Menulis Untuk Mentransformasi Diri

Penulis: Hernowo

Pada 12, 17, dan 20 April, Mas Hernowo berkeliling menjajakan (buku) “Pizza”-nya. Pada 12 dan 20 April dalam acara “Book Signing” di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, dan Gramedia, Jalan Sudirman, Jogja. Pada 17 April dalam acara bedah buku “Pizza” di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Dalam ketiga acara tersebut, Mas Hernowo menyiapkan sebuah tulisan yang tersaji berikut ini. Selamat menikmati.

Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza merupakan contoh konkret bagaimana saya menerapkan teori “mengikat makna”. Saya “mengikat” (mencatat) apa saja yang berkesan dan menarik bagi diri saya lewat tulisan.

Saya “mengikat” apa pun yang masuk ke dalam diri saya dan yang berasal dari mana pun.

Ada kalanya makna itu tak langsung muncul pada saat saya mencatat apa saja yang ingin saya catat. Kadang makna itu baru muncul setelah waktu berjalan beberapa saat. Atau, kadang makna itu tiba-tiba muncul setelah saya mengaitkannya dengan sesuatu, setelah saya berproses, mengalir biasa seperti orang lain mengalir. Yang pasti, makna itu muncul secara sangat kuat, setelah saya menuliskan sesuatu.

Oh ya, pada saat awal saya mencatat, media yang saya gunakan kadang tidak berbentuk kertas. Ponsel atau layar komputer juga sangat kerap saya gunakan. Nah, apa-apa yang saya “ikat” itulah yang ingin saya sebut sebagai catatan harian saya sebagaimana saya mengklaim buku Andaikan adalah wujud-konkret catatan harian saya.

Untuk apa saya menulis buku? Dalam sanubari saya terdalam, sudah lama sekali tersimpan sebuah obsesi. Saya ingin menunjukkan manfaat praktis dan manfaat sangat luar biasa dari aktivitas membaca dan menulis. Bahkan kalau seseorang dapat memadukan dua aktivitas tersebut secara rutin dan konsisten, misalnya setiap hari, saya berani memberikan garansi bahwa orang tersebut akan memperoleh “kekayaan” yang tiada tara pada suatu saat kelak.

Obsesi saya ini sebenarnya begitu jelas terlihat di buku Andaikan dan belum begitu jelas terlihat di buku Mengikat Makna, meskipun di MM soal obsesi saya ini sudah saya singgung selintasan. Nah, kini, saya sudah merasakannya. Dan apa yang sudah saya lakukan dan rasakan bisa juga dialami oleh siapa saja. Ya, siapa saja, saya tegaskan.

Catatlah apa saja yang memang menurut Anda layak dicatat. Kumpulkan catatan Anda itu secara teratur. Biarkan catatan itu tumbuh dan mengikuti mengalirnya waktu. Kalau perlu, sekali-sekali, rawatlah. Sayangilah. Beri pupuklah. Dan, ingat, seperti tetanaman atau hewan, kadang catatan itu ada yang mati dan ada juga yang “bersinar” sangat menyilaukan.

Saya mengaitkan seluruh materi yang ada di buku Andaikan dengan “word smart”. Memang, saya terpengaruh oleh pandangan Howard Gardner dan pemikir seperti Buzan, Pennebaker, Krashen, Armstrong, dan yang lain soal kecerdasan-berbahasa ini. Saya kemudian merumuskan sendiri apa sih guna bahasa? Kenapa kita harus mempelajari bahasa?

Kebetulan saya mengajar bahasa Indonesia di sebuah SMU. Saya lalu merumuskan bagi saya sendiri sebuah tujuan baru mengapa saya mengajar bahasa Indonesia dan apa selayaknya yang perlu kita pelajari berkaitan dengan bahasa. Ketemulah rumusan berikut bahwa bahasa itu dapat digunakan sebagai salah satu senjata untuk memecahkan masalah-masalah kita. Misalnya untuk merencanakan masa depan atau untuk merumuskan siapa diri kita.

Konsep “word smart” itu kemudian saya kembangkan sebagaimana yang tampak pada bagan AMBaK Melejitkan “Word Smart” di buku Andaikan. Bagan itu tak ada di konsep pemikiran Gardner, Buzan ataupun yang lain. Ada kemungkinan apa yang dibayangkan oleh para penemu konsep “kecerdasan” itu seperti apa yang saya gambarkan. Namun, saya kira, pikiran saya dan pikiran mereka tidak persis sama. Kan saya punya karakter sendiri. Saya hidup dengan nasi dan kangkung, sementara Gardner dan Buzan tidak sebagaimana saya hidup.

Sungguh setelah dapat melahirkan buku kedua, saya ingin menegaskan di sini bahwa membaca dan menulis buku bagi saya itu “meringankan” sekaligus menyenangkan. Mengapa begitu? Pertama, ini lantaran dua macam kegiatan itu dapat saya lakukan secara mencicil. Kedua, membaca dan menulis itu sangat membantu saya dalam mengenali diri saya. Ketiga, bukan hanya menulis (ini konsep Pennebaker) ternyata membaca juga menyembuhkan. Saya merasakan semua ini.

Dan, tentu saja, ternyata apa yang saya tulis ini cukup memberikan imbalan yang lain, yaitu dapat “menghidupi” saya. Atau kalau saya boleh meminjam kata-kata Kiyosaki, dalam menjalankan aktivitas membaca dan menulis, saya tidak lantas mampu membuat buku demi uang. Saya membuat buku lantaran saya ingin agar “uang” bekerja untuk saya. Saya kira sungguh menyenangkan ya menjadi orang yang biasa lalu bisa “bermakna” bagi orang lain?

Benar, melakukan hal-hal biasa yang akhirnya bisa menjelma menjadi hal-hal yang luar biasa, eh, “berharga”, sangat mempengaruhi saya belakangan ini. Ada kemungkinan saya mengetahui hal ini sudah cukup lama saat saya membaca buku Don Gabor, Big Things Happen. Itu terjadi pada tahun 1999 ketika saya ingin memberikan pengantar untuk buku yang diproses oleh rekan-rekan saya di Mizan berkaitan dengan “gaya selingkung” Penerbit Mizan.

Gabor mengilhami saya dengan kata-kata saktinya. Dia menulis, “Kalau saja Anda rajin melakukan hal-hal kecil dengan benar, (insya Allah) pada suatu ketika nanti Anda akan dapat menciptakan hal-hal besar.” Saya kok waktu itu, dalam hati, meyakini soal ini. Lalu ya mengalirlah saya dengan membaca apa saja dan menulis apa saja.

Saya mengerjakan buku ini hampir mencakup seluruh aspeknya. Saya bisa melakukan itu karena saya bekerja pada penerbit yang menerbitkan buku saya. Saya mengerjakan hampir apa saja, dari mulai yang kecil-kecil hingga yang besar-besar. Saya menganggap buku saya adalah apa yang merupakan bagian dari darah dan daging saya. Ya seperti anak-anak sayalah. Ini lantaran saya memang terlibat sekali dalam melahirkan gagasan-gagasan saya hingga menjadi bentuk yang terstruktur dan dapat dibukukan.

Saya harus merawatnya (lihat tulisan asli saya di buku Andaikan, halaman 116, yang merupakan catatan harian saya yang usianya sudah 15 tahun kalau diukur pada tahun sekarang). Saya harus menyimpan dan menyusuinya hingga catatan-catatan saya itu tumbuh sehat, cerdas, dan bergizi.

Kini saya punya banyak sahabat, baik sahabat lewat SMS atau Internet ataupun surat tercetak. Ya, tak sedikit orang yang merasa terinspirasi oleh buku saya. Alhamdulillah. Saya jadi bersemangat sekali untuk membantu siapa saja agar bangkit dan mampu “menyulap” hal-hal biasa yang ada di dalam dirinya menjadi hal-hal berharga—paling tidak untuk diri sendirinya—lewat menulis.

Untuk mengakhiri catatan saya ini, izinkan saya mengutip pendapat Fatima Mernissi tentang menulis. Tulisan Mernissi ini saya cuplik dari artikelnya berjudul “Menulis Lebih Baik ketimbang Operasi Pengencangan Kulit Wajah” yang dimuat di karyanya, Pemberontakan Wanita: Peran Intelektual Kaum Wanita dalam Sejarah Islam (Mizan, 1999, h. 34-35):

“Menulis adalah menangkap kesempatan yang amat-sangat-sangat kecil untuk mengungkapkan perasaan Anda. Itu berarti mengambil risiko untuk berkomunikasi dengan seseorang yang tidak peduli sama sekali dengan hal yang Anda pikirkan dan katakan. Menulis surat saja, misalnya, merupakan suatu kesempatan yang luar biasa bagi seseorang yang terisolasi.

“Pada saat Anda menulis surat, Anda mula-mula berdialog dengan diri Anda sendiri. Kemudian, ada kemungkinan surat itu Anda kirimkan kepada orang yang terdekat dengan diri Anda. Bahkan, bisa jadi, surat itu Anda kirimkan ke orang-orang yang sedang berkuasa.

“Meskipun saya tidak bisa menjamin surat Anda bisa dibaca oleh orang yang berkuasa, yang jelas apabila Anda berusaha mengungkapkan diri Anda setiap hari maka Anda memang tidak dapat mengubah langsung dunia, namun Anda sebenarnya dapat mengubah diri Anda sendiri. Dan saya yakin bahwa dengan mengubah diri sendiri, sesungguhnya Anda tengah mengubah dunia.”

Saya kira, saya sudah membuktikan apa yang dikatakan dan diyakini oleh Fatima Mernissi. Saya dapat menunjukkan apa yang dikatakan Mernisi lewat dua karya saya, Mengikat Makna dan Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: