Daud Beureueh : Membangun Negara di Atas Gunung

5 Desember 2008

Wallah, billah, daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai syari’at Islam. Akan saya pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan syari’at Islam. Apakah Kakak masih ragu?

Kata-kata di atas diucapkan oleh Soekarno sambil terisak di bahu seseorang yang ia panggil Kakak. Sang kakak, tidak lain adalah Daud Beureueh. Akhirnya, berbekal iba dan isak tangis, Soekarno berhasil meluluhkan hati sang Abu Jihad, demikian panggilan Daud Beureueh.

Soekarno mengucapkan janjinya untuk meyakinkan Daud Beureueh, bahwa jika Aceh bersedia membantu perjuangan kemerdekaan, syari’at Islam akan diterapkan di tanah Rencong ini. Maka urung niat Daud Beureu’eh meminta perjanjian hitam di atas putih.

Tapi ternyata janji tinggal janji, penerapan syariat Islam di Aceh pun tinggal mimpi. Air mata yang diteteskan Soekarno ternyata hanya pelengkap sandiwara.

Siapakah Daud Beureueh? Ia adalah cikal bakal semua gerakan kemederkaan Aceh. Lahir 17 September 1899, dengan nama asli Muhammad Daud di sebuah dusun kecil bernama Beureu’eh di Aceh Pidie. Nama dusun itulah yang kelak yang lebih dikenal sebagai namanya. la bukan dari kalangan bangsawan Aceh yang bergelar Teuku, ia seorang rakyat biasanya saja. Gelar Tengku di depan namanya menandakan ia termasuk salah seorang yang diperhitungkan sebagai ulama di masyarakat sekitarnya. Selain Abu Jihad, orang-orang di sekitarnya biasa memangilnya dengan sebutan Abu Daud atau Abu Beureueh.

Pada zamannya, Daud Beureueh dikenal sebagai seorang ulama yang tegas dan keras pendiriannya. la tak segan-segan menjatuhkan vonis haram atau kafir bagi setiap orang yang telah melanggar aturan agama. Menurut beberapa catatan dan keterangan orang-orang yang dekat dengan Abu Daud, ia termasuk salah seorang yang buta huruf (tapi akhimya ia bisa juga baca dan tulis huruf latin). Ia hanya bisa membaca aksara Arab. Tapi jangan ditanya soal kemampuannya dalam masalah agama dan siasat perang.

Pendidikan yang ia jalani adalah pendidikan dari beberapa pesantren di daerahnya. Beberapa pesantren yang pernah menempa tokoh yang satu ini adalah Pesantren Titeue dan Pesantren Leumbeue. Kedua pesantren itu terkenal sebagai “pabrik” yang melahirkan pribadi-pribadi dengan militansi tinggi di bumi Serambi Makkah.

Abu Daud terkenal sebagai orator dan seorang yang pemurah hati. Kepeduliannya pada pendidikan rakyat Aceh pun sangat tinggi. Kepedulian pada pendidikan itu pula yang membuatnya pada tahun 1930 mendirikan Madrasah Sa’adah Adabiyah, di Sigli.

Sembilan tahun kemudian, bersama seorang sahabatnya, Daud Beureueh mendirikan sebuah organisasi sebagai wadah para ulama Aceh. Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), begitu ia memberi nama organisasi tersebut. PUSA inilah yang kelak menjadi motor perjuangan melawan penjajah Belanda.

Selain itu, PUSA didirikan untuk mempersatukan visi para ulama Aceh terhadap syariat Islam dan memperbaiki program-program sekolah agama di Aceh. Meski pada awalnya didirikan dengan latar keagamaan, tak urung PUSA akhirnya dimusuhi Belanda. Itu semua karena gerakan PUSA berhasil mencerdaskan rakyat Aceh dan menanamkan semangat jihad yang tinggi untuk melawan penjajah. Hal ini menjadikannya sebagai tokoh PUSA yang paling diincar oleh pemerintah kolonial Belanda. Pengejaran yang dilakukan Belanda itulah yang membuat PUSA menjadi gerakan bawah tanah.

Kabar kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta, terlambat sampai di Aceh. Kabar merdeka baru diterima pada 15 Oktober1945. Mendengar kemerdekaan yang sudah mutlak, semangat perjuangan Abu Daud kian meledak. “Aceh juga harus merdeka,” pekiknya membangkitkan semangat mengusir Belanda yang berada di Aceh. Segera ia serukan lewat seluruh ulama di Aceh agar rakyat Aceh mendukung Soekarno. Namun seperti tertulis di atas, air susu dibalas air tuba.

Selain dukungan untuk Soekarno, masih banyak lagi sumbangsih rakyat Aceh yang nota bene salah satu hasil perjuangan Daud Beureueh. Sumbangsih tanda kasih pada Rl itu antara lain adalah saat ibukota Rl masih di Yogyakarta. Ketika kota itu diduduki dan Soekarna-Hatta ditawan Belanda dalam Agresi Militer II, tanpa dikomando, rakyat Aceh membangun dua pemancar radio untuk berkomunikasi dengan dunia luar yang terputus akibat aksi itu.

Begitu juga saat PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang berkedudukan di Bukittingi dipindahkan ke Kutaraja. Rakyat Aceh menanggung seluruh biaya “akomodasi” pemerintahan darurat. Daftar sumbangsih rakyat Aceh untuk Rl akan semakin panjang jika kita masih mau mencari. Sebut saja cikal bakal penerbangan Indonesia. Rakyat Aceh-lah yang memulai dengan pesawat terbang Seulawah I dan II yang disumbangkan untuk Rl. Namun, tuntutan untuk hidup di bawah syariat Islam belum juga terwujud. Bahkan rakyat Aceh cenderung menjadi “anak tiri” Rl, ketika Soekarno membubarkan Provinsi Aceh dan melebumya menjadi bagian dari Sumatera Utara.

Tentu saja hal itu menimbulkan kemarahan rakyat Aceh. Daud Beureueh yang menjadi gubernur pertama Aceh, berkata lantang di atas mimbar, “Apabila tuntutan Provinsi Aceh tidak dipenuhi, kita pergi kegunung untuk membangun negara dengan cara kita sendiri.”

Puncaknya pada 21 September 1953, ia memimpin dan memproklamirkan bahwa Aceh bagian dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Hal itu tidak lebih dari respon atas penindasan dan kekecewaan yang telah menggunung pada pemerintah Rl, lebih-lebih pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Untuk meredakan aksi tersebut, pemerintah mengirim M. Natsir ke Aceh, dengan disepakatinya tuntutan rakyat Aceh dan diberikannya otonomi untuk Aceh. Namun masa tenang itu tak berlangsung lama. Penangkapan-penangkapan yang dilakukan pada anggota DI/TII terus berlanjut karena isu-isu rapat rahasia antara Daud Beureueh dengan Kartosoewiryo.

Banyak orang menyebut Daud Beureueh sebagai pemberontak. Pemberontakkah ia, jika setelah sekian lama memberikan baktinya tapi malah dera derita untuk Aceh yang diterimanya?


Syaikh Gad el Haq Ali Gad el Haq

28 November 2008

Syaikh Gad el Haq di lahirkan disebuah desa kecil Butrah provinsi Daqahlia pada tahun 1917. Diusianya yang masih belia, selain mendapat didikan dari orang tuanya untuk bertani, beliau juga mendapat didikan tentang ilmu agama dari seorang syaikh benama Sayed Al-Bahansawi melalui syaikh tersebut ia mulai belajar dasar-dasar qiraat dan menghafal Qur`an. Syaikh sayed Al-Bahansawi, sang guru yang selalu kelihatan menakutkan dimata para muridnya dikarenakan tongkat yang selalu menemaninya ketika mengajar dan tak jarang ia menjadi sasaran bagi muridnya, namun berkat bimbingannya Gad el Haq tumbuh dengan nilai-nilai agama yang kuat.

Melihat perkembangan dan kecintaan anaknya akan ilmu agama pihak keluarga bermaksud untuk meneruskan pendidikannya ketingkat yang lebih tinggi, hingga pada tahun 1930 ia berhijrah ke Thanta dan masuk ma`had Al-Ahmadi Ad-Dini, disini beliau mulai mendalami ilmu yang pernah dipelajarinya sewaktu didesa sampai memperoleh syahadah ibtidaiyah pada tahun 1934 dari ma`had tersebut yang merupakan cabang dari azhar setingkat dengan syahadah i`dadiyah yang berlaku sampai sekarang. Pada tahun yang sama beliau melanjutkan pendidikannya ketingkat tsanawi, namun tepat pada saat beliau duduk di bangku tsanawi terjadi pelbagai kekacauan dan revolusi pelajar yang mulai merambah hingga sampai ke ma`had tempatnya menuntut ilmu sehingga mengakibatkan kurang lancarnya pendidikan di lembaga tersebut.

Satu tahun kemudian dengan pelbagai pertimbangan atas kekacauan yang sedang terjadi, sang orang tua memindahkan beliau ke ma`had tsanawi Al-Azhar di cairo, disana beliau ditempatkan dengan anak bibinya yang juga seorang pelajar Al-Azhar, namun Gad el Haq hanya sempat tinggal dengan saudaranya itu selama satu hari. Kemudian beliau lebih memilih untuk tinggal di sebuah kamar kecil disamping mesjid ibnu thouloun, tak lain dikarenakan faktor kemampuan ekonominya yang sangat tidak memadai pada saat itu membuatnya harus puas tinggal disebuah tempat yang sangat sederhana tersebut, dengan tanpa mengeluarkan biaya sewa tentunya.

Tatkala musim libur tiba, beliaupun pulang kedesanya. Masyarakat desa yang sangat senang dengan kepulangan Gad el-Haq selalu mempercayainya untuk menjadi imam sampai menjadi khatib dan berkhutbah di sebuah mesjid kecil didesanya, khutbahnya yang pertama berjudul ikhlas dan istiqamah dalam beribadah mendapat sanjungan hangat dari masyarakat

Setelah beliau menamatkan tingkat tsanawinya berbagi dorongan mulai datang dari orang-orang terdekatnya termasuk seorang guru yang banyak membimbingnya selama berada dikairo, menyarankanya agar pendidikannya dilanjutkan di fakultas bahasa arab, universitas Al-Azhar karena mengingat pada masa tersebut pembangunan sekolah-sekolah kian berkembang, tentu membutuhkan banyak guru terutama guru bahasa arab, dengan dorongan dari pembimbingnya beliau mencoba mendaftar di fakultas bahasa arab namun gagal karena keterlambatan yang hanya sehari, melihat hal tersebut sang guru berusaha menjumpai Syaikh Ibrahim Hamrousy, yang merupakan syaikh di fakultas itu, tapi usaha itu pun mengalami kebuntuan hingga beliau terpaksa menunggu pendaftaran ditahun berikutnya.

Dalam masa fatrah penungguan, beliau kembali mendapat dorongan dan arahan, tapi kini berasal dari orang tuanya yang sangat menginginkannya untuk masuk kefakultas syari`ah. Keinginan orang tuanya berusaha ia wujudkan walaupun tanpa persiapan yang tak terduga sebelumnya. Kegigihan dan kesungguhan beliau pada akhirnya membuahkan hasil dengan perolehan syahadah S1 fakultas syari`ah pada bulan juni tahun 1943.

Tahun 1945 beliau lulus sebagai spesialis pengadilan syari`ah (Al-Qadha` Asy-Syar`i). Setelah beberapa tahun kelulusannya beliau diangkat sebagai sekjen Darul Ifta` melalui musabaqah yang diperuntukkan bagi para lulusan spesialis pengadilan syari`ah hingga sampai tahun 1978 beliau dipercayakan sebagai mufti mesir. Banyak hal-hal baru yang dilakukan pada masa beliau menjadi mufti yang antara lain menetapkan enam orang penasehat Darul Ifta` yang sebelumnya hanya dijabat oleh satu orang saja.

Tanggal 8 agustus 1980, keluar sebuah ketetapan pemerintah dengan no.432 tahun 1980 tentang pengangkatan Gad el Haq sebagai anggota Lembaga Riset Islam Al-Azhar Asy-Syarif. Dua tahun kemudian tepatnya pada tanggal 4 januari 1982 beliau kembali diangkat sebagai menteri urusan wakaf, namun jabatan itu hanya didudukinya selama dua bulan setengah. Terakhir pada 17 maret 1982 beliau ditetapkan sebagai Syaikh Al-Akbar Azhar Asy-Syarif sesuai dengan ketetapan negara mesir no. 129 tahun 1982. Banyak terjadi perubahan yang dilakukan pada masa syaikh Gad el Haq diantarnya dengan membangun 25 lajnah fatwa yang menyebar hingga keseluruh provinsi di mesir, masih banyak perubahan besar lainnya yang membawa dampak positif bagi perkembangan Al-Azhar.

Karya-karya beliau mencapai 28 buku tentang hukum islam diantaranya :

1. Ma`al Qur`an Al-Karim

2. An-Nabi SAW fi Al-Qur`an Al-Karim

3. Mukhtaraat minal fatwa wal buhust

4. Al-Fiqh Al-Islami ; murunatuhu watatawwaruhu

5. Risalah fi Al-Ijtihad

6. Risalah fi Al-Qadha`I fi Al-Islam

7. Kitab Ahkam Asy-Syari`ah Al-Islamiyah fi masail thibbiyyah `anil amradh An-Nasa`iyyah

Selain karya juga banyak fatwa yang beliau tinggalkan hingga mencapai 1328 fatwa dalam pelbagai bidang. Hingga akhirnya beliau wafat pada tanggal 15 maret 1996, sebelum wafatnya syaikh Gad el Haq sempat berkunjung ke Indonesia pada akhir September 1995, beliau pernah juga memperoleh penghargaan “Wisam an-niel” pada perayaan ulang tahun Al-Azhar keseribu yang dilaksanakan pada tahun 1403 H atau bertepatan dengan 1983.

Wallahu`alam

Disadur dari buku syuyukh Al-Azhar karangan sa`id abdurrahman


ALBERT EINSTEIN “Sang Jenius Fisika Pembuka Tabir Rahasia Alam Semesta”

17 November 2008

Tuhan tidak bermain dadu dengan alam ciptaanya dan segala keajaiban ilmu pengetahuan membuktikan kodrat alam ini…

Albert Einstein (1879-1955) 

 

Albert Einstein dilahirkan di Ulm, Kerajaan Wuettemberg, Prusia Raya (sekarang Jerman) pada tanggal 14 Maret 1879. Beliau terlahir sebagai putra sulung dari pasangan Hermann Einstein dan Pauline Koch. Ayahnya berprofesi sebagai pedagang kasur bulu. Pada tahun 1980 bisnis ayahnya mengalami kegagalan. Keluarga Einstein pindah ke Munich. Di kota ini Hermann dan adiknya mendirikan perusahaan instalasi gas dan air. 

 

Di waktu kecilnya Albert Einstein nampak terbelakang karena kemampuan bicaranya amat terlambat. Wataknya pendiam dan suka bermain seorang diri. Bulan November 1981 lahir adik perempuannya yang diberi nama Maja.  Sampai usia tujuh tahun Albert Einstein suka marah dan melempar barang, termasuk kepada adiknya. 

 

Minat dan kecintaannya pada bidang ilmu fisika muncul pada usia lima tahun. Ketika sedang terbaring lemah karena sakit, ayahnya menghadiahinya sebuah kompas. Albert kecil terpesona oleh keajaiban kompas tersebut, sehingga ia membulatkan tekadnya untuk membuka tabir misteri yang menyelimuti keagungan dan kebesaran alam. 

 

Meskipun pendiam dan tidak suka bermain dengan teman-temannya, Albert Einstein tetap mampu berprestasi di sekolahnya. Raportnya bagus dan ia menjadi juara kelas. Selain bersekolah dan menggeluti sains, kegiatan Albert hanyalah bermain musik dan berduet dengan ibunya memainkan karya-karya Mozart dan Bethoveen. 

 

Albert menghabiskan masa kuliahnya di ETH (Eidgenoessische Technische Hochscule). Pada usia 21 tahun Albert dinyatakan lulus. Setelah lulus, Albert berusaha melamar pekerjaan sebagai asisten dosen, tetapi ditolak. Akhirnya Albert mendapat pekerjaan sementara sebagai guru di SMA.  Kemudian dia mendapat pekerjaan di kantor paten di kota Bern. Selama masa itu Albert tetap mengembangkan ilmu fisikanya. 

 

Tahun 1905 adalah tahun penuh prestasi bagi Albert, karena pada tahun ini ia menghasilkan karya-karya yang cemerlang. Berikut adalah karya-karya tersebut: 

 

Maret:  paper tentang aplikasi ekipartisi pada peristiwa radiasi, tulisan ini merupakan pengantar hipotesa kuantum cahaya dengan berdasarkan pada statistik Boltzmann. Penjelasan efek fotolistrik pada paper inilah yang memberinya hadiah Nobel pada tahun 1922.

April : desertasi doktoralnya tentang penentuan baru ukuran-ukuran molekul. Einstein memperoleh gelar PhD-nya dari Universitas Zürich. 

Mei : papernya tentang gerak Brown. 

Juni : Papernya yang tersohor, yaitu tentang teori relativitas khusus, dimuat Annalen der Physik dengan judul Zur Elektrodynamik bewegter K?rper (Elektrodinamika benda bergerak). 

September : kelanjutan papernya bulan Juni yang sampai pada kesimpulan rumus termahsyurnya :   E = mc2 

 

yaitu bahwa massa sebuah benda (m) adalah ukuran kandungan energinya (E). c adalah laju cahaya di ruang hampa (c » 300 ribu kilometer per detik). Massa memiliki kesetaraan dengan energi, sebuah fakta yang membuka peluang berkembangnya proyek tenaga nuklir di kemudian hari. Satu gram massa dengan demikian setara dengan energi yang dapat memasok kebutuhan listrik 3000 rumah (berdaya 900 watt) selama setahun penuh, suatu jumlah energi yang luar biasa besarnya.

 

Tahun 1909, Albert Einstein diangkat sebagai profesor di Universitas Zurich. Tahun 1915, ia menyelesaikan kedua teori relativitasnya. Penghargaan tertinggi atas kerja kerasnya sejak kecil terbayar dengan diraihnya Hadiah Nobel pada tahun 1921 di bidang ilmu fisika. Selain itu Albert juga mengembangkan teori kuantum dan teori medan menyatu. 

 

Pada tahun 1933, Albert beserta keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena khawatir kegiatan ilmiahnya – baik sebagai pengajar ataupun sebagai peneliti – terganggu. Tahun 1941, ia mengucapkan sumpah sebagai warga negara Amerika Serikat. Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu orang lain yang kesulitan, Albert ditawari menjadi presiden Israel yang kedua. Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang itu. Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, Albert Einstein meninggal dunia dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah dunia. 

 

Meskipun demikian, Albert sempat menangis pilu dalam hati karena karya besarnya – teori relativitas umum dan khusus – digunakan sebagai inspirasi untuk membuat bom atom. Bom inilah yang dijatuhkan di atas kota Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II berlangsung.


THOMAS ALVA EDISON

17 November 2008

“the Wizard of Menlo Park” 

“Jenius adalah 1 persen ide cemerlang dan 99 persen kerja keras”

 

Thomas Alva Edison dilahirkan di Milan, Ohio pada tanggal 11 Februari 1847. Tahun 1954 orang tuanya pindah ke Port Huron, Michigan. Edison pun tumbuh besar di sana. Sewaktu kecil Edison hanya sempat mengikuti sekolah selama 3 bulan. Gurunya memperingatkan Edison kecil bahwa ia tidak bisa belajar di sekolah sehingga akhirnya Ibunya memutuskan untuk mengajar sendiri Edison di rumah. Kebetulan ibunya berprofesi sebagai guru.  Hal ini dilakukan karena ketika di sekolah Edison termasuk murid yang sering tertinggal dan ia dianggap sebagai murid yang tidak berbakat.

 

Meskipun tidak sekolah, Edison kecil menunjukkan sifat ingin tahu yang mendalam dan selalu ingin mencoba. Sebelum mencapai usia sekolah dia sudah membedah hewan-hewan, bukan untuk menyiksa hewan-hewan tersebut, tetapi murni didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar. Pada usia sebelas tahun Edison membangun laboratorium kimia sederhana di ruang bawah tanah rumah ayahnya. Setahun kemudian dia berhasil membuat sebuah telegraf yang meskipun bentuknya primitif tetapi bisa berfungsi. 

 

Tentu saja percobaan-percobaan yang dilakukannya membutuhkan biaya yang lumayan besar. Untuk memenuhi kebutuhannya itu, pada usia dua belas tahun Edison bekerja sebagai penjual koran dan permen di atas kereta api yang beroperasi antara kota Port Huron dan Detroit. Agar waktu senggangnya di kereta api tidak terbuang percuma Edison meminta ijin kepada pihak perusahaan kereta api, “Grand Trunk Railway”, untuk membuat laboratorium kecil di salah satu gerbong kereta api. Di sanalah ia melakukan percobaan dan membaca literatur ketika sedang tidak bertugas. 

 

Tahun 1861 terjadi perang saudara antara negara-negara bagian utara dan selatan. Topik ini menjadi perhatian orang-orang. Thomas Alva Edison melihat peluang ini dan membeli sebuah alat cetak tua seharga 12 dolar, kemudian mencetak sendiri korannya yang diberi nama “Weekly Herald”. Koran ini adalah koran pertama yang dicetak di atas kereta api dan lumayan laku terjual. Oplahnya mencapai 400 sehari. 

 

Pada masa ini Edison hampir kehilangan pendengarannya akibat kecelakaan. Tetapi dia tidak menganggapnya sebagai cacat malah menganggapnya sebagai keuntungan karena ia  banyak memiliki waktu untuk berpikir daripada untuk mendengarkan pembicaraan kosong.

 

Tahun 1868 Edison mendapat pekerjaan sebagai operator telegraf di Boston. Seluruh waktu luangnya dihabiskan untuk melakukan percobaan-percobaan tehnik. Tahun ini pula ia menemukan sistem interkom elektrik.

 

Thomas Alva Edison mendapat hak paten pertamanya untuk alat electric vote recorder tetapi tidak ada yang tertarik membelinya sehingga ia beralih ke penemuan yang bersifat komersial. Penemuan pertamanya yang bersifat komersial adalah pengembangan stock ticker. Edison menjual penemuaannya ke sebuah perusahaan dan mendapat uang sebesar 40000 dollar. Uang ini digunakan oleh Edison untuk membuka perusahaan dan laboratorium di Menlo Park, New Jersey. Di laboratorium inilah ia menelurkan berbagai penemuan yang kemudian mengubah pola hidup sebagian besar orang-orang di dunia.

 

Tahun 1877 ia menemukan phonograph. Pada tahun ini pula ia menyibukkan diri dengan masalah yang pada waktu itu menjadi perhatian banyak peneliti: lampu pijar. Edison menyadari betapa pentingnya sumber cahaya semacam itu bagi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu Edison mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya, serta menghabiskan uang sebanyak 40.000 dollar dalam kurun waktu dua tahun untuk percobaan membuat lampu pijar. Persoalannya ialah bagaimana menemukan bahan yg bisa berpijar ketika dialiri arus listrik tetapi tidak terbakar. Total ada sekitar 6000 bahan yang dicobanya. Melalui usaha keras Edison, akhirnya pada tanggal 21 Oktober 1879 lahirlah lampu pijar listrik pertama yang mampu menyala selama 40 jam.

 

Masih banyak lagi hasil penemuan Edison yang bermanfaat. Secara keseluruhan Edison telah menghasilkan 1.039 hak paten. Penemuannya yang jarang disebutkan antara lain : telegraf cetak, pulpen elektrik, proses penambangan magnetik, torpedo listrik, karet sintetis, baterai alkaline, pengaduk semen, mikrofon,  transmiter telepon karbon dan proyektor gambar bergerak.

 

Thomas Edison juga berjasa dalam bidang perfilman. Ia menggabungkan film fotografi yang telah dikembangkan George Eastman menjadi industri film yang menghasilkan jutaan dolar seperti saat ini. Dia pun membuat Black Maria, suatu studio film bergerak yang dibangun pada jalur berputar.

 

Melewati tahun 1920-an kesehatannya kian memburuk dan beliau meninggal dunia pada tanggal 18 Oktober 1931 pada usia 84 tahun.


Columbus “Penemu yang Kehilangan Nama”

17 November 2008

COLUMBUS, mungkin orang terkenal yang paling sial sedunia. Bayangkan, tak ada satu pun sejarawan dunia yang bisa mereka secara pasti, bagaimana rupa penjelajah terkenal ini. Tak heran jika akhirnya, untuk urusan wajah saja, ada 71 versi, yang hampir kesemuanya berbeda. Padahal, seharusnya kesemerawutan wajah itu tak perlu terjadi, seandainya para sejarawan mau mendengarkan tuturan Hernando, anak lelaki Columbus.

“Sang admiral adalah pria bertubuh tegap, di atas ukuran rata-rata, berwajah panjang dengan bertulang pipi tinggi. Tubuhnya tak bisa dikatakan gendut, juta tak ramping. Hidungnya bengkok, bak paruh rajawali, berkulit terang, cenderung memerah. Waktu muda rambutnya pirang, tapi saat menginjak 30 tahun, semua berubah putih,” tulisnya, tentang biografi ayahnya.

Sumber lain, buku Historia de las Indias karya Bertolome de las Casas, memberikan deskripsi senada. Juga buku Gonalo Fernande de Oveido, Historia general y’natural de las Indias. Kedua sejarawan Spanyol itu hanya menambahkan jambang dan bintik merah di sekitar wajah.

Maka, aneh jika akhirnya, hampir semua lukisan Columbus, berbeda. Laransky (1984) menggambarkan wajah yang murung, tak ramah. Stimmer (1574) menggambarkan wajah yang bulat, dengan rambut yang berpilin seperti hakim Inggris. Sedangkan De Bry (1595) justru menampilkan wajah yang agak bersifat feminin, dengan pipi yang tampak tembam. Gullick menafsirkan Columbus sebagai sosok yang setengah botak dengan tubuh kegemukan. Hanya Laransky pada 1984 yang mengambarkan sosoknya sebagai pelaut, gemuk, gondrong, lengkap dengan topi nahkoda.

Ada apa di balik keberbedaan itu?

Ternyata, selama hidupnya, Columbus tak pernah meminta melukis wajahnya. Para sahabatnya pun tak ada yang meminta ia dilukis. Hal ini menunjukkan, kata sastrawan Amerika abad 18 Washington Irwing, Columbus bukanlah orang yang terkenal di zamannya. Dia bahkan berpendapat, keluarga Columbus lebih memilih membelanjakan uangnya untuk hal lain daripada melukis pelaut ini.

Apakah Columbus miskin? Ya, jika kita melihat pengakuan anaknya, Hernando.

“Kami merupakan keluarga terhormat yang menjadi miskin akibat faksi-faksi dalam dinasti Lombardy,” jelasnya.

Tapi banyak sejarawan yang meragukan penjelasan Hernando, terutama soal asal usul ayahnya. Ini karena, begitu banyak versi yang mewarnai sejarah si penemu benua Amerika ini. Hampir semua klan Colombo di Italia, Colon di Spanyol, Colom di Portugal, dan Coullon di Prancis, mengklaim trah Columbus. Maka, cerita pun berkembang berdasarkan versi masing-masing klan itu. Lahirlah mitos baru, dari pelaut yang gagah, kaya, tampan, gemuk, sampai tokoh mistis yang memiliki berbagai keajaiban. Ini memang proses yang wajar.

“Tertipu” Americo Verpucci

Kemungkinan, Columbus lahir di Genoa, ibukota Italia Riviera, 1451. Kota di sisi laut itu membuat pergaulannya meluas sampai pada para penjelajah dan nahkoda dari berbagai bangsa. Dan dari cerita-cerita para pelayar, naluri bertualangnya bangkit.

Pelayaran pertamanya, hanya ke Chios, koloni Genoa. Ia pun masih bekerja pada toko kelontong ayahnya di Savona. Yang membuat naluri bertualangnya muncul adalah saat berlayar ke Prancis, setelah acap berlabuh di Chios.

Banyak yang mengaitkan, naluri berlayarnya muncul karena seruan Paus untuk merebut kota Konstatinovel dan Yerusalem, yang berhasil diduduki tentara muslim. Columbus terbakar, dan bermaksud memberikan wilayah jajahan baru bagi Genoa, setelah kehilangan Turki.

Ahli filologi Spanyol Ramon Menende Pidal yakin Columbus tak pandai berbahasa Spanyol Italia atau Ibrani-Spanyol. Tulisan perjalanan Columbus membuktikan hal itu, dia hanya tahu bahasa Italia dialek Genoa, yang jauh dari struktur resmi baku bahasa Italia. Ini kian menunjukkan, kemungkinan lain, Columbus bahkan buta huruf saat memulai penjelajahannya.

Lalu, bagaimana dia bisa menemukan Amerika?

5 Agustus 1498, Columbus memang menemukan Amerika, yang pertama kali. Kala itu, saat melihat sebuah sungai yang besar, Columbus berkata, “Ini bukan pulau. Mustahil ada sebuah pulau yang mampu menampung air untuk sungia sebesar ini (yang ia bisa layari -red). Ini pasti sebuah benua.” Tulisan dalam jurnal harian itu juga menunjukkan keyakinan Columbus, benua itu belum pernah dijejaki kaki orang Eropa. Dan dia benar.

Tapi, kesialan memang melanda pelaut ini. Sebagai penemu pertama, benua baru itu justru dinamai Amerika, mengikuti nama seorang penjelajah, Americos Verpucci. Dan hal ini menimbulkan perdebatan yang klasik. Sampai muncul versi, Americus memang penemu pertama sebelum Columbus.

Pengadilan di Boston, 1697, pernah memutuskan, benua baru itu seharusnya memakai nama Culumbia, nama yang juga diusulkan saat Revolusi Amerika bergejolak. Dan tahun 1777, sejarawan William Robertson menjelaskan Verpucci sebagai penipu. “Amerika membawa nama seorang penipu,” kecamnya.

Untuk kasus ini, Verpucci tak sepenuhnya salah. Dia memang yang menyadari pertama kali, daratan itu sebuah benua. Columbus yakin itu masih terusan dari benua Asia. Tapi, tampaknya, masalah nama itu termasuk “bayaran” Columbus pada Vespucci.

Sejarawan Consuelo Varela mengatakan Vespucci amat berjasa “menghilangkan” sejumlah utang besar Columbus. Bahkan, setelah penjelajah ini mati, dialah yang membiayai kebutuhan keluarga Columbus. Ia pula, yang disinyalir banyak sejarawan, ikut membiayai pelayaran ke benua baru itu.

Namun, yang paling mungkin kenapa “kecelakaan” sejarah itu terjadi adalah karena Vespucci menuliskan semua pandangannya tentang benua baru itu secara lebih detil daripada Columbus, dengan segala eksotismenya, yang mirip daya khayal romantisme Eropa. Dia juga menuturkan detil perjalanan penjelajahan itu, yang meragukan banyak orang, karena dia tak ahli di bidang itu. Bisa jadi, penjelasan penjelajahan itu merupakan “manuskrif” Columbus. Namun, terbitan Verpucci memang populer. Dan, benua baru itu memakai namanya setelah Basin de Sandacourt dan Mathias Ringmann menerbitkan peta dunia, 1507. Mereka, saat menggambarkan benua baru itu, menulis: Benua ke empat telah ditemukan Amerigo Vespucci, dan tak ada alasan lagi, benua baru itu harus dinamakan Tanah Americus, atau Amerika….”

Dan sejarah kemudian mengabadikannya.


Chairil Anwar “Potret Lusuh Seorang Sastrawan”

17 November 2008

DI SEBUAH senja, 1943, seorang lelaki bermata merah, ceking dan lusuh, berjalan di antara gerbong-gerbong tua di Stasiun Senen. Matanya menerawang, sebelum langkahnya terhenti di gubuk reot mesum. Dihampirinya perempuan hamil penunggu gubuk itu, di rebahkannya tubuh ringkih itu di pangkuan si perempuan, matanya tetap menerawang.

Perempuan itu, Marsiti, segera membukai baju si lelaki, memijat punggungnya, dan mereka bermesraan sesaat. Kemudian lelaki itu kembali tenggelam dalam bacaannya, buku puisi Marsman, yang dia curi entah dari mana.

Lelaki itu adalah Chairil Anwar, yang jika gundah pasti mendatangi Marsiti, entah itu untuk bermesraan, mencari makan, atau memamerkan beberapa puisi baru yang telah dia ciptakan atau terjemahkan.

 

Chairil memang sosok yang jalang. Pelacuran, minuman keras, pencurian buku kecil-kecilan, tapi juga kekacauan perang, selalu dia masuki. Semua itu, bagi dia, adalah dunia kacau yang selalu memberi inspirasi. Tak heran jika di kepala dia hanya ada satu kata; sastra. Akibatnya, secara ekonomi Chairil tak pernah mandiri.

Ketakmandirian inilah yang justru membuat Chairil punya banyak teman.

 

“Kadang dia datang menyerahkan sebuah puisi, dan langsung meminta honorariumnya. Dia selalu yakin puisinya pasti kami muat,” kenang Kodrat, redaktur Pustaka Jaya.

 

Di mata Ida Rosihan Anwar, sosok Chairil selalu menyebalkan.

“Ia selalu kelaparan, minta uang, dan makan di sana-sini,” kenangnya. “Tapi anehnya, dia selalu diterima semua kawan, dan jika dia tak datang, banyak yang merasa kehilangan,” tambah Ida, dalam acara “50 Tahun Wafatnya Chairil Anwar” di Taman Ismail Marzuki, 1999 lalu.

 

“Jika tiga hari dia tidak datang, kami semua kehilangan. Tapi jika dia datang, jatah makan kami pun berkurang. Dia sosok yang menjemukan, sekaligus dirindukan. Bicara dengannya, saya selalu merasa kecil,” kenang Sobron Aidit, dalam situs pribadinya.

 

Keusilan Chairil memang banyak menebar kenangan. Chairil pernah meminta puisi Sobron untuk dimuat, dan saat dimuat, honornya tak pernah dia terima. “Waktu saya tanya, dengan senyum Chairil bilang, ‘Soto yang kau makan lahap kemarin itulah honormu’. Saya selalu ingat gaya tenangnya jika ketahuan menipu,” tambah Sobron.

 

Berpihak pada Ibu

Chairil lahir di Medan, 26 Juli 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Orang tuanya bercerai, dan ayahnya kawin lagi. Setelah perceraian itu, saat usai SMA, Chairil ikut ibunya ke Jakarta. 

Masa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Kedekatan ini begitu berkesan bagi Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

 

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta//

 

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda keberpihakan akan nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acap kehilangan sosoknya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada sang ibu.

Sejak kecil, semangat Chairil terkenal liat. Jassin punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dia dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu karena kami bertanding di depan para gadis.”

 

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang-lah, Hapsah, Chairil menikah.

 

Pernikahan itu tak berumur panjang. Karena kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah mengajukan cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

 

Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

 

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusastraan Indonesia. Dia bahkan menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersetengah-setengah di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999,

“SAYA minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”


ARISTOTELES

17 November 2008

Aristoteles lahir tahun 384 S.M. di Stagyra di daerah Thrakia, Yunani Utara. Delapan belas tahun kemudian ia masuk Akademia di Athena dan sampai 347 S.M. menjadi murid Plato. Pada 342 S.M. ia diangkat menjadi pendidik Iskandar Agung muda di kerajaan Raja Philippus dari Makedonia. Tahun 335 ia kembali ke Athena dan mendirikan sekolah yang namanya Lykaion, nama salah satu gelar dewa Apolo. Karena caranya mengajar dan caranya bertukar pikiran dengan kelompok-kelompok kecil, berlangsung sambil berjalan-jalan, maka sekolahnya dijuluki juga peripatetik, yang sebenarnya adalah pusat penelitian ilmiah. Tahun 332, setelah kematian Iskandar Agung, ia harus melarikan diri dari Athena karena ia, seperti Sokrates 80 tahun sebelumnya, dituduh menyebarkan ateisme. Ia meninggal tahun 322 S.M.

Meskipun 20 tahun menjadi murid Plato, Aristoteles menolak ajaran Plato tentang idea. Menurutnya, tidak ada idea-idea abadi. Apa yang dipahami Plato sebagai idea sesungguhnya adalah bentuk abstrak yang tertanam dalam realitas inderawi sendiri. Dari realitas inderawi konkret, akal budi manusia mengabstraksikan paham-paham abstrak yang bersifat umum. Begitu, misalnya, akal budi mengabstraksikan paham “orang” atau “manusia” dari orang-orang konkret-nyata yang kita lihat, yang masing-masing berbeda satu sama lain. Akal budi mampu untuk melihat bahwa si Azis, si Tuti, Profesor Aleksander, dan Ibu Meli sama-sama manusia, manusia dalam arti yang sepenuhnya, sepenuhnya manusia. Menurut Aristoteles, ajaran Plato tentang idea-idea merupakan interpretasi salah terhadap kenyataan bahwa manusia dapat membentuk konsep-konsep universal tentang hal-hal yang empiris. Untuk menjelaskan kemampuan itu tidak perlu menerima alam idea-idea abadi. Aristtoteles menjelaskannya dengan kemampuan akal budi manusia untuk membuat abstraksi, untuk mengangkat bentuk-bentuk universal dari realitas empiris individual. Pendekatan Aristoteles adalah empiris. Ia bertolak dari realitas nyata inderawi. Itulah sebabnya ia begitu mementingkan penelitian di alam dan mendukung pengembangan ilmu-ilmu spesial.

Begitu pula, Aristoteles menolak paham Plato tentang idea Yang Ilahi, dan bahwa hidup yang baik tercapai dengan kontemplasi atau penyatuan dengan idea yang ilahi itu. Menurut Aristoteles, paham Yang Ilahi itu sedikitpun tidak membantu seorang tukang untuk mengetahui bagaimana ia harus bekerja dengan baik, atau seorang negarawan untuk mengetahui bagaimana ia harus memimpin negaranya. Jadi, tidak ada gunanya. Apa yang membuat kehidupan menusia menjadi bermutu harus dicari dengan bertolak dari realitas manusia sendiri, harus mulai dengan suatu pengamatan.

Salah satu pengantar dan prasyarat filsafat pengetahuan yang dihargai dan dikembangkan Aristoteles ialah logika. Logika dimengerti sebagai kerangka atau peralatan teknis yang diperlukan menusia supaya penalarannya berjalan dengan tepat. Dasar logika Aristoteles adalah uraian keputusan yang kita temukan dalam bahasa “the analysis of the judgement as found and expressed in human language”. Uraian keputusan itu mencakup penegasan – pemungkiran – universal – partikular dan beberapa pertanyaan berikut ini. Bagaimana dan mengapa subjek dan predikat boleh atau tidak boleh, dan mengapa demikian? Manakah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar serangkaian proposisi secara sah dan tepat memungkinkan suatu kesimpulan baru ditarik? Seluruh logika tradisional Aristoteles itu mempunyai keistimewaan ganda. Di satu pihak, berasal dari pengamatan yang teliti tentang susunan bahasa (Yunani). Di lain pihak sekaligus mengangkat unsur-unsur keniscayaan (necessity) dalam uraian bahasa itu. Dalam bahasa modern dapat dikatakan bahwa dalam logikanya, Aristoteles menggabungkan unsur empiris-induktif dan rasional-deduktif. Selain itu dalam Topyka, karyanya dalam bidang logika, ia merintis penyelidikan tentang cara kerja ilmu-ilmu empiris dalam mencari hukum-hukum universal berdasarkan pengamatan.

Selain uraian mengenai teknik pengembangan pengetahuan dalam logika, Aristoteles berjasa juga dalam usahanya untuk menggambarkan tahapan-tahapan kemajuan pengetahuan manusia.  

Sokrates mulai dari pengetahuan inderawi yang selalu partikular. Kemudian melalui abstraksi menuju pengetahuan akal budi yang bercirikan universal. Dalam hal filsafat pengetahuan, Aristoteles merupakan kebalikan dari filsafat pengetahuan Plato. Dasar filsafat pengetahuan Aristoteles bukanlah intuisi melainkan abstraksi.

Titik pangkalnya filsafat manusia Aristoteles adalah manusia sebagai subjek pengetahuan. Aristoteles menentang dualisme Plato tentang manusia. Sebenarnya bukan hanya pandangan Plato mengenai manusia yang ditentangnya, ia mengembangkan juga apa yang dinamakan “hylemorfisme”. Artinya, ia beranggapan bahwa apa saja yang kita jumpai di bumi kita ini secara terpadu merupakan pengejawantahan material (“hyle”) sana-sini dari bentuk-bentuk (“morphe”) yang sama. Umpamanya, pohon cemara, sapi, manusia. Dengan demikian pertentangan-pertentangan “klasik” dari masa pra-Sokrates dipecahkan Aristoteles dengan membedakan maupun menegaskan kesatuan unsur materi dan bentuk dalam setiap makhluk (sekaligus “materialized form” dan “formed matter”). Dengan demikian ia berusaha menerangkan banyaknya individu yang berbeda-beda, dalam satu “jenis” (“spesies”). “Bentuk” (“morphe”, “form”) dianggapnya sebagai yang memberi “aktualitas” pada individu yang bersangkutan. Sedangkan “materi” (“Hyle”, “matter”) seakan-akan menyediakan “kemungkinan” (Yunani: “dynamis”, Latin: “potentia”) untuk pengejawantahan bentuk dalam setiap individu dengan cara yang berbeda-beda. Bentuk dalam hal makhluk hidup diberi nama “jiwa” (Yunani: “psyche”, Latin: “anima”, yang berlaku sama saja untuk tetumbuhan, hewan dan manusia. Hanya jiwa manusia yang mempunyai kedudukan istimewa, karena manusia berkat jiwanya yang khas itu tidak hanya sanggup “mengamati” dunia di sekitar secara inderawi, tetapi sanggup juga “mengerti” dunia maupun dirinya. Di samping itu adalah karena jiwa manusia dilengkapi “nous” (Latin: “ratio” atau “intellectus”) yang menerima, dan malahan mengucapkan “logos” (sabda, pengertian) yang pada gilirannya menjelma dalam sabda-sabda “jasmani” yang diberi nama bahasa.

“Nous” atau akal budi merupakan bagian paling mulia dalam diri manusia. Tak mengherankan kalau sesuai dengan keyakinan itu, unsur-unsur filsafat ketuhanan yang kita temukan dalam karya Arsitoteles, bertitik pangkal pada uraian kemampuan akal budi itu. Namun, berbeda dari kontemplasi terhadap idea-idea gaya Plato, Aristoteles dalam hal ini juga mencari dasar uraiannya dalam pengamatan inderawi di dunia yang berubah-ubah ini. Umpamanya pengamatan mengenai gejala adanya gerak-gerak fisik saja. Secara spontan kita mencari penggeraknya, yang pada giliranya tidak bebas dari gerak (dan perubahan) juga. Mungkin kita bisa maju sampai sederetan besar gerak dan penggerak. Hampir-hampir tanpa ada habisnya (deretan tak berhingga). Lambat laun muncullah keyakinan dalam diri manusia pengamat bahwa deretan macam itu belum memuaskan keinginannya untuk mengetahui dan terutama untuk mengerti. Sadarlah manusia bahwa ia “harus berhenti” dalam penyelidikan terhadap mata rantai berikutnya dan berikutnya lagi dan lagi. Ia merasa perlu memandang rantai, rangkaian atau deretan itu sebagai deretan. Dari manakah adanya deretan yang tak berhingga itu? Menurut Aristoteles, “nous” pada lapisan atau tahapnya yang tertinggi memahami bahwa kemampuannya untuk menatap deretan itu sebagai deretan, yang mengandung kemampuannya untuk menegaskan adanya “yang menggerak tanpa digerakkan sendiri” (“motor immobilis”). Keyakinan itu dihasilkan “nous” bukan sebagai “nous pathetikos” (“intellectus passivus” atau “possibilis”) yang terutama dipengaruhi oleh kesan-kesan inderawi, melainkan sebagai “nous poietikos” (“intellectus agens”) yang ikut menentukan isi pemahamannya secara aktif, karena suatu “daya pencipta” yang ternyatalah termuat di dalamnya. Jalan pikiran Aristoteles itu diterapkan Thomas Aquinas dalam “panca marga”-nya (“quinque viae”) guna menyatakan adanya Tuhan berdasarkan pengalaman dan penalaran filosofis.

Cukup banyak uraian terdalam Aristoteles ditemukan dalam karyanya yang diberi judul Metafisika. Asas-asas terdalam yang digarap filsafat mengenai berbagai gejala, digarapnya dalam karya itu. Malahan judul (bukan dari Aristoteles sendiri) dari buku itu – yang berarti “sesudah fisika” – telah menjadi nama dari cabang filsafat yang sampai sekarang disebut metafisika. Buku Fisika karya Aristoteles memuat cara pendekatannya pada gejala-gejala alam guna dipelajari dari sudut filsafat.  

dipelajari dari sudut filsafat. Misalnya, mengenai gejala perubahan di mana Aristoteles memakai lagi kedua istilah “kemungkinan” (Yunani: “dynamis”, Latin: “potentia”) dan aktualitas (Latin: “actus”), yang sudah disinggung di atas ini, sehubungan dengan susunan individu sebagai anggota dari suatu “jenis” atau “spesies”. Maka dari itu, dalam wilayah tinjauan terhadap pertentangan antara “tetap” (Parmenides) dan “berubah-ubah” (Herakleitos), Arsitoteles berusaha mengatasi masalahnya dengan menekankan kesatuan dasar antara kedua gejala itu. Baik di dalam karya Parmenides maupun Herakleitos sama-sama termuat uraian termasyur mengenai apa itu waktu. Kontinuitas maupun “keterpecahan” atau “ketersebaran” yang menjadi ciri waktu dianalisis oleh Aristoteles.

Masih ada satu bidang lain dari filsafat Aristoteles yang amat mempengaruhi filsafat seterusnya, yakni etika, dan sebagai lanjutannya filsafat negara. Etika Aristoteles bertitik pangkal pada kenyataan bahwa manusia hendak mengejar kebahagiaan (“eudaimonia”). Sarana-sarana dan upaya-upaya yang dipilih manusia, dinilai berdasarkan tujuan tersebut. Kebahagiaan itu menyangkut manusia jiwa-raga sebagai anggota masyarakat, karena manusia ialah makhluk yang “hidup ber-polis” (polis: kota sebagai kesatuan negara pada masa Yunani kuno, sudah lama sebelum Aristoteles). Manusia ialah “zoon politikon”. Ciri manusia sebagai makhluk hidup adalah hidup dalam polis, maka Aristoteles sangat menekankan sosialitas manusia. Masyarakat dalam bentuk negara itu dilihat Aristoteles sebagai suatu lembaga kodrati (“natural institution”), yaitu bukan berdasarkan persetujuan (“convention”) saja seperti diajar oleh para sofis dan skeptikus pada masa itu. Dengan demikian semua warganegara wajib takluk pada negara, kepada para pemimpin dan kepada undang-undang. Dalam filsafatnya, Aristoteles mempunyai kecenderungan ke arah suatu totalitarisme negara. Negara itu di atas keluarga dan negara pun menyelenggarakan pendidikan. Pemimpin negara dapat dibentuk menurut beberapa pola berdasarkan pengamatan dan data-data yang diperoleh Aristoteles, antara lain melalui para muridnya. Monarki ialah cara pemerintahan di bawah satu (“monos”) orang saja, yang dapat merosot menjadi tirani. Aristokrasi merupakan cara pemerintahan di bawah sekelompok orang yang dinilai sebaik yang terbaik (“aristoi”), dan dapat merosot menjadi oligarki (dikuasai oleh “segerombolan” orang yang bersekongkol). Demokrasi yang diberi juga nama “politeia” berada di bawah kuasa rakyat (“demos”), yang dapat merosot menjadi anarki (tanpa “arkhe” atau asas). Aristoteles tidak memilih salah satu dari ketiga bentuk dasar itu. Ia juga tidak suka memakai perbandingan dengan susunan manusia seperti Plato.

Meskipun tidak akan diuraikan panjang lebar, pengaruh filsafat keindahan dan estetika Aristoteles perlu disinggung di sini. Anggapan Aristoteles mengenai “katharsis” (pemurnian) yang terjadi dalam diri para penonton drama, merupakan suatu tinjauan atas apa yang ternyata berlangsung, lalu diusahakan agar diberi terang teoretis atas peristiwa yang telah diamati itu.

Akhirnya, dalam segala cabang filsafat yang sudah secara singkat kita tinjau, Aristoteles bertitik tolak pada apa yang diamati dalam hidup manusia dan hidup masyarakat. Katakanlah dari perbuatan-perbuatan dan tingkah laku mereka. Artinya dari “praxis” yang nyata, berdasarkan data-data yang banyak itu, ia berusaha maju sampai pada suatu “theoria” yang meliputi segala data pengamatan itu. Kemudian teori tersebut mudah-mudahan dapat menyediakan suatu “terang teoretis” atas data-data itu sedemikian rupa sehingga karena teori itu praksis tadi lebih masuk akal dan malahan mungkin untuk seterusnya dapat direncanakan dengan lebih teratur dan lebih sempurna. Demikianlah “perjalanan mondar-mandir” mengenai logika Aristoteles. Berkat Aristoteles kedua kata Yunani, praksis atau praktek dan teori telah menjadi milik ratusan bahasa di permukaan bumi. Dan, latar belakang pikirannya pun meresap.

Akhirnya patut dicatat bahwa Aristoteles berbeda dari Plato. Ia menjadi perintis pemeriksaan dalam ilmu-ilmu alam, termasuk ilmu hayat. Banyak hasil penelitian dan pengamatannya tampak ditegaskan kembali oleh pemeriksaan-pemeriksaan pada abad ke-20.


Alexander Fleming “Penemu Penicilin”

17 November 2008

Alexander Fleming lahir pada tanggal 6 Agustus 1881 di rumah terpencil di daerah pertanian Lochfield dekat Darvel di kota Ayrshire Skotlandia. Ketika berusia tiga belas tahun, ia meninggalkan daerah terbuka Skotlandia dan memasuki London. Ia diajak kakaknya untuk melanjutkan sekolah di London. Alexander belajar di Politeknik Regent Street, tempat yang menyediakan kelas-kelas dengan bayaran rendah untuk orang-orang yang ingin belajar. Ketika berusia enam belas tahun itu, Alexander telah lulus ujian, tetapi ia tidak punya bayangan pekerjaan apakah yang sebenarnya diinginkannnya.

Begitu ada tawaran pekerjaan dari perusahaan pelayaran America Line, Alexander menerimanya. Pekerjaannya adalah menyalin dokumen dengan tangan, mencatat keuangan, dan perincian-perincian penumpang dan barang muatan. Ia bekerja sangat hati-hati, namun ia merasa pekerjaannya sangat menjemukan.

Pada 1901 hal yang tak terduga datang pada Alexander. Seorang pamannya wafat dan meninggalkan warisan untuk setiap anak dalam keluarga Fleming. Akhirnya, dengan usulan sang kakak, Alexander pada Oktober 1901 bersekolah di sekolah kedokteran Rumah Sakit St. Mary.

Berbeda dengan pekerjaannya dulu, sekarang ia harus menyelidiki struktur tubuh manusia, jaringan, dan organ-organnya sampai detail yang sekecil-kecilnya. Ia membedah bisul dan abses (sekumpulan nanah yang merupakan tumpukan bakteri), menjahit dan membalut luka, mencabut gigi, dan mebidai tulang patah. Namun, hanya sedikit dokter yang dapat mengobati kebanyakan penyakit yang mengisi rumah sakit-rumah sakit pada abad itu sebelum ditemukannya penisilin.

Pada Juli 1906 sesaat sebelum hari ulang tahunnya yang kedua puluh lima, ia lulus ujian akhir kedokterannya. Ia menjadi dokter yang berkualifikasi. Dengan mengambil spesialisasi ahli bedah, pada 1909 ia mengikuti ujian kedokterannya untuk menjadi ahli bedah. Akan tetapi, ia terpengaruh oleh seorang dosennya yang bernama Almroth Wright, seorang profesor patologi dan bakteriologi, yang meneliti infeksi luka karena bakteri, penyakit kolera, tifus, dan disentri. Alexander bekerja sama dengan Almort di rumah sakit St. Mary. Kesetiannya pada pekerjaannya, menyebabkan Alexander memiliki reputasi sebagai seorang ahli pada bidang pengobatan dengan vaksin. Ia juga membuat dirinya terkenal dalam satu bidang khusus. Ia telah mengembangkan suatu uji yang jauh lebih baik, menggunakan hanya satu atau dua tetes darah untuk penyakit yang mengerikan, yaitu sifilis.

Penyakit ini mematikan. Bila tak diobati, penyakit ini akan menghancurkan tubuh perlahan-lahan selama bertahun-tahun dan dapat diturunkan dari seorang ibu kepada anaknya yang belum lahir. Dokter dapat mendeteksi bakteri tersebut di dalam darah. Jadi, uji yang telah diperbaiki oleh Alexander sangat penting dan banyak pasien yang datang kepadanya untuk itu.

Pada Februari 1929 Alexander menemukan dan membuat laporan mengenai penisilin. Secara tidak sengaja, ia menumpahkan jamur yang ia bawa kepada cawan yang berisi streptococcus yang sedang diteliti oleh rekan kerjanya ketika bakteri itu akan dibuang. Alhasil, betapa terkejutnya Alec ketika jamur itu menutupi dan menetralkan streptococcus. Akhirnya, dengan tekun ia mencari terus apa gerangan yang ada pada jamur itu. Ilmuwan lain yang ahli soal jamur mengatakan kepadanya bahwa jamurnya itu adalah salah satu kelompok dari kelompok penicillium dan Alec mulai menggunakan nama “penisilin” bagi senyawa pembunuh bakterinya.

Ia menolong Harry Lambert dengan hasil penemuannya (penisilin), yang kemudian membuat Alexander Fleming menjadi begitu terkenal. Sampai sekarang  Alexander tetap dikenang sebagi penemu penisilin, obat mujarab untuk mencegah infeksi. Ia wafat pada 11 Maret 1955 karena serangan jantung.