Columbus “Penemu yang Kehilangan Nama”

COLUMBUS, mungkin orang terkenal yang paling sial sedunia. Bayangkan, tak ada satu pun sejarawan dunia yang bisa mereka secara pasti, bagaimana rupa penjelajah terkenal ini. Tak heran jika akhirnya, untuk urusan wajah saja, ada 71 versi, yang hampir kesemuanya berbeda. Padahal, seharusnya kesemerawutan wajah itu tak perlu terjadi, seandainya para sejarawan mau mendengarkan tuturan Hernando, anak lelaki Columbus.

“Sang admiral adalah pria bertubuh tegap, di atas ukuran rata-rata, berwajah panjang dengan bertulang pipi tinggi. Tubuhnya tak bisa dikatakan gendut, juta tak ramping. Hidungnya bengkok, bak paruh rajawali, berkulit terang, cenderung memerah. Waktu muda rambutnya pirang, tapi saat menginjak 30 tahun, semua berubah putih,” tulisnya, tentang biografi ayahnya.

Sumber lain, buku Historia de las Indias karya Bertolome de las Casas, memberikan deskripsi senada. Juga buku Gonalo Fernande de Oveido, Historia general y’natural de las Indias. Kedua sejarawan Spanyol itu hanya menambahkan jambang dan bintik merah di sekitar wajah.

Maka, aneh jika akhirnya, hampir semua lukisan Columbus, berbeda. Laransky (1984) menggambarkan wajah yang murung, tak ramah. Stimmer (1574) menggambarkan wajah yang bulat, dengan rambut yang berpilin seperti hakim Inggris. Sedangkan De Bry (1595) justru menampilkan wajah yang agak bersifat feminin, dengan pipi yang tampak tembam. Gullick menafsirkan Columbus sebagai sosok yang setengah botak dengan tubuh kegemukan. Hanya Laransky pada 1984 yang mengambarkan sosoknya sebagai pelaut, gemuk, gondrong, lengkap dengan topi nahkoda.

Ada apa di balik keberbedaan itu?

Ternyata, selama hidupnya, Columbus tak pernah meminta melukis wajahnya. Para sahabatnya pun tak ada yang meminta ia dilukis. Hal ini menunjukkan, kata sastrawan Amerika abad 18 Washington Irwing, Columbus bukanlah orang yang terkenal di zamannya. Dia bahkan berpendapat, keluarga Columbus lebih memilih membelanjakan uangnya untuk hal lain daripada melukis pelaut ini.

Apakah Columbus miskin? Ya, jika kita melihat pengakuan anaknya, Hernando.

“Kami merupakan keluarga terhormat yang menjadi miskin akibat faksi-faksi dalam dinasti Lombardy,” jelasnya.

Tapi banyak sejarawan yang meragukan penjelasan Hernando, terutama soal asal usul ayahnya. Ini karena, begitu banyak versi yang mewarnai sejarah si penemu benua Amerika ini. Hampir semua klan Colombo di Italia, Colon di Spanyol, Colom di Portugal, dan Coullon di Prancis, mengklaim trah Columbus. Maka, cerita pun berkembang berdasarkan versi masing-masing klan itu. Lahirlah mitos baru, dari pelaut yang gagah, kaya, tampan, gemuk, sampai tokoh mistis yang memiliki berbagai keajaiban. Ini memang proses yang wajar.

“Tertipu” Americo Verpucci

Kemungkinan, Columbus lahir di Genoa, ibukota Italia Riviera, 1451. Kota di sisi laut itu membuat pergaulannya meluas sampai pada para penjelajah dan nahkoda dari berbagai bangsa. Dan dari cerita-cerita para pelayar, naluri bertualangnya bangkit.

Pelayaran pertamanya, hanya ke Chios, koloni Genoa. Ia pun masih bekerja pada toko kelontong ayahnya di Savona. Yang membuat naluri bertualangnya muncul adalah saat berlayar ke Prancis, setelah acap berlabuh di Chios.

Banyak yang mengaitkan, naluri berlayarnya muncul karena seruan Paus untuk merebut kota Konstatinovel dan Yerusalem, yang berhasil diduduki tentara muslim. Columbus terbakar, dan bermaksud memberikan wilayah jajahan baru bagi Genoa, setelah kehilangan Turki.

Ahli filologi Spanyol Ramon Menende Pidal yakin Columbus tak pandai berbahasa Spanyol Italia atau Ibrani-Spanyol. Tulisan perjalanan Columbus membuktikan hal itu, dia hanya tahu bahasa Italia dialek Genoa, yang jauh dari struktur resmi baku bahasa Italia. Ini kian menunjukkan, kemungkinan lain, Columbus bahkan buta huruf saat memulai penjelajahannya.

Lalu, bagaimana dia bisa menemukan Amerika?

5 Agustus 1498, Columbus memang menemukan Amerika, yang pertama kali. Kala itu, saat melihat sebuah sungai yang besar, Columbus berkata, “Ini bukan pulau. Mustahil ada sebuah pulau yang mampu menampung air untuk sungia sebesar ini (yang ia bisa layari -red). Ini pasti sebuah benua.” Tulisan dalam jurnal harian itu juga menunjukkan keyakinan Columbus, benua itu belum pernah dijejaki kaki orang Eropa. Dan dia benar.

Tapi, kesialan memang melanda pelaut ini. Sebagai penemu pertama, benua baru itu justru dinamai Amerika, mengikuti nama seorang penjelajah, Americos Verpucci. Dan hal ini menimbulkan perdebatan yang klasik. Sampai muncul versi, Americus memang penemu pertama sebelum Columbus.

Pengadilan di Boston, 1697, pernah memutuskan, benua baru itu seharusnya memakai nama Culumbia, nama yang juga diusulkan saat Revolusi Amerika bergejolak. Dan tahun 1777, sejarawan William Robertson menjelaskan Verpucci sebagai penipu. “Amerika membawa nama seorang penipu,” kecamnya.

Untuk kasus ini, Verpucci tak sepenuhnya salah. Dia memang yang menyadari pertama kali, daratan itu sebuah benua. Columbus yakin itu masih terusan dari benua Asia. Tapi, tampaknya, masalah nama itu termasuk “bayaran” Columbus pada Vespucci.

Sejarawan Consuelo Varela mengatakan Vespucci amat berjasa “menghilangkan” sejumlah utang besar Columbus. Bahkan, setelah penjelajah ini mati, dialah yang membiayai kebutuhan keluarga Columbus. Ia pula, yang disinyalir banyak sejarawan, ikut membiayai pelayaran ke benua baru itu.

Namun, yang paling mungkin kenapa “kecelakaan” sejarah itu terjadi adalah karena Vespucci menuliskan semua pandangannya tentang benua baru itu secara lebih detil daripada Columbus, dengan segala eksotismenya, yang mirip daya khayal romantisme Eropa. Dia juga menuturkan detil perjalanan penjelajahan itu, yang meragukan banyak orang, karena dia tak ahli di bidang itu. Bisa jadi, penjelasan penjelajahan itu merupakan “manuskrif” Columbus. Namun, terbitan Verpucci memang populer. Dan, benua baru itu memakai namanya setelah Basin de Sandacourt dan Mathias Ringmann menerbitkan peta dunia, 1507. Mereka, saat menggambarkan benua baru itu, menulis: Benua ke empat telah ditemukan Amerigo Vespucci, dan tak ada alasan lagi, benua baru itu harus dinamakan Tanah Americus, atau Amerika….”

Dan sejarah kemudian mengabadikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: