Pengaruh Cuaca

26 Agustus 2009

Ingin anak laki atau anak perempuan? Sebetulnya anak laki atau anak perempuan sama saja. Namun banyak dari orang tua, jika mungkin ingin memilih jenis kelamin anaknya dengan berbagai alasan. Entah karena alasan kepercayaan ataupun karena ingin anak yang berikutnya berbeda kelamin dengan anak sebelumnya. Banyak mitos, kepercyaan, penelitian atau percobaan telah dilakukan untuk dapat menentukan jenis kelamin sang calon janin. Antara lain dengan memakan makanan tertentu yang diyakini dapat mempengaruhi jenis kelamin si calon anak. Majalah New Scientist mengemukakan sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Alexander Lerchl seorang ilmuwan dari Universitas Muenster, Jerman. Ia membuktikan bahwa jenis kelamin anak sangat mungkin tergantung dari cuaca apa yang sedang terjadi satu bulan sebelum konsepsi (pembuahan) berlangsung. Penelitian yang dilakukan Lerchl adalah dengan membandingkan bayi-bayi yang dilahirkan di Jerman antara tahun 1946-1995 dengan temperatur bulanan dan melihat apakah temperatur itu mempengaruhi jenis kelamin bayi. Ia menemukan bahwa lebih banyak bayi laki-laki lahir setelah musim panas dan bayi perempuan lahir sesudah musim dingin berlalu. Juga fluktuasi temperatur yang kecilpun mempunyai impak terhadap rasio jenis kelamin anak. Kata Lerchl temperatur memainkan peranan penting sewaktu sperma sang ayah mulai matang. Ia berspekulasi bahwa suhu udara yang panas menghancurkan sperma yang membawa kromosom X dibanding dengan sperma yang membawa kromosom Y, sehingga dengan begitu embrio tumbuh menjadi bayi dengan jenis kelamin laki-laki.
Namun lanjutnya, bukan berarti orang-orang yang hidup dalam iklim panas mempunyai anak laki-laki lebih banyak dibanding anak perempuan karena orang cenderung untuk menyesuaikan pakaian mereka dengan cuaca setempat dan suhu kulit tidak begitu banyak berbeda dengan tempat-tempat yang berlainan. Tapi ia percaya bahwa pemanasan global akan menambah rasio pria dibanding wanita. Majalah tersebut menambahkan bahwa kemungkinan lain untuk menjelaskan teori ini adalah sperma yang membawa kromosom pria Y merupakan “perenang yang cepat” sehingga dapat segera membuahi sel telur. Namun belum dibuktikan apakah teori ini benar jika diterapkan di Indonesia yang memiliki iklim panas dan lembab, mengingat jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding penduduk pria ?


Menunda Kehamilan Berpotensi Terkena Kanker Payudara

17 Februari 2009

Bagi Anda yang ingin menunda kehamilan, mungkin informasi ini penting untuk diketahui. Di Kanada, jumlah wanita penderita kanker payudara yang usianya di bawah 50 tahun meningkat

Menurut dugaan sementara, hal tersebut disebabkan karena banyaknya wanita di negara tersebut yang menunda kehamilan.

“Ini bisa jadi fakta yang menguatkan faktor resiko kanker payudara,” kata Dr.Loraine Marrett dari Pusat Peduli Kanker Ontario dan Pusat Kesehatan Masyarakat Kanada. “Penelitian kami didasarkan pada wanita yang baru menjalani kehamilan saat usianya memasuki paruh baya,” katanya.

Penelitian yang bernama Kanker Pada Dewasa Muda Kanada, menemukan jumlah kanker payudara pada Baca entri selengkapnya »


Depresi Ibu Berefek Buruk pada Anak

17 Februari 2009

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan selama 20 tahun oleh Tiffani Field, Ph. D dari Universitas of Miami Medical School, anak yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami depresi berat selama kehamilan akan memiliki kadar hormon stres tinggi, aktivitas otak yang peka terhadap depresi, menunjukkan sedikit ekspresi, dan mengalami gejala depresi lain, seperti sulit makan dan tidur.

Depresi pada ibu yang sedang mengandung disebabkan banyak hal.

Pertama, adanya perubahan hormon yang menpengaruhi mood ibu secara keseluruhan sehingga si ibu sering merasa kesal, jenuh, atau sedih.

Penyebab lainnya adalah, keadaan fisik yang berubah saat hamil. Menjelang usia kehamilan tertentu, ibu mengalami sulit tidur. Ini tentu menyebabkan si ibu keesokan harinya akan merasa amat letih, ada lingkaran hitan di mata, dan kulit muka menjadi kusam.

Adanya masalah-masalah pada kandungan seperti kandungan lemah, sering muntah pada awal kandungan, dan masalah-masalah lain juga bisa menyebabkan depresi. Ibu akan terus-menerus Baca entri selengkapnya »


Janin Memiliki Kemampuan Belajar?

17 Februari 2009

Oleh: Audrey Luize

Jika Anda melihat seorang wanita hamil berbicara dengan janin dalam kandungannya sambil menertawakannya karena menganggap wanita tersebut bodoh; merasa geli melihat orang bicara sendiri, atau justru kagum karena menurut Anda ia adalah calon ibu yang tahu pasti apa yang tahu pasti apa yang sedang dikerjakan dalam mempersiapkan calon bayinya?

Apakah janin mampu mendengar suara ibunya? Suara musik? Pada umur kehamilan berapakah janin mampu mendengar? Dan pertanyaan yang lebih kompleks lagi: mampukah janin belajar?

Pemikiran bahwa individu dipengaruhi oleh pengalamannya saat berada di dalam kandungan telah ada sejak awal mula adanya ilmu pengetahuan. Aristoteles di dalam De Generatione Animalium berspekulasi bahwa saat dalam kandungan untuk pertama Baca entri selengkapnya »


Menanamkan Kecintaan Anak Terhadap Kitabullah

21 November 2008

Penulis: Ummu Zakaria Al Atsariyyah

 

Begitu banyak kenyataan pahit disekitar kita yang harus kita hadapi. Satu di antaranya adalah apa yang kita saksikan pada kebanyakan generasi Islam sekarang ini, mereka amat jauh dari agamanya.

 

Begitu lazimnya kita dapati anak-anak Islam dengan lancar menyenandungkan lagu-lagu, bahkan nyanyian orang dewasa. Dalam hal ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh karena jauh sebelumnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengabarkannya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda :

“Akan ada di kalangan ummatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan alat musik.” (HR. Bukhari dan Abu Daud) [1]

 

Asy Syaikh Jamil Zainu berkata tentang Hadits ini : “Bahwasannya akan ada suatu kaum di kalangan Muslimin yang mereka meyakini bahwa zina, memakai sutera asli, minum khamar, dan musik itu halal, padahal haram.”[2]

 

Alangkah indahnya ketika kita menengok generasi terdahulu kita. Memang tidaklah bisa generasi kita sekarang dibandingkan dengan mereka. Sungguh jauh sekali kita dibanding mereka, tapi seharusnya kita berusaha meneladani mereka sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan hal tersebut.

 

Wahai ayah dan bunda! Di sisimulah anak-anakmu menghabiskan sebagian besar waktu mereka. Apa yang engkau berikan maka itulah yang akan mereka terima. Maka berikanlah perkara-perkara yang baik kepada mereka, ajarkan dan biasakanlah pada mereka sejak dini Kalamullah agar mereka terbiasa melantunkannya dan timbul kecintaan pada hati-hati mereka dengan memahamkan makna-maknanya.

 

Al Imam Al Hafidh As Suyuthi berkata : “Mengajarkan Al Qur’an pada anak-anak merupakan salah satu dari pokok-pokok Islam agar mereka tumbuh di atas fitrahnya dan agar cahaya hikmah lebih dahulu menancap pada hati-hati mereka sebelum hawa nafsu dan sebelum hati-hati mereka dihitami (dipenuhi) oleh kekotoran maksiat dan kesesatan” [3]

 

Generasi terbaik ummat ini telah memberikan teladan pada kita dalam masalah ini. Betapa tingginya semangat mereka dalam mengarahkan perbuatan anak-anak mereka agar selaras dengan Kitabullah. Kita bisa dapatkan para shahabat telah mengajarkan Al Qur’an sejak dini pada anak-anak mereka dan semua itu tidak lepas karena ittiba’ mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

“… akan tetapi jadilah kalian orang-orang rabbani karena apa yang kalian ajarkan dari Al Kitab dan karena yang kalian pelajari darinya.” (Ali Imran : 79)

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dari Hadits Utsman radhiallahu ‘anhu secara marfu’) [4]

Dan sungguh begitu besar pahala yang akan didapatkan oleh kedua orang tua yang mengajarkan Al Qur’an pada buah hatinya.

Mengajarkan Al Qur’an bukan sekedar membaca lafadh-lafadhnya dan menghapalkannya, tetapi melalaikan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Bahkan yang seharusnya kita mengajarkannya dengan disertai keterangan yang mencukupi. Permisalan indah hasil didikan generasi terdahulu kita akibat terasahnya kecerdasan dan kepekaan mereka terhadap kandungan makna Al Qur’an, nampak pada apa yang ditunjukkan oleh Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Dia berkata kepada ayahnya, Sa’ad bin Abi Waqqash : “Wahai ayahku, bagaimana pendapat ayah tentang firman Allah :

“Yakni orang-orang yang lalai dalam shalat mereka.” (Al Ma’un : 6)

Mush’ab melanjutkan : “Siapa di antara kita yang tidak lalai dan tidak terlintas dalam benaknya perkara lain selain shalat sedikitpun?”

Maka sang ayah –Sa’ad bin Abi Waqqash– menjawab : “Bukan begitu, wahai anakku. Yang dimaksud lalai dalam firman Allah tersebut adalah menyia-nyiakan waktunya.” [5]

 

Demikian juga kisah Abu Sulaiman Dawud bin Nashr Ath Tha’i. Ketika ia berumur lima tahun ayahnya menyerahkannya pada seorang pengajar adab. Maka pengajar tersebut memulai dengan mengajarkan Al Qur’an. Ketika sampai pada surat Al-Insan dan dia telah menghapalnya, suatu hari ibunya melihatnya sedang menghadap dinding memikirkan sesuatu sambil jarinya menunjuk-nunjuk. Maka ibunya berkata : “Bangkitlah wahai Dawud, bermainlah bersama anak-anak yang lain!” Dawud tidak menyahut perintah ibunya hingga ketika sang ibu mendekapnya, Dawud baru bereaksi, ia berkata : “Ada apa denganmu, wahai ibuku?”

 

Kata ibunya : “Di manakah pikiranmu, wahai anakku?”

 

“Bersama hamba-hamba Allah,” jawab Dawud.

 

“Di mana mereka?” Tanya sang ibu.

 

“Di Surga,” jawab Dawud singkat.

 

Ibunya bertanya lagi : “Apa yang sedang mereka perbuat?”

 

Mendengar pertanyaan itu Dawud membacakan surat Al-Insan ayat 13-21 yang mengabarkan kenikmatan Surga :

Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) mentari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon Surga itu) dekat di atas mereka dan buah-buahannya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan pada mereka bejana-bejana dari perak dan gelas-gelas yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam Surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah zanjabil. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air Surga yang dinamakan Salsabil. Dan mereka dikelilingi pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila engkau melihat mereka, engkau akan mengira mereka adalah mutiara yang bertaburan. Dan apabila engkau melihat di sana (Surga) niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka (penghuni Surga) memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih.” (Al Insan : 13-21)

 

Subhanallah! Di usia mereka yang masih belia akal-akal mereka telah terasah untuk memikirkan ayat-ayat Allah, men-tadabburi-nya. Fitrah yang Allah berikan pada mereka terjaga bahkan terkuatkan dengannya.

 

Wahai ayah dan bunda, alangkah baiknya bila yang pertama kali diperdengarkan kepada anak-anak kita adalah kalimat-kalimat Allah dan memahamkan mereka sehingga mereka terbiasa mendengar dan mengucapkannya, dengan begitu hati-hati mereka menjadi cinta terhadap Al Qur’an dan mereka tumbuh di atasnya. Membiasakan anak untuk menghapal Al Qur’an sejak dini juga merupakan suatu pendidikan yang baik.

 

Sebagai penggugah diri kita dari terlenanya kita dengan kondisi masyarakat Islam pada hari ini, adalah apa yang terjadi pada ulama terdahulu kita. Al Imam Syafi’i berkata : “Aku telah menghapal Al-Qur’an pada umur 7 tahun dan aku hapal Al-Muwaththa’ (karya Imam Malik) pada umur 10 tahun.”

 

Mungkin kita bertanya-tanya bagaimana bisa di usia mereka yang masih belia telah dapat menghapal Al Qur’an. Jawaban yang pasti adalah karena keutamaan yang diberikan Allah pada mereka :

 

“Demikianlah keutamaan dari Allah, diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah-lah yang memiliki keutamaan yang besar.” (Al Jumuah : 4)

 

Juga karena terjaganya mereka dari perbuatan-perbuatan maksiat dan karena kedua orang tua mereka menyadari betul amanah yang diberikan Allah dan ini nampak dari semangat orang tua mereka dengan menyerahkan mereka kepada para pengajar adab dan para ulama, dan membimbing, serta mengarahkan mereka ketika berada di rumah.

 

Jika kita memperhatikan ayat-ayat Allah, kita akan dapatkan bahwa surat Makkiyyah umumnya merupakan surat-surat yang pendek dan ini sangatlah baik sebagai permulaan untuk diajarkan pada anak karena sangat mudah dihapal dan kuat pengaruhnya pada diri anak. Kita bisa lihat pada juz 30, sebagai misal surat An-Nas. Di dalamnya terkandung makna yang besar tentang tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.

 

Abu Ashim berkata : “Aku menyerahkan anakku pada Ibnu Juraij dan ketika itu usia anakku kurang dari tiga tahun. Maka Ibnu Juraij mengajarinya Al Qur’an dan Hadits.” Kemudian Abu Ashim melanjutkan : “Tidak mengapa mengajari anak Al Qur’an dan Hadits pada usia dini.”

 

Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman Al Ashbahani berkata : “Aku telah menghapal Al Qur’an pada umur 5 tahun. Pada usia 4 tahun aku dibawa ke majelisnya Abu Bakar Al Muqri’. Sebagian yang hadir dalam majelis tersebut berkata: “Jangan kalian mendengar dari anak ini, karena dia terlalu kecil”.

Abu Bakar Al Muqri’ berkata : “Baca surat At Takwir”.

Maka akupun membacanya tanpa ada kesalahan. Sebagian yang hadir berkata : “Baca surat Al Mursalat”.

Maka akupun membacanya tanpa ada kesalahan. Maka Al Muqri’ berkata : “Kalian dengarkan darinya”.” [6]

 

Tentu ada pada hati kita harapan terhadap buah hati kita agar bisa seperti mereka. Kepada Allah-lah kita sandarkan segala harapan kita. Semoga Allah permudah jalan bagi kita untuk mendidik generasi penerus kita. Amin … . Wallahu A’lam Bishshawwab


TIDAK BODOH, TAPI TINGGAL KELAS

13 November 2008

Seorang ibu muda bergegas keluar dengan mata berkaca-kaca dari ruang kelas 3 sebuah sekolah dasar, tempat anaknya bersekolah, gara-gara anak sulungnya ini nunggak, tidak naik kelas. Sebetulnya bisa dimaklumi, sebab nilai rapornya banyak yang jeblok, bahkan nyaris “kebakaran” karena banyak merahnya.

Tapi si ibu tidak bisa maklum karena ia yakin anaknya bukan tergolong bodoh, mengingat angka IQ-nya di atas rata-rata. “Kenapa hal itu bisa terjadi?” si ibu terus bertanya-tanya.

Ibu dan anaknya itu rupanya tidak “menderita” sendirian. Dari laporan Departemen P dan K dalam Kongres PGRI XVII beberapa waktu lalu dinyatakan, angka mengulang di kelas-kelas awal SD memang cukup tinggi; 16,7% di kelas 1, 12,4% di kelas 2, dan 10,6 % di kelas 3. Sedangkan kelas 4 sampai dengan kelas 6 persentasenya menurun; 8,5% di kelas 4, 6,7 % di kelas 5 dan 1,5 % di kelas 6. Sebagian besar anak yang tinggal kelas itu ternyata angka IQ-nya tidak di bawah rata-rata.

Potensi Ibarat Kendi

Anak yang tinggal kelas sering dicap sebagai anak bodoh. Ini tentu anggapan serampangan sebab kenyataannya tidak selalu demikian. Mestilah dilihat kasus per kasus. Setidaknya ada dua segi yang bisa dikaji dengan saksama untuk mencari penyebabnya, yaitu faktor psikologis dan fisiologis anak.

Dari sudut psikologis dapat dilihat selain IQ juga kondisi keluarga dan lingkungan tempat tinggal, serta pergaulan dan lingkungan sekolah. Dari segi fisiologis perlu ditengok faktor kesehatan si anak; umumnya faktor gizi dan gangguan penglihatan maupun pendengaran sangat mengganggu prestasi sekolah anak.

Dalam psikologi pendidikan dikatakan, anak-anak yang nunggak alias tinggal kelas umumnya tergolong sebagai anak yang underachiever atau tidak terpenuhi kebutuhannya. Prof. Dr. Conny Semiawan, seorang pakar pendidikan, lebih jauh menjelaskan bahwa anak yang underachiever dalam kesehariannya kurang mendapat pengarahan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya saja, si anak senang sekali membaca tetapi di rumah tidak atau kurang disediakan sarana bacaan yang sesuai dengan usianya. Atau si anak gemar sekali musik, namun orang tua tidak memperbolehkannya ikut les musik karena takut mengganggu pelajaran sekolahnya.

Sebagai gambaran, Conny Semiawan mengibaratkan otak atau potensi seorang anak cerdas-berbakat bagaikan sebuah kendi besar. Kalau kendi itu tidak diisi penuh, si anak bisa membuat masalah. Anak yang berinteligensi jauh lebih tinggi dari rata-rata teman sekelasnya, akan merasa hampir setiap pelajaran membosankan karena daya tangkapnya juga lebih cepat dibandingkan dengan teman-temannya.

“Kalau guru sedang menerangkan sesuatu yang mungkin bagi murid lain belum dimengerti, anak ini sudah terlebih dahulu menangkapnya. Akibatnya, ia mudah bosan, malas, dan mempunyai lebih banyak waktu untuk mengganggu teman serta mengabaikan gurunya. Anak seperti ini menjadi nakal di kelas dan tidak disenangi oleh guru maupun teman-teman sekelasnya,” jelas Conny Semiawan. Barangkali anak dengan kategori semacam ini akan menjadi lebih serius kalau diberi pelajaran yang lebih banyak menuntut pemikirannya, sehingga apa yang dilakukan dia rasakan mengasyikkan.

Jadi, angka IQ di atas rata-rata tidak menjamin keberhasilan prestasi sekolah anak yang bersangkutan kalau “kendi”-nya tidak diisi penuh.

Orang tua penuntut

Faktor psikologis lain yang tidak kalah pentingnya adalah emosi. Sikap ambisius orang tua sering kali membuat anak terkungkung dalam situasi yang menekan, bahkan terkadang menyiksa. Ambisi itu misalnya berupa sikap menuntut si anak untuk berprestasi melebihi teman-temannya. Kalau si anak mendapat nilai 6 untuk suatu pelajaran, ia sudah dianggap gagal atau bodoh. Kemudian anak itu dimaki-maki atau tidak jarang dihukum dengan tindakan fisik, misalnya ditampar, dipukul, dikurung di kamar mandi (sampai si anak masuk angin, dan orang tuanya bingung sendiri), dll.

Situasi menekan lainnya yang juga sering dialami anak misalnya terus dijejali dengan berbagai les pelajaran sekolah. Atau, begitu pulang sekolah harus langsung belajar sampai petang hari sehingga ia tidak punya kesempatan untuk bermain. Kalau situasi yang menekan dan menyiksa ini berlangsung terus-menerus, anak yang bersangkutan bisa dihinggapi rasa takut pergi ke sekolah karena terus diliputi kekhwatiran. Sikap ambisius atau perfeksionis semacam ini sering kali justru bisa kontraproduktif, bahkan menghancurkan prestasi anak. Kalaupun prestasi sekolahnya baik, tidak jarang perkembangan psikologis maupun sosialnya terganggu.

Seperti pernah dikatakan Prof. Dr. Yaumil Agus Achir, seorang pakar psikologi, dalam sebuah seminar dengan Intisari, banyak anak rendah prestasi belajarnya justru karena ia takut gagal. Soalnya, alam perasaannya diliputi kekecewaan, keragu-raguan, tekanan, dan anggapan bahwa dirinya kurang mampu. Ketidakberhasilan ini, menurut Yaumil, akibat terganggunya dorongan untuk meraih sukses sehingga anak lebih memusatkan perhatian pada usaha menyelamatkan diri dari kegagalan. Di sini motif menghindari kegagalan lebih besar daripada motif untuk berprestasi, sehingga si anak enggan mencoba mendapat nilai cemerlang.

Anak akan bisa belajar dengan baik kalau ia diliputi perasaan senang dan aman serta bebas dari paksaan.

Lingkungan tak mendukung
Reproduksi ingatan atau berpikir, pembentukan pengertian dan kesimpulan, persepsi maupun asosiasi merupakan faktor psikis penting lainnya. Si anak mungkin saja mengetahui dan menyadari letak gangguan yang menyebabkan kemunduran prestasinya, tetapi ia sulit atau tidak berani mengungkapkannya. Di sinilah pentingnya peran guru dan orang tua untuk menganalisis penyebab menurunnya prestasi anak.

Faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga ataupun sekolah juga ikut menentukan baik tidaknya prestasi anak. Keluarga yang kurang harmonis, orang tua sering cekcok, anak kurang mendapat perhatian, semua itu akan mempengaruhi jiwa anak. Pada keluarga yang berkecukupan, banyak anak terlalu dimanja dan santai sehingga ia kurang tertantang untuk maju. Sedikit saja menemukan kegagalan, ia sudah putus asa.

Kebutuhan anak bukan sekadar sandang dan pangan yang memadai, tetapi juga kasih sayang, perhatian, serta rasa aman yang cukup. Kemanjaan dan perlindungan yang berlebihan justru bisa mengembangkan sikap kurang mandiri pada diri anak.

Namun keadaan sosio-ekonomi yang kurang menunjang pun acap kali berpengaruh. Misalnya, tidak adanya tempat belajar tersendiri, penerangan yang tidak memadai, banyaknya anggota keluarga yang tinggal dalam rumah yang kecil sehingga keadaan yang hiruk pikuk tidak memungkinkan anak untuk dapat memusatkan konsentrasinya dengan baik.

Lingkungan kedua setelah rumah adalah sekolah. Sikap guru yang kejam dan galak, kurang berkomunikasi dengan murid, metode pengajaran yang kurang tepat dan terlalu cepat, materi pelajaran yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan latar belakang kehidupan anak, ditambah lagi dengan permusuhan dengan teman, semua itu bisa menghambat prestasi anak.

Keadaan masyarakat atau lingkungan tempat tinggal, misalnya anak “harus” hidup dalam lingkungan masyarakat yang kurang baik – seperti di daerah yang penuh dengan mereka yang sering mabuk-mabukan, tempat perjudian, pelacuran, dll. – juga akan berpengaruh bagi perkembangan jiwa dan prestasi anak.

Segi fisiologis yang menjadi perhatian utama adalah soal kesehatan anak. Dalam keadaan sakit, penglihatan atau pendengarannya terganggu, anak tentu tidak mudah berkonsentrasi ataupun menyerap pengetahuan yang diberikan. Anak yang mengeluh sering pusing atau setiap kali menonton televisi selalu mengerutkan matanya, perlu segera diperiksakan matanya ke dokter.

Pemberian makanan bergizi sesuai dengan perkembangan serta usia anak tentu juga sangat penting. Anak yang kurang gizi sehingga pertumbuhan otaknya ikut terganggu tentu prestasinya bisa terhambat.

Beri kasih sayang

Untuk mengurangi tingginya laju angka tinggal kelas di sekolah dasar, bisa ditempuh melalui berbagai upaya asalkan sebelumnya diketahui dengan jelas apa yang melandasi anak kurang bersemangat dalam belajar.

Dalam proses belajar-mengajar, tidak hanya berlangsung interaksi instruksional, tetapi juga interaksi pedagogis yang mengutamakan sentuhan-sentuhan emosional sehingga anak merasa senang belajar.

Pakar psikologi dari Swis, Jean Piaget membagi 4 stadium berpikir pada anak, yakni stadium sensorimotorik (0 – 18 bulan), stadium pra-operasional (1,5 – 7 tahun), stadium operasional kongkret (7 – 11 tahun) serta stadium operasional formal (11 tahun ke atas). Ia menyinggung pentingnya metode mengajar anak yang seimbang dengan usia serta perkembangan fisik serta mental anak.

Anak usia 7 – 10 tahun berada pada stadium operasional kongkret. Pada stadium ini anak sudah mampu melakukan aktivitas logis tertentu tetapi masih dalam situasi kongkret. Maksudnya, kalau anak dihadapkan pada suatu masalah secara verbal saja, tanpa bahan yang kongkret, ia akan sulit menuntaskan persoalannya secara baik. Bahan kongkret ini bisa berupa alat peraga. Mereka akan lebih mudah belajar menjumlahkan angka dengan menggunakan alat bantu sederhana seperti lidi atau batang korek api. Memberikan suatu pengertian bahwa sifat-sifat tertentu suatu objek akan tetap sama kendati ada transformasi pada objek tersebut (konservasi), bisa diperagakan misalnya dengan segenggam tanah liat yang diubah-ubah bentuknya menjadi segi tiga, segi empat, atau bulat. Bentuknya berubah tetapi beratnya tetap sama.

Namun metode ini harus didukung pula oleh berbagai faktor penunjang seperti perhatian serta dukungan orang tua, keadaan lingkungan serta kesehatan yang baik dan gizi anak yang cukup. Langkah-langkah yang perlu untuk menjalankan siasat jangka panjang demi perkembangan prestasi anak, menurut Yaumil, antara lain ialah lebih sering mengamati anak, mendengarkan obrolannya, mau berdialog dengannya, mendampinginya membuat PR. Langkah ini ditempuh agar orang tua mendapat masukan cukup yang diperlukan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Kalau sekali waktu anak gagal meraih prestasi, atau pahitnya sampai tidak naik kelas, hendaknya disikapi dengan empati, bukannya dihujani dengan serentetan makian atau hukuman yang merendahkan harga diri si anak. Untuk memperbaiki prestasinya, hendaknya ditelusuri penyebabnya. Kalau perlu, minta bantuan ahli atau guru kelasnya. Sebaliknya, berikan apresiasi (penghargaan misalnya pujian yang wajar, tidak selalu harus dalam bentuk materi) setiap kali anak menunjukkan prestasi. Anak butuh kasih sayang dan perhatian dari orang-orang yang terdekat dengannya, yaitu orang tua!