Menjadi Manusia Unggul

12 Mei 2009

oleh: Drs. Nasukha, MSc

Peneliti di Institute for Science and Technology Studies (ISTECS)


Belakangan, istilah unggul, walaupun barangkali seringkali subjektif sesuai dengan kriteria para penggagasnya, tengah ngetrend di kalangan masyarakat. Apakah itu berupa Riset Unggulan Terpadu (RUT), Riset Unggulan Terpadu Internasional (RUTI), Sekolah Unggulan, ataupun bibit unggul.

Namun, kalau kita mau lebih mencermati, dalam setiap penggunaan kata ‘unggul’ itu, selalu terselip makna ’seleksi’ dan ‘kompetisi‘. Misalnya, untuk bisa masuk ke SMU Unggulan, tentunya seorang siswa harus memiliki NEM SLTP yang tinggi. Demikian juga untuk bisa terpilih dalam 10 besar RUTI atau diterima dalam program RUT, maka peneliti harus berkompetisi dengan semua proposal yang masuk. Artinya, sesuatu yang dianggap unggul harus telah melalui suatu proses ’seleksi’, ‘kompetisi’ dan tahapan dengan kriteria-kriteria yang terukur. Karena tanpa hal itu, yang ada adalah ‘rekayasa’, ‘pemaksaan’ dan segala tindak unfair lainnya.

Hakikat unggul dan unggulan adalah sebuah ‘proses‘. Adalah sesuatu yang harus dijalani dan diikuti. Bukan sesuatu yang given jatuh dari langit atau diperoleh dengan cara by passing (tiba-tiba). Hal inilah yang melandasi Michael Hart dalam bukunya Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah memilih dan mengakui bahwa generasi sahabat Rasulullah Saw adalah generasi terbaik yang Baca entri selengkapnya »


Sabar Itu Indah

28 Januari 2009

Manusia seringkali berlaku egois. Ketika menginginkan rindu sesuatu, ia berdoa habis-habisan dan berupaya sungguh-sungguh demi tercapainya segala yang dirindukan. Tatkala berhasil, serta-merta ia pun melupakan Allah. Bahkan ia menganggap bahwa keberhasilan itu adalah hasil jerih payah dirinya sendiri.

Sebaliknya, bila kegagalan menimpa, ia sering kecewa karenanya. Terkadang ia berburuk sangka kepada Allah dan menimpakan kekecewaannya itu kepada siapa saja yang dianggap biang penyebab kegagalan tersebut. Padahal, rasa kecewa, sedih, dan kesal itu lahir karena manusia terlalu berharap bahwa kehendak Allah harus selalu cocok dengan keinginannya.

Jelas dari kedua sikap tersebut ada sesuatu yang terlewatkan. Yaitu sikap sabar, tawakal, dan syukur nikmat. Karenanya, beruntunglah orang yang memiliki sikap sabar ketika Baca entri selengkapnya »


Jejak Berdarah Pasukan Salib

8 Januari 2009

oleh: Hepi Andi

Jika imperium Kristus di Asia Tenggara benar-benar berdiri, tak hanya akan memporak-porandakan keutuhan bangsa, tapi juga martabat kemanusiaan akan diinjak-injak. Jejak berdarah pasukan salib dalam sejarah, masih basah.

Di balik upaya AS memberangus gerakan Islam sebenarnya tersembunyi niat busuk teramat jahat; ingin mendirikan imperium Kristus di Asia Tenggara. Ambisi ini telah direncanakan sejak beberapa tahun silam. Berbagai bukti pun mulai terkuak, baik melalui penemuan dokumen rahasia maupun aksi yang mereka gelar.

Jika ambisi ini terwujud, sebenarnya, bukan umat Islam saja yang patut khawatir, tapi juga dunia. Sebab, jika komunitas ini berkuasa, ia tak hanya menghancurkan keutuhan suatu bangsa, tapi juga menginjak-injak martabat masyarakatnya, tanpa pandang bulu. Slogan kasih yang mereka hembuskan hanyalah isapan jempol yang manis di bibir tapi pahit dirasakan.

Ketika Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan Salib pada 15 Juli 1099, terjadilah keganasan luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Seorang ahli sejarah Perancis, Michaud menyebutkan, “Ketika orang Kristen menaklukkan Jerussalem pada 1099, kaum muslimin dibantai di jalan-jalan dan di rumah-rumah. Jerussalem tidak punya tempat lagi bagi mereka yang kalah. Beberapa orang berusaha mengelak dari kematian dengan cara mengendap-endap dari benteng, yang lain berkerumun di istana dan berbagai menara untuk mencari perlindungan terutama di masjid-masjid. Namun, mereka tetap tidak bisa menyembunyikan diri dari kejaran orang-orang Kristen itu.”

Aksi pembantaian hanya berhenti beberapa saat, yakni ketika pasukan Salib berkumpul untuk merayakan upacara kemenangan mereka. Setelah upacara itu selesai, pembantaian diteruskan lebih ganas lagi. Michaud melanjutkan, “Orang-orang Islam dipaksa terjun dari puncak menara dan bumbung-bumbung rumah. Mereka dibakar hidup-hidup, diseret dari tempat persembunyian bawah tanah, dan digantung di tiang gantungan.”

Jejak berdarah pasukan Salib di Bosnia pada 1992 pun masih basah dalam ingatkan kita. Kaum muslimin, khususnya para ulama dibantai di depan keluarga mereka sendiri oleh pasukan Serbia. Seperti ditulis Muhammad Abdul Mun’im dalam karyanya al-Bushna wal Hersik Ummah Tudzbah wa Syu’ab Yubaa’, para pemuda muslim ditelanjangi. Jika mereka diketahui dikhitan berarti muslim, yang harus dibinasakan. Tempat tinggal kaum muslimin dimusnahkan. Tak boleh ada atap yang tersisa. Kaum muslimin yang masih bertahan hidup dipaksa menyingkir, bukan untuk mengungsi, tapi pergi selama-lamanya. Di beberapa tempat, pasukan ganas Serbia menunggu kaum muslimin yang tengah melaksanakan shalat di masjid. Mereka memaksa keluar dua orang muslim dan menyiksanya. Setelah itu pasukan Serbia segera memuntahkan isi senjatanya ke arah jamaah kaum muslimin yang tengah beribadah. Hari itu, ratusan kaum muslimin dibantai, syahid di tangan pasukan Serbia.

Di beberapa tempat lainnya, mereka mendirikan tenda-tenda dan menyekap para muslimah yang menjadi tawanan. Setelah dirusak kehormatannya, mereka dibunuh dengan keji dan tanpa welas asih. Para muslimah yang sedang hamil dibelah perutnya, lalu dibunuh seperti binatang.

Pembantaian di negeri kita sendiri tak kalah kejinya. Ketika tragedi Poso meletus pada 1998, ratusan muslim dibantai. Diceritakan, ketika pasukan Salib yang menamakan diri Kelelawar Hitam, berhasil menguasai Pesantren Wali Songo, puluhan warga dibariskan menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat. Ada yang tiga orang, lima, enam atau delapan orang. Tangan mereka diikat ke belakang satu sama lain dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah.

Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah itu berkelebat memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segar pun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh tidak berdosa itu bergelimpangan ke sungai.

Bersamaan dengan itu, air sungai Poso yang sebelumnya bening berubah warna menjadi merah darah. Sesaat tubuh orang-orang yang dibantai itu menggelepar meregang nyawa sambil mengikuti aliran sungai. Tidak semuanya meninggal seketika, masih ada yang bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. Namun, regu tembak siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan ranting, dahan, batang pisang, atau apapun untuk menyelamatkan diri.

Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian umat Islam di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga Pesantren Walisongo merupakan salah satu sasaran yang dibantai. Di komplek pesantren yang terletak di Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak kurang 300-an orang yang tinggal. Mulai dari ustadz, santri, pembina, dan istri pengajar serta anak-anaknya. Tak seorang pun tersisa. Sebagian besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan menyelamatkan diri. Bangunan yang ada dibakar dan diratakan dengan tanah.

Identitas para pembantai sudah sangat jelas. Mereka adalah orang-orang Kristen yang dikenal dengan Pasukan Kelalawar Hitam. Dalam aksinya mereka mengenakan pakaian serba hitam. Salib di dada dan ikat kepala merah. Mereka juga sering disebut degan Pasukan Merah.

Selain di Pesantren Walisongo, penyerangan dan pembantaian juga dilakukan di sejumlah tempat. Tercatat 16 desa yang penduduknya mayoritas Muslim kampungnya hancur dan terbakar. Dari arah selatan Poso, kerusakan hingga mencapai Tentena. Dari arah Timur hingga Malei, sari arah Barat hingga Tamborana.

Mengapa mereka begitu bersemangat untuk menguasai Indonesia? Menurut seorang penginjil dan sejarawan Kristen Dr Berkhof, Indonesia adalah daerah pekabaran Injil yang sudah ratusan tahun menguasai negeri bibit firman Tuhan. Misi Kristen di Indonesia telah mencapai banyak kesuksesan. Berkhof mengklaim, jumlah orang Kristen Protestan mencapai 13 juta lebih-di saat penduduk Indonesia berjumlah 150 juta jiwa (8,7 persen).

Pada akhir dekade 1990, saat penduduk Indonesia mencapai 200 juta jiwa, kaum Kristen Protestan malah mengklaim, jumlah mereka sudah mencapai 20 persen akibat sukesnya misi Kristen. Mereka menolak jika dikatakan jumlahnya hanya 5-6 persen. Seorang tokoh Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Dr AA Yewangoe mencatat dalam buku Gereja dan Reformasi, bahwa jumlah orang Kristen di Indonesia, sudah mencapai 16-17 persen. “Kalau lebih optimis 20 persen. Malah bisa lebih,” katanya.

Yewangoe menolak data resmi pemerintah yang menyebutkan bahwa jumlah orang Kristen hanya 5-6 persen. Padahal, berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (supas) yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat, bahwa dari 200 juta jiwa penduduk Indonesia persentase umat Islam adalah 87,3%. Sementara umat Kristen (Protestan) 6%, Katolik 3,6%, Hindu 1,8%, Budha 1%, serta lain-lain 0,3%.

Jadi, klaim bahwa umat Kristen sudah mencapai 20 persen (lebih) adalah klaim yang sangat berani. Kalau klaim mereka itu benar, berarti jumlah orang Kristen di Indonesia sudah mencapai 40 juta jiwa. Jumlah yang sangat besar! Anehnya, kaum Muslim menganggap sepi-sepi saja perkembangan mereka.

Padahal, bagi kaum Kristen, soal jumlah sangat penting. Mereka begitu sensitif dalam soal ini, sehingga melakukan gerakan pengusiran warga pendatang muslimin dari kantong-kantong Kristen, seperti Timtim, NTT, dan Maluku. Isu-isu anti transmigran Jawa di Irian Jaya sudah lama dihembuskan.

Saat jumlah kaum Kristen mencapai 50 persen atau lebih (Maluku, Irian Jaya, NTT, Timtim, Sulut), mereka akan memaksa kepala daerah orang seagama dengan mereka. Sedangkan kaum muslimin harus menuruti semua kehendak mereka.

Di daerah-daerah mayoritas Kristen tersebut, mereka menggunakan pedoman mayoritas-minoritas. Namun, pada level nasional, mereka menolak prinsip proporsionalitas berdasarkan asas mayoritas-minoritas. Mereka menuntut hak yang sama dengan mayoritas muslim, dan menolak data statistik resmi pemerintah.
Masih menurut Yewangoe, “Tetapi, memang persentase yang kecil itu dengan sengaja dikemukakan berulang-ulang agar kita dirasuki `sikap mental minoritas’. Sikap mental ini sangat berbahaya, apalagi kalau sudah memasuki generasi muda. Ini akan membawa mereka (dan kita sekalian) kepada minderwaardigheids complex (sifat rendah diri). Lalu terus-menerus menganggap diri warga negara kelas dua.” Karenanya, menurut Yewangoe, “Gereja-gereja harus tegas. Walaupun jumlah kita kurang dari orang lain, tidak berarti kita minoritas, lebih-lebih dalam proses pengambilan keputusan.”

Kaum Muslimin Indonesia hendaknya berhenti membanggakan kemayoritasannya, mengingat begitu besarnya “power” yang sudah digenggam kaum Kristen. Kalau kita lihat data dan fakta di atas, lalu kita hubungkan dengan berbagai temuan yang ada, nampaknya kita tengah menyaksikan jarum jam yang bergerak menuju berdirinya kerajaan besar bernama Imperium Kristus. Inilah proses yang sedang terjadi. Waspadalah!


Renungan Buat Istri

26 November 2008

Wahai sang Istri ….

Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang berseri, dihiasi senyum yang manis di saat dia masuk rumah.?

Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta mengecup pipinya.?!!

Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.!!!

Mungkin tidak akan menyulitkanmu, jika anda berkata kepada suami : “Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat datang kekasihku”.

Berdandanlah untuk suamimu -harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- pakailah parfum, dan bermake up-lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu.

Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut.

Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.

Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.

Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lembut, sehingga menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu.

Selalulah berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah setiap saat.

Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.

Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya.

Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir syeitan.

Hilangkanlah dari rumahmu gambar-gambar, alat-alat musik dan alat-alat yang bisa merusak agama.

Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk melakukan puasa sunat, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan jangan anda menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya.

Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah berfirman:”Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu” (Al-Ghafir : 60).

Diambil dari kitab ” Fiqh pergaulan suami istri ” oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi


Renungan Buat Suami

26 November 2008

Wahai sang suami ….

Apakah membebanimu wahai hamba Allah, untuk tersenyum di hadapan istrimu dikala anda masuk ketemu istri tercinta, agar anda meraih pahala dari Allah?!!

Apakah membebanimu untuk berwajah yang berseri-seri tatkala anda melihat anak dan istrimu?!!

Apakah menyulitkanmu wahai hamba Allah, untuk merangkul istrimu, mengecup pipinya serta bercumbu disaat anda menghampiri dirinya?!!

Apakah memberatkanmu untuk mengangkat sesuap nasi dan meletakkannya di mulut sang istri, agar anda mendapat pahala?!!

Apakah termasuk susah, kalau anda masuk rumah sambil mengucapkan salam dengan lengkap : “Assalamu`alaikum Warahmatullah Wabarakatuh” agar anda meraih 30 kebaikan?!!

Apa yang membebanimu, jika anda menuturkan untaian kata-kata yang baik yang disenangi kekasihmu, walaupun agak terpaksa, dan mengandung bohong yang dibolehkan?!!

Tanyalah keadaan istrimu di saat anda masuk rumah!!

Apakah memberatkanmu, jika anda menuturkan kepada istrimu di saat masuk rumah : “Duhai kekasihku, semenjak Kanda keluar dari sisimu, dari pagi sampai sekarang, serasa bagaikan setahun”.

Sesungguhnya, jika anda betul-betul mengharapkan pahala dari Allah walau anda letih dan lelah, anda mendekati sang istri tercinta dan menjimaknya, maka anda mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda :”Dan di air mani seseorang kalian ada sedekah”.

Apakah melelahkanmu wahai hamba Allah, jika anda berdoa dan berkata : Ya. Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya.

Ucapan yang baik adalah sedekah.
Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri adalah sedekah.
Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan.
Berjabat tangan mengugurkan dosa-dosa.
Berhubungan badan mendapatkan pahala.

Diambil dari kitab ” Fiqh pergaulan suami istri ” oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi


Bila Al-Qur’an bisa bicara

23 November 2008

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu’ aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa…
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku…
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah…
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu

Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya

Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa

Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan

Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian

Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu…pagi-pagi…surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau…..

Sekarang… pagi-pagi sambil minum kopi…engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu

Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

Waktupun cepat berlalu…aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ? Bila
engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan
diperiksa oleh para malaikat suruhanNya

Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu…
Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu…
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati…
Di kuburmu nanti….
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui

Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu…
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

Sentuhilah aku kembali…
Baca dan pelajari lagi aku….
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu….dulu sekali…
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos…
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri….
Dalam bisu dan sepi….
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.