Buddha – Mazhab Theravada

8 Januari 2009

Mazhab Therevada itu tersebar di Sailan, Birma, Thailand, Laos, Kamboja, dah Annam. Pokok tujuan di dalam mazhab Theravada itu berikhtiar menjadi orang-suci (Arahat) yang berhasil menaklukkan hasrat (Tanha) hingga terbebas dari edaran kelahiran (Samsara), untuk akhirnya melenyapkan diri ke dalam Nirvana.

Pada pokok tujuan itulah terletak salahsatu perbedaan an- tara mazhab Theravana dengan mazhab Mahayana seperti akan dijetaskan nanti, disamping berbagai perbedaan lainnya.

Mazhab Theravada itu menganut keyakinan bahwa Sakyamuni itu manusia biasa tetapi telah mencapai Pencerahan (Buddhahood). Mazhab itu mempertahankan sipat kesederhanaan pada ajaran Sakyamuni seperti diamalkan oleh pengikut-pengikut pada masa permulaan.

Tapi lambatlaun terjadi perkembangan-perkembangan baru dalam berbagai pokok soal. Akan tetapi di dalam bidang yang paling vital masih dijumpai titik persamaan antara mazhab Theravada itu dengan ajaran Sakyamuni yang mula-mula, yaitu sipat kemanusiaan yang sungguh-sungguh, rasa pengorbanan yang tuhls bagi kemanusiaan,seperti yang dilukiskandi dalam Dhamma-pada (Jalan Kebenaran,) dan di dalam Theragatha (Nyanyian para Rahib).

Bahasa Pali di dalam lingkungan mazhab Theravada itu tetap merupakan bahasa didalam upacara-upacara kebaktian. Selanjutnya dibawah ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan mazhab Theravada itu.

Doktrin tentang Anatta.

Anatta itu bennakna : Tanpa–Jiwa. Anatta itu merupakan doktrin paling sentral di” dalam agama Buddha. Doktrin tentang Anatta itu berlawanan secara total dengan doktrin tentang Atman di dalam agama Hindu.

Anatta itu terdiri atas dua sukukata. yaitu an– (tidak. tanpa) dan -atta (Jiwa). Sukukata -atta itu di dalam bahasa Pali; yang didalam bahasa Sanskrit ialah : atman.

Menurut ajaran agama Hindu bahwa alam semesta itu adalah pancaran zat Brahman, dan oleh karena itu, segala sesuatunya memiliki zat Brahman di dalam dirinya, terutama di dalam diri manusia, yang dipanggilkan dengan : atman. Ajaran agama Buddha menyatakan bahwa atman itu tidak ada, dan ajaran itulah disebut dengan : anatta.

Disitu timbul soal : “Apakah betul Jiwa itu tidak ada ? Apakah alasan untuk menyatakan Jwa itu tidak ada ?”

Buddha Gautama mengajarkan bahwa setiap apapun yang disebut Ada itu adalah suatu susunan, suatu bentuk. Dan setiap bentuk apapun juga, tennasuk makhluk-hidup, berada senantiasa di dalam Perobahan, dan berakhir pada Kemusnahan.

Apa yang disebut dengan Jiwa itupun suatu Ada, suatu Bentuk, suatu Susunan. Justru jiwa itupun tidaklah terbebas dari hukum-Perobahan dan hukum-Kemusnahan.

Doktrin tentang Anatta itu kait berkait dengan doktrin tentang Nirvana, seperti akan dijelaskan nanti. Tetapi lambat-laun terjadi perkembangan penapsiran terhadap kedua doktrin itu, terutama dalam lingkungan mazhab Mahayana, hingga akhirnya sudah jauh bergeser dari ajaran yang mula-mula.

Doktrin tentang Skandas

Apa yang kita sebut dengan kedirian itu adalah cuma arus kejadian yang terus menerus, karena kedirian itu pada setiap saat adalah paduan lima skandas, yakni paduan lima susunan bagian, yang antara satu persatunya berlangsung interaksi yang tiada hentinya dan takpernah tetap.

Lima susunan bagian itu ialah :

Rhupa : tubuh.

Vedana: perasaan.

Samjna ; tanggapan.

Samskara : kemauan.

Vijnana : pemikiran.

Kelim skandas itu terikat dalam interaksi yang terus menerus itu oleh suatu kodrat yang dipanggilkan prapti. Pada saat mati, ikatan kedirian itu retak, karena segalanya berada dalam perobahan dan kemusnahan. Rerak sebelum moksha adalah rerak yang belum mutlak.

Doktrin tentang Nirvana

Nirvana itu bermakna : tiada suatupun (nothing). Dengan lain ungkapan ialah : Tiada, sebagai lawan Adaa. Menurut ajaran agama Buddha mengenai Empat Kebenaran Utama bahwa Ada itu Derita. Justru derita itu baharulah akan berakhir bilamana dicapai Tiada (Nirwana).

Nirvana itu di dalam ajaran yang mula-mula itu mengandung. pengertian yang sederhana sekali. Di dalam Samyutta-Nikaya. yang merupakan bagian dari Sutta-Pitaka, dikisahkan soal- jawab seorang Murid Agung, Sariputta, dengan Raja Milinda. Sewaktu raja itu bertanyakan pengertian Nirvana, maka Murid Agung itu menjawab : “the extinction of passion, of aversion, of confusion, .this is called Nirvana,” (peniadaan hasrat, keengganan, kebingungan, inilah yang disebut Nirvana).

Dari pengertian yang sederhana itu lantas pada masa bela- kangan berkembang pembahasan yang lebih mendalam dan lebih meluas tentang pengertian Nirvana itu, terutama dalam kalangan mazhab Mahayana, hingga lahir, berbagai aliran filsafat yang punya ciri-ciiri khusus.

Buddha Gautama itu pada masa hidupnya, menurut pendirian mazhab Theravada, telah mencapai Nirvana. Tetapi perkembangan penapsiran pada masa belakangan di da1am mazhab Theravada itu menimbulkan pendapat bahwa Buddha Gautama itu, sesudah meninggal dunia, masuk ke dalam Paranirvana atau Nirvana-Terakhir. Pengertian tentang nirvana-terakhir itulah yang menjadi pangkal timbul berbagai aliran pada masa belakangan di dalam mazhab Mahayana, seperti akan dijelaskan nanti.

Seperti sudah diuraikan lebih dahulu bahwa Buddha Gautama itu menolak ajaran Atman dan Brahman di dalam agama Hindu dan tentang kemestian mengenali Atman itu guna penyatuan diri ke dalam Brahman. Ganti menyatukan diri ke dalam Brahman itu Buddha Gautama mengajarkan bahwa tujuan terakhir ialah Nirvana.

Di dalam nirvana itu seluruh kepribadian atau ego terhenti dari Ada. hingga tidak ada lanjutan kelahiran (sam sara) lagi. Segala-galanya disitu tenang-damai karena sama melenyapkan diri ke dalam ketiadaan.

Aliran dalam mazhab Theravada.

Sebagai kelanjutan pembahasan tentang nirvana itu, bahwa segala-galanya melenyapkan diri ke dalam ketiadaan, maka timbul persoalan tentang dharmas (unsur-unsur) dan tenang ego (aku) dari setiap diri : “Apakah unsur-unsur itu dan aku itu punya realitas ataukah tidak?”

Di dalam hal itu terkenal dua aliran yang berpengaruh amat kuat dalam mazhab Theravada, yaitu :

Aliran Vaibashika, berasal dari penapsiran mahaguru- mahaguru di Kashmir pada masa pemerintahan Raja Kanishka (78–96 M) dari dinasti Kushana (78-178 M) terhadap salahsatu kitab didalam Abhidhamma-Pitaka. Aliran itu mencapai puncaknya ditangan Vasubandhu (300-350 M), seorang ahli pikir terkenal, dengan buahtangannya bernama Abhidhammakosa Sutra. Disitu dibahasnya dan disarikannya ajaran dari aliran Vaibashika itu bahwa “dharmas dan ego itu punya Realitas.”

Aliran Sautrantika, dibangun oleh Kumaralabdha (150-200 M) dan dilanjutkan dan diperkembang oleh Harivarman (250-350 M) dengan buah tangannya yang terkenal itu bemakna Satyasiddhi Sutra. Sari ajaran dari aliran Sautrantika itu bahwa “dharmas dan ego itu tidak punya Realitas”. Dengan arti bahwa “segala-galanya maya belaka.”

Buahtangan Vasubandhu dan Harivannan itu disalin pada masa belakangan ke dalam bahasa Tionghoa oleh Kumafajiva (344 -413 M) hingga kedua aliran itu berkembang di Tiongkok, sebelum datang dan berpengaruh disitu aliran-aliran mazhab Mahayana.

Tokoh penapsir terbesar dalam mazhab Theravada itu ialah Buddhaghosa. Tadinya seorang Brahmin dan kemudian memeluk agama Buddha, la hidup pada awal abad ke-5 masehi. Buah- tangannya bernama Visuddhimagga (Jalan kepada Kesucian) terpandang karya terbesar. Di dalam bukunya itu dia menyarikan dan menyusun secara tertib terhadap seluruh doktrin di dalam mazhab Theravada.

Literatur mazhab Theravada.

Sutta paling populer dalam mazhab Theravada ialah Majjhima—Nikava, tentang masalah-masalah metafisika; dan Sutta- Nipata, tentang kebenaran itu mengatasi paham-paham sekta; dan Maha-Vagga, yang isinya diantara lainnya tentang bagaimana Buddha Gautama menanggapi selisih paham diantara muridnya; dan Anguttara-Suttanta, yang diantara lain berisikan kisah-kisah kiasan bahwa setiap Ada itu berada dalam Perobahan dan Peralihan; dan Mahaparinibbhana-Suttanta, yang diantara lain berisikan kotbah perpisahan dari Buddha Gautama; dan Dhammapada, yang diantara lain berisikan doktrin-doktrin tentang kebenaran, dan Theragatha beserta Therigatha, berisikan himpunan nyanyian keagamaan bagi rahib lelaki (bikkhu) dan rahib wanita (bikkhuni).

Pada masa belakangan berkembang penapsiran terhadap berbagai doktrin dan hal itu menjelma dalam literatur mazhab Theravada yang disusun kemudian. Diantaranya terkenal-kisah Jataka, berisikan kisah-kisah kelahiran dan kehid Buddha Gautama penuh oleh berbagai keajaiban, yang di di Birma dikenal dengan kisah-kisah Dzannecka. Selanjutnya Sammanaphala-Suttanta, yang diantara lain berisikan tentang paedah menyisihkan diri dari dunia dan menjadi rahib; dan Sigalovc Suttanta, yang diantara lain berisikan tentang kewajiban kalangan awwam penganut mazhab Theravada; dan Samyutta-Nikaya yang diantara lain berisikan pembahasan tentang Nirvana.

Theravada di Sailan.

Mazhab Theravada di Sailan pada masa kita sekarang ini terpandang masih agak murni terbanding kepada di Birma Muangthai dan Indochina. Sekalipun begitu paham-paham Mahayana sedikit banyaknya telah diserap.

Missi Buddha yang pertama-tama ke Sailan itu ialah pada masa pemerintahan Kaisar Asoka (274-232 sM) pada masa dinasti Maurya (321 -184 sM), dibawah pimpinan Bikkhu Mahinda. Dia berhasil menarik King Tissa disitu, saudara Kaisar As, memeluk agama Buddha.

King Tisa membangun sebuah biara pada ibukota Anuradhapura, dan pagoda Tuparama yang megah untuk menyimpan sebuah gigi Buddha Gautama pada puncaknya, yang disebut Stupa. Juga ditanam cangkokan pohon-Hikmat (Bodhi-Tree) yang dibawa Bikkhu Mahinda dari kota-suci Goya. Pohon itu, pada bekas mntuhan ibukota Anuradhapura itu, masih tumbuh sampai kini hingga termasuk salahsatu pohon tertua di dunia yang telah berusia lebih 2.200 tahun.

Pada abad ke-16 masehi, sewaktu Sailan dikuasai pihak Portugis maka gigi Buddha yang dipandang suci itu dibakar oleh pihak katolik – Portugis. Tetapi pihak pemeluk agama Buddha di Sailan itu membantah dan menyatakan bahwa yang diserahkan dan dibakar pihak Katolik – Portugis itu adalah gigi palsu.

Theravada di Birma

Kaisar Asoka mengirimkan missi–Buddha ke Suvannabhumi (tanah Keemasan), dimaksudkan Birma. Tetapi di Birma sendiri berkembang pendapat bahwa agama Buddha itu mulai tersiar di Birma semenjak kedatangan Bikkhu Buddagosa, jadi pada abad ke-5 masehi.

Pengaruh tokoh itu tamak amat besar. Bahasa Pali telah di- gantikan oleh bahasa Sanskrit di dalam upacara kebaktian. Pemujaan terhadap nats (kodrat-kodrat gaib) di Birma, seperti juga halnya dengan pemujaan terhadap devatas di Sailan, memperlihatkan pengaruh paham Mahayana.

Tokoh terutama di dalam agama Buddha di Birma itu ialah King Anarwahta (1044-1077 M). Pada masa pemerintahannya itu ia mendirikan ribuan pagoda, termasuk Shwe Dagon Pagoda yang terkenal itu.

Theravada di Muangthai.

Perpindahan suku-suku Thai dari daerah Nan Chao, yakni wilayah Yunnan sekarang ini, arah ke selatan telah benrmula sejak abad pertama masehi. Tapi kerajaan suku Thai yang pertama-tama barulah berdiri pada tahun 1219 M dengan ibukota Sukhothai, terletak, sebelah tenggara Chiengmai, dibangun oleh raja Sri Indradit. Gelaran raja itu menunjukkan pengaruh agama Hindu.

Tapi sejarah mencatat bahwa pada abad ke-14 Masehi raja Thai mengirim utusan ke Sailan mengundang para bikkhu Theravada. Raja menyambutnya dengan segala kehormatan di ibukota Sukhothai dan lalu membangun biara Sangharaja. Peristiwa itu mungkin pada masa pemerintahan Rama Khambeng (1175-1317 M), putera Sri Indradit, ataupun penggantinya.

Belakangan terbentuk kerajaan Ayudhia pada tahun 1350, dibangun oleh raja Ramadhipati, dan di dalam kerajaan itu berlaku Hukum Manu dari agama Hindu. Raja Baromoraja II pada tahun 1432 M mulai meluaskan kekuasaannya ke berbagai wilayah sekitarnya, menaklukkan kerajaan Angker di Kamboja pada tahun tersebut, kemudian menaklukkan kerajaan Sukhothai pada tahun 1438 M.

Dengan begitu agama Hindu dengan agama Buddha berkembang sejajar akan tetapi lambatlaun agama Hindu itu terdesak dan akhirnya disingkirkan sepenuhnya oleh mazhab Theravada.

Akan tetapi pengaruh agama Hindu itu meninggalkan jejak- nya pada mazhab Theravada di Muangthai itu. Seperti juga halnya di Birma dan di Sailan, maka pemujaan terhadap phi (kodrat-kodrat gaib) memperlihatkan pengaruh agama Hindu.

Theravada di berbagai negeri.

Sedangkan kerajaan Srivijaya di Sumatra, sejak abad ke-6 masehi, merupakan pusat pelajaran agama Buddha dari mazhab Theravada. Rahib-rahib dari Tiongkok, sebelum melanjutkan studinya pada perguruan tinggi Nalanda di lndia,biasanya singgah dan menetap di Srivijaya lebih dahulu. Begitupun rahib-rahib Tionghoa yang pulang melalui laut dari anakbenua India.

Mazhab Theravada di Srivijaya itu tidak meninggalkan bekas, Berbeda halnya dengan mazhab Mahayana di pulau Jawa mewariskan suatu peninggalan, yaitu candi Borobudur. Hal itu disebabkan mazhab Theravada yang masih murni tidak menggunakan patung-patung di da1am upacara kebaktian karena upacara kebaktian yang paling azasi adalah Samadhi


Buddha – Empat Kebenaran Utama

8 Januari 2009

Buddha Gautama menerima dan melanjutkan ajaran agama Brahma/Hindu tentang Karma, yakni hukum sebab-akibat dari tindak-laku di dalam kehidupan, dan ajaran tentang Samsara, yakni lahir berulangkali ke dunia sebagai lanjutan Karma; dan ajaran tentang Moksha, yakni pemurnian hidup itu guna terbebas dari Karma dan Samsara.

Sekalipun Buddha Gautama menerima ajaran tentang Karma dan Samsara itu akan tetapi dia menyelidiki dan meneliti pangkal sebab dari keseluruhannya itu, dan merumuskannya di dalam Empat Kebenaran Utama.

Sekalipun Buddha Gautama menerima ajaran tentang Moksha itu, akan tetapi dia tidak dapat menerima dan membenarkan upacara-upacara kebaktian penuh korban bagi mencapai Moksha itu; dan lalu menunjukkan jalan yang hakiki bagi mencapai Moksha yang dirumuskannya dengan Delapan jalan Kebaktian.

Kotbah Pertama dari Buddha Gautama di Isipathana, dalam Taman Menjangan, dekat Benares, berisikan uraian panjang lebar mengenai Empat Kebenaran Utama dan Delapan Jalan Kebaktian itu, yang keseluruhan uraian itu disimpulkan sebagai berikut:

Empat Kebenaran Utama :

Ada itu suatu Derita (Dukkha).

Derita itu disebabkan Hasrat (Tanha).

Hasrat itu mestilah Ditiadakan.

Peniadaan itu dengan Delapan Jalan.

Delapan Jalan Kebajikan :

Pengertian yang Benar (Samma-ditthi).

Maksud yang Benar (Samma–sankappa).

Bicara yang Benar (Samma-vaca).

Laku yang Benar (Samma-kammarta).

Kerja yang Benar (Samma-ajiva).

Ikhtiar yang Benar (Samma-vayama).

Ingatan yang Benar (SaJnma-sati).

Renungan yang Benar (Samma-samadhi)

Di dalam Sutta-pitaka, pada bagian Dhammapada, dikisahkan bahwa sewaktu roda Doktrin itu mulai digerakkan oleh sang Buddha Gautama maka para dewa di Bumi dan di langit hiruk-pikuk, sampai pun kepada Brahma sendiri, karena doktrin itu “suatu roda yang belum pemah digerakkan selama ini oleh seorang pertapa, brahmin, dewa, mara, brahma, atau oleh siapa pun di dunia.”

Demikian Dhummpada, di dalam Sutta-Pitaka, mengagungkan doktrin yang paling sentral di dalam al!ama Buddha itu.

Triratna

Triratha itu bermakna : Tiga Permata. Dimaksudkan tiga buah Pengakuan dari setiap penganut agama Buddha, seperti hal- nya dengan Credo di dalam agama Kristen ataupun Syahadat di dalam agama Islam. Tiga Pengakuan di dalam agama Buddha itu berbunyi :

Buddham saranam gacchami.

Dhammam saranam gacchami.

Sangham saranam gacrhami

Bemakna

Saya berlindung di dalam Buddha.

Saya berlindung di dalam Dhamma.

Saya berlindung di dalam Sangha.

Triratna itu harus diucapkan tiga kali. Pada kali yang kedua diawali dengan Dutiyam, yang bermakna : buat keduakalinya. Pada kali yang ketiga diawali dengan Tatiyam, yang bermakna: buat ketiga kalinya.

Buddha di dalam Triratna itu dimaksudkan : Buddha Gautama. Dhamma disitu dimaksudkan : pokok-pokok ajaran. Sangha disitu dimaksudkan : biara. Ketiga-tiganya itu dinyatakan azas perlindungan bagi setiap penganut agama Buddha, yakni azas keyakinan yang dianut mazhab Theravada maupun mazhab Mahayana.

Alam semesta dan alam gaib.

Siddharta Gautama tidak menolak dan tidak pula memper- kembang ajaran tentang alam semesta dan alam gaib, dengan arti, tidak hendak berbicara tentang itu. Di dalam Sutta-Pitaka, pada bagian Majjhima-Nikaya dalam Sutta 63, diceritakan bahwa seorang murid bernama Malunkyiaputera bertanyakan hal itu dan Buddha Gautama memberikan jawabannya, katanya :

“Kehidupan beragama itu, Malunkyiaputera, tidak tergantung pada ajaran bahwa alam itu abadi; sebaliknya kehidupan beragama itu, hai Malunkyiaputera, tidak tergantung pada ajaran bahwa alam itu tidak abadi. Sekalipun ajaran serupa itu ada, Malunkyiaputera, bahwa alam itu abadi atau alam itu tidak abadi, tetapi disitu tetap ada kelahiran, usia tua, maut, duka, ratapan, derita, kemalangan, dan kekecewaan, yang peniadaan seluruhnya di dalam kehidupan, sengaja saya uraikan.

Karena itu hai Malunkyiaputera, tanamkan dalam ingatan akan apa yang tidak saya jelaskan, dan akan apa yang saya jelaskan. Dan apakah, hai Malunkyiaputera, yang tidak saya jelaskan ?

Saya tidak menjelaskan, hai Malunkyiaputera, bahwa alam itu kekal; saya tidak menjelaskan bahwa alam itu tidak kekal saya tidak menjelaskan bahwa alam itu terbatas; saya tidak menjelaskan bahwa alam itu tidak terbatas; saya tidak menjelaska bahwa jiwa dan tubuh itu bersamaan; saya tidak menjelaska bahwa jiwa itu lain dan tubuh itu lain; saya tidak menjelaska bahwa orang-suci itu tidak hidup kembali sesudah mati; saya tidak menjelaskan bahwa orang-suci itu bukan hidup dan bukan tidak-hidup kembali sesudah mati.

Dan kenapa, hai Malunkyiaputera, saya tidak hendak menjelaskannya ? Sebabnya. Malunkyiaputera, hal itu tidak menguntungkan, bahkan tidak ada sangkut-pautnya dengan hal-hal yang paling azasi dalam agama, malah tidak mengarah kepada pencegahan dan peniadaan nafsu, perhentian, ketenangan, pembebasan, hikmat tinggi, dan Nirwana. Justru karena itu saya tidak hendak menjelaskannya…….”

Demikian Sakyamunj mengemukakan pendiriannya mengenai masalah-masalah yang bersipat filsatat, baikpun mengenai alam semesta maupun alam gaib. Tidak hendak berbicara tentang asal-usul alam semesta dan bagaimana timbulnya dan siapa penciptanya, la lebih menitik-beratkan ajarannya pada bimbingan yang praktis bagi perbaikan hidup manusia. Justru karena itu biara dan tempat-tempat kebaktian pada masa hidupnya tidak berhiaskan apapun. Segala-galanya dalam bentuk sederhana dengan tujuan hidup suci, yakni moksha.

Terhadap pendirian Sakyamunj itu ada pihak yang menapsirkan, yakni dalam kalangan sarjana-sarjana agama perbandingan, bahwa agama Buddha itu pada hakikatnya Atheistis, yakni tidak mempercayai kodrat gaib apapun juga. Akan tetapi penapsiran serupa itu tidak tepat. Tidak hendak memcarakannya bukan bermakna tidak mempercayainya.

Di dalam agama apapun juga, termasuk agama Yahudi dan Kristen dan Islam, ada aliran yang berpendirian bahwa dalam masalah-masalah metafisika itu Akal akan tidak mampu mencapai hakikat dan kebenaran secara pasti. Justru di dalam hal itu Akal mestilah menundukkan diri kepada Wahyu. Di dalam agama Islam, pendirian serupa itu dianut oleh aliran Salaf.

Immanuel Kant (1724-1804), ahlipikir Jerman terbesar menjelang pengujung abad ke-17 masehi, telah membuktikan ketidak-mampuan Akal bagi mencapai kepastian dalam masalah- masalah metafisika itu dengan mengemukakan Empat Antinomi di dalam karyanya Critique Of Pure Reason.

Atas dasar itulah harus dipahamkan dan ditapsirkan apa yang dinyatakan oleh Siddharta Gautama itu, seperti termuat di dalam Sutta-Pitaka pada bagian Majjhima-Nikaya itu.

Penghapusan kasta masyarakat.

Kasta Brahmin di dalam agama Brahma/Hindu merupakan kasta paling mulia dan kasta Sudra merupakan kasta paling hina. Buddha Gautama menolak pembagian lapisan di dalam masyarakat.

Di dalam Sutta-Pitaka pada bagian Dhammapada, yakni dalam Sutta 26 :3, Buddha Gautama berkata : “Saya tidak menyebut seseorang itu Brahmin, karena turunannya ataupun karena ibunya. Orang serupa itu congkak dan kaya. Tetapi orang melarat yang terbebas dari segala godaan shahwati, dia itulah yang saya panggilkan Brahmin.”

Ajaran itu amat “revolusioner” buat masanya itu. Dan, karena itulah agama Buddha itu cepat meluas dan berkembang pada anakbenua India dan sebaliknya agama Hindu makin ter- desak dan tersudut.

Konsili Pertama

Taklama sesudah Buddha Gautama meninggal pada tahun 483 sebelum Masehi maka sejumlah 900 orang Murid Terutama berkumpul di Rajagriha. Disitu dibicarakan dan dirumuskan sari ajaran Sakyamuni tentang pokok-pokok ajaran (Dharnma) dan tentang peraturan beserta tata tertib (Vinaya) yang harus ditaati setiap bikkhu dan bikkhuni dalam masyarakat biara (Sangha).

Musyawarah besar di Rajagriha itu, pada perempat terakhir dari abad ke-5 sebelum Masehi, terpandang Konsili Pertama dalam sejarah agama Buddha. Perumusan sari-sari ajaran Sakyamuni itu diwariskan turun temurun secara lisan seperti kebiasaan yang berlaku pada masa itu, belum sipat tertulis. Perikeadaan itu serupa dengan hirnpunan Al-Hadits di dalam sejarah agama Islam, yang pada abad ke-2 dan abad ke-3 sepeninggal Nabi Muhammad, barulah dikumpulkan secara tertulis.

Konsili Kedua

Satu abad kemualan, yakni pada pertengahan abad ke-4 sebelum Masehi, berlangsung musyawarah lagi di Vaisali mengenai peraturan beserta tata tertib (Vinaya) yang harus ditaati setiap rahib dalam masyarakat biara (Sangha). Musyawarah di Vaisali itu merupakan Konsili Kedua dalam sejarah agama Buddha.

Di situ bermula perpisahan dua aliran:

Golongan Konservatif yang menyebut dirinya Sthaviravadins, yang pada masa belakangan lebih dikenal dengan aliran Theravada, bersikap mempertahankan kesederhanaan ajaran Sakyamuni.

Golongan Liberal yang memberikan penapsiran-penapsiran lebih bebas atas ajaran Sakyamuni dan menyebutkan dirinya Mahasanghikas, yang pada masa belakangan lebih dikenal dengan aliran Mahayana

Kira-kira pada masa inilah disusun Empat Himpunan Baru di dalam Sutta-Pitaka, yang satu persatu himpunan itu dipang- gilkan Nikaya. Tahadinya Sutta-Pitaka itu cuma terdiri atas Digha Nikaya, terdiri atas 34 sutta. Sebagiannya amat terkenal dan sebagiannya lagi sedikit saja dipergunakan pada umumnya.

Paling terkenal di antara 34 sutta itu ialah Maha-parinib- bhana-sutta (Book.of Great Decease, Sutta tentang Kemangkatan Terbesar), berisikan berbagai pembahasan pada masa tiga bulan terakhir dari kehidupan Buddha Gautama beserta ucapan-ucapannya yang hampir-hampir dapat dipastikan otentiknya

Empat Himpunan Baru itu ialah :

Majjhima Nikaya, atau sutta yang sedang saja panjangnya, terdiri atas 152 sutta yang sipat isinya pendek-pendek, terbagi ke dalam 15 buah vaggha, yaitu kelompok masalah.

Samyutta Nikaya, berisikan 56 buah kelompok-Sutta (samyutta) berkenaan dengan pokok-pokok soal ataupun berkenaan dengan tokoh-tokoh utama. Diantara isinya sebuah versi tentang Khotbah Pertama di Benares, dikenal dengan Kotbah Penggerak Roda (Wheel-turning-Sermon}, sesudah Siddharta Gautama beroleh pencerahan di bawah pohon-Hikmat.

Anguttara Nikaya, berisikan 2.308 sutta, tersusun dalam 11 buah Nipata, yaitu kelompok, masalah. Masalah pertama berbicara tentang Buddha. Kelompok kedua berbicara tentang dua macam Buddha, dua macam tata laku dalam rimba-hidup. Kelompok ketiga berbicara tentang tiga macam rahib. Kelompok keempat berbicara tentang empat macam jalan menuju Nirwana. Begitu seterusnya sampai kelompok kesebelas yang berbicara tentang sebelas macam kebajikan dan sebelas macam kemunkaran.

Kuddhaka Nikaya, kumpulan berbagai sutta, berisikan pembahasan tentang hal-hal yang tidak termasuk dalam kelompok Nikaya lainnya. Di dalam himpunan ini diantara lain dijumpai Kuddhaka–patha, tentang pokok-pokok azasi dari kehidupan Buddha; dan Metta sutta tentang pengertian dan kegunaan cintakasih bagi tata-hidup manusia; dan Mahamangala-sutta tentang berbagai kerahiman yang dipandang paling terbesar; dan Dhammapada berisikan 423 bait sajak terbagi atas 26 vaggha (bab) membicarakan tentang nilai-nilai (ethika) yang merupakan pegangan hidup dan merupakan sutta paling terkenal dari seluruh kitab suci agama Buddha. Di antara lainnya dijumpai pula Theragatha dan Therigatha. yaitu nyanyian keagamaan untuk rahib lelaki dan nyanyian keagamaan untuk rahib wanita, yang kedudukannya mirip dengan Kitab Mazmur di dalam agama Yahudi dan agama Kristen. Juga di dalam himpunan Kuddhaka Nikaya itu terdapat kumpulan kisah-kisah Jataka (Dzanecka) tentang berbagai kehidupan yang lebih duluan dari Buddha pada berbagai penjelmaannya.

Itulah empat himpunan baru yang berupa tambahan terhadap Sutta’–Pitaka dan disusun sehabis Konsili Kedua. Terlebih khusus merupakan pegangan bagi mazhab Mahasanghikas (Maha- yana).

Konsili Ketiga.

Pada tahun 327 sebelum Masehi terjadi penyerbuan Iskandar Makedoni (356-323 SM) dari Asia Tengah melalui Khyber Pass ke dalam anak benua India, menempatkan seorang panglimanya menjabat gubernur India berkedudukan di kota Taksila, yang dewasa ini terletak dekat Pashawar. Pengaruh kekuasaan Grik pada anakbenua India itu tampak pada senipahat dan seni bangunan beserta pengaruh mithologi Grik itu tampak pada perkembangan keyakinan keagamaan di dalam agama Brahma/Hindu di India, yakni muncul keyakinan Trimurti dan Trishakti beserta pemujaan dewa-dewa lainnya.

Kekuasaan Grik itu sempat berkuasa seperempat abad lamanya dan pada akhimya ditumbangkan oleh dinasti Maurya. (321-184 SM), yang dibangun oleh Chandragupta berkedudukan di Pataliputra (Patna), la berhasil merebut ibukota Taksila itu dari tangan Selaucus Nicator pada tahun 305 sebelum Masehi.

Pada tahun 274 sM cucunya Kaisar Asoka (274 -236 sM) naik berkuasa, dan ditangan cucunya itu, dinasti tersebut merupakan imperium besar tiada taranya pada.anakbenua India. Kaisar Asoka itu pada akhirnya melepaskan agama Hindu dan memeluk agama Buddha dan mengumumkannya Agama-Resmi dalam imperium India. Agama itu mencapai puncak kemegahannya tiga abad sesudah Buddha Gautama meninggal dunia.

Pada tahun 244 sebelum Masehi berlangsung Konsili Ketiga di Pataliputera (Patna), ibukota imperium, atas anjuran Kaisar Asoka. Pada masa itulah pokok-pokok ajaran Budha Gautama itu mulai disusun secara tertulis di dalam bahasa Pali, terdiri atas tiga himpunan, dan tiga himpunan itulah yang disebut Tripitaka.

Jarak masa antara Sakyamuni dengan penyusunan himpunan tertulis itu telah berlalu tiga abad lamanya. Dalam masa yang panjang itu telah berlaku penapsiran-penapsiran lebih bebas dari oihak Mahasanghikas. Dengan begitu telah sulit membedakan manakah yang betul-betul ucapan Buddha Gautama, karena semuanya disandarkan pada sabda Buddha Gautama.

Dalam pada itu Kaisar Asoka, demikian William L. Langer di dalam Encyclopedia of World History edisi 1956 halaman 42, mengirimkan missi-missi Buddha ke berbagai

penguasa di luar anakbenua India, diantaranya ialah : Syria, Egypte, Cyrene (Lybia), Makedonia, dan Epirus (Grik). Tetapi cuma memperlihatkan hasil gemilang di Sailan dan di Birma.

Sekalipun pada tempat-tempat lainnya itu agama Buddha tidak berkembang seperti di Sailan dan di Birma itu akan tetapi pengaruh ajarannya cukup kuat mempesonakan kalangan terpelajar disitu hingga meresapi berbagai aliran filsafat, umpamanya Stoicism dan Neoplatonism. Sedangkan aliran Neoplatonism itu, yang sejak abad ke-3 masehi meresapi agama Kristen melalui St. Augustinus (354 -430 M), melahirkan sistem rahib dan biara dalam dunia Kristen.

Kemunduran agama Buddha di India.

Dinasti Maurya (321-184 sM) itu pada akhirnya ditumbangkan oleh dinasti Sungga (184 sM-78 M) pada tahun 184 sebelum Masehi. Dinasti baru itu mengambil kaum Brahmin menjadi penasihat-penasihat kerajaan (Kanvas). Mereka itu melakukan tekanan keras terhadap pengikut agama Buddha hingga akhirnya pengaruh agama Buddha, itu berangsur-angsur susut pada anak benua India.

Tetapi sejak tahun 78 sebelum Masehi terjadi pemberontakan di sana-sini, yang berkelanjutan dekat satu abad lamanya, dan terbentuk kembali penguasa-penguasa setempat yang menyatakan dirinya bebas dan berdaulat. Sekalipun begitu, satu persatunya tetap mempertahankan agama Hindu dan melakukan tekanan terus-menerus terhadap agama Buddha.

Konsili Keempat.

Pada masa itulah berlangsung Konsili Keempat di kota Jalandra dalam wilayah Punjab (Pertemuan Lima Sungai) dibawah prakarsa sekta Sarvastivada, yaitu pecahan mazhab Theravada. Tripitaka disalin ke dalam bahasa Sanskrit. Dibalik itu disusun bungarampai dalam bahasa. Sanskrit, bernama Agamas, bersamaan isinya dengan Nikaya.

Di sekitar masa itulah agama Buddha terpecah kedalam dua mazhab besar, berdasarkan bibit-bibit yang telah tumbuh sebelumnya, yang pokok keyakinan maupun pokok ajaran sudah sangat berbedaan, yaitu .

Hinayana. (Kereta Kecil), yang ingin mempertahankan kesederhanaan ajaran Sakyamuni. Nama itu diberikan oleh lawannya. Sedangkan para pengikut mazhab itu tetap mempertahankan namanya yang asli, yaitu Theravada, yakni aliran Tokoh-Tokoh Tertua (the Elders).

Mahayana, (Kereta-Besar), yang bersikap mempertahankan penapsiran atas setiap ajaran Sakyamuni, sebagai lanjutan dari sekta Mahasanghika; memusatkan pemujaannya pada pribadi Buddha, dan memperkembang ajaran tentang kodrat-kodrat gaib yang dipanggilkan dengan Bodhisatvas.

Di sekitar masa itulah disusun tujuh buku Abhidhamma dalam bahasa Sanskrit berisikan pembahasan-pembahasan yang filosofis atas setiap ajaran dan keyakinan keagamaan. Tujuh buku Abhidhamma itulah, beserta Mahayana-Sutras lainnya yang disusun pada masa belakangan, dipanggilkan dengan himpunan tennuda.

Sepeninggal dinasti Kushana (78-178 M) itu, yakni semenjak abad ketiga masehi, pengaruh agama Buddha pada anakbenua India makin mundur. Menjelang pertengahan abad ke-5 masehi lantas pengaruhnya itu lenyap dari bumi India, kecuali kelompok-kelompok kecil pada pusatnya masing-masing, dan sebaliknya berkembang dengan luas di Sailan, Birma, Muang- thai, Kamboja, Laos, Annam, dan terlebih-lebih di Tiongkok dan Korea dan Jepang.


Bersilaturahmi

23 November 2008

Oleh ROESLI LAHANI YUNUS

BERSILATURAHMI sebenarnya bukan di bulan Syawal saja, sebagaimana umumnya dilakukan oleh umat Islam Indonesia. Silaturahmi artinya tali persahabatan atau tali persaudaraan, sedangkan bersilaturahmi mengikat tali persahabatan. Jadi, untuk mengikat tali persahabatan itu kapan saja waktunya, dan tidak boleh diputuskan, harus dilanjutkan oleh anaknya.

Kita pun diperintahkan oleh Allah untuk menjaga hubungan silaturahmi (Annisaa: 1). Sebagai umat Islam, perintah Allah itu harus dipatuhi. Orang yang mematuhi perintah Allah itu adalah orang yang takwa. Takwa artinya terpeliharanya sifat diri untuk tetap taat dan patuh melaksanakan perintah Allah serta menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Di sini pun termasuk kesalehan hidup seseorang. Dia pun harus insaf bahwa manusia itu dijadikan Allah untuk bertakwa kepada-Nya.

Kini dapat dimengerti, betapa pentingnya silaturahmi dalam Islam. Maka melihat pentingnya silaturahmi, dengan sendirinya permusuhan itu dilarang dalam Islam. Berbagai macam dan cara untuk menimbulkan permusuhan, terutama orang-orang yang benci terhadap Islam, seperti pertentangan, peperangan, berjudi, minum khamar, dan sebagainya. Itulah sebabnya dalam Islam dilarang berjudi dan meminum-minuman keras.

Dalam Quran surat Almaaidah: 91, Allah telah berfirman,

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingati Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.

Di sini pun perlu keimanan seseorang dalam menempuh hidup karena setan itu ada di sekeliling kita. Setan itu selalu berbuat untuk memalingkan umat Islam dari keyakinannya (keimanan).

Silaturahmi yang dianjurkan dalam Islam berguna juga untuk mempersatukan pendapat dan keyakinan. Satunya pendapat dan keyakinan sebenarnya sudah ada dalam Alquran dan Hadis (bukan yang palsu). Orang di luar Islam berusaha memalsukan dan memutarbalikkan yang benar itu. Di sini diperlukan keimanan yang kuat.

Kuatnya keimanan seseorang tidak akan goyah oleh uang, kedudukan, pangkat, dan sebagainya. Itulah gunanya bersilaturahmi dan silaturahmi inilah yang memperkuat tali persahabatan atau persaudaraan. Persahabatan atau persaudaraan ini perlu dibina sepanjang masa. Pembinaannya dengan mempersatukan pendapat dan keyakinan.

Dalam kata lain, silaturahmi pun dapat dikatakan bersalam-salaman. Ini pun suatu tanda bahwa pendapat dan keyakinan itu telah menyatu. Dengan silaturahmi itu akan tumbuh rasa kasih sayang dan mereka itu akan dikasihi pula oleh Allah.

Sekiranya terjadi persatuan (pendapat) di Indonesia, tentu tidak akan sebanyak ini partai politik di tanah air. Dari sini dapat kita lihat bahwa persatuan di Indonesia tidak atau belum terlaksana.

Belum terlaksananya persatuan di Indonesia sudah jelas disebabkan tali persahabatan itu masih longgar. Untuk memperkuat tali persahabatan itu, yaitu dengan bersilaturahmi, dan terutama sekali persatuan dalam agama.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran: 103).

Semakin jelas sekarang, mengapa terjadi berbagai cobaan terhadap bangsa dan negara Indonesia belakangan ini. Semuanya itu disebabkan tidak berpegang kepada tali (agama) Allah. Penyebab lain karena tidak bersatu. Sebenarnya kita telah berada di jurang kehancuran, tetapi Allah masih punya kebijaksanaan.

Kita berkaok-kaok “mari bersatu”, tetapi semuanya itu di mulut belaka. Kita semuanya mengerti, harus sesuai mulut dengan hati. Umumnya bangsa Indonesia “berlainan mulut dengan hati”. Ya di mulut, tetapi hati mengatakan tidak.

Di sini diperlukan keyakinan atau keimanan. Umat Islam harus yakin bahwa apa yang terjadi adalah cobaan dari Allah. Semua yang terjadi di Indonesia seperti kebakaran, gempa, longsor, banjir, dan sebangsanya adalah cobaan semata. Bagi mereka yang terkena musibah itu adalah siksaan dan yang dekat dengan musibah itu terbawa karena tidak pernah memberi peringatan kepada yang berbuat, seperti berbuat maksiat, menebang kayu (yang menimbulkan longsor), dan sebangsanya.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (Q.S. Alanbiyaa: 35).

Cobaan itu bukan berupa buruk dan baik saja, tetapi anak, istri, pangkat, kedudukan, kekayaan, dan harta.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (Q.S. Attaghaabun: 15).

Semuanya yang baik itu adalah berkat silaturahmi karena bersilaturahmi dapat saling nasihat-menasihati, bertukar pikiran, tukar pengalaman, saling menerima dan memberi, saling tunjuk-menunjuki, dan sebangsanya.

Manfaat silaturahmi, di samping hubungan baik antara manusia dan manusia, silaturahmi dapat pula memperpanjang umur. Yang dimaksud memperpanjang umur, kita akan selalu diingat oleh pihak yang dikunjungi, demikian pula sebaliknya.

Kita pun yakin bahwa umur itu di tangan Allah. Allah yang menentukan kematian seseorang. Kecil akan meninggal, tua, muda, laki-laki, dan perempuan akan meninggal. Ibarat daun, yang masih hijau akan gugur dan yang sudah mersik pun akan mencium tanah.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan, dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk)” (Q.S. Qaat: 43).

Jelas sekarang, bahwa kematian itu di tangan Allah. Nama yang selalu dikenang sebab dia selalu bersilaturahmi. Silaturahmi betul-betul bermanfaat bagi kehidupan manusia.