Cinta Itu Luas…!

Cinta ibarat bisul. Kalau belum bucat alias pecah, belum terasa enak. Maka banyak orang berburu cinta. Tapi jangan salah paham, cinta itu nggak cuma ama lawan jenis aja, kok. Ada cinta lain yang kudu ditebarkan. Wajib malah!

Bulan Febuari tiba. Hampir di semua belahan dunia, Barat maupun Timur menyambutnya dengan suka cita. Ini bulan cinta. Warna merah jambu nangkring di mana-mana. Ia ada di kartu ucapan Valentine, boneka imut, baju, sampai casing ponsel. Warna-warna lain harap menyingkir. Kecuali merah-kuning-ijo yang emang dari dulu ada di traffic light (kebayang kalau diganti warna pink).

Febuari memang sudah dinobatkan sebagai hari “kesaktian” cinta. Di bulan ini juga banyak orang berburu cinta. Padahal seperti sering kita ulas, nggak ada hubungannya antara bulan Febuari dengan cinta. Adalah orang-orang Romawi yang merayakan tanggal 14 febuari sebagai festival Lupercalia untuk ngerayain kelahiran dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. And then, dengan latah kaum Nasrani ikutan ngerayainnya. Nggak lain untuk menarik simpati masyarakat Romawi supaya masuk agama mereka. Dan, berhasil! Malah, bukan cuma para pemuda-pemudi Romawi yang ikutan, yang ada di Indonesia juga jadi latah. Ikut-ikutan padahal kagak ngarti apa maksudnya. Pokoknya asyik dan seperti kata Nirina di MTV Getar Cinta, love banget! Padahal sih, haram banget!

Pahami cinta

Syukur deh kalau makin banyak remaja yang nyadar kalau Valentine’s Day emang udah basi. Kagak ada manfaatnya. Lagian, banyak orang yang salah dalam memahami cinta. Mereka nggak bisa ngebedain antara cinta dan nafsu. Ngakunya cinta padahal nafsu. Bilangnya cinta tapi malah suka ngegoda, kalau itu sih namanya nafsuin.

Ibnu Qayyim al-Jauziy yang ulama itu, ngasih penjelasan yang detil banget soal cinta. Kata beliau, cinta (dalam bahasa Arab al-mahabbah), pengertian dasarnya adalah bersih. Sebab bangsa Arab menggunakan istilah ini untuk menyebut gigi yang putih bersih. Lho kok kagak nyambung? Tenang dulu, baca aja terus. Ada juga yang bilang kalau kata al-mahabbah berasal dari akar kata al-habab, yakni air yang menguap karena hujan yang lebat. Sehingga al-mahabbah (cinta) itu bisa diartikan sebagai luapan perasaan saat dirundung kerinduan ingin bertemu kekasih. Oh,gitu.

Ada juga yang mengartikan al-mahabbah sebagai tenang dan teduh, seperti onta yang duduk tenang dan tidak mau bangun lagi setelah menderum. Jadi, seakan-akan orang yang sedang jatuh cinta itu merasa tenang, mantap dan tidak terlintas sedikit pun untuk beralih pada yang lain. Cieee!

Pengertian lain tentang cinta (al-mahabbah) adalah “bara api yang membakar hati, karena keinginan untuk bersama dengan orang yang dicintai”. Ada juga yang mengartikannya “mengingat sang kekasih sebanyak nafas yang terhembus”. Separuh nafasku terbang bersama dirimu… itu sih lagu Dewa.

Luas banget

Kata Syaikh Muhammad Husayn Abdullah, cinta itu muncul dari gharizah al-jinsiy (naluri mempertahankan keturunan). Tapi, naluri itu nggak cuma munculin cinta pada lawan jenis, tapi juga cinta pada yang lain-lain. Jadi, ia luas banget. Nah, ini beberapa di antaranya:

Cinta pada keluarga

Suatu ketika Aisyah r.a. kedatangan seorang wanita miskin dengan dua orang anak perempuannya. Lalu Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu kemudian membagi dua butir kurma itu pada kedua anaknya. Ketika ia akan memakan satu butir kurma bagiannya, mendadak diminta oleh kedua anaknya, maka dibelahnya menjadi dua, dan diberikan pada keduanya. Aisyah merasa terharu dan kagum dengan kasih sayang wanita itu. Ketika kejadian ini disampaikan pada Rasulullah saw., beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menentukan bagi perempuan itu surga, atau Allah telah memerdekakannya dari api neraka.” (HR. Muslim)

Wah, ngomongin cinta orang tua pada anak, nggak ada abisnya. Betapa pengorbanan mereka pada kita emang luar biasa. Mulai dari dalam kandungan, lahir, sampai gede kayak sekarang, semua adalah berkat kasih sayang keduanya. Bukan cuma uang, tapi juga perasaan, keringet, sampai darah mereka kasih buat anak-anaknya. Malah banyak orang tua yang berani ‘pasang badan’, berkorban untuk kebahagiaan anak-anaknya. Jadi nggak usah heran, ortumu ‘cerewet’ ngingetin kamu dalam banyak hal. Itu tandanya mereka care banget sama kamu.

Guyz, tanpa cinta ortu kita semua nggak bakal lahir ke dunia ini. Sudah sepantasnya kita-kita berterima kasih banget, en berbakti pada mereka berdua. Ini juga berlaku meski orang tua kita tidak menaati Allah apalagi berbeda agama. FirmanNya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan diriKu dengan apa yang kamu tidak punya pengetahuan tentangnya, maka janganlah kamu menaati keduanya, akan tetapi tetaplah bergaul dengan keduanya di dunia dengan baik” (QS Lukman : 15)

Syahdan, ibunda terkasih Sa’ad bin Abi Waqqash tidak suka dengan keislaman Sa’ad. Beliau memenjarakan Sa’ad dan mengucilkannya. Tapi Sa’ad tetap pada keimanannya. Hingga sang bunda akhirnya mengambil cara puasa berhari-hari agar Sa’ad kembali pada agama nenek moyangnya. Itupun tak membuat Sa’ad berubah. Akan tetapi dengan tetap dengan kelembutan Sa’ad membujuk bundanya untuk mau makan. “Duhai bunda, meskipun engkau memiliki seratus nyawa dan keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini, terserah engkau mau makan atau tidak.”

Hmm perlu ditiru tuh. Biarpun ortu Sa’ad memusuhi Islam, beliau tetap sabar. Apalagi kalau ortu kita muslim dan rajin ibadah, masak iya mau dimusuhi? Jangan ah.

Cinta Sesama Muslim

“Muslim itu saudara muslim” kata Nabi saw. Agama kita emang canggih nian, saat manusia memperbanyak perang antar kelompok, Islam justru mempersatukannya. Islam menghapus perasaan ta’ashub (kebanggan kelompok/suku/kabilah) dan diganti dengan ikatan akidah. Pokoke siapa yang beriman ia adalah part of this big family. So, kita pun dikenalin dengan yang namanya ukhuwah Islamiyyah, persaudaraan Islam. Salah satu tandanya adalah mencintai sesama muslim. Kata Nabi saw. “Belum sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”

Banyak lho yang bisa kita kerjakan sebagai bukti cinta pada sesama muslim. Mulai dari ngucapin salam, bersikap ramah, menolong sesama muslim, sampai berkorban untuk kepentingan kaum muslimin. Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang melepaskan seorang muslim dari kesulitan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari kesulitan di akhirat.”

Sobat, karena itulah kita nggak usah heran banyak sahabat Nabi saw. juga para alim ulama yang berlomba-lomba berbuat kebaikan pada sesama. Abu Bakar ash-Shiddiq, meski menjadi khalifah tetap rajin memerah susu domba bagi para janda-janda tua. Amirul mukminin Umar bin Khaththab rajin berkeliling Madinah untuk mengetahui kebutuhan dan kesusahan rakyatnya. Abdurrahman bin Auf rajin bersedekah dan memberi pinjaman hutang pada sesama muslim. Pada saat wafatnya beliau memberikan wasiat harta pada veteran Perang Badar masing-masing 400 dinar. Itu setara dengan 1,7 kg emas, bo!

Tentu saja berbuat baik pada sesama nggak mesti diwujudkan dalam pemberian yang sesuatu yang wah – meski kalau bisa itu OK banget –, yang penting adalah adanya simpati dan empati, serta kesiapan membantu sesama muslim. Jangan lupa, semuanya didasarkan atas prinsip tulus-ikhlas, nggak mengharap balas jasa kecuali ridlo Allah Swt.

Cinta pada Kekasih

Salah satu penampakkan dari cinta itu adalah cinta pada lawan jenis. Emang udah fitrahnya seorang pria mencintai wanita, juga sebaliknya. Nggak ada yang melarang, ada juga yang mengatur. Allah Swt. nggak pengen hamba-hambaNya terjebak antara melarang sama sekali pertemuan dengan lawan jenis, atau bebas banget. Yup, seperti kamu tahu, ada budaya masyarakat yang menabukan pertemuan pria dan wanita. Malah beberapa agama dan ajaran di dunia melarang adanya pernikahan bagi para pemeluknya. Mereka menekankan prinsip kerahiban atau kependetaan.

Sebaliknya, yang mengajarkan kebebasan pergaulan juga ada. Jumlahnya malah jauh lebih banyak. Terbukti, tingkat pergaulan bebas, kehamilan di luar nikah, aborsi dan jumlah pengidap PMS (penyakit menular seksual) makin mencemaskan. Itu semua efek samping dari liberalisme yang diusung demokrasi.

Di dalam ajaran Islam, pergaulan pria dan wanita kudu dilandasi ketakwaan. Maka, aktivitas macam dua-duaan, jalan bareng, becandaan apalagi pacaran, bukan jamannya lagi. Udah basi. Yang macam begitu cuma bikin setan jejingkrakan kesenengan karena ada juga yang tunduk pada godaannya. Mereka yang nekat ngelakuin itu semua sebenarnya ngerusak makna cinta, dan udah pasti bakal menanggung akibatnya. Solusi Islam dalam urusan itu emang cuma satu: pernikahan, selain itu no way!

Tentu saja, pernikahan butuh persiapan yang matang. Karena menikah bukan cuma seneng-seneng ama si doi, tapi juga ada tanggung jawab memberi nafkah lahir dan batin. Nyiapin rumah, makanan, pakaian dan jaga kesehatan. Nah, udah sanggup belon? Kalau SPP aja masih nodong ke ortu, be patient guys! Sabar aja, nanti juga ada waktunya kamu-kamu melewati masa pernikahan.

Nah, dari tulisan di atas moga kamu paham bahwa cinta itu nggak melulu berurusan ama lawan jenis. Banyak cinta lain yang kudu kita tebarkan. Wajib malah. Oke, selamat menjadi pecinta!

One Response to Cinta Itu Luas…!

  1. […] Cinta itu relatif. Cinta itu luas [link]. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: