Menjadikan Teks sebagai Senjata

Penulis: Hernowo

Bahan-bahan yang saya gunakan untuk mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anak didik saya berasal dari apa saja yang saya baca. Saya mengajar sekali seminggu pada hari Sabtu. Selama hampir seminggu–hampir setiap hari–saya memilih dan mengumpulkan bahan-bahan dari buku-buku yang saya baca dan dari pelbagai ragam sumber informasi yang saya akses, seperti Internet, surat kabar, majalah, televisi, dan lain-lain.

Saya ingin materi kebahasaan yang saya ajarkan senantiasa up to date. Artinya, saya ingin menggunakan bahasa sebagai salah satu cara menjadikan mereka tahu tentang apa saja yang sedang berkembang di sekitar mereka. Saya kok merasa yakin bahwa dengan memosisikan bahasa seperti itu, akhirnya saya dapat membuat mereka dapat merasakan manfaat belajar bahasa Indonesia.

Kadang, setelah saya selesai mengisahkan apa yang saya dapat, saya lalu bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka dapat selama seminggu. Apakah mereka memperoleh hal-hal baru dari apa yang mereka baca? Apakah ada sebuah kabar atau berita yang mengesankan mereka yang mereka peroleh dari surat kabar, misalnya? Apakah ada yang bermanfaat untuk mengembangkan diri mereka yang berasal dari televisi, radio, ataupun Internet?

Itulah, sekali lagi, bahan-bahan yang saya gunakan untuk mengajarkan bahasa Indonesia.

Apakah dengan begitu saya lantas tidak mengikuti kurikulum pengajaran bahasa Indonesia yang disediakan oleh pemerintah? Saya jelas masih berpedoman dan mempelajari kurikulum itu. Namun, saya menggunakannya secara fleksibel, tidak kaku. Misalnya, saya sadar bahwa saya harus mengajarkan bahasa Indonesia dalam konteks dapat mencakup empat keterampilan berbahasa: berbicara, menyimak, membaca, dan menulis. Saya, memang, senantiasa berusaha mencoba mendasarkan proses belajar-mengajar saya untuk keperluan peningkatan empat keterampilan berbahasa tersebut.

Benar, saya memang hanya menekankan pada salah satu aspek keterampilan berbahasa saja, yaitu menulis. Mengapa? Hal ini ada kemungkinan, pertama, lantaran keterbatasan saya. Saya merasa tidak layak untuk mengklaim bahwa saya mampu mengajarkan (apalagi melatih) mereka, anak didik saya, dalam keempat keterampilan berbahasa atau berkomunikasi tersebut. Saya lalu mengambil saja yang merupakan salah satu aspek yang, menurut saya, memang saya kuasai.

Kedua, saya kok merasa yakin bahwa dengan mengajarkan keterampilan menulis kepada mereka, saya sekaligus dapat menunjukkan bahwa apabila mereka mau dan akhirnya mampu menguasai keterampilan menulis, bisa jadi ketiga aspek keterampilan berbahasa–berbicara, menyimak, dan membaca–dapat mereka tingkatkan juga. Ini memang masih berupa hipotesis saya. Masih perlu diuji keandalannya. Apabila ditanyakan kepada saya apa landasannya, ya saya akan bercerita tentang pengalaman diri saya.

Selama ini saya memang mencoba benar-benar menggunakan kegiatan menulis untuk mengatasi permasalahan saya dalam berkomunikasi. Sebelum saya berlatih habis-habisan menulis, saya termasuk orang yang gagap berbicara secara lisan, apalagi kalau diminta berbicara di depan orang banyak. Saya kadang gugup dan gembrobyos (keringat terus mengalir dari tubuh saya). Yang lebih parah adalah saya kadang tidak dapat mengendalikan pembicaraan begitu waktu mulai bergerak. Kadang saya terjebak untuk bicara ke mana-mana, ngalor-ngidul, tak keruan ujung-pangkalnya. Ujung-ujungnya, saya bingung sendiri dan tak paham dengan hal-hal yang saya bicarakan.

Nah, lewat menuangkan lebih dahulu secara tertulis apa pun yang ingin saya omongkan, saya merasa lebih enak dan percaya diri. Saya menuangkan bukan dalam bentuk outline atau poin per poin. Saya menuangkan secara bebas dan total dalam bentuk esai yang kadang berlembar-lembar panjangnya. Yang penting saya sudah mengeluarkan semua hal yang memang ingin saya omongkan atau keluarkan. Apabila saya berhasil melakukannya, saya akan lebih mudah dan lancar dalam menyampaikan apa yang perlu saya sampaikan.

Yang mengherankan saya, apa pun yang saya tulis kemudian melekat-kuat di benak saya. Saya seperti diberi kekuatan untuk dapat mengendalikan omongan saya. Saya merasa, menulis dapat membantu saya untuk menyaring dan menguasai materi yang ingin saya omongkan. Dan kalau sudah begini menulis saya rasakan dapat mempiawaikan cara berkomunikasi lisan saya. Saya lalu dapat berbicara secara benar, tertata, dan fokus. Sekali lagi, kemampuan menulis dapat digunakan seseorang untuk memperbaiki komunikasi lisannya.

Menulis juga dapat “memaksa” saya untuk mau membaca atau mencari tambahan informasi. Lantas, setelah itu, apa saja yang saya baca dapat saya manfaatkan untuk mengembangkan diri saya apabila saya dapat menyerap “gizi” yang saya baca. Caranya? Ya dengan “mengikat” atau menuliskan hal-hal menarik dan mengesankan saya yang saya peroleh dari kegiatan membaca. Ada kemungkinan, tanpa didampingi kegiatan mencatat, proses pembacaan saya tidak begitu efektif. Informasi yang saya serap hanya menumpuk di kepala saya dan hilang satu per satu akibat tindihan informasi baru.

Nah, terakhir, untuk dapat mencatat secara baik, saya harus mendengarkan dengan baik pula apa saja yang saya baca. Kadang tuntutan untuk dapat menuliskan sesuatu secara bernas dan tuntas juga “memaksa” saya untuk menyimak dengan penuh perhatian terhadap sumber informasi yang saya serap. Apabila saya menyerap informasi dari sebuah buku, maka saya harus “mendengarkan secara aktif” (active listening) setiap gagasan yang ingin disampaikan oleh seorang pengarang.

Hanya dengan menyimak secara penuh perhatianlah seseorang itu dapat “membaca” apa saja yang ingin diserapnya. Juga apabila kita ingin dapat menampung segala curahan hati (curhat) seseorang, kita perlu benar-benar merekam seluruh gerak-gerik fisik, kata-kata yang keluar, dan juga emosi yang bergejolak yang disampaikan oleh seseorang tersebut. Active listening tak mungkin terbentuk apabila tidak disertai kesungguhan membaca, merekam (bisa dengan mencatat), dan memberikan respons secara lisan (berkomunikasi secara empatik).

*

Demikianlah, kurang lebih, materi yang saya berikan kepada seorang mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra saat mewawancarai saya pada Jumat, 13 Juni 2003. Sang mahasiswi itu tertarik untuk mengetahui cara saya mengajarkan bahasa Indonesia di sebuah SMU. Dia ingin tahu metode yang saya gunakan dalam mengajar dan bagaimana saya menyusun kurikulum serta apa yang ingin saya raih. Yang menarik–di antara beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada saya–dia juga bertanya soal sebab-sebab pengajaran bahasa Indonesia yang–dirasakannya dan juga saya rasakan–kadang membosankan. Kenapa ya?

Apakah pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah memang terasa membosankan? Saya kira bagi yang menyenangi mata pelajaran bahasa Indonesia, tentulah mata pelajaran itu menyenangkan. Bagi yang tak menyenangi mata pelajaran tersebut–apalagi bagi yang memiliki minat tinggi dalam mempelajari mata pelajaran lain selain bahasa Indonesia–tentulah, bisa jadi, kelas yang mengajarkan materi pelajaran bahasa Indonesia akan terasa membosankan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya membuat kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia menjadi tidak membosankan? Atau, apakah membosankan dan tidak membosankan dalam kaitan pembelajaran bahasa Indonesia ini harus didudukkan lebih dahulu ketimbang memasalahkan dan kemudian mencari solusinya? Apakah pelajaran bahasa Indonesia di sekolah selama ini memang membosankan? Saya tidak tahu. Saya hanya menunjukkan kepada mahasiswi yang mewawancarai saya tentang pengalaman saya mengajarkan bahasa Indonesia selama hampir lima tahun di SMU.

Saya tunjukkan kepadanya–termasuk saya bertanya juga kepada mahasiswi tersebut–bahwa apabila seseorang ingin melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, tentulah salah satu (atau mungkin lebih) dari empat cara berbahasa (yang telah disebutkan sebelum ini) sangat penting untuk dikuasai. Misalnya kemampuan menulis. Kemampuan menulis, setidaknya, perlu dikuasai oleh seseorang yang ingin melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Apakah ada yang tidak setuju berkaitan dengan hal ini? Mungkin ada ya yang tidak setuju.

Lalu, saya dan mahasiswi itu terlibat diskusi tentang dunia tulis-menulis–di antaranya adalah bagaimana cara memotivasi seseorang untuk mau membiasakan diri menulis. Terutama, setelah mahsiswi itu tahu bahwa saya hanya mengajarkan bidang keterampilan menulis di SMU tempat saya mengajarkan bahasa Indonesia. Mengapa hanya menulis, kan belajar bahasa itu tidak hanya berkaitan dengan menulis? Kan masih ada keterampilan lain berbahasa yang perlu dipelajari? Saya kemudian menjelaskan kepadanya sebagaimana tulisan yang saya ciptakan di awal tulisan ini.

Apabila kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia di sekolah kita anggap, memang, cenderung membosankan (tidak merangsang anak didik untuk menguasai keterampilan berbahasa), lantas apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah keadaan yang, mungkin, membosankan itu?

*

Saya katakan kepada mahasiswi yang mewawancarai saya bahwa tujuan saya mengajarkan bahasa Indonesia adalah untuk memperkaya pemikiran anak didik saya. Saya senantiasa mengawali pengajaran saya dengan menceritakan apa saja yang saya dapat berkaitan dengan teks. Kadang saya membawa buku dan menunjukkan manfaat yang saya serap dari teks yang saya baca. Kadang saya membuat transparansi yang bahannya saya peroleh dari Internet, surat kabar, atau media lain.

Saya merasa tidaklah mungkin pembelajaran di kelas yang hanya memakan waktu efektif selama satu setengah jam dapat digunakan untuk menyampaikan seluruh materi pelajaran yang ingin diajarkan. Saya kadang menyiasatinya dengan memberikan gambaran besar dan apa manfaat mata pelajaran yang ingin dipelajari mereka saat itu. Saya juga berusaha untuk merangsang mereka agar tidak hanya berhenti belajar di kelas. Saya mendorong mereka untuk belajar di dunia yang lebih luas.

Saya ingin anak didik saya belajar bahasa Indonesia sesuai dengan perkembangan yang terjadi di luar. Saya, terutama, ingin menunjukkan kepada mereka bahwa teks dapat dijadikan “senjata” untuk, salah satunya, memperkaya pikiran mereka. Apabila pikiran mereka dapat diperkaya dengan teks-teks yang membuat cakrawala mereka semakin lebar, tentulah mereka akan dapat merangsang diri mereka sendiri untuk terus mencari pengetahuan yang bermanfaat, salah satunya, lewat teks, dengan, misalnya menyelenggarakan kegiatan membaca buku, berselancar di Internet, atau berdiskusi.

Saya juga katakan kepada mahasiswi itu bahwa saya tidak hanya memberikan pengetahuan kepada mereka berkaitan dengan bahasa Indonesia. Saya kadang mengajak mereka untuk menggunakan bahasa untuk memecahkan problem-problem mereka. Saya ingin mereka berlatih menggunakan bahasa Indonesia demi keuntungan diri mereka. Saya, misalnya, memberikan tugas kepada mereka untuk membuat surat lamaran kerja. Saya kadang meminta mereka untuk menulis surat kepada orangtua atau sahabat mereka. Saya juga meminta mereka untuk mengekspresikan diri mereka secara tertulis dan bebas.

Saya menganjurkan mereka untuk menyediakan buku harian. Saya katakan kepada mereka bahwa buku harian dapat membuat mereka hidup dalam dunia yang ingin mereka ciptakan sendiri. “Menuliskan rasa marah, harapan, ketakutan, kecemburuan bisa mencegah Anda dari menguburkan emosi Anda dalam-dalam, yang menyebabkan emosi itu sulit diraih kembali. Penggunaan huruf besar, tanda seru, atau kata sifat saat menulis buku harian merupakan cara Anda berteriak tanpa harus membangunkan tetangga,” tulis Laurel Schmidt.

Tugas-tugas yang saya berikan saya pola sedemikian rupa sehingga tugas itu betul-betul berkaitan dengan diri mereka dan mereka, nantinya, dapat merasakan manfaatnya. Saya ingin tugas-tugas bahasa Indonesia yang saya berikan kepada mereka dapat membuat diri mereka menguasai keterampilan berbahasa–setidaknya keterampilan menulis–secara benar-benar mengasyikkan mereka. Bagaimana membuat anak didik saya menyenangi sebuah tugas? Bukankah tugas-tugas mereka di sekolah sudah terlalu banyak untuk dikerjakan di rumah?

Saya senantiasa memberikan tugas dengan lebih dahulu membebaskan diri mereka. Misalnya, saya meminta mereka untuk mengirimkan tugas mereka dalam bentuk e-mail. Di samping mudah, cepat, dan murah meriah, e-mail dapat membebaskan mereka lantaran sifatnya yang sangat personal. Saya juga meminta mereka untuk mencatat perkembangan diri mereka lewat buku harian. Merujuk ke kata-kata Schmidt, saya kira buku harian juga dapat membebaskan diri mereka. Kadang cara saya mencek apakah mereka menulis atau tidak di buku harian mereka adalah saat mereka menjalani ulangan-ulangan harian yang kadang saya lalukan secara mendadak tetapi membuat mereka tidak merasa tertekan.

Nah, salah satu kegiatan menyenangkan yang terakhir saya berikan kepada mereka adalah tugas memilih lagu yang mereka sukai. Saya meminta mereka memilih satu lagu yang benar-benar bermakna bagi mereka. Saya meminta mereka–selain mendengarkan dengan saksama dan menikmati iramanya–agar menuliskan lirik dan kemudian mengapresiasi sesuai apa yang mereka pahami.

Tentu, untuk membuat mereka lebih senang, saya senantiasa memberikan hadiah berupa buku-buku yang cocok dengan karakter mereka, terutama bagi yang berprestasi. Reward semacam ini, saya kira akan membuat harga diri dan kepercayaan diri mereka membubung tinggi. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: