ANDAIKAN BUKU ITU SEPOTONG PIZZA

14 November 2008

Penulis: Hernowo

Ya, andaikan buku-buku yang ada di rak-rak perpustakaan adalah “makanan” kesukaan kita. Apa jadinya ya? Tentu kita akan lahap membacanya. Inilah “kunci” untuk membuka gembok yang menyebabkan kita enggan membaca buku.

“Kunci” ini, oleh Stephen Covey (penulis The 7 Habits of Highly Effective People), disebut paradigma. Apaan tuh paradigma? Paradigma adalah kacamata. Paradigma adalah cara kita memandang sesuatu.

Bayangkan Anda memiliki kacamata minus 2. Lima tahun kemudian, Anda harus mengganti kacamata Anda dengan kacamata minus 3. Namun, Anda bersikukuh tak mau mengganti kacamata minus 2 Anda. Apa yang terjadi? Anda merasa pusing apabila melihat sesuatu. Inilah akibat yang timbul dikarenakan Anda mempertahankan paradigma kacamata minus 2 Anda.

Apa ya paradigma Anda berkaitan dengan membaca buku? Mungkin ini: “Wah, boring deh membaca buku yang tebal-tebal itu.” Atau ini: “Setiap kali membaca buku ilmiah, saya tentu ngantuk.” “Saya pilih nonton sinetron aja deh ketimbang baca buku. Baca buku bikin kepala cepat botak!”

Itulah paradigma—atau kacamata yang Anda gunakan—dalam membaca buku. Memang, tidak semua orang memandang aktivitas membaca buku ilmiah seperti itu. Nah, tulisan ini akan mencoba membantu siapa saja yang merasa masih kesulitan untuk memasuki dunia buku.

Menganggap Buku sebagai “Makanan”

Pertama-tama, untuk memasuki dunia buku, kita perlu mengubah paradigma (atau kacamata) dalam memandang buku. Buku sama saja dengan makanan, yaitu makanan untuk ruhani kita. Bayangkanlah apabila jasmani kita tidak diberi nasi, telur, daging ayam, dan makanan bergizi tinggi lainnya. Apa yang akan terjadi? Tubuh kita akan loyo dan sakit-sakitan.

Demikian jugalah yang terjadi dengan ruhani kita. Buku adalah salah satu jenis “makanan ruhani” kita yang sangat bergizi. Mendengarkan pengajian dan ceramah adalah juga sebentuk “makanan ruhani”. Namun, buku kadang memiliki gizi lebih dibandingkan dengan ceramah.

Lewat paradigma-baru membaca buku—dengan menganggap buku sebagai makanan—kita dapat memperlakukan buku laiknya makanan kesukaan kita. Pertama, agar membaca buku tidak lantas membuat kita ngantuk, maka pilihlah buku-buku yang memang kita sukai, sebagaimana Anda memilih makanan yang Anda gemari.

Kedua, cicipilah “kelezatan” sebuah buku sebelum membaca semua halaman. Anda dapat mengenali lebih dulu siapa pengarang buku tersebut. Atau Anda bisa bertanya kepada seseorang yang menganjurkan Anda untuk membaca sebuah buku (misalnya guru, orangtua, atau sahabat Anda). Mintalah kepada mereka untuk menunjukkan lebih dulu hal-hal menarik yang ada di buku itu.

Ketiga, bacalah buku secara ngemil (sedikit demi sedikit, laiknya Anda memakan kacang goreng). Apabila Anda bertemu dengan buku ilmiah setebal 300 halaman, ingatlah bahwa tidak semua halaman buku itu harus dibaca. Cari saja halaman-halaman yang menarik dan bermanfaat. Anda dapat ngemil membaca di pagi hari sebanyak 5 halaman. Nanti, di sore hari, tambah 10 halaman.

Manfaat Membaca Buku

Mengapa gizi sebuah buku melebihi ceramah atau hal-hal lain yang Anda peroleh dari telinga (mendengar) dan mata (melihat) Anda? Sebab, hanya lewat membaca bukulah kita mampu menumbuhkan saraf-saraf di kepala kita. Aktivitas membaca buku menggabungkan banyak aktivitas penting lain.

Pertama, Anda perlu memusatkan perhatian agar sebuah teks yang Anda baca dapat memberikan manfaat kepada Anda.

Kedua, apabila Anda menemukan hal-hal menarik dari sebuah buku, Anda dapat memberikan tanda (seperti menstabilo atau memberikan catatan di pinggir-pinggir marjin buku).

Ketiga, sebuah kalimat yang menarik akan membuat saraf-saraf di otak Anda bekerja secara efektif. Tiba-tiba saraf-saraf itu berhubungan dan membuat Anda dapat menemukan sesuatu yang baru.

Dan, ini yang ajaib, membaca buku akan membuat Anda tetap berpikir! Seorang peneliti dari Henry Ford Health System, bernama Dr. C. Edward Coffey, membuktikan bahwa hanya dengan membaca buku seseorang akan terhindar dari penyakit demensia.

Demensia adalah nama penyakit yang merusak jaringan otak. Apabila seseorang terserang demensia, dapat dipastikan bahwa dia akan mengalami kepikunan atau (dalam bahasa remaja disebut) “tulalit”.

Menurut penelitian Coffey, pendidikan (salah satu pendidikan termudah adalah membaca buku) dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi dan mengganti-rugi perubahan otak. Hal itu dibuktikan dengan meneliti struktur otak 320 orang berusia 66 tahun hingga 90 tahun yang tak terkena demensia.

Membaca dengan Gaya SAVI

Apabila Anda sudah mengubah paradigma membaca buku Anda—bahwa membaca buku seperti memakan pizza—dan sudah memahami manfaat membaca buku, cobalah mulai membaca buku-buku ilmiah saat ini juga. Untuk mempermudah Anda dalam membaca buku, di bawah ini saya sajikan tip-tip Dave Meier yang saya cuplik dari buku-menariknya, The Accelerated Learning Handbook.

Meier menamai tip-tipnya ini “metode belajar gaya SAVI”. SAVI adalah singkatan dari Somatis (bersifat raga/tubuh), Auditori (bunyi), Visual (gambar), dan Intelektual (merenungkan). Nah, silakan menggunakan Gaya SAVI dalam membaca sebuah buku, sebagaimana petunjuk berikut.

Pertama, membaca secara Somatis. Ini berarti, pada saat Anda membaca, cobalah Anda tidak hanya duduk. Berdiri atau berjalan-jalanlah saat membaca buku. Gerakkan tubuh Anda saat membaca. Misalnya, setelah membaca 5 atau 7 halaman, berhentilah sejenak. Gerakkan tangan, kaki, dan kepala Anda. Setelah itu, baca kembali buku Anda.

Kedua, membaca secara Auditori. Cobalah sesekali membaca dengan menyuarakan apa yang Anda baca itu (dijaharkan). Lebih-lebih lagi apabila Anda menjumpai kalimat-kalimat yang sulit dicerna. Insya Allah, telinga Anda akan membantu mencernanya.

Ketiga, membaca secara Visual. Ini berkaitan dengan kemampuan dahsyat Anda yang bernama imajinasi atau kekuatan membayangkan. Cobalah bayangkan saat Anda membaca sebuah konsep atau gagasan. Kalau perlu gambarlah! Ini, insya Allah, juga akan mempercepat pemahaman Anda.

Keempat, membaca secara Intelektual. Ini juga berkaitan dengan kemampuan luar biasa Anda. Anda perlu jeda atau berhenti sejenak setelah membaca. Dan renungkanlah manfaat yang Anda peroleh dari pembacaan Anda. Akan lebih bagus apabila—saat Anda merenung itu—Anda juga mencatat hal-hal penting yang Anda peroleh dari halaman-halaman sebuah buku. Insya Allah, Anda akan dimudahkan dalam menuangkan atau menceritakan kembali apa-apa yang Anda baca.


GIMANA SIH CARA MEMBUAT ARTIKEL ILMIAH YANG “ENAK DAN PERLU DIBACA”?

14 November 2008

Penulis: Hernowo

Dalam segala urusan hidup, sungguh sehat apabila sesekali kita menaruh tanda tanya besar terhadap perkara-perkara yang sudah diterima sebagai kewajaran sampai tak pernah dipertanyakan lagi.

Bertrand Russell

Dalam upaya memompa semangat saya menulis makalah ini, saya ingin menyandarkan diri saya di “bahu” sang filosof Bertrand Russell. Saya memperoleh kata-kata sakti Russell itu dari buku yang juga hebat karya Wandi S. Brata, Bo Wero: Tips mBeling untuk Menyiasati Hidup (Gramedia, 2003). Kata-kata sakti Russell itu kayaknya pas apabila saya gunakan untuk menyoroti syarat-syarat penulisan karya ilmiah dan, setelah memahami syarat-syarat itu, apakah kita lantas termotivasi dan dapat menulis sebuah karya tulis ilmiah?

Sebelum masuk ke inti pembahasan, saya ingin merumuskan lebih dahulu apa yang saya maksud dengan tulisan yang–sebagaimana judul besar makalah saya ini–“enak dan perlu dibaca”. Setelah saya menunjukkan kepada para pembaca mengenai maksud saya tersebut, saya baru akan menyajikan pendapat-pendapat saya berkaitan dengan karya tulis ilmiah, terutama dalam memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Saya berharap materi yang saya siapkan dan tulis ini dapat memberikan “mata baru” dalam memandang karya tulis ilmiah dan dalam mencoba membuat sebuah karya tulis ilmiah dengan cara-cara yang tidak sebagaimana lazimnya.

Nah, apa yang saya maksud dengan tulisan yang “enak dibaca”? Ini sebenarnya merupakan slogan majalah Tempo, tetapi akan saya maknai sendiri. Yang saya maksud dengan “tulisan yang enak dibaca” adalah tulisan yang ditata sedemikian rupa oleh seorang penulis sehingga tulisan tersebut, apabila dibaca seseorang, dapat menjelma bagaikan obrolan. Lho obrolan itu ‘kan tidak dapat dikategorikan sebagai komunikasi ilmiah? Dalam karyanya yang sangat inspiratif, K.U.A.S.A.I Lebih Cepat: Buku Pintar Accelerated Learning (Kaifa, 2003), Colin Rose mengatakan, “Tulisan bagus biasanya bernada seperti mengobrol. Tentu saja, untuk beberapa topik, gaya yang lebih formal pasti lebih sesuai—tetapi jangan salah menganggap bahwa bersikap serius itu sama dengan bersikap membosankan.”

Lalu, apa yang saya maksud dengan tulisan yang “perlu dibaca”? Ini juga merupakan slogan majalah Tempo. “Tulisan yang perlu dibaca” adalah tulisan yang membuat siapa saja yang membaca tulisan itu lantas terbangkitkan selera membacanya. Apabila selera membacanya terbangkitkan, tentulah dia akan bergairah membaca dan akan membaca tulisan tersebut dengan perasaan senang tiada tara. Dan, biasanya, ukuran “perlu” ini saya sandarkan pada tiga hal: (1) memenuhi kaidah penalaran (reasoning), (2) penulis melakukan pemilihan kata (diksi) yang baik dan akurat, serta (3) mengandung koherensi dan komposisi yang baik dalam setiap kelompok gagasan yang dirumuskan.

Apa Saja Syarat-syarat Penulisan Karya Ilmiah?

Dalam menuliskan bagian ini, saya menggunakan dua buku. Sebenarnya ada banyak buku yang membicarakan bagaimana membuat karya tulis ilmiah. Namun, agar kebingungan saya tidak terlalu bertumpuk-tumpuk dan tugas saya membaca dapat sedikit dikurangi, maka saya memutuskan menggunakan dua buku saja. Tentu saja, saya tidak langsung memutuskan hanya menggunakan dua buku yang telah saya pilih. Saya memutuskan menggunakan dua buku yang saya pilih lantaran saya sudah membaca juga yang lain dan saya merasakan bahwa dua buku yang saya pilih ini dapat mewakili buku-buku lainnya.

Dua buku yang saya gunakan, pertama, adalah hasil suntingan Harun Joko Prayitno, M. Thoyibi, dan Adyana Sunanda. Buku hasil suntingan ketiga orang tersebut berjudul, Pembudayaan Penulisan Karya Ilmiah, terbitan Muhammadiyah University Press. Saya menggunakan edisi cetakan ketiga, yang diterbitkan pada Mei 2001. Melihat edisi cetakannya, buku ini cukup diminati konsumen. Terbukti, setelah cetakan pertama pada Maret 2000, buku ini dicetak kedua kalinya pada Oktober 2000. Dari pengantar edisi cetakan ketiga, dapat kita baca pula bahwa buku ini mendapat respons yang bagus. Selain itu, di edisi cetakan ketiga ini beberapa materi disempurnakan dan ditambah.

Buku ini disusun dan dikembangkan berdasarkan hasil “Pelatihan Penulisan artikel Ilmiah Perguruan Tinggi” yang diselenggarakan di Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta. Terdiri atas enam bagian, buku ini telah menunjukkan secara hampir lengkap tentang apa yang harus disiapkan oleh seorang penulis apabila ingin menulis karya ilmiah. Bagian Pertama membahas “kebijakan dan pengembangan jurnal ilmiah di perguruan tinggi”. Bagian Kedua membahas “anatomi karya ilmiah”, yang di dalamnya terdapat Bab “Pengertian dan Kriteria Karya Ilmiah”, Bab “Anatomi Artikel Ilmiah”, Bab “Sistematika Artikel Ilmiah Hasil Penelitian untuk Publikasi”, dan Bab “Hak, Kewajiban, dan Tanggung Jawab Penulis”.

Bagian Ketiga membahas “pengorganisasian gagasan karya ilmiah”; bagian keempat membahas “bahasa dan teknik penulisan ilmiah” (di sini dibahas masalah penggunaan bahasa, teknik pengutipan, dan penyuntingan); dan Bagian Kelima membahas “resensi buku”. Sementara itu, bagian terakhir, Keenam, berisi lampiran-lampiran. Ada tiga macam lampiran, yaitu (1) majalah berkala yang disempurnakan, (2) kode etik ilmuwan Indonesia, dan (3) kriteria artikel ilmiah hasil penelitian. Saya tertarik untuk membaca lebih dulu bab lampiran ini lantaran di dalamnya disebut-sebut tentang karya ilmiah yang dapat digunakan untuk keperluan promosi staf di kalangan perguruan tinggi. Di sini ditunjukkan secara gamblang tentang instrumen evaluasi sebuah karya ilmiah yang dapat digolongkan sebagai “yang terakreditasi”. Instrumen evaluasi ini dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi pada tahun 1995.

Buku kedua yang saya gunakan berjudul Menulis Karya Ilmiah: Artikel, Skripsi, Tesis, dan Disertasi (PT Gramedia Pustaka Utama, 2001) yang ditulis oleh Etty Indriati, Ph.D. Apabila buku pertama ketebalannya mencapai hampir 300 halaman, buku kedua ini tipis, hanya 120 halaman. Saya memilih buku karya Dr. Etty ini lantaran dia menulis berdasarkan pengalamannya saat menyusun disertasi di University of Chicago. Lalu, yang membuat saya tertarik–selain ringkasnya buku karyanya ini–Dr. Etty pernah ikut belajar di Sekolah “Ilmu Menulis Karya Ilmiah” yang ada di Universitas Chicago yang bernama The Little Red Schoolhouse of Chicago. Apakah sekolah yang disebutkan ini beneran atau tidak, namun, sekali lagi, menarik perhatian saya.

Satu lagi yang menarik perhatian saya adalah apa yang ditulisnya di bagian akhir pengantarnya. Dr. Etty menulis, “Scott Anderson di University of Chicago sering menanyakan ‘what do you mean?’ pada waktu membaca tulisan penulis, yang memaksa penulis mencermati kembali tulisan yang tidak jelas pemaparan makna.” Mengapa saya tertarik? Perhatikan pertanyaan dari Anderson, “What do you mean?” Saya kira, Anderson benar bahwa inti menulis itu sebenarnya adalah menunjukkan “makna”. Atau, tulisan kita akan menjadi sangat efektif apabila ada maknanya dan bisa dimaknai.

Oleh sebab itulah saya memahami sekali ketika Dr. Etty mengatakan pula pentingnya berkomunikasi secara jelas dalam menulis karya ilmiah. “Menulis karya ilmiah,” tulis Dr. Etty, “pada dasarnya adalah cara ilmuwan berkomunikasi satu sama lain. Komunikasi yang baik bisa membuat yang diajak berkomunikasi mengertai apa yang dimaksudkan oleh komunikator. Sama halnya penulis yang baik harus bisa membuat pembaca mengerti apa yang dimaksudkan penulis tanpa arti ganda. Dengan demikian, penulis harus lebih dahulu memahami apa makna yang akan disampaikan kepada pembaca sebelum menuangkan gagasannya ke atas kertas. Dengan kata lain, menulis adalah kegiatan berpikir selain berkomunikasi.”

Terdiri atas empat bab dan dua macam lampiran, buku ini sudah mampu memberikan gambaran tentang apa sih tujuan seseorang menulis karya ilmiah dan bagaimana meraih tujuan itu secara benar. Pada Bab Keempat, penulis dengan bagus menambahkan satu bahasan materi yang penting, yaitu ihwal menyiapkan presentasi. Ada dua macam presentasi yang dibahas penulis, yaitu prersentasi lisan dan presentasi poster. Dan di bab lampiran, ditunjukkan macam-macam tulisan ilmiah yang terdiri atas sebelas macam disertai penjelasannya. Lalu, yang menarik, ada satu lampiran yang bisa difungsikan sebagai “check list”, yaitu “Daftar Pemeriksaan Bagian-bagian Tulisan”. Dalam menyiapkan sebuah tulisan, apalagi sebuah buku, daftar periksa itu sangat penting agar seorang penulis dapat meneliti kembali apa-apa yang ditulisnya.

What Is To Be Done?

Ya, apa yang dapat dilakukan oleh seorang terpelajar setelah memahami syarat-syarat penulisan karya tulis ilmiah sebagaimana disebutkan dalam buku-buku yang membahas soal itu? Apakah sang terpelajar itu lantas secara cepat dapat terbangkitkan gairahnya untuk menulis karya ilmiah? Atau, sang terpelajar itu seperti saya, yaitu tertunduk lesu dan merenungkan betapa banyak syarat-syarat yang diperlukan agar sebuah tulisan dapat disebut sebagai tulisan ilmiah? Apa yang sebaiknya saya lakukan setelah memahami syarat-syarat itu?

Setelah membaca buku-buku berkaitan dengan cara, syarat, dan kriteria sebuah karya ilmiah, tiba-tiba di kepala saya banyak berjejalan pertanyaan yang harus saya keluarkan. Mengapa sedikit sekali buku-buku ilmiah yang menarik perhatian yang beredar di pasaran di Indonesia? Mengapa sebagian besar textbook kita masih menggunakan buku-buku yang ditulis oleh para sarjana dari Barat? Mengapa dosen-dosen kita tidak mencoba menyiapkan buku ajarnya sendiri yang menarik dan dapat dikonsumsi oleh para muridnya dari tahun ke tahun? Apakah menulis karya ilmiah itu sulit? Apakah menulis buku ilmiah itu tidak laku di pasaran?

Apa sebenarnya yang terjadi dengan budaya menulis-ilmiah di kalangan para terpelajar kita. Saya duga, setiap tahun ada ratusan skripsi, tesis, disertasi yang dimunculkan oleh perguruan-perguruan tinggi kita. Saya kira juga, ada banyak makalah, laporan ilmiah, artikel-artikel berbobot, yang terus mengalir dari kaum terpelajar kita. Namun, mengapa gairah menerbitkan buku ilmiah yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas kayaknya tidak muncul? Apa yang menyebabkan karya-karya ilmiah yang tersimpan di universitas kita lantas bisa dicap tidak layak dibukukan? Apakah ini benar? Apakah keilmiahan bertentangan dengan komersialitas? Apakah keilmiahan tidak sewajarnya disebarkan di tengah masyarakat? Atau, saya salah mempertanyakan hal ini? Atau, ada hal-hal lain yang lebih mendasar yang layak kita bahas lebih dahulu sebelum melontarkan pertanyaan seperti ini?

Bagaimana mengubah keadaan yang melanda dunia kampus kita yang sepertinya terasingkan dari kemeriahan penerbitan buku-buku orisinal dan yang memuat hal-hal baru sebagaimana ditunjukkan secara sangat lantang oleh Amazon.com ataupun oleh majalah mingguan Publishers Weekly? Mungkin puluhan, atau bahkan ratusan buku, baik itu ilmiah maupun nonilmiah, terus memenuhi planet kita ini apabila, secara rutin, kita mau berkunjung ke situs-situs penjual buku di Internet. Tak hanya berhenti di situ. Planet kita juga dipenuhi oleh gagasan-gagasan baru dalam menampilkan buku. Buku, pada saat ini, tidak hanya berisi teks melulu (meskipun teks tetap penting), namun juga sudah dipermak sedemikian rupa sehingga di dalamnya tersaji gagasan-gagasan hebat yang ditampilkan lewat paduan bahasa kata dan bahasa rupa. Apakah hal-hal seperti ini juga menyentuh dunia kampus kita?

Saya sebenarnya masih ingin bertanya. Namun, saya harus berhenti di sini. Semoga tulisan saya ini bermanfaat dalam menyoroti karya tulis ilmiah dari sudut pandang yang, semoga, berbeda.


Menjadikan Teks sebagai Senjata

14 November 2008

Penulis: Hernowo

Bahan-bahan yang saya gunakan untuk mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anak didik saya berasal dari apa saja yang saya baca. Saya mengajar sekali seminggu pada hari Sabtu. Selama hampir seminggu–hampir setiap hari–saya memilih dan mengumpulkan bahan-bahan dari buku-buku yang saya baca dan dari pelbagai ragam sumber informasi yang saya akses, seperti Internet, surat kabar, majalah, televisi, dan lain-lain.

Saya ingin materi kebahasaan yang saya ajarkan senantiasa up to date. Artinya, saya ingin menggunakan bahasa sebagai salah satu cara menjadikan mereka tahu tentang apa saja yang sedang berkembang di sekitar mereka. Saya kok merasa yakin bahwa dengan memosisikan bahasa seperti itu, akhirnya saya dapat membuat mereka dapat merasakan manfaat belajar bahasa Indonesia.

Kadang, setelah saya selesai mengisahkan apa yang saya dapat, saya lalu bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka dapat selama seminggu. Apakah mereka memperoleh hal-hal baru dari apa yang mereka baca? Apakah ada sebuah kabar atau berita yang mengesankan mereka yang mereka peroleh dari surat kabar, misalnya? Apakah ada yang bermanfaat untuk mengembangkan diri mereka yang berasal dari televisi, radio, ataupun Internet?

Itulah, sekali lagi, bahan-bahan yang saya gunakan untuk mengajarkan bahasa Indonesia.

Apakah dengan begitu saya lantas tidak mengikuti kurikulum pengajaran bahasa Indonesia yang disediakan oleh pemerintah? Saya jelas masih berpedoman dan mempelajari kurikulum itu. Namun, saya menggunakannya secara fleksibel, tidak kaku. Misalnya, saya sadar bahwa saya harus mengajarkan bahasa Indonesia dalam konteks dapat mencakup empat keterampilan berbahasa: berbicara, menyimak, membaca, dan menulis. Saya, memang, senantiasa berusaha mencoba mendasarkan proses belajar-mengajar saya untuk keperluan peningkatan empat keterampilan berbahasa tersebut.

Benar, saya memang hanya menekankan pada salah satu aspek keterampilan berbahasa saja, yaitu menulis. Mengapa? Hal ini ada kemungkinan, pertama, lantaran keterbatasan saya. Saya merasa tidak layak untuk mengklaim bahwa saya mampu mengajarkan (apalagi melatih) mereka, anak didik saya, dalam keempat keterampilan berbahasa atau berkomunikasi tersebut. Saya lalu mengambil saja yang merupakan salah satu aspek yang, menurut saya, memang saya kuasai.

Kedua, saya kok merasa yakin bahwa dengan mengajarkan keterampilan menulis kepada mereka, saya sekaligus dapat menunjukkan bahwa apabila mereka mau dan akhirnya mampu menguasai keterampilan menulis, bisa jadi ketiga aspek keterampilan berbahasa–berbicara, menyimak, dan membaca–dapat mereka tingkatkan juga. Ini memang masih berupa hipotesis saya. Masih perlu diuji keandalannya. Apabila ditanyakan kepada saya apa landasannya, ya saya akan bercerita tentang pengalaman diri saya.

Selama ini saya memang mencoba benar-benar menggunakan kegiatan menulis untuk mengatasi permasalahan saya dalam berkomunikasi. Sebelum saya berlatih habis-habisan menulis, saya termasuk orang yang gagap berbicara secara lisan, apalagi kalau diminta berbicara di depan orang banyak. Saya kadang gugup dan gembrobyos (keringat terus mengalir dari tubuh saya). Yang lebih parah adalah saya kadang tidak dapat mengendalikan pembicaraan begitu waktu mulai bergerak. Kadang saya terjebak untuk bicara ke mana-mana, ngalor-ngidul, tak keruan ujung-pangkalnya. Ujung-ujungnya, saya bingung sendiri dan tak paham dengan hal-hal yang saya bicarakan.

Nah, lewat menuangkan lebih dahulu secara tertulis apa pun yang ingin saya omongkan, saya merasa lebih enak dan percaya diri. Saya menuangkan bukan dalam bentuk outline atau poin per poin. Saya menuangkan secara bebas dan total dalam bentuk esai yang kadang berlembar-lembar panjangnya. Yang penting saya sudah mengeluarkan semua hal yang memang ingin saya omongkan atau keluarkan. Apabila saya berhasil melakukannya, saya akan lebih mudah dan lancar dalam menyampaikan apa yang perlu saya sampaikan.

Yang mengherankan saya, apa pun yang saya tulis kemudian melekat-kuat di benak saya. Saya seperti diberi kekuatan untuk dapat mengendalikan omongan saya. Saya merasa, menulis dapat membantu saya untuk menyaring dan menguasai materi yang ingin saya omongkan. Dan kalau sudah begini menulis saya rasakan dapat mempiawaikan cara berkomunikasi lisan saya. Saya lalu dapat berbicara secara benar, tertata, dan fokus. Sekali lagi, kemampuan menulis dapat digunakan seseorang untuk memperbaiki komunikasi lisannya.

Menulis juga dapat “memaksa” saya untuk mau membaca atau mencari tambahan informasi. Lantas, setelah itu, apa saja yang saya baca dapat saya manfaatkan untuk mengembangkan diri saya apabila saya dapat menyerap “gizi” yang saya baca. Caranya? Ya dengan “mengikat” atau menuliskan hal-hal menarik dan mengesankan saya yang saya peroleh dari kegiatan membaca. Ada kemungkinan, tanpa didampingi kegiatan mencatat, proses pembacaan saya tidak begitu efektif. Informasi yang saya serap hanya menumpuk di kepala saya dan hilang satu per satu akibat tindihan informasi baru.

Nah, terakhir, untuk dapat mencatat secara baik, saya harus mendengarkan dengan baik pula apa saja yang saya baca. Kadang tuntutan untuk dapat menuliskan sesuatu secara bernas dan tuntas juga “memaksa” saya untuk menyimak dengan penuh perhatian terhadap sumber informasi yang saya serap. Apabila saya menyerap informasi dari sebuah buku, maka saya harus “mendengarkan secara aktif” (active listening) setiap gagasan yang ingin disampaikan oleh seorang pengarang.

Hanya dengan menyimak secara penuh perhatianlah seseorang itu dapat “membaca” apa saja yang ingin diserapnya. Juga apabila kita ingin dapat menampung segala curahan hati (curhat) seseorang, kita perlu benar-benar merekam seluruh gerak-gerik fisik, kata-kata yang keluar, dan juga emosi yang bergejolak yang disampaikan oleh seseorang tersebut. Active listening tak mungkin terbentuk apabila tidak disertai kesungguhan membaca, merekam (bisa dengan mencatat), dan memberikan respons secara lisan (berkomunikasi secara empatik).

*

Demikianlah, kurang lebih, materi yang saya berikan kepada seorang mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra saat mewawancarai saya pada Jumat, 13 Juni 2003. Sang mahasiswi itu tertarik untuk mengetahui cara saya mengajarkan bahasa Indonesia di sebuah SMU. Dia ingin tahu metode yang saya gunakan dalam mengajar dan bagaimana saya menyusun kurikulum serta apa yang ingin saya raih. Yang menarik–di antara beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada saya–dia juga bertanya soal sebab-sebab pengajaran bahasa Indonesia yang–dirasakannya dan juga saya rasakan–kadang membosankan. Kenapa ya?

Apakah pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah memang terasa membosankan? Saya kira bagi yang menyenangi mata pelajaran bahasa Indonesia, tentulah mata pelajaran itu menyenangkan. Bagi yang tak menyenangi mata pelajaran tersebut–apalagi bagi yang memiliki minat tinggi dalam mempelajari mata pelajaran lain selain bahasa Indonesia–tentulah, bisa jadi, kelas yang mengajarkan materi pelajaran bahasa Indonesia akan terasa membosankan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya membuat kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia menjadi tidak membosankan? Atau, apakah membosankan dan tidak membosankan dalam kaitan pembelajaran bahasa Indonesia ini harus didudukkan lebih dahulu ketimbang memasalahkan dan kemudian mencari solusinya? Apakah pelajaran bahasa Indonesia di sekolah selama ini memang membosankan? Saya tidak tahu. Saya hanya menunjukkan kepada mahasiswi yang mewawancarai saya tentang pengalaman saya mengajarkan bahasa Indonesia selama hampir lima tahun di SMU.

Saya tunjukkan kepadanya–termasuk saya bertanya juga kepada mahasiswi tersebut–bahwa apabila seseorang ingin melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, tentulah salah satu (atau mungkin lebih) dari empat cara berbahasa (yang telah disebutkan sebelum ini) sangat penting untuk dikuasai. Misalnya kemampuan menulis. Kemampuan menulis, setidaknya, perlu dikuasai oleh seseorang yang ingin melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Apakah ada yang tidak setuju berkaitan dengan hal ini? Mungkin ada ya yang tidak setuju.

Lalu, saya dan mahasiswi itu terlibat diskusi tentang dunia tulis-menulis–di antaranya adalah bagaimana cara memotivasi seseorang untuk mau membiasakan diri menulis. Terutama, setelah mahsiswi itu tahu bahwa saya hanya mengajarkan bidang keterampilan menulis di SMU tempat saya mengajarkan bahasa Indonesia. Mengapa hanya menulis, kan belajar bahasa itu tidak hanya berkaitan dengan menulis? Kan masih ada keterampilan lain berbahasa yang perlu dipelajari? Saya kemudian menjelaskan kepadanya sebagaimana tulisan yang saya ciptakan di awal tulisan ini.

Apabila kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia di sekolah kita anggap, memang, cenderung membosankan (tidak merangsang anak didik untuk menguasai keterampilan berbahasa), lantas apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah keadaan yang, mungkin, membosankan itu?

*

Saya katakan kepada mahasiswi yang mewawancarai saya bahwa tujuan saya mengajarkan bahasa Indonesia adalah untuk memperkaya pemikiran anak didik saya. Saya senantiasa mengawali pengajaran saya dengan menceritakan apa saja yang saya dapat berkaitan dengan teks. Kadang saya membawa buku dan menunjukkan manfaat yang saya serap dari teks yang saya baca. Kadang saya membuat transparansi yang bahannya saya peroleh dari Internet, surat kabar, atau media lain.

Saya merasa tidaklah mungkin pembelajaran di kelas yang hanya memakan waktu efektif selama satu setengah jam dapat digunakan untuk menyampaikan seluruh materi pelajaran yang ingin diajarkan. Saya kadang menyiasatinya dengan memberikan gambaran besar dan apa manfaat mata pelajaran yang ingin dipelajari mereka saat itu. Saya juga berusaha untuk merangsang mereka agar tidak hanya berhenti belajar di kelas. Saya mendorong mereka untuk belajar di dunia yang lebih luas.

Saya ingin anak didik saya belajar bahasa Indonesia sesuai dengan perkembangan yang terjadi di luar. Saya, terutama, ingin menunjukkan kepada mereka bahwa teks dapat dijadikan “senjata” untuk, salah satunya, memperkaya pikiran mereka. Apabila pikiran mereka dapat diperkaya dengan teks-teks yang membuat cakrawala mereka semakin lebar, tentulah mereka akan dapat merangsang diri mereka sendiri untuk terus mencari pengetahuan yang bermanfaat, salah satunya, lewat teks, dengan, misalnya menyelenggarakan kegiatan membaca buku, berselancar di Internet, atau berdiskusi.

Saya juga katakan kepada mahasiswi itu bahwa saya tidak hanya memberikan pengetahuan kepada mereka berkaitan dengan bahasa Indonesia. Saya kadang mengajak mereka untuk menggunakan bahasa untuk memecahkan problem-problem mereka. Saya ingin mereka berlatih menggunakan bahasa Indonesia demi keuntungan diri mereka. Saya, misalnya, memberikan tugas kepada mereka untuk membuat surat lamaran kerja. Saya kadang meminta mereka untuk menulis surat kepada orangtua atau sahabat mereka. Saya juga meminta mereka untuk mengekspresikan diri mereka secara tertulis dan bebas.

Saya menganjurkan mereka untuk menyediakan buku harian. Saya katakan kepada mereka bahwa buku harian dapat membuat mereka hidup dalam dunia yang ingin mereka ciptakan sendiri. “Menuliskan rasa marah, harapan, ketakutan, kecemburuan bisa mencegah Anda dari menguburkan emosi Anda dalam-dalam, yang menyebabkan emosi itu sulit diraih kembali. Penggunaan huruf besar, tanda seru, atau kata sifat saat menulis buku harian merupakan cara Anda berteriak tanpa harus membangunkan tetangga,” tulis Laurel Schmidt.

Tugas-tugas yang saya berikan saya pola sedemikian rupa sehingga tugas itu betul-betul berkaitan dengan diri mereka dan mereka, nantinya, dapat merasakan manfaatnya. Saya ingin tugas-tugas bahasa Indonesia yang saya berikan kepada mereka dapat membuat diri mereka menguasai keterampilan berbahasa–setidaknya keterampilan menulis–secara benar-benar mengasyikkan mereka. Bagaimana membuat anak didik saya menyenangi sebuah tugas? Bukankah tugas-tugas mereka di sekolah sudah terlalu banyak untuk dikerjakan di rumah?

Saya senantiasa memberikan tugas dengan lebih dahulu membebaskan diri mereka. Misalnya, saya meminta mereka untuk mengirimkan tugas mereka dalam bentuk e-mail. Di samping mudah, cepat, dan murah meriah, e-mail dapat membebaskan mereka lantaran sifatnya yang sangat personal. Saya juga meminta mereka untuk mencatat perkembangan diri mereka lewat buku harian. Merujuk ke kata-kata Schmidt, saya kira buku harian juga dapat membebaskan diri mereka. Kadang cara saya mencek apakah mereka menulis atau tidak di buku harian mereka adalah saat mereka menjalani ulangan-ulangan harian yang kadang saya lalukan secara mendadak tetapi membuat mereka tidak merasa tertekan.

Nah, salah satu kegiatan menyenangkan yang terakhir saya berikan kepada mereka adalah tugas memilih lagu yang mereka sukai. Saya meminta mereka memilih satu lagu yang benar-benar bermakna bagi mereka. Saya meminta mereka–selain mendengarkan dengan saksama dan menikmati iramanya–agar menuliskan lirik dan kemudian mengapresiasi sesuai apa yang mereka pahami.

Tentu, untuk membuat mereka lebih senang, saya senantiasa memberikan hadiah berupa buku-buku yang cocok dengan karakter mereka, terutama bagi yang berprestasi. Reward semacam ini, saya kira akan membuat harga diri dan kepercayaan diri mereka membubung tinggi. Insya Allah.


Menjadi Penulis Artikel, Buku & Cerita, Mudahkah?

14 November 2008

Onno W. Purbo

Mengarang barangkali merupakan pelajaran yang paling membosankan pada masa SD. Pernahkan kita berfikir bahwa pekerjaan mengarang, menulis merupakan pekerjaan yang sebetulnya paling menyenangkan di dunia ini? Bayangkan, berbeda dengan pekerjaan lainnya yang harus datang ke kantor tepat waktu; pulang kadang malam hari; kekurangan waktu untuk keluarga karena harus pergi bekerja; persaingan yang ketat & membuat kita stress sukur-sukur tidak jantungan & mati karena terserang stroke. Dalam dunia menulis, mengarang ternyata kejadian-kejadian di atas tidak terjadi. Bahkan yang membuat dunia ini menjadi lebih ceria lagi adalah tidak adanya (sangat kurang) persaingan dalam pekerjaan sebagai penulis. Betul di Indonesia jarang sekali orang yang mendedikasikan hidup-nya untuk menulis saja, artinya persaingan sebagai penulis amat sangat tidak seru & hampir tidak perlu bersaing untuk menjadi penulis lepas. Bisa di maklumi karena bangsa Indonesia bukan bangsa yang suka menulis, mereka lebih suka berbicara, berdebat & berteriak bahkan mungkin berkelahi – bisa kita lihat contohnya pada kelakuan para elit politik.

Asiknya menulis, sebagian besar waktu kerja anda dapat dilakukan di rumah, atau jika anda memiliki laptop dapat dilakukan dimana saja. Artinya, waktu untuk keluarga praktis menjadi lebih banyak, hampir setiap hari jika anda menghendaki dapat hidup bersama keluarga anda di rumah. Hidupkah anda dari menulis saja? Insya Allah anda akan hidup – bayangkan satu tulisan kadang di hargai Rp. 250.000 s/d Rp. 1 juta untuk panjang 6000-15000 huruf yang dapat dilakukan dalam waktu sekitar 2 jam saja. Rasanya membutuhkan waktu kerja satu bulan bagi sarjana yang baru lulus untuk memperoleh uang sebanyak itu, belum lagi biaya transportasi yang demikian tinggi. Jika anda sanggup menulis buku agak lumayan hasilnya sekitar Rp. 3-4 juta / buku (untuk 10000 eksemplar). Yang paling mengasyikan sebagai penulis adalah undangan memberikan ceramah, sekali ceramah 1-2 jam bukan mustahil akan memperoleh antara Rp. 250.000 s/d Rp. 6 juta / ceramah tergantung penyelenggaranya. Kalau saya perhatikan semua ini sangat tergantung pada tingkat produktifitas anda dalam menulis & menyebarkan ilmu pengetahuan. Pada sisi ekstrim, semakin banyak pengetahuan anda menyebar ke masyarakat melalui berbagai media (bahkan yang gratis sekalipun seperti melalui Web), maka Insya Allah rizki akan datang kepada anda berlipat ganda, sesuai janji Sang Pencipta.

Pada saat ini, kebetulan sekali dunia teknologi informasi tampaknya sedang sangat booming, kebutuhan akan informasi tentang teknologi informasi menjadi demikian besar. Banyak sekali majalah, koran, surat kabar, tabloid yang berkaitan dengan Teknologi Informasi, mulai dari Koran Tempo, Telset, Infokomputer, NeoTek, Chip, Majalah Internet, infolinux, dotcom, dotnet, majalah teknologi, KOMPAS, Republika, Bisnis Indonesia, Jakarta Post banyak sekali. Di samping itu, ada beberapa penerbit buku yang mempunyai fokus ke Teknologi Informasi, seperti Elexmedia Komputindo, Penerbit ITB, Gramedia. Belum lagi berbagai media online seperti detik.com, astaga.com dll yang akan dengan senang hati menerima penerbitan tulisan / artikel anda. Jelas kebutuhan akan berbagai tulisan khususnya bidang teknologi informasi menjadi sangat banyak, dengan jumlah penulis yang demikian sedikit – betapa nikmatnya hidup hampir tanpa saingan & rizki yang melimpah.

Apa yang perlu kita lakukan dalam memulai karir sebagai penulis ini? Sebetulnya tidak banyak, sudah tentu bekal pengetahuan yang cukup tentang bidang yang akan kita tulis akan sangat membantu. Khususnya untuk dunia Teknologi Informasi, sebetulnya anda cukup beruntung karena ilmu di teknologi informasi berkembang terus dengan sangat pesat sehingga dari bidang apapun anda dapat menulis tentang berbagai aspek teknologi informasi. Kunci utamanya adalah kemauan untuk membaca berbagai tulisan, artikel tentang teknologi informasi yang sebetulnya banyak sekali & dapat di ambil secara gratis di Internet, seperti http://www.linuxdoc.org, http://pandu.dhs.org, http://ecommerce.internet.com, http://www.infolinux.web.id dsb. Jika kita perhatikan di berbagai tulisan yang ada, sebetulnya latar belakang ekonomi, sosial, hukum dsb. juga dibutuhkan di dunia teknologi informasi.

Tentunya bergabung & berdiskusi dengan rekan penulis teknologi informasi lainnya juga akan sangat membantu. Salah satu pangkalan bagi penulis teknologi informasi Indonesia adalah penulis-ti@yahoogroups.com yang saat ini beranggotakan hampir seratusan penulis TI & sebagian sudah menulis beberapa buku tentang TI.

Bagi pemula yang ingin mencoba mendalami dunia tulis menulis, alangkah baiknya jika dapat dilakukan sejak dini bahkan kalau mungkin sejak SD. Ada beberapa situs di Internet yang akan dapat membantu kita sebagai penulis, saya coba fokuskan justru ke situs-situs yang memberikan inspirasi bagi anak-anak dalam mencoba menulis sejak dini. Bagi yang ingin serius sebagai penulis, ada baiknya search di http://www.google.com dengan menggunakan keyword “technical writer” atau “technical writing”. Memang sebagian besar informasi masih berbahasa Inggris, tapi paling tidak akan memberikan inspirasi proses menjadi seorang penulis yang baik. Situs tersebut antara lain adalah:

  • Buddy’s Bearded Collie Literacy Notebook http://www.skylinc.net/~scarfone/buddy.htm Buddy, a Bearded Collie, menolong anak-anak untuk menulis & membaca. Untuk mendapat berbagai ide untuk menulis, bahkan memasukan ceita sendiri.

  • Candlelight Stories http://www.candlelightstories.com/ – tempat banyak e-book di simpan. Beberapa di antara di tulis oleh anak-anak. Jika anda masuk ke writing area, anda akan mengetahui bagaimana cara mempublikasi tulisan anda.

  • CBC 4 Kids: Words http://www.cbc4kids.ca/general/words/default.html – anda dapat mengikuti perlombaan menulis, berpartisipasi dalam cerita yang tak pernah berhenti (never ending story), mencek buku & pengarang yang baik, mendengarkan drama radio dll.

  • HP Student Center http://www.hpstudentcenter.com/ – berbagai resensi buku, proyek, game, aktifitas, dan workshop tentang menulis untuk anak-anak di tingkat SMP.

  • Page by Page: Creating a Children’s Book http://www.nlc-bnc.ca/pagebypage/ – Tour step-by-step proses pembuatan buku menggunakan buku dari Tim Wynne-Jones yang berjudul Zoom Upstream sebagai contoh.

  • The Write Site http://www.writesite.org/ – untuk mengeksplorasi dunia jurnalistik, termasuk informasi bagaimana cara melakukan penelitian dan membangun gaya anda sendiri.


Menulis Untuk Mentransformasi Diri

13 November 2008

Penulis: Hernowo

Pada 12, 17, dan 20 April, Mas Hernowo berkeliling menjajakan (buku) “Pizza”-nya. Pada 12 dan 20 April dalam acara “Book Signing” di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, dan Gramedia, Jalan Sudirman, Jogja. Pada 17 April dalam acara bedah buku “Pizza” di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Dalam ketiga acara tersebut, Mas Hernowo menyiapkan sebuah tulisan yang tersaji berikut ini. Selamat menikmati.

Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza merupakan contoh konkret bagaimana saya menerapkan teori “mengikat makna”. Saya “mengikat” (mencatat) apa saja yang berkesan dan menarik bagi diri saya lewat tulisan.

Saya “mengikat” apa pun yang masuk ke dalam diri saya dan yang berasal dari mana pun.

Ada kalanya makna itu tak langsung muncul pada saat saya mencatat apa saja yang ingin saya catat. Kadang makna itu baru muncul setelah waktu berjalan beberapa saat. Atau, kadang makna itu tiba-tiba muncul setelah saya mengaitkannya dengan sesuatu, setelah saya berproses, mengalir biasa seperti orang lain mengalir. Yang pasti, makna itu muncul secara sangat kuat, setelah saya menuliskan sesuatu.

Oh ya, pada saat awal saya mencatat, media yang saya gunakan kadang tidak berbentuk kertas. Ponsel atau layar komputer juga sangat kerap saya gunakan. Nah, apa-apa yang saya “ikat” itulah yang ingin saya sebut sebagai catatan harian saya sebagaimana saya mengklaim buku Andaikan adalah wujud-konkret catatan harian saya.

Untuk apa saya menulis buku? Dalam sanubari saya terdalam, sudah lama sekali tersimpan sebuah obsesi. Saya ingin menunjukkan manfaat praktis dan manfaat sangat luar biasa dari aktivitas membaca dan menulis. Bahkan kalau seseorang dapat memadukan dua aktivitas tersebut secara rutin dan konsisten, misalnya setiap hari, saya berani memberikan garansi bahwa orang tersebut akan memperoleh “kekayaan” yang tiada tara pada suatu saat kelak.

Obsesi saya ini sebenarnya begitu jelas terlihat di buku Andaikan dan belum begitu jelas terlihat di buku Mengikat Makna, meskipun di MM soal obsesi saya ini sudah saya singgung selintasan. Nah, kini, saya sudah merasakannya. Dan apa yang sudah saya lakukan dan rasakan bisa juga dialami oleh siapa saja. Ya, siapa saja, saya tegaskan.

Catatlah apa saja yang memang menurut Anda layak dicatat. Kumpulkan catatan Anda itu secara teratur. Biarkan catatan itu tumbuh dan mengikuti mengalirnya waktu. Kalau perlu, sekali-sekali, rawatlah. Sayangilah. Beri pupuklah. Dan, ingat, seperti tetanaman atau hewan, kadang catatan itu ada yang mati dan ada juga yang “bersinar” sangat menyilaukan.

Saya mengaitkan seluruh materi yang ada di buku Andaikan dengan “word smart”. Memang, saya terpengaruh oleh pandangan Howard Gardner dan pemikir seperti Buzan, Pennebaker, Krashen, Armstrong, dan yang lain soal kecerdasan-berbahasa ini. Saya kemudian merumuskan sendiri apa sih guna bahasa? Kenapa kita harus mempelajari bahasa?

Kebetulan saya mengajar bahasa Indonesia di sebuah SMU. Saya lalu merumuskan bagi saya sendiri sebuah tujuan baru mengapa saya mengajar bahasa Indonesia dan apa selayaknya yang perlu kita pelajari berkaitan dengan bahasa. Ketemulah rumusan berikut bahwa bahasa itu dapat digunakan sebagai salah satu senjata untuk memecahkan masalah-masalah kita. Misalnya untuk merencanakan masa depan atau untuk merumuskan siapa diri kita.

Konsep “word smart” itu kemudian saya kembangkan sebagaimana yang tampak pada bagan AMBaK Melejitkan “Word Smart” di buku Andaikan. Bagan itu tak ada di konsep pemikiran Gardner, Buzan ataupun yang lain. Ada kemungkinan apa yang dibayangkan oleh para penemu konsep “kecerdasan” itu seperti apa yang saya gambarkan. Namun, saya kira, pikiran saya dan pikiran mereka tidak persis sama. Kan saya punya karakter sendiri. Saya hidup dengan nasi dan kangkung, sementara Gardner dan Buzan tidak sebagaimana saya hidup.

Sungguh setelah dapat melahirkan buku kedua, saya ingin menegaskan di sini bahwa membaca dan menulis buku bagi saya itu “meringankan” sekaligus menyenangkan. Mengapa begitu? Pertama, ini lantaran dua macam kegiatan itu dapat saya lakukan secara mencicil. Kedua, membaca dan menulis itu sangat membantu saya dalam mengenali diri saya. Ketiga, bukan hanya menulis (ini konsep Pennebaker) ternyata membaca juga menyembuhkan. Saya merasakan semua ini.

Dan, tentu saja, ternyata apa yang saya tulis ini cukup memberikan imbalan yang lain, yaitu dapat “menghidupi” saya. Atau kalau saya boleh meminjam kata-kata Kiyosaki, dalam menjalankan aktivitas membaca dan menulis, saya tidak lantas mampu membuat buku demi uang. Saya membuat buku lantaran saya ingin agar “uang” bekerja untuk saya. Saya kira sungguh menyenangkan ya menjadi orang yang biasa lalu bisa “bermakna” bagi orang lain?

Benar, melakukan hal-hal biasa yang akhirnya bisa menjelma menjadi hal-hal yang luar biasa, eh, “berharga”, sangat mempengaruhi saya belakangan ini. Ada kemungkinan saya mengetahui hal ini sudah cukup lama saat saya membaca buku Don Gabor, Big Things Happen. Itu terjadi pada tahun 1999 ketika saya ingin memberikan pengantar untuk buku yang diproses oleh rekan-rekan saya di Mizan berkaitan dengan “gaya selingkung” Penerbit Mizan.

Gabor mengilhami saya dengan kata-kata saktinya. Dia menulis, “Kalau saja Anda rajin melakukan hal-hal kecil dengan benar, (insya Allah) pada suatu ketika nanti Anda akan dapat menciptakan hal-hal besar.” Saya kok waktu itu, dalam hati, meyakini soal ini. Lalu ya mengalirlah saya dengan membaca apa saja dan menulis apa saja.

Saya mengerjakan buku ini hampir mencakup seluruh aspeknya. Saya bisa melakukan itu karena saya bekerja pada penerbit yang menerbitkan buku saya. Saya mengerjakan hampir apa saja, dari mulai yang kecil-kecil hingga yang besar-besar. Saya menganggap buku saya adalah apa yang merupakan bagian dari darah dan daging saya. Ya seperti anak-anak sayalah. Ini lantaran saya memang terlibat sekali dalam melahirkan gagasan-gagasan saya hingga menjadi bentuk yang terstruktur dan dapat dibukukan.

Saya harus merawatnya (lihat tulisan asli saya di buku Andaikan, halaman 116, yang merupakan catatan harian saya yang usianya sudah 15 tahun kalau diukur pada tahun sekarang). Saya harus menyimpan dan menyusuinya hingga catatan-catatan saya itu tumbuh sehat, cerdas, dan bergizi.

Kini saya punya banyak sahabat, baik sahabat lewat SMS atau Internet ataupun surat tercetak. Ya, tak sedikit orang yang merasa terinspirasi oleh buku saya. Alhamdulillah. Saya jadi bersemangat sekali untuk membantu siapa saja agar bangkit dan mampu “menyulap” hal-hal biasa yang ada di dalam dirinya menjadi hal-hal berharga—paling tidak untuk diri sendirinya—lewat menulis.

Untuk mengakhiri catatan saya ini, izinkan saya mengutip pendapat Fatima Mernissi tentang menulis. Tulisan Mernissi ini saya cuplik dari artikelnya berjudul “Menulis Lebih Baik ketimbang Operasi Pengencangan Kulit Wajah” yang dimuat di karyanya, Pemberontakan Wanita: Peran Intelektual Kaum Wanita dalam Sejarah Islam (Mizan, 1999, h. 34-35):

“Menulis adalah menangkap kesempatan yang amat-sangat-sangat kecil untuk mengungkapkan perasaan Anda. Itu berarti mengambil risiko untuk berkomunikasi dengan seseorang yang tidak peduli sama sekali dengan hal yang Anda pikirkan dan katakan. Menulis surat saja, misalnya, merupakan suatu kesempatan yang luar biasa bagi seseorang yang terisolasi.

“Pada saat Anda menulis surat, Anda mula-mula berdialog dengan diri Anda sendiri. Kemudian, ada kemungkinan surat itu Anda kirimkan kepada orang yang terdekat dengan diri Anda. Bahkan, bisa jadi, surat itu Anda kirimkan ke orang-orang yang sedang berkuasa.

“Meskipun saya tidak bisa menjamin surat Anda bisa dibaca oleh orang yang berkuasa, yang jelas apabila Anda berusaha mengungkapkan diri Anda setiap hari maka Anda memang tidak dapat mengubah langsung dunia, namun Anda sebenarnya dapat mengubah diri Anda sendiri. Dan saya yakin bahwa dengan mengubah diri sendiri, sesungguhnya Anda tengah mengubah dunia.”

Saya kira, saya sudah membuktikan apa yang dikatakan dan diyakini oleh Fatima Mernissi. Saya dapat menunjukkan apa yang dikatakan Mernisi lewat dua karya saya, Mengikat Makna dan Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza. Semoga bermanfaat.


Menggagas Sastra Religius yang Berkualitas

13 November 2008

Oleh: Mashuri

Maraknya sastra religius belakangan ini memang menggembirakan. Hanya saja, ada sebuah tantangan besar yang perlu dipikirkan terkait dengan mutu atau kualitas sastra religius itu. Sebab, bagaimanapun sastra itu bermain dalam wilayah estetika.

Perkembangan sastra religius memang marak akhir-akhir ini. Hanya saja, ada yang perlu dipikirkan terkait dengan kualitas estetika dan pemahaman pada masalah religiusitasnya. Mengapa demikian? Dalam konteks sastra religius, pandangan umum menangkap bahwa yang dinamakan sastra religius adalah sastra atau karya sastra yang mengusung lambang-lambang agama, baik itu Islam, Kristen dan lainnya. Dengan begitu, penyebutan beberapa metafor dalam karya itu mengacu pada kekhasan dari sebuah agama. Tak heran bila posisi sastra religius selalu mengacu pada agama formal. Hanya saja, konsepsi umum itu mendaptkan penyangkalan yang cukup signifikan dari beberapa teks sastra yang memiliki kandungan religiusitas tinggi.

Salah satunya dari Jalaludin Rumi, seorang sufi dan penyair Persia terkemuka. Salah satu puisinya yang dikenal dalam hal ini adalah:

Jangan tanya apa agamaku
bukan Yahudi
bukan Zoroaster
bukan pula Islam
Karena aku tahu
begitu suatu nama kusebut
begitu Anda memberikan arti yang
lain
daripada makna yang hidup di hatiku

Abu Mansur Al Hallaj (tokoh sufi dikenal dengan ungkapan ektasenya: Anal Haq), juga pernah menulis gagasannya tentang religiusitas dan agama: Aku telah renungkan agama-agama, yang membuatku berusaha keras untuk memahaminya. Dan aku baru sadar bahwa agama-agama itu, kaidah-kaidah unik, dengan sejumlah cabang.

Di sisi lain yang bermain dalam konteks agama-agama formal adalah yang terkait dengan dogma, sehingga kungkungan adanya konsep realisme dogmatis atau idealis dogmatis begitu mewarnai konstruksi dan penyebutan sastra religius itu. Dalam satu sisi, hal ini hampir sama dengan konsep realisme sosial yang digagas dalam sastra-sastra marxis, terlebih komunis.

Poisisi ini tidak akan menemukan titik tertingginya, jika acuannya memang benar-benar sangat formalis, karena selama ini religiusitas dipahami sebagai sebuah kualitas keagamaan. Dalam satu sisi religiusitas berbeda dengan sitem religi. Religiusitas tidak hanya berkutat pada masalah ketuhanan yang digariskan agama formal. Religiusitas lebih mengarah pada kesadaran ketuhanan yang termanifestasikan dalam nilai-nilai dan asas kemanusiaan.

Jadi posisinya tidak hanya transeden dalam arti teologi, tetapi juga imanen. Dalam kerangka Islam, tendensi yang diemban bukan hanya hubungan dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga fungsi sosialnya, hubungan dengan sesamanya (hablum minan nas). Jadi posisi manusia juga diperhatikan, dan yang menjadi acuan adalah faktor kemanusiaan yang luas, yang menjadi landasan dari sebuah bangunan keagamaan. Dengan demikian, bangunan estetis yang terkonstruksi dalam sastra religius tidak mengacu pada dogma yang bermain dalam tataran hukum positivisme atau syariah.

Dalam masalah keindahan, Sayyed Husein Nasr mengungkap bahwa dalam keindahan itu terdapat pengetahuan tertinggi dan kesucian, sehingga seni-seni tradisional yang meliputi jiwa murni seharusnya memang dikembangkan, sebab posisi kemanusiaan benar-benar terpelihara. Di sini, posisi agama tidak lagi beban dalam upaya mengejawantahkan ekspresi dalam wilayah estetika dan proses kreatif.

Kondisi ini akan berlaku, jika pemahaman agama tidak terkungkung dalam sebuah bangunan struktur yang merujuk pada penafsiran tunggal. Dalil-dalil yang mengacu pada pemahaman yang dangkal pada kebebasan dan pembebasan ekspresi dalam seni memang harus ditafsir-ulangkan. Pembacaan tidak lagi bersifat heuristik, tetapi hermeneutik, dengan mengacu tiadanya prasangka dan proses penafsiran atau pembacaan itu merupakan bagian dari sejarah itu sendiri, seperti ide hermeneutika yang pernah digagas Gadamer.

Dengan landasan kemanusiaan, pembacaan terhadap realitas keagamaan itu bisa pula menggunakan strategi dekonstruksi Derrida, dengan paradigma bahwa sebuah teks itu tidak utuh. Ia memiliki celah dan jarak pemaknaan. Bisa pula dengan discourse Foucault dengan melihat asal pengetahuan dan konteks terjadinya teks. Umpamanya, jika agama formal melarang menvisualkan manusia, maka posisi seni tidak lagi terlarang menvisualkan manusia, dengan mempertimbangkan kembali bahwa manusia tidak lagi manifestasi dari ‘Tuhan’. Ada jarak pemaknaan dan rentang waktu dan bergesernya penafsiran. Di sisi lain, religiusitas dikembalikan pada posisi asali, tidak lagi apriori pada ‘the other’ atau manusia lain di luar keyakinan sendiri.

Hal itu karena dengan merujuk pada sifat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang tidak lagi memberikan previliese dengan mengedepankan binary oposotion dalam pemihakan kebenaran atau memberi keistimewaan pada pihak-pihak tertentu, maka konsepsi religiusitas itu tidak hanya membentur dinding konsep status quo. Sebab, ambiguitas pada realitas bisa memberikan nilai tambah bahwa seni, sastra dan budaya bisa menelusup dalam bayang Tuhan dalam memahami realitas kemanusiaan. Ia, seni dan sastra religius, bisa jadi tidak sekedar pengejawantahan nilai-nilai agama. Religiusitas menjelma ruh atau nyawa dari konstruksi kebudayaan yang mengusung humanisme.

Mungkin yang perlu dikedepankan di sini, bahwa proses penciptaan karya-karya religius tidak harus terjebak pada dogma agama. Ia bersifat bebas dan merupakan proses pembebasan juga. Bisa menggunakan lambang-lambang agama formal sebagai bahan, hanya saja ada pertanggung jawaban estetik. Dalam hal ini, bisa berupa sebagai pengangkatan pada celah dan sisi yang perlu diperbaiki dari agama itu, yang mungkin lebih menekankan pada aturan-aturan rutinitas dan tidak sampai pada penghayatan yang menyusup hingga tulang sumsum, dengan sentral masih berkutat dan berpihak pada sisi kemanusiaannya.

Erich From dalam To Have or To Be pernah menegaskan, religiustitas merupakan ornamen dari watak sosial yang harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan religius yang sudah melekat pada diri manusia, sebagai kebutuhan asasi. Ia mesti tidak berkaitan dengan sistem yang berhubungan dengan Tuhan atau berhala, melainkan pada sistem pemikiran atau tindakan yang memberikan pada individu suatu kerangka oroentasi dan suatu objek kebaktian. Hal ini mengacu pula pada konsep agama yang membebaskan yang digagas Fromm dalam Religion dan Psychoanalysis. Seperti juga yang ditulis Nietzsche dalam Also Sprach Zarathustra: “Aku butuh Tuhan yang mengerti bagaimana menari”.

Dalam sastra Indonesia modern, sastra religius yang paling baik masih dipegang oleh cerpen AA Navis dalam Robohnya Surau Kami. Dalam cerpen yang kental dengan tradisi Minang yang memang ketat dalam masalah agama, cerpen itu sepenuhnya mengusung nilai-nilai religiusitas yang tidak mempermasalahkan aspek religius dalam penyebutan Tuhan dalam agama formal, tetapi lebih menekankan pada faktor manusianya, dengan jalan menggugah keberadaan manusia itu sendiri dalam sistem religi yang berkembang di sana. Bahkan, dalam satu sisi, cerpen ini mempertanyakan nilai terdalam dari sistem religi itu, dengan memunculkan nilai-nilai religiustitas yang perlu ditumbuhkembangkan. Bahkan, ‘surau’ bisa pula dianggap sebagai penanda dari sebuah kebobrokan sistem yang hanya mengedepankan sebuah tatanan formal dan mapan dari sebuah agama.

Tradisi Sastra Sufi

Dalam tradisi sastra klasik yang berkembang di Indonesia, karya-karya yang ada menyaran pada sastra didaktis, sastra yang berpretensi pada masalah pengemban misi pendidikan, tuntunan dan ajaran. Kenyataan itu bisa ditemui dalam tradisi Jawa Klasik dan Melayu Klasik.

Mungkin hal itu bisa dimaklumi, karena dalam tradisi sastra klasik Indonesia, sastra memang sebagai alat. Bahkan ada yang lebih ektrem, dengan acuan yang terpenting adalah tujuan (ghayah) dari pada jalan atau alat (washilah). Konsepsi antara ghayah dan washilah itu menjadi tidak sehat dan mengganggu, ketika di antara keduanya ada yang mendapatkan posisi istimewa. Perlu ditegaskan, ketika kondisi realitas sudah hiperrealitas, maka pembongkaran pada dikotomi itu sebuah keharusan. Dengan mengandaikan dalam ghayah terdapat inti dari washilah dan sebaliknya. Sebab hasil akhir itu sangat dipengatuhi proses ‘menjadi’. Bahkan ‘proses’ itu menjadi penentu. Dalam sastra. perdebatan antara bentuk dan isi ini memang sudah selesai.

Berkaitan dengan masalah dualitas itu, akan sedikit tertolong jika mengacu pada tradisi sastra sufi, terutama sastra sufi yang berkembang di Timur Tengah. Dalam Manthiqut Thair karya Faridudin Athtar, nuansa religiusitas masih sangat kental, dengan kandungan estetika yang brilian. Bahkan, terkait masalah hubungan antara fisik dan batin, Athtar pernah berkata:

Ketika jiwa disatukan dengan raga, maka ia pun bagian dari keseluruhan itu: Belum pernah ada pesona yang mengagumkan seperti itu. Jiwa punya peranan dalam apa yang rendah; terbentuklah paduan antara tanah liat yang pekat dan ruh yang murni. Karena paduan ini, insan pun menjadi yang paling mengagumkan dari segala rahasia.

Hal senada juga terdapat dalam rubai Omar Qayyam, Diwan Al Hallaj, Masnawi Rumi, Mujanat Rabiah Adawiyah dan beberapa sastrawan sufi lainnya. Seperti yang ditegaskan Ibn Arabi (tokoh sufi, pencetus paham wahdatul wujud):

Hariku telah mampu untuk setiap bentuk
dialah padang bagi seekor kijang
dan sebuah biara bagi Nasrani
Dialah pula bagi berhala dan Ka’bah bagi berhaji
Dialah lembar dari Taurat dan Kitab Quran yang suci
Ke mana pun onta-onta cinta itu berangkat
Ke sana jualah agama dan imanku melekat

Lewat keindahan, realitas absolut yang menjadi tujuan terwujud dan termanifestasikan. Jika acuannya pembebasan, pembebasan esoterik itu dalam terlaksana. Dalam sastra sufi, tidak lagi dibedakan antara alat dan tujuan. Posisi keduanya sama, tidak ada yang diperalat. Apalagi, para sufi itu menyuarakannya dalam kondisi fana’ (ekstase ketuhanan).

Dalam puisi Barat modern yang menghadirkan lanskap spiritual dan religiusitas juga cukup banyak. Diantanya, seperti penyair Welsh Dylan Thomas. Berikut kutipan puisinya:

Terlalu bangga untuk mati, hancur dan buta ia mati
jalan yang paling gelap, dan tak bisa ditolak
orang lembut dan dingin berani dalam kebanggan yang sempit
merasa tidak berdosa, ia takut pada kematiannya
karena ia membenci tuhannya, tetapi siapakah ia adalah biasa
Orang tua lagi ramah berani dalam kebanggan yang menyala

Dalam tradisi sastra Jawa, bisa dilihat pada beberapa karya klasik. Posisi estetika juga masih menjadi pertaruhan, kendatipun mendapat muatan yang luar biasa. Konvensi macapat yang meliputi guru gatra, guru wilangan dan guru lagu juga masih tertata. Hal itu ampak pada karya-karya Yosodipuro I, Yosodipuro II, Ronggowarsito, Paku Buwana IV dan Mangkunegara IV. Dalam karya-karya mereka, kendatipun unsur didaktik tentang religi dan pengajaran juga kental, tetapi alur keindahan yang menjadi jiwa dari wailayah estetika tetap dipertahankan dan menjadi acuan. Seperti yang tersirat dalam Wedhatama:

Samengko ingsun tutur
sembah catur supaya lumuntur
Dhingin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki
ing kana lamun tinemu

Perlu ditekankan, dalam tradisi sastra sufi atau suluk dalam tradisi Jawa, posisi formalitas agama memang diabaikan, seperti ide yang ada pada puisi Rumi di awal tulisan ini, sebab dalam jenis sastra sufi memang bermain dalam wilayah-wilayah ‘menembus batas’. Umumnya, sastra sufi memamng mengedepankan sisi terdalam dari manusia, karena sikap kemanusiaan manusia itu bisa menjadi ukuran kedekatan seorang manusi dengan Tuhannya. Dalam tradisi sastra sufi, konsepsi humanisme dalam kerangka sastra religius menemukan bentuknya yang paling konkrit dan jelas.

Sebuah Tantangan

Maraknya sastra religius belakangan ini memang menggembirakan. Hanya saja, ada sebuah tantangan besar yang perlu dipikirkan terkait dengan mutu atau kualitas sastra religius itu. Sebab, bagaimanapun sastra itu bermain dalam wilayah estetika. Dari sini, ada semacam agar aspek religiusitas yang merambah segala relung-relung terdalam dari manusia dengan segala absurditasnya juga mendapat tempat yang seimbang dalam sastra religius, tanpa ada pemaksaan pada aspek-aspek dogmatik dan terjebak pada khotbah. Sebab, bagaimanapun wilayah seni dan sastra berbeda dengan wilayah agama.


Sekadar Catatan tentang Tulis Menulis

13 November 2008

Penulis: Sindhunata

Oleh Penerbit Mizan, saya diminta untuk membagikan pengalaman di sekitar tulis menulis pada rekan-rekan penulis. Seingat saya, pengalaman menulis itu begitu luas dan panjang, banyak variasi dan bidangnya. Karena itu, saya tidak tahu, harus mulai darimana, atau harus mengutarakan pengalaman yang mana. Di bawah ini saya justru ingin menyampaikan terlebih beberapa pengalaman dan pernyataan para penulis dunia tentang suka duka kepenulisan mereka. Pendapat mereka ingin saya jadikan acuan bagi pengalaman saya sendiri. Semoga juga bagi pengalaman Anda. Memang, acuan itu sifatnya lebih reflektif, filosofis, bahkan teologis.

Kepenulisan dan Keberadaan-Diri

Kepenulisan (Jerman: Schreiben) dan keberadaan-diri (Sein) adalah dua hal yang tak terpisahkan. Bahkan untuk seorang penulis, kesatuan antara dua hal itulah yang menentukan identitasnya (Undine Gruenter, lih. Die Zeit (2003)14, hlm. 53). Dalam bidang penulisan sastra, menulis sendiri adalah semacam rencana, dimana seorang pengarang ingin membangun estetika hidupnya. Dengan menulis, orang ingin menyatakan apa saja yang ia cita-citakan dan impikan dalam hidupnya.

Kebenaran dari pernyataan ini dapat kita lihat dalam hidup para penulis-penulis besar. Tampak, karya tulis mereka adalah pergulatan hidup mereka sendiri. Nyaris tiada lagi perbedaan antara hidup mereka dengan apa yang mereka tuliskan. Mulai dari nilai, harapan, keputusasaan sampai cinta mereka. Menulis itu adalah identias bagi keberadaan mereka, atau sebaliknya: keberadaan mereka ditentukan oleh kepenulisan mereka.

Jelas, menulis di sini lalu bukan sekadar pekerjaan sambilan, “upaya untuk menambah dan mengejar (ngoyak) setoran”, atau pencarian keselebritasan yang dangkal. Menulis adalah pergulatan hidup dalam intinya yang terdalam, semacam upaya untuk menemukan dan menentukan identitas kita yang paling orisinal. Jelas disini menulis bukan hanya pekerjaan yang menyenangkan, tapi keperihan dan kepedihan untuk mencari diri kita yang hilang dan tenggelam dalam pelbagai kedangkalan.

Wacana untuk menembus kegelapan

Kau yang turun dari surga

menentramkan segala sakit dan derita

siapa yang deritanya berlipatganda

akan diteduhkan berlipat ganda pula.

Ah, lelah aku sudah dengan pelbagai upaya

Apalagi artinya semua nikmat dan derita

Tentram dan lega, datanglah padaku

berisirahatlah di dadaku

(Goethe: Wanders Nachtlied).

Puisi itu adalah jeritan agar Tuhan menolong manusia, yang didera oleh derita, dan diombang-ambingkan oleh nikmat dan derita. Ia ingin semuanya itu berhenti dan ia menjadi tenang. Dalam keadaan demikian rasanya kematian lebih menghiburkan daripada perjuangan.

Di manakah dia dapat menemukan ketentraman itu? Ya, dalam puisi itu sendiri. Bahan puisi yang ditulisnya adalah kententraman itu sendiri. Dalam puisi itulah, orang membuat suatu wacana tentang kegelapan hidup ini, dan mencoba untuk menemukan alternatif rasional untuk memecahkannya.

Itulah kiranya yang harus kita alami ketika kita menulis. Kita didera oleh suatu persoalan, kita menjadi lelah dan capai, kita ingin terbebas dari kelelahan dan kecapaian itu, kita ingin menemukan kedamaian dan ketentraman. Cara kita membebaskan diri dari persoalan, bukan dengan berpolitik, atau berdemonstrasi, tapi dengan menulis. Tulisan kita harus menjadi “obat”, atau “perhentian”, yang dapat menyembuhkan sakit kita, mengheningkan dan mengisitirahatkan kelelahan dan kegelisahan kita.

Tulisan yang terburu-buru dan asal-asalan kitanya tak bakal menjadi tempat sandaran yang menentramkan. Kita puas mungkin, tapi kepuasan itu hanya menyentuh nama kita di luaran saja. Di dalam, kita tetap merasa tidak puas, merasa belum menemukan jawab. Ironisnya, tulisan yang dalam justru menegur kita, mengapa kamu hanya sedangkal itu saja. Tulisan yang dalam makin menggelisahkan kita untuk terus mencari dan mencari lagi. Tulisan itu mungkin menentramkan pembaca, tapi tidak bagi kita. Dalam arti ini menulis adalah pekerjaan yang menyakitkan seperti sebuah pencarian diri yang tak pernah terpuaskan juga amat menyakitkan.

Nasib tulisan itu di tangan pembaca

Tulisan itu menjadi berarti, ketika ia sudah memasyarakat. Artinya, pembacalah yang menentukan apakah tulisan itu baik atau tidak (Martin Walser). Ironisnya, ketika kita menulis, pembaca itu tidak terlalu kita perhitungkan. KIta hanya berekspresi dan berekspresi. Pembaca sendiri bisa mulai menemukan arti dalam tulisan itu, jika ia sendiri mempunyai pengalaman, seperti dituturkan dalam tulisan itu.

Dengan kata lain antara pembaca dan penulis harus ada sambungan pengalaman yang sama. Dari sinilah sebuah tulisan itu akan membentuk suatu kesadaran. Hanya kesadaran itu tidak dapat kita rencanakan dari awal. Kesadaran itu muncul lewat pembaca dan dari pembaca, setelah mereka membacanya. Ini paradoks suatu penulisan: arti dari suatu tulisan itu kelihatannya lebih merupakan produk dari pembaca daripada penulisan. Karena itu benarlah kata-kata: “Nasib buku itu di tangan pembaca, sesuai dengan daya kemampuan dan tingkatan mereka” (Manfred Fuhrmann).

Dilihat dari kacamata di atas, menulis itu adalah suatu petualangan. Kita boleh merasa tulisan kita baik, ternyata tulisan itu tak berbunyi apa-apa bagi pembaca. Dalam bahasa pemasaran buku: pasar pembaca itu sulit diterka. Melihat kenyataan itu, tak bisa kita mematok dari awal, bahwa tulisan kita akan laku. Kita memang harus memperhitungkan pembaca, tapi kita tidak boleh didikte oleh pembaca. Biarlah pembaca membacanya, sementara kita hanya menuliskannya. Memang, jembatan antar kita dan pembaca akan terbangun, jika mempunyai pengalaman yang diandaikan juga dialami pembaca. Maka menulis sesungguhnya bukan hanya pekerjaan otak, tapi pekerjaan pengalaman: pengalaman mendesak kita untuk merefleksikannya, dan kemudian menuliskannya.

Menulis karena dunia tak menyerupai kita

Andaikan dunia sudah sama dengan kita atau keinginan kita, literatur itu takkan pernah ada (Martin Walser). Tapi dunia tak pernah sama dengan keinginan kita. Mengapat dunia tak menyerupai kita? Karena dari dirinya sendiri, dunia itu tak mempunyai makna. Sebagai manusia, kita tak dapat menanggung sesuatu yang tanpa makna. Bahka menyelidiki sesuatu yang tanpa makna pun sudah merupakan upaya untuk memberi makna. Menulis tak lain tak bukan adalah menanggapi dunia yang tanpa makna dan tak menyerupai kemauan kita itu menjadi sesuatu yang menyerupai kita. Dengan menulis kita memberi jawaban atas sesuatu yang kita anggap kurang, karena tidak menyerupai kita.

Untuk menjalankan tugas kepenulisan itu, kita hanya punya satu alat, yakni bahasa. Dengan bahasa, kita mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan. Sesuatu yang sudah kita rasa sama dan serupa dengan keinginan kita, belum betul-betul terasa sebagai serupa, karena belum terungkap dan diungkapkan. Baru dengan bahasa, kita dapat membuatnya terasa, nyata dan terungkap. Kalimat, yang kita tuliskan, mengatakan pada kita tentang sesuatu, yang tidak kita sadari, sebelum kita mengkalimatkannya. Jadi bahasa adalah semacam “alat produksi”. Patut diingat, kendati bahasa adalah alat kita, kita bukanlah “tuanâ€‌ dari alat tersebut. Karena itu, kita harus dengan sabar menunggu, sampai bahasa itu menjadi peluang, yang memberi kita jalan untuk mengerti dan membukakan banyak hal, yang sebelumnya tidak kita ketahui. Percaya pada kekuatan bahasa, kita akan diajak untuk melihat banyak kemungkinan dalam hidup kita, untuk kita ungkapkan.

Banyak penulis lupa akan misteri dan kekuatan bahasa. Mereka lebih percaya pada pengetahuan dan pengalamannya. Padahal semua itu tadi masih mentah dan belum nyata, bila tidak dinyatakan dengan bahasa. Jangan mengira, menyatakan dengan bahasa itu mudah. Sebelum menyatakan dengan bahasa, kita harus menggulati pengetahuan kita dengan bahasa. Sering terjadi, dalam pergulatan itu kita kalah. Kita merasa tahu dan mengerti, merasa mengalami dan sadar, tapi semuanya itu tudak dapat kita kalimatkan, artinya bahasa tak membantu kita untuk menyatakan semuanya itu tadi. Akhirnya, semuanya tinggal sebagai kegelapan dan kebawahsadaran, padahal kita merasa tenang dan sadar tentangnya. Dalam hal ini bahasa adalah sarana pencerahan bagi kegelapan kita.

Kendati tidak pernah bisa menjadi seratus persen tuan atas bahasa, bahasa harus kita latih dan kuasai. Kalau logika bahasa kita mampet, kalau gramatika kita kacau, kalau keindahan bahasa tidak kita kuasai, dan perbendaharaan bahasa tidak kita punyai, dalam menulis kita hanya akan menjumpai kekeringan belaka. Sebaliknya, jika kita terlatih dan kaya akan bahasa, lorong-lorong kepenulisan tiba-tiba membuka dengan sendirinya.

Menulis dan kesepian

Berani menyendiri, berada dalam kesepian dan keterasingan adalah hal yang harus terjadi dalam kepenulisan (Marguerite Duras). Kesepian itu bahkan harus dialami bukan hanya secara rohani, tapi juga secara badani. Namun kesepian ini bukan berarti isolasi. Kesepian itu lebih merupakan semacam keberadaan diri yang sadar, yang justru terus bergulat untuk menemukan kontak tapi juga menolak kontak.

Dalam kesepian itu orang bahkan menjadi liar. Menulis memang membuat orang menjadi liar. Menulis membuat orang kembali kepada kebuasan, yang ada sebelum hidupnya. Seorang penulis tiba-tiba mendapati dirinya liar seperti di hutan, dan selalu liar sepanjang hidupnya. Untuk menulis, orang harus menggigit bibir, bergulat dengan keliarannya. Untuk itu ia harus menjadi lebih kuat dari tubuhnya. Ia juga harus lebih kuat daripada apa yang hendak ditulisnya. Kalau tidak, ia akan menyerah dan kalah. Maka menulis itu sebenarnya bukan hanya menulis, tapi mengalahkan kelemahan dirinya, menundukkan apa yang dihadapinya. Penulis itu bagaikan binatang, yang berseru di kala malam. Penulis itu tiba-tiba merasakan hidup ini vulgar, dan ia tidak bisa menghaluskannya, sebelum ia ikut dan terbenam dalam kevulgaran itu.

Jelas, orang yang tidak berani sepi, dia tak mungkin jadi penulis yang baik. Tapi kesepian itu bukan romantisme kesendirian. Kesepian itu adalah suasana, yang menantang kita untuk berani bergulat dengan seluruh realitas, yang ternyata tidak mudah kita taklukan. Tak jarang orang menyerah dalam pergulatan itu, karena ia merasa tidak kuat dan tidak mampu. Menulis akhirnya adalah suatu askese, matiraga, suatu kebertapaan di tengah keramaian.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.