Buat cowok, pertama kali yang dinilai dari seorang cewek ya penampilannya.” Menurut cowok putih yang miara jenggot wajah atawa kecantikan emang jadi yang paling dominan jadi perhatian. Selain Aji, komentar yang sama juga datang dari Nano. Bujangan yang wiraswastawan ini seperti mengamini pendapat Aji. Ia paling suka ngeliat cewek yang kulitnya putih dan rambutnya panjang lurus. Duile, abis di-rebonding?

Boyz, ini nggak cuma pendapat segelintir cowok, tapi umumnya demikian. Mata cowok bakal jelalatan begitu ngeliat mahluk feminin yang ‘macan’, manis-cantik. Kepala mereka bisa ampe miring-miring demi pemandangan indah tersebut. Ini juga artinya mereka – lewat pandangan pertama — bakal ‘mengeliminasi’ para cewek yang penampilannya ‘biasa-biasa’ aja, apalagi yang di bawah standar (jangan sewot, galz). Gawatnya lagi, nggak sedikit kaum cowok yang sampe blinded, jadi ‘buta’ dalam urusan nyari cewek semata ngeliat fisik belaka.

Eksploitasi Kecantikan

Boyz, tahukah kamu, tabiat dasar cowok yang seneng ama cewek cakep ternyata dimanfaatin betul oleh sebagian orang yang kagak bertanggung jawab. Coba aja perhatiin, hampir semua kantor mensyaratkankaryawatinya kudu berpenampilan ‘menarik’. Nah, menarik ini kan kagak jelas. Tapi pastinya untuk jadi front office (FO), SPG (Stand Promotion Girl), pramuniaga, sampai sekretaris selalu yang jadi prioritas adalah kecantikan dan bentuk tubuh. Belum ada kan nenek-nenek jadi FO atau SPG. Dagang rokok ampe mobil aja pasti ditongkrongin cewek yang cakep. Tujuannya jelas, menjadi daya tarik konsumen, terutama bagi yang cowok.

Repotnya lagi, ada sebagian cewek yang juga senang jadi pusat perhatian. Mereka nggak segan-segan tampil atraktif. Bisa dengan polesan kosmetik, parfum, atau pakaian yang seronok. Mereka ngeh banget kalau sisi penampilan adalah yang pertama kali diliat oleh kaum Adam. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Yang cowok matanya jelalatan, yang cewek suka cari perhatian.

Nah, ini yang kemudian dieksploitasi abis-abisan oleh para kapitalis. Mereka sadar betul kalau kecantikan itu komoditi yang laris manis dijual. Adanya kontes kecantikan atau ajang pemilihan model kan ide orisinilnya adalah menjual kecantikan. Hanya supaya nggak dibilang kebangetan diimbuhi label beauty & brain. Padahal sih, dagangan pokoknya tetap kecantikan.

Dengan merebaknya gaya hidup hedonis, yang ngutamain kesenangan fisik, penampilan jelas makin penting. Buat mereka, ukuran terpuji dan tercela-nya adalah apa yang dirasa nyaman oleh indera dan pikiran semata. Hedonisme ini sudah jadi hukum opini buat banyak orang. Saking kuatnya pengaruh hedonis ini, menilai lawan jenis pun selalu berdasarkan penampilan. Please, deh!

Jaga Pandangan

“Wah, mubazir kalau kagak diliat,” celetuk Adin yang masih kuliah di satu PTS di Bogor. Kayaknya gitu tuh omongan para boyz saat ngeliat ‘barang’ bagus. Kalaupun nggak sampai jelalatan minimal matanya ngintip lewat kerlingan mata. Apalagi kalau ceweknya juga ‘ngejual’. Wajah yang cantik, bodi yang semlohai bin eplok cendol, tampil atraktif memikat perhatian cowok.

Boyz, suka dengan cewek yang cute apalagi fisiknya cool, itu memang sah-sah aja. Cowok mana seh yang nggak suka. Semua suka, boyz! Tapi kagak bisa dong kita berbuat cuma berdasarkan suka atau nggak suka. Kalau itu yang terjadi ancur deh pergaulan pria dengan wanita. Ngebiarin mata jelalatan juga bukan perbuatan yang positif. Selain ngerusak pikiran, pastinya dosa. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah pada orang-orang beriman, ‘tundukkanlah sebagian pandangan mereka dan jagalah kemaluan mereka’, itu lebih suci dari mereka,”(An Nuur:30)

Pandangan juga bikin pikiran jadi nggak karuan. Bukankah setelah ngeliat cewek cakep pikiran jadi ngebayangin yang nggak-nggak. Padahal belum tentu itu cewek mau sama kita. Artinya kita udah buang-buang pikiran untuk hal yang nggak berguna. Kita mikirin dia, padahal dianya belum tentu mikirin kita. Rugi banget, bro! Nggak salah kalau Rasulullah menyebut pandangan macam itu sebagai zina mata.

“Anak Adam tidak bisa melepaskan diri dari zina. Zinanya mata adalah dengan memandang …”

Allright boyz, selametin deh pandangan dan pikiranmu dari hal-hal yang negatif. Caranya? Ikuti tips-tips di bawah ini.

Nggak memandang aurat wanita. Inget boyz, seluruh tubuh wanita adalah haram kecuali muka dan telapak tangannya. So, palingkan pandangan dari selain keduanya. Terserah, mau merem (asal jangan merem-melek), mau berpaling, mau nunduk, whatever yang penting nggak ngeliat.

Memandang muka dan telapak tangan nggak dengan syahwat. Meski oke-oke aja memandang keduanya, tapi nggak boleh dengan syahwat. Kalau dengan syahwat jelas haram. Apa sih batasan syahwat? Menurut sebagian ulama syahwat itu ditandai dengan adanya nafsu atau kecenderungan seksual seperti ereksi, baik sedikit ataupun banyak. Gampangnya, kalau ngeliat monyet kita nggak nafsu kan? He…he…he…

Memandang wanita pada auratnya hanya boleh dalam lamaran. Rasulullah saw. mengizinkan pria untuk melihat wanita seutuhnya yakni saat akan melamar. Mereka boleh melihat selain muka dan telapak tangan. Meski ini juga terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada sebagian ulama yang tetap mengharamkan melihat selain muka dan telapak tangan.

Wanita mahram boleh membuka jilbabnya. Kalau kamu baca surat An Nur ayat …, maka itulah kelompok wanita yang termasuk mahram. Para wanita yang mahram ini diizinkan syara’ untuk membuka jilbab dan kerudungnya di hadapan pria mahramnya.

Pribadi Lebih Utama

Don’t judge the book by its color, kata pepatah. Jangan nilai orang dari penampilan. Bener banget, penampilan seringkali menipu. Ibarat buku, ada yang keren sampulnya doang. Isinya sih nggak bermutu. Nah, begitu juga kalau kita menilai pribadi cewek dari penampilan, bisa-bisa kejebak. Aji dan Nano juga mengakui hal itu. Meski mereka berdua pengen punya pasangan (istri) yang tampilannya keren punya, tetep aja mereka mikirin kepribadian. “Kalau parasnya cantik tapi nggak solehah, ya bisa berabe,” kata Aji.

Kalau dapat pasangan yang fisiknya ‘standar’? ”Ya, terima dong. Itu kan udah takdir dari Allah, yang penting salehah,” kata Nano kalem. Shadaqta. Allah SWT. udah ngasih kita peringatan soal yang satu ini. FirmanNya:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian, adalah yang paling bertakwa di sisi Allah.”(Al Hujurat:13)

Kata Nabi saw, kalau kita memilih pasangan hidup karena agamanya, maka kecantikannya, keturunannya yang baik, dan kekayaannya niscaya akan datang. Nah, jangan deh liat perempuan dari penampilannya doang. Salah-salah bisa ketipu.[januar]

Kata cewek: Waspadai Cowok ‘Gatel’!

Supaya adil, kita juga kudu simak komentar dari kaum akhwat soal yang satu ini. Yuk, kita simak!

Nita, mahasiswi PTS Bogor

“Emang kalau cowok menilai cewek pasti penampilan dulu yang diliat. Soalnya kalau kepribadiannya kan harus kenal dulu. Soal cewek jaga penampilan semua cewek juga gitu. Apalagi kalau ada cowok yang cute yang lagi diincer.

Kadang-kadang ada juga cowok yang jelalatan ngeliatin gue. Suer, bukannya bangga gue malah risih kalau diliatin cowok kayak begitu. Apalagi kalau udah panggil-panggil, sebel banget.

Menurut gue sih kalau ada cowok yang lebih mentingin penampilan cewek ketimbang kepribadian, pasti tuh cowok cuma iseng doang. Pastinya cowok juga males ngedeketin cewek yang pribadinya nggak bener, kecuali cowoknya emang ‘gatel’.


Berbahagialah memiliki cinta

12 November 2008

Cinta bisa bikin hati kita berbunga-bunga, dunia serasa begitu indah, pikiran tenang, jasmani sehat, bahkan kita jadi kreatif disebabkan oleh cinta. Jadi, berbahagialah memiliki cinta.

Kamu pernah dengar lagunya Teh Nicky Astria yang begini nih liriknya: “Tak ingin cinta dinodai tak ingin dihancurkan/Tak ingin kudisakiti tak ingin kudilukakan…. Aku…. ingin dicintaimu dan mencintai… Aku… ingin bila terjaga kau di sampingku selamanya…” Well, lagu berjudul “Mengapa” itu dinyanyikan dengan kemampuan suara prima Teh Nicky, seolah ingin menekankan, bahwa memiliki rasa cinta dan dicintai itu adalah sebuah anugerah terbesar yang sulit digantikan oleh rasa yang lain. Sehingga tak rela bila cinta berakhir dengan luka di hati.

Ah, kalo kebetulan yang denger lagu itu sedang kasmaran, bisa jadi tuh lagu berubah derajat sebagai lagu kebangsaan. Dinyanyikan di mana pun dia suka. Diputer kapan saja dia mau. Ya, cinta memang bisa mengubah segalanya menjadi begitu indah. Hidup terasa lebih rileks, fresh, dan tentunya lebih bersuara dan punya tenaga. Aliran darah deras mengalir tanpa sumbatan. Energinya akan memicu rasa senang yang berlebih bagi yang merasakannya.

Itu sebabnya, jangan heran pula jika jutaan lagu sudah digubah, ratusan puisi ditulis, ribuan film dibuat, entah sudah berapa ribu pula kanvas yang dilukis, untuk menggambarkan tentang cinta. Lengkap dengan definisi cinta yang beragam itu.

Tapi yang jelas dan pasti, cinta begitu indah untuk dinikmati. Cinta kelewat mahal untuk dibiarkan begitu saja tanpa dirasakan. Memang sih, cinta universal. Kita bisa mencintai ortu kita, mencintai kakak-adik, juga mencintai teman-teman kita. Bahkan dalam dimensi lain, cinta kita mampu menembus batas negara ketika melihat saudara kita di belahan dunia lain menderita. Dan… kita juga bisa mencintai Allah Swt. dan RasulNya dengan sepenuh hati dan jiwa. Yup, cinta memang universal.

Tapi kenapa cinta kepada lawan jenis selalu membuat kita betah berjam-jam membahasnya? Hampir pasti kita rayakan kemenangannya saat berhasil pdkt? Nyaris tak bisa diganti dengan rasa lain, saat kita jatuh cinta kepada seseorang yang mampu mencairkan dinding es yang selama ini kita bangun di hati. Meleleh bagai es krim kena angin. Ah, rasanya cinta kepada lawan jenis membutuhkan energi tersendiri untuk membahasnya, mengobrolkannya, dan bahkan menuliskannya.

Mungkin, alasan yang masuk akal (atau sengaja diakal-akalin nih?) adalah karena untuk menerjemahkan cinta kepada lawan jenis tidak terlalu sulit. Untuk bisa mencintai lawan jenis, cukup lewat pesonanya yang mudah ditangkap. Bisa lewat pandangan, bisa lewat pendengaran, dan bahkan kekuatan bahasa dalam sebuah tulisan. Cinta bisa datang dari situ. Buktinya, banyak yang jatuh hati ketika melihat sosok wajah yang eksotik, atau mendengar suaranya yang seksi dan menggemaskan dari sambungan telepon, dan sangat boleh jadi kita jatuh hati ketika membaca tulisannya di e-mail atau via SMS yang menaburkan benih-benih cinta dan tumbuh subur di hati kita.

Bikin hidup lebih hidup

Kayaknya udah jadi ‘kesepakatan’ umum kalo cinta itu bisa membuat hidup lebih hidup (meski bagi sebagian kalangan, cinta juga bisa menciptakan kematian dalam hidup. Itu kalo cintanya yang nggak kesampaian). Nah, secara umum pada tahap awal, setiap orang yang merasakan jatuh cinta selalu berbunga-bunga dan ceria. Kenapa? Karena cinta konon kabarnya mengandung segala perasaan indah tentang kebahagiaan (happiness), menyenangkan (comfort), kepercayaan (trust), persahabatan (friendship), dan kasih-sayang (affection).

Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Jalaluddin Rumi juga pernah bersyair: “Karena cinta, duri menjadi mawar. Karena cinta, cuka menjelma anggur segar…”. Itu sebabnya, nggak usah heran kalo naluri mencintai akan mendorong manusia untuk memenuhi keinginan cintanya itu. Orang yang jatuh cinta akan melakukan apa saja untuk menarik perhatian orang yang ia cintai (itu karena terlihat indah kali ye?).

Kalo VMJ alias Virus Merah Jambu udah menginfeksi hati kita, perasaannya kok inget terus sama si dia, pengennya ketemu terus, rindu terus ingin ngobrol, seharian nggak kirim SMS aja rasanya sakauw berat, pokoknya meski jauh jaraknya bukan halangan untuk komunikasi. Ehm, untuk menggambarkan itu seorang teman nulis puisi di internet : “walau jarak kita bagai Matahari dan Pluto saat aphelium/amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku” Huhuy!

Karena cinta bikin kita kreatif

Jangan heran kalo Napoleon Bonaparte bisa membuat puluhan ribu surat cinta kepada kekasihnya Josephine Beuharnais. Nggak usah kaget pula bila teman kamu (atau kamu sendiri?) tiba-tiba jadi penulis karbitan atau ngedadak jadi pujangga dengan lahirnya puisi-puisi keren. Itu artinya cinta memang membuat “penderitanya” jadi kreatif.

Simak penggalan surat cinta dari seorang anak teknik kimia yang, tentu saja sedang jatuh cinta, yang tersebar di beberapa mailing list: “Waktu kutulis surat ini, aku sedang menyelesaikan run-ku yang keduapuluhdua. Entahlah.. kala memandang kukus jenuh yang mengepul manja hingga terbirit malu meninggalkan boiler, aku lihat bayanganmu di sana. Bayangan syahdu, gemulai, sendu yang dihiasi dengan senyum continuous yang meneduhkan, namun di balik keteduhan itu terdapat cahaya yang sanggup memancarkan ber-joule-joule energi untuk menggerakkan turbin hatiku.”

Oke, itu contoh surat cinta hasil kreativitas yang patut dihargai. Ini kian menunjukkan bahwa cinta mampu membuat seseorang yang merasakannya menjadi lebih dinamis dalam hidup ini, menggerakkan semua potensi yang dimilikinya untuk menyambut kehadiran cinta dan menumbuh-kembangkannya di taman hati. Itulah uniknya cinta, terlepas dari cara dalam mengekspresikannya di jalur yang benar atau jalur salah, cinta tetap menciptakan kreativitas yang tak pernah ada habisnya.

Ehm, apakah kamu sudah punya cinta? Kalo belum, siap-siaplah menunggu kehadiran cinta. Ekspresikan cinta dengan tanpa cacat cela dan tanpa pelanggaran terhadap syara’. Tahan, dan tunggu saatnya ketika kuncup menjadi mekar dan berbunga. Selamat menikmati cinta dengan tenang dan (semoga) menyehatkan. [solihin]

Akhir dari sebuah penantian

Sebenarnya aku cukup sering jatuh hati kepada seorang wanita. Aku juga sudah terbiasa jatuh cinta kepada seorang gadis. Tapi biasanya itu kandas di tengah jalan. Bukan aku yang tidak cocok, tapi sang wanita yang tak merasa cocok denganku. Sehingga setiap kali mengatakan cinta setiap kali itu pula aku ditolak.

Suatu ketika, aku pun jatuh hati dan jatuh cinta pada pandangan permata kepada seorang akhwat. Tapi karena aku agak trauma, jadi kusimpan saja dalam direktori hati. Tunggu saja saatnya nanti, pikirku waktu itu. Benar saja, Allah kembali mengujiku. Aku ”ditakdirkan” jadi mak comblang oleh seorang teman untuk menyampaikan surat khitbah kepada seorang gadis yang, ternyata inceranku. Gimana rasanya coba? Perih!

Tapi aku mencoba menghibur diri, dan selalu berpikir bahwa jodoh nggak akan ke mana larinya. Singkat kata, pernyataan khitbah temanku ditolak sama akhwat inceranku itu. Tapi rupanya Allah masih mengujiku, pada kesempatan berikutnya seorang teman datang dan meminta aku menyampaikan surat pinangan kepada akhwat inceranku lagi. Ah, rasanya terlalu berat kali ini. Tapi aku tak ingin mengecewakan temanku, maka aku sampaikan juga surat khitbah itu. Entah kebetulan atau tidak, setelah berjalan sekian lama, sang teman mengundurkan diri. Jujur saja, hati kecilku gembira.

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengkhitbahnya. Alhamdulillah diterima. Asli surprise banget. Ternyata aku yang jadi ’pemenangnya’. Namun ujian itu datang kembali. Calon mertuaku ”menggantung” keputusannya dengan alasan perbedaan asal daerah. Sampai hampir setengah tahun aku nyaris dibuat frustasi. Bahkan sempat untuk mengundurkan diri saja dan meminta calonku itu untuk mencari ikhwan lain saja.

Menunggu selama hampir setahun ternyata tidak sia-sia. Penantian itu berakhir dengan jawaban dari calon mertuaku yang membolehkan kami menikah tahun itu juga. Alhamdulillah, jodoh memang tak akan lari ke mana. Cinta, ternyata juga adalah ujian, yang bisa berakhir dengan derita, atau malah bahagia.