Wow, Aku Bisa Menulis!

Penulis: Hernowo

Suatu ketika, setelah mencetak prestasi besar dalam sejarah kehidupannya sebagai atlet bola basket, Michael Jordan ditanya oleh seorang wartawan televisi terkenal. “Apa yang membuat Anda mampu melesakkan bola hingga mendekati angka 50 poin?” Jordan menjawab sembari mata-tajamnya menatap mata sang wartawan, “Keinginan. Saya memang mempunyai keinginan untuk mencetak angka yang banyak dalam setiap pertandingan.”

Keinginan? Sekali lagi, apakah hanya keinginan yang mampu memotivasi Jordan untuk berprestasi dalam setiap pertandingan bola basketnya? Mari, pertanyaan ini tidak usah kita jawab lebih dahulu. Saya akan mengajak Anda untuk berpindah dari Jordan ke Covey. Dalam buku berpengaruhnya, The 7 Habits, Stephen R. Covey bercerita. Covey bercerita tentang apa sih yang dimaksudkan dengan “habit” atau kebiasaan itu. Katanya, kebiasaan merupakan titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan keinginan (desire).

Lalu di dalam bukunya itu, Covey membuat gambar untuk lebih menjelaskan apa yang dimaksud dengan titik pertemuan. Gambar itu terdiri atas tiga lingkaran, yang di dalam setiap lingkaran tertulis kata pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Ketiga lingkaran itu lalu dipertemukan dan di tengah-tengah pertemuan ketiga lingkaran itu diberi arsir (raster) dan terciptalah apa yang didefinisikan dengan kebiasaan. Apa sebenarnya yang diinginkan Covey dengan menciptakan ketiga hal itu?

“Pengetahuan adalah paradigma teoretis, ‘apa yang harus dilakukan’ dan ‘mengapa’, “tulis Covey. “Keterampilan adalah ‘bagaimana melakukannya’. Dan keinginan adalah motivasi, ‘keinginan untuk melakukan’. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita, kita harus mempunyai ketiga komponen tersebut.” Mari, kita berhenti sejkenak di sini dan merenungkan secara intens apa yang kita peroleh dari semua ini? Dari ucapan Jordan sekaligus kata-kata Covey?

Michael Jordan, salah satu atlet terbaik yang pernah dilahirkan oleh NBA, adalah olahragawan bola basket yang dikenal memiliki keterampilan sangat tinggi dalam bermain basket. Bahkan Jordan sempat disemati oleh sebuah istilah yang, bisa jadi, hanya dimiliki oleh pesawat terbang: Air Jordan! Dan dalam sebuah film, Space Jam, Jordan sempat dilukiskan sebagai pebasket yang tidak punya lawan-tanding di bumi ini sehingga harus dicarikan lawan-tanding dari planet lain.

Saya kira pengetahuan Jordan tentang olahraga basket juga tak kalah hebat dari keterampilannya memainkan bola basket itu sendiri. Bahkan, sebuah buku yang ditulis oleh seorang penceramah motivasi dan inspirasi terkemuka di Amerika, Pat Williams–How To Be Like Michael Jordan (Kaifa, 2002)–menunjukkan bahwa pengetahuan kebolabasketan Jordan telah membuatnya menciptakan aturan-aturan kehidupan yang membuat dirinya meraih prestasi tinggi baik di lapangan basket maupun di kehidupan yang lebih luas. Jordan adalah teladan kedisiplinan, tak kenal menyerah, dan pekerja keras dalam meraih sebuah hasil.

Bagaimana dengan keinginan (desire) Jordan dalam meraih prestasi tinggi ketika bermain bola basket? Inilah, menurut saya, salah satu aspek penting yang dimiliki Jordan. Jarang ada seorang atlet berprestasi atau tokoh-tokoh hebat yang mengeluarkan pernyataan seperti Jordan. Sebagaimana saya tulis di awal bahwa yang mendorongnya meraih prestasi tinggi adalah keinginan. Bisa jadi, Jordan punya pengetahuan dan keterampilan tinggi dalam bermain bola basket. Namun, apa jadinya apabila Jordan tak punya keinginan untuk meraih prestasi tinggi?

Tentu saja, ada kemungkinan, Jordan tak bisa seperti Jordan saat ini apabila tidak memiliki keinginan. Keinginan–meskipun sulit diprediksi bagaimana kita dapat merasakan memilikinya dan caranya supaya kita punya keinginan–merupakan unsur pembeda yang sangat penting antara apakah orang “hebat” yang satu dan orang hebat yang lain dapat meraih sukses. Meskipun ada dua orang yang sama hebatnya berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, kedua orang ini secara sangat jelas dapat memiliki nasib berbeda apabila diukur dari sisi keinginan.

Lalu apa kaitan keinginan dengan kegiatan menulis?

*

Pembaca yang budiman, pada akhir Mei 2003 lalu, saya, selaku koordinator Mizan Writing Society (Masyarakat tulis Mizan [MTM]), mencoba melakukan aksi di Pesta Buku Jakarta. Aksi yang saya lakukan adalah membuka Klinik Baca-Tulis. Sifat aksi ini dapat dikatakan sebagai semacam “pelayanan” kepada masyarakat. Bisa jadi, klinik itu juga merupakan peniruan persis dari aksi Posyandu atau Poliklinik yang menggarap kesehatan masyarakat.

Benar bahwa Klinik Baca-Tulis yang diselenggarakan oleh MTM–bekerja sama dengan Penerbit Mizan di Pesta Buku Jakarta–tersebut memang mencontoh praktik-praktik poliklinik atau posyandu yang telah tersebar luas di tengah masyarakat. Klinik yang didirikan MTM dimaksudkan untuk membantu masyarakat luas dalam memecahkan problem-problem membaca dan menulis yang, mungkin, melilit mereka.

Memang, saya sebagai “dokter” di klinik tersebut tidak sebagaimana dokter beneran yang memberikan obat. Saya hanya mengajak para pengunjung yang datang ke klinik saya untuk mengobrol–tepatnya, membagikan pengalaman membaca dan menulis. Pada saat menyusun skenario bagaimana nantinya klinik ini berjalan, saya mengusulkan agar setiap pengunjung dapat menuliskan lebih dahulu apa saja yang mau diobrolkan. Saya beranggapan bahwa dengan menuliskan lebih dahulu apa yang mau diobrolkan tentulah akan memudahkan saya, terutama, untuk mempersiapkan obrolan-bandingan.

Juga, saya menganggap bahwa apabila seseorang dapat menuangkan secara tertulis persoalan yang menggayuti benak dan hatinya–terutama berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis–maka orang yang menuliskan persoalannya tersebut akan lebih mudah mengomunikasikan dan menikmati perbincangan yang terjadi. Saya juga merancang agar mekanisme klinik berjalan secara sangat personal. Artinya saya, sebagai “dokter”, memang melakukan obrolan secara “face to face” dan pribadi.

Dengan mengobrol secara pribadi, biasanya orang lebih dapat terbuka dan total dalam mengeluarkan persoalannya. Apalagi persoalan yang ingin diungkapkan ini sebenarnya persoalan yang biasa dan, bisa jadi, melanda semua orang namun sangat urgen. Dan, meniru terapi berbicara dan menulis yang dilakukan oleh psikolog James W. Pennebaker, saya juga ingin menjadikan keterbukaan atau kesediaan mengalirkan secara bebas apa yang dipikirkan seseorang itu dapat membantunya dalam mengatasi tekanan.

Namun, apa yang terjadi dengan klinik perdana yang saya rintis ini? Skenario itu ternyata berantakan. Tiba-tiba saja ada banyak sekali orang yang datang dan mengerubung saya. Saya kemudian dibanjiri oleh banyak sekali pertanyaan yang bermacam-macam. Ada pertanyaan yang bisa saya tangkap secara jelas, dan juga, kadang, ada yang tidak dapat saya cerna. Akhirnya, saya pun harus melayani para pengunjung secara massal. Dan pengunjung tak berhenti bertanya. Saya pun harus terus berbicara, berbicara, dan berbicara.

*

Salah satu hal yang saya catat dan menarik untuk saya bagikan kepada para pembaca adalah antusiasme pengunjung. Rata-rata para pengunjung klinik saya itu memiliki “keinginan-kuat” untuk dapat membaca buku secara baik, rutin, dan akhirnya menjadi kebiasaan. Selain itu, mereka juga ingin dapat menuliskan seluruh pengalaman menariknya sehingga dapat dibagikan dan kemudian dibaca oleh orang lain. Saya kira–mengikuti Jordan dan juga teori Covey tentang kebiasaan–apa yang saya jumpai itu merupakan fenomena menarik. Saya katakan menarik lantaran sudah kerap terdengar di lingkungan kita bahwa budaya membaca–apalagi budaya menulis–masyarakat Indonesia itu rendah.

Meskipun data yang saya kumpulkan tidak sahih atau kurang memenuhi syarat untuk dijadikan referensi, namun saya merasakan sendiri betapa antusiasmenya para pengunjung yang datang ke klinik saya. Saya kemudian menebak-nebak sendiri kenapa mereka mengikuti klinik saya secara antusias. Atau, dalam bahasa lain, saya kok sangat yakin bahwa para pengunjung klinik saya itu sudah menyimpan “keinginan” yang sangat besar untuk dapat membaca dan menulis buku. Hanya kapan “keinginan” itu dapat diledakkan oleh mereka, mereka tidaklah mengetahuinya.

Ada dua hal yang perlu saya sampaikan di sini. Pertama, kalau itu benar–yaitu, dugaan saya bahwa mereka memang punya “keinginan”–maka saya kira apa yang disimpan oleh para pengunjung klinik saya itu dapat mengubah keadaan mereka. Sebab, mengikuti Jordan, keinginan mampu memotivasi seseorang untuk meraih sebuah prestasi. Dan apabila saja keinginan membaca dan menulis buku secara baik yang dimiliki para pengunjung klinik saya itu benar-benar mendorong mereka untuk melakukan kebiasaan membaca dan menulis secara sedikit demi sedikit, setiap hari, tentulah mereka akan menguasai keterampilan dan memiliki pengetahuan membaca dan menulis.

Kedua, kalau itu salah–yaitu mereka sebenarnya memang tidak punya keinginan sebelumnya–maka dengan merangsang mereka dalam bentuk pembukaan klinik sebagaimana yang saya rancang itu, sebenarnya tak sedikit orang yang kemudian berhasil memunculkan keinginan untuk bisa memiliki pengetahuan dan menguasai keterampilan membaca dan menulis. Saya percaya bahwa keinginan dapat diciptakan. Apabila seseorang berhasil merumuskan manfaat tentang apa saja yang ingin dilakukannya, tentulah orang itu dapat memunculkan keinginannya secara hebat.

Terlepas dari semua apa yang saya uraikan, Klinik Baca-Tulis milik MTM ini nantinya memang ingin, pertama-tama, menampung keluhan dan semacamnya berkaitan dengan buku, membaca, dan menulis. Kami menyadari betapa tidak mudahnya seseorang yang ingin bertanya soal buku yang baik dan menarik, dan juga soal kegiatan membaca dan menulis yang menyenangkan, menemukan orang yang tepat untuk melayani keinginan bertanya itu. Nah, Klinik Baca-Tulis MTM didirikan untuk membuka peluang kepada masyarakat yang ingin mengalirkan keluhan atau apa pun yang, mungkin, telah disimpannya lama sekali. Klinik Baca-Tulis akan bersedia berubah wujud menjadi “keranjang sampah” atau wadah apa pun yang bermanfaat bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kemampaun membaca dan menulisnya.

Kedua, Klinik Baca-Tulis ingin membuat dan melontarkan isu ke tengah masyarakat tentang pentingnya membaca dan menulis buku. Sudah disadari sejak lama bahwa membaca dan menulis buku merupakan salah satu kegiatan yang dapat membawa sekelompok masyarakat membangun peradaban yang tinggi. Sayangnya, di Indonesia, kesadaran itu memang ada, hanya praktik atau aksi dalam menerjemahkan kesadaran tersebut dalam program-program yang nyata belumlah banyak. Beberapa komunitas yang peduli buku memang sudah mulai bermunculan. Namun, dukungan dari pelbagai pihak yang ingin diraih oleh komunitas-komunitas itu masih belum kelihatan secara sangat nyata. Dengan menciptakan isu, kami berharap dukungan perlahan-lahan bisa mulai mengkristal.

Ketiga, Klinik Baca-Tulis MTM melakukan pendekatan dalam memecahkan problem membaca dan menulis dengan cara yang diharapkan berbeda. Atau, kalau toh tidak bisa berbeda secara signifikan dengan pendekatan yang selama ini ada, maka diharapkan klinik ini dapat ikut memperkaya bagaimana merangsang tumbuhnya potensi membaca dan menulis di tengah masyarakat luas. Klinik ini mencoba memangkas kendala-kendala yang mengerangkeng seseorang untuk memunculkan potensi membaca dan menulis. Pendekatan yang digunakan dapat disebut sebagai “pendekatan unleashing” yang membuat seseorang secara sangat bebas memunculkan apa yang dipendamnya sekian lama.

Lewat pendekatan-pendekatan yang berbeda itulah diharapkan, suatu saat kelak, tentulah dengan usaha yang cukup dan kepemilikan “keinginan yang sangat kuat”, setiap orang dapat berteriak sangat keras dan merasa dirinya menemukan sesuatu–“Wow, aku ternyata bisa menulis!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: