Menggagas Sastra Religius yang Berkualitas

Oleh: Mashuri

Maraknya sastra religius belakangan ini memang menggembirakan. Hanya saja, ada sebuah tantangan besar yang perlu dipikirkan terkait dengan mutu atau kualitas sastra religius itu. Sebab, bagaimanapun sastra itu bermain dalam wilayah estetika.

Perkembangan sastra religius memang marak akhir-akhir ini. Hanya saja, ada yang perlu dipikirkan terkait dengan kualitas estetika dan pemahaman pada masalah religiusitasnya. Mengapa demikian? Dalam konteks sastra religius, pandangan umum menangkap bahwa yang dinamakan sastra religius adalah sastra atau karya sastra yang mengusung lambang-lambang agama, baik itu Islam, Kristen dan lainnya. Dengan begitu, penyebutan beberapa metafor dalam karya itu mengacu pada kekhasan dari sebuah agama. Tak heran bila posisi sastra religius selalu mengacu pada agama formal. Hanya saja, konsepsi umum itu mendaptkan penyangkalan yang cukup signifikan dari beberapa teks sastra yang memiliki kandungan religiusitas tinggi.

Salah satunya dari Jalaludin Rumi, seorang sufi dan penyair Persia terkemuka. Salah satu puisinya yang dikenal dalam hal ini adalah:

Jangan tanya apa agamaku
bukan Yahudi
bukan Zoroaster
bukan pula Islam
Karena aku tahu
begitu suatu nama kusebut
begitu Anda memberikan arti yang
lain
daripada makna yang hidup di hatiku

Abu Mansur Al Hallaj (tokoh sufi dikenal dengan ungkapan ektasenya: Anal Haq), juga pernah menulis gagasannya tentang religiusitas dan agama: Aku telah renungkan agama-agama, yang membuatku berusaha keras untuk memahaminya. Dan aku baru sadar bahwa agama-agama itu, kaidah-kaidah unik, dengan sejumlah cabang.

Di sisi lain yang bermain dalam konteks agama-agama formal adalah yang terkait dengan dogma, sehingga kungkungan adanya konsep realisme dogmatis atau idealis dogmatis begitu mewarnai konstruksi dan penyebutan sastra religius itu. Dalam satu sisi, hal ini hampir sama dengan konsep realisme sosial yang digagas dalam sastra-sastra marxis, terlebih komunis.

Poisisi ini tidak akan menemukan titik tertingginya, jika acuannya memang benar-benar sangat formalis, karena selama ini religiusitas dipahami sebagai sebuah kualitas keagamaan. Dalam satu sisi religiusitas berbeda dengan sitem religi. Religiusitas tidak hanya berkutat pada masalah ketuhanan yang digariskan agama formal. Religiusitas lebih mengarah pada kesadaran ketuhanan yang termanifestasikan dalam nilai-nilai dan asas kemanusiaan.

Jadi posisinya tidak hanya transeden dalam arti teologi, tetapi juga imanen. Dalam kerangka Islam, tendensi yang diemban bukan hanya hubungan dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga fungsi sosialnya, hubungan dengan sesamanya (hablum minan nas). Jadi posisi manusia juga diperhatikan, dan yang menjadi acuan adalah faktor kemanusiaan yang luas, yang menjadi landasan dari sebuah bangunan keagamaan. Dengan demikian, bangunan estetis yang terkonstruksi dalam sastra religius tidak mengacu pada dogma yang bermain dalam tataran hukum positivisme atau syariah.

Dalam masalah keindahan, Sayyed Husein Nasr mengungkap bahwa dalam keindahan itu terdapat pengetahuan tertinggi dan kesucian, sehingga seni-seni tradisional yang meliputi jiwa murni seharusnya memang dikembangkan, sebab posisi kemanusiaan benar-benar terpelihara. Di sini, posisi agama tidak lagi beban dalam upaya mengejawantahkan ekspresi dalam wilayah estetika dan proses kreatif.

Kondisi ini akan berlaku, jika pemahaman agama tidak terkungkung dalam sebuah bangunan struktur yang merujuk pada penafsiran tunggal. Dalil-dalil yang mengacu pada pemahaman yang dangkal pada kebebasan dan pembebasan ekspresi dalam seni memang harus ditafsir-ulangkan. Pembacaan tidak lagi bersifat heuristik, tetapi hermeneutik, dengan mengacu tiadanya prasangka dan proses penafsiran atau pembacaan itu merupakan bagian dari sejarah itu sendiri, seperti ide hermeneutika yang pernah digagas Gadamer.

Dengan landasan kemanusiaan, pembacaan terhadap realitas keagamaan itu bisa pula menggunakan strategi dekonstruksi Derrida, dengan paradigma bahwa sebuah teks itu tidak utuh. Ia memiliki celah dan jarak pemaknaan. Bisa pula dengan discourse Foucault dengan melihat asal pengetahuan dan konteks terjadinya teks. Umpamanya, jika agama formal melarang menvisualkan manusia, maka posisi seni tidak lagi terlarang menvisualkan manusia, dengan mempertimbangkan kembali bahwa manusia tidak lagi manifestasi dari ‘Tuhan’. Ada jarak pemaknaan dan rentang waktu dan bergesernya penafsiran. Di sisi lain, religiusitas dikembalikan pada posisi asali, tidak lagi apriori pada ‘the other’ atau manusia lain di luar keyakinan sendiri.

Hal itu karena dengan merujuk pada sifat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang tidak lagi memberikan previliese dengan mengedepankan binary oposotion dalam pemihakan kebenaran atau memberi keistimewaan pada pihak-pihak tertentu, maka konsepsi religiusitas itu tidak hanya membentur dinding konsep status quo. Sebab, ambiguitas pada realitas bisa memberikan nilai tambah bahwa seni, sastra dan budaya bisa menelusup dalam bayang Tuhan dalam memahami realitas kemanusiaan. Ia, seni dan sastra religius, bisa jadi tidak sekedar pengejawantahan nilai-nilai agama. Religiusitas menjelma ruh atau nyawa dari konstruksi kebudayaan yang mengusung humanisme.

Mungkin yang perlu dikedepankan di sini, bahwa proses penciptaan karya-karya religius tidak harus terjebak pada dogma agama. Ia bersifat bebas dan merupakan proses pembebasan juga. Bisa menggunakan lambang-lambang agama formal sebagai bahan, hanya saja ada pertanggung jawaban estetik. Dalam hal ini, bisa berupa sebagai pengangkatan pada celah dan sisi yang perlu diperbaiki dari agama itu, yang mungkin lebih menekankan pada aturan-aturan rutinitas dan tidak sampai pada penghayatan yang menyusup hingga tulang sumsum, dengan sentral masih berkutat dan berpihak pada sisi kemanusiaannya.

Erich From dalam To Have or To Be pernah menegaskan, religiustitas merupakan ornamen dari watak sosial yang harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan religius yang sudah melekat pada diri manusia, sebagai kebutuhan asasi. Ia mesti tidak berkaitan dengan sistem yang berhubungan dengan Tuhan atau berhala, melainkan pada sistem pemikiran atau tindakan yang memberikan pada individu suatu kerangka oroentasi dan suatu objek kebaktian. Hal ini mengacu pula pada konsep agama yang membebaskan yang digagas Fromm dalam Religion dan Psychoanalysis. Seperti juga yang ditulis Nietzsche dalam Also Sprach Zarathustra: “Aku butuh Tuhan yang mengerti bagaimana menari”.

Dalam sastra Indonesia modern, sastra religius yang paling baik masih dipegang oleh cerpen AA Navis dalam Robohnya Surau Kami. Dalam cerpen yang kental dengan tradisi Minang yang memang ketat dalam masalah agama, cerpen itu sepenuhnya mengusung nilai-nilai religiusitas yang tidak mempermasalahkan aspek religius dalam penyebutan Tuhan dalam agama formal, tetapi lebih menekankan pada faktor manusianya, dengan jalan menggugah keberadaan manusia itu sendiri dalam sistem religi yang berkembang di sana. Bahkan, dalam satu sisi, cerpen ini mempertanyakan nilai terdalam dari sistem religi itu, dengan memunculkan nilai-nilai religiustitas yang perlu ditumbuhkembangkan. Bahkan, ‘surau’ bisa pula dianggap sebagai penanda dari sebuah kebobrokan sistem yang hanya mengedepankan sebuah tatanan formal dan mapan dari sebuah agama.

Tradisi Sastra Sufi

Dalam tradisi sastra klasik yang berkembang di Indonesia, karya-karya yang ada menyaran pada sastra didaktis, sastra yang berpretensi pada masalah pengemban misi pendidikan, tuntunan dan ajaran. Kenyataan itu bisa ditemui dalam tradisi Jawa Klasik dan Melayu Klasik.

Mungkin hal itu bisa dimaklumi, karena dalam tradisi sastra klasik Indonesia, sastra memang sebagai alat. Bahkan ada yang lebih ektrem, dengan acuan yang terpenting adalah tujuan (ghayah) dari pada jalan atau alat (washilah). Konsepsi antara ghayah dan washilah itu menjadi tidak sehat dan mengganggu, ketika di antara keduanya ada yang mendapatkan posisi istimewa. Perlu ditegaskan, ketika kondisi realitas sudah hiperrealitas, maka pembongkaran pada dikotomi itu sebuah keharusan. Dengan mengandaikan dalam ghayah terdapat inti dari washilah dan sebaliknya. Sebab hasil akhir itu sangat dipengatuhi proses ‘menjadi’. Bahkan ‘proses’ itu menjadi penentu. Dalam sastra. perdebatan antara bentuk dan isi ini memang sudah selesai.

Berkaitan dengan masalah dualitas itu, akan sedikit tertolong jika mengacu pada tradisi sastra sufi, terutama sastra sufi yang berkembang di Timur Tengah. Dalam Manthiqut Thair karya Faridudin Athtar, nuansa religiusitas masih sangat kental, dengan kandungan estetika yang brilian. Bahkan, terkait masalah hubungan antara fisik dan batin, Athtar pernah berkata:

Ketika jiwa disatukan dengan raga, maka ia pun bagian dari keseluruhan itu: Belum pernah ada pesona yang mengagumkan seperti itu. Jiwa punya peranan dalam apa yang rendah; terbentuklah paduan antara tanah liat yang pekat dan ruh yang murni. Karena paduan ini, insan pun menjadi yang paling mengagumkan dari segala rahasia.

Hal senada juga terdapat dalam rubai Omar Qayyam, Diwan Al Hallaj, Masnawi Rumi, Mujanat Rabiah Adawiyah dan beberapa sastrawan sufi lainnya. Seperti yang ditegaskan Ibn Arabi (tokoh sufi, pencetus paham wahdatul wujud):

Hariku telah mampu untuk setiap bentuk
dialah padang bagi seekor kijang
dan sebuah biara bagi Nasrani
Dialah pula bagi berhala dan Ka’bah bagi berhaji
Dialah lembar dari Taurat dan Kitab Quran yang suci
Ke mana pun onta-onta cinta itu berangkat
Ke sana jualah agama dan imanku melekat

Lewat keindahan, realitas absolut yang menjadi tujuan terwujud dan termanifestasikan. Jika acuannya pembebasan, pembebasan esoterik itu dalam terlaksana. Dalam sastra sufi, tidak lagi dibedakan antara alat dan tujuan. Posisi keduanya sama, tidak ada yang diperalat. Apalagi, para sufi itu menyuarakannya dalam kondisi fana’ (ekstase ketuhanan).

Dalam puisi Barat modern yang menghadirkan lanskap spiritual dan religiusitas juga cukup banyak. Diantanya, seperti penyair Welsh Dylan Thomas. Berikut kutipan puisinya:

Terlalu bangga untuk mati, hancur dan buta ia mati
jalan yang paling gelap, dan tak bisa ditolak
orang lembut dan dingin berani dalam kebanggan yang sempit
merasa tidak berdosa, ia takut pada kematiannya
karena ia membenci tuhannya, tetapi siapakah ia adalah biasa
Orang tua lagi ramah berani dalam kebanggan yang menyala

Dalam tradisi sastra Jawa, bisa dilihat pada beberapa karya klasik. Posisi estetika juga masih menjadi pertaruhan, kendatipun mendapat muatan yang luar biasa. Konvensi macapat yang meliputi guru gatra, guru wilangan dan guru lagu juga masih tertata. Hal itu ampak pada karya-karya Yosodipuro I, Yosodipuro II, Ronggowarsito, Paku Buwana IV dan Mangkunegara IV. Dalam karya-karya mereka, kendatipun unsur didaktik tentang religi dan pengajaran juga kental, tetapi alur keindahan yang menjadi jiwa dari wailayah estetika tetap dipertahankan dan menjadi acuan. Seperti yang tersirat dalam Wedhatama:

Samengko ingsun tutur
sembah catur supaya lumuntur
Dhingin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki
ing kana lamun tinemu

Perlu ditekankan, dalam tradisi sastra sufi atau suluk dalam tradisi Jawa, posisi formalitas agama memang diabaikan, seperti ide yang ada pada puisi Rumi di awal tulisan ini, sebab dalam jenis sastra sufi memang bermain dalam wilayah-wilayah ‘menembus batas’. Umumnya, sastra sufi memamng mengedepankan sisi terdalam dari manusia, karena sikap kemanusiaan manusia itu bisa menjadi ukuran kedekatan seorang manusi dengan Tuhannya. Dalam tradisi sastra sufi, konsepsi humanisme dalam kerangka sastra religius menemukan bentuknya yang paling konkrit dan jelas.

Sebuah Tantangan

Maraknya sastra religius belakangan ini memang menggembirakan. Hanya saja, ada sebuah tantangan besar yang perlu dipikirkan terkait dengan mutu atau kualitas sastra religius itu. Sebab, bagaimanapun sastra itu bermain dalam wilayah estetika. Dari sini, ada semacam agar aspek religiusitas yang merambah segala relung-relung terdalam dari manusia dengan segala absurditasnya juga mendapat tempat yang seimbang dalam sastra religius, tanpa ada pemaksaan pada aspek-aspek dogmatik dan terjebak pada khotbah. Sebab, bagaimanapun wilayah seni dan sastra berbeda dengan wilayah agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: