Kekuatan Militer AS di Timur Tengah

Saat Irak telah berhasil membentuk pemerintahan baru hasil pemilihan umum yang pertama kali diadakan secara demokratis di negara itu, AS masih bersikap layaknya penjajah. Baru-baru ini AS kembali menegaskan rencananya untuk membangun pangkalan militer permanen di Irak. Padahal tak lama sebelumnya, para perwira tinggi AS mengatakan bahwa kehadiran militer asing di Irak hanya bersifat sementara, karena pasukan koalisi akan meninggalkan Irak setelah kondisi negara ini kembali normal.

 

Kini, setelah segala sesuatunya tersedia dan pemerintah Irak siap mengambil alih semua tanggung jawab atas negeri ini, terungkaplah niat Washington yang asli. AS menyatakan akan membangun pangkalan militer tetap di empat kawasan Irak, yaitu Arbil, Mosul, Al-Anbar dan Irak selatan. Hal ini jelas bertentangan dengan rencana AS semula. Sebagaimana diketahui, setelah rezim Saddam Hossein terguling, AS membuka 106 pangkalan militer besar dan kecil di kawasan Irak. Rencananya, 102 pangkalan militer ini akan diserahkan kepada pemerintah Irak secara bertahap. Jenderal John Abi Zeid bahkan pernah berjanji akan mengurangi jumlah tentara AS sampai setengahnya pada tahun depan. Namun agaknya, janji perwira AS itu hanya tinggal janji belaka.

 

Dalam dua dekade terakhir, Menteri Pertahanan AS, Donald Rumsfeld, telah mengajukan prakarsa perombakan militer kepada Kongres. Berdasarkan prakarsa ini, lebih dari 50 pangkalan militer AS di dalam dan luar negeri akan ditutup, sementara sebagian lainnya akan dibenahi. Prakarsa ini juga mengusulkan penghentian proyek produksi peralatan perang berat, semisal pembuatan kapal selam yang dilengkapi senjata nuklir dan jet-jet tempur. Para teoretis militer AS berharap dengan dijalankannya program ini, AS menghemat belanja pertahanan dan dapat membangun pangkalan-pangkalan militer yang baru di Timur Tengah dan memberikan pelatihan kepada pasukan khusus anti terorisme.

 

Pasca peristiwa 11 September, AS mencurahkan perhatiannya untuk menguatkan posisi militernya di Timur Tengah. Pengurangan jumlah tentara AS di Jerman dan Korea Selatan bisa dilihat dari kacamata ini.Militer AS pertama kali menjejakkan kaki di Timur Tengah pada perang Teluk pertama tahun 1991. Saat itu alasan yang dipakai oleh Washington adalah untuk mengusir Irak dari Kuwait. Sekitar 600 ribu tentara dari berbagai negara yang tergabung dalam pasukan multinasional yang dipimpin oleh AS, ditempatkan di sejumlan pangkalan militer di Arab Saudi dan beberapa negara Arab di Teluk Persia. Usai perang, kehadiran militer AS di negara-negara itu telah menyulut sentimen anti AS.

 

Penentangan terhadap AS yang kian memuncak di Arab Saudi memaksa AS untuk tidak menggunakan pangkalan militernya di negara itu dalam menyerang Irak pada Perang Teluk kedua tahun 2003. AS memilih untuk mengalihkan pangkalan militernya dari Arab Saudi ke Qatar. Apalagi, hubungan AS dan Arab Saudi pasca 11 September memang relatif menurun, sehingga AS tidak lagi bisa menjadikan negara Arab ini sebagai pangkalan utamanya di kawasan Timur Tengah. Kini dengan menduduki Irak, para teoretis menilai, militer AS memperoleh kesempatan untuk memindahkan pangkalan militernya dari Arab Saudi, Qatar dan Bahrain ke Irak.

 

Irak berbeda dengan Arab Saudi yang sangat sensitif bagi umat Islam karena keberadaan Mekah dan Madinah di sana. Selain itu, secara geografis, Irak juga lebih strategis dibanding Qatar dan Bahrain. Sebab, Irak bertetangga dengan Iran, Suriah, dan dekat dengan perbatasan Israel alias Palestina Pendudukan. Karenanya, Irak cukup strategis secara militer. Para pengamat memperkirakan bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi, AS akan memindahkan seluruh kekuatannya di kawasan ke tempat yang strategis ini. Selain itu, Washington sangat mengkhawatirkan kebencian umat Islam dan rakyat di negara-negara Arab terhadap AS yang terus meningkat.

 

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, dunia menyaksikan pemindahan militer AS dari jantung Eropa dan Asia timur ke kawasan yang lebih dekat dengan Timur Tengah. Pemerintah Bush berencana menutup sebagian pangkalan militernya di Jerman dan memindahkan tentaranya ke negara-negara semisal Bulgaria atau Rumania yang relatif lebih dekat ke kawasan Timur Tengah. Seiring dengan itu, ada upaya untuk mengganti tentara Rusia yang berada di Georgia dengan tentara AS atau tentara negara-negara anggota NATO.

 

Dalam kondisi seperti ini, penguasaan militer AS terhadap kawasan Kaukasus dan utara Timur Tengah akan semakin meluas. Hal ini menyebabkan pangkalan militer AS di Turki menjadi semakin bernilai strategis. Untuk itu, pemerintah Washington sedang sibuk bernegosiasi dengan Ankara untuk meminta pesetujuan negara itu menjadikan pangkalan militer Angerlik di Turki menjadi pusat logistik AS di Timur Tengah. Washington berharap, bila Ankara menyetujui proyek ini, tentara AS bisa bebas keluar masuk dari Turki ke Irak atau Afganistan.

 

Terakhir, di Afganistan pun, AS memiliki rencana untuk mendirikan pangkalan militer permanen di negara itu. Pada awalnya, pemerintah Hamid Karzai menolak rencana ini. Namun, setelah Washington melakukan tekanan keras, kini kelihatannya keinginan Washington itu tidak lagi mendapat halangan dari pemerintah Kabul. Bush menyatakan, tujuannya untuk terus mempertahankan kehadiran pasukan AS di Afganistan adalah untuk melawan terorisme. Sementara itu, para pengamat militer menilai bahwa kehadiran pasukan AS di Afganistan hanya akan meningkatkan sikap anti AS di Timur Tengah dan akibatnya, kestabilan politik tidak akan pernah terwujud di kawasan.

 

Sebagai kesimpulan, selama tentara AS masih terus bercokol di negara-negara Islam, mulai dari Kirgizistan, Uzbekistan, hingga Arab Saudi dan Qatar, berbagai aksi-aksi bersenjata menentang kehadiran AS akan terus muncul di kewasan itu dan yang menjadi korbannya adalah rakyat sipil dan tentara AS sendiri. Hingga kini, minimalnya 446 ribu tentara AS bercokol di 725 pangkalan militer di 38 negara. Namun kenyataan menunjukkan bahwa alih-alih menciptakan keamanan di kawasan tempatnya berada, kehadiran tentara AS itu hanya menimbulkan pertumpahan darah dan ketidaktenteraman di berbagai penjuru dunia.

4 Responses to Kekuatan Militer AS di Timur Tengah

  1. asuna17 says:

    Artikel anda di

    http://berita-politik-dunia.infogue.com/kekuatan_militer_as_di_timur_tengah

    promosikan artikel anda di http://www.infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!

  2. assetty says:

    benarkah demikian?

  3. aku says:

    mungkin saja begitu adanya..

  4. Chris maliki says:

    Kehdiran militr di timteng karna penguasa arab yg dungu, jelas2 AS adlah musuh, eee malah di mintain bantuan. Arabguoblk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: