Budaya “Instant” Hambat Perkembangan Novel Indonesia

Budaya instant dengan semangat aji mumpung merupakan faktor penghambat perkembangan novel Indonesia. Di sisi lain, kecenderungan masyarakat Indonesia yang cepat merasa puas membuat produktivitas penciptaan novel menjadi lemah. Tak aneh bila novel-novel yang lahir di era 90-an cenderung menyerupai cerpen yang dipanjang-panjangkan.Dr Faruk HT dari Fakultas Sastra Universitas Gadjahmada (FS-UGM) mengemukakan hal ini ketika dihubungi di sela-sela Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) IX dan Pertemuan Sastrawan Indonesia (Persi) 1997 di Kayutanam, Sumatera Barat. Memasuki hari keempat PSN IX dan Persi ’97, Selasa (9/12), acara lebih difokuskan pada diskusi silaturahmi antarsastrawan.

Rabu (10/12) ini dilangsungkan wisata budaya, yakni mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan setting kisah yang ditulis para sastrawan asal Minangkabau. Selain itu, para peserta PSN IX dan Persi 1997 juga diajak melihat desa kelahiran sastrawan besar Minangkabau, seperti ke rumah mendiang (alm) Buya
HAMKA yang masih terawat baik di tepian Danau Maninjau.

Tradisi refleksi

Menurut Faruk, secara sosiokultural masyarakat dan kebudayaan bangsa ini tidak pernah berhasil nenjadi sebuah masyarakat dan kebudayaan yang mengendap, sehingga membentuk sebuah satuan utuh. Yang terjadi justru adalah masyarakat fragmentaris. Dalam masyarakat seperti ini, peluang untuk melakukan refleksi menjadi kecil, apalagi mengendapkan pengalaman-pengalamannya untuk membangun sebuah model budaya yang utuh.

Ketiadaan tradisi refleksi ini memang tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki akar sejarah yang panjang. Kondisi kemiskinan yang traumatik, misalnya, secara historis membuahkan beberapa kebijakan yang diwariskan hingga sekarang. Kemiskinan – terutama akibat kolonialisasi Belanda, khususnya pada masa sistem tanam paksa – telah membuat manusia Indonesia amat pragmatis, dalam pengertian hanya berorientasi pada masa kini.

Ketiadaan tradisi refleksi ini kemudian bertemu dengan faktor sosiokultural baru yang dibangun oleh tata ekonomi kapitalis. Lewat penetrasi pasar yang luar biasa, ekonomi kapitalis ini menciptakan cara pandang dan cara hidup instant. Kecemasan karena takut ti-dak mendapat bagian, membuat masyarakat Indonesia tidak dapat bersabar.

“Padahal, refleksi membutuhkan keberjarakan dari apa yang tampak di masa kini untuk meraih masa depan. Refleksi membutuhkan keberjarakan untuk dapat melihat dan menemukan sesuatu yang tidak terdapat di masa kini,” ujarnya.

Hadirnya budaya instant dengan semangat aji mumpung serta belum suburnya tradisi refleksi dalam masyarakat, dalam pandangan Faruk, membuat produktivitas penciptaan novel Indonesia rendah. Alhasil, dunia sastra Indonesia dikuasai oleh cerita-cerita pendek seperti yang diformat oleh ruang di media massa. Kalaupun ada beberapa novel yang tercipta, tambahnya, novel-novel itu cenderung menyerupai kumpulan cerpen dari cerpen yang dipanjang-panjangkan.

Tentang hal ini -saat membahas delapan sampel novel Indonesia yang tergolong mutakhir dalam salah satu sesi persidangan PSN IX dan Persi 1997-, Faruk menunjuk contoh novel Perang (Putu Wijaya), Durga Umayi (YB Mangunwijaya), Para Priyayi (Umar Kayam), dan Bekisar Merah (Ahmad Tohari). Sedangkan empat novel lain, yakni Pasar (Kuntowijoyo), Arus Balik (Pramudya Ananta Toer), Nyonya Talis (Budi Darma), dan Tamu (Wisran Hadi), dalam pembahasannya Faruk tidak secara tegas mengaitkannya dengan fenomena novel yang ia sebut sebagai penyerupaan kumpulan cerpen.

Bagi Faruk, keberadaan novel-novel Indonesia mutakhir hendaklah mampu tampil menjadi semacam wacana alternatif. Tolok ukur ini sekaligus mengimplikasikan adanya relativitas, di mana sebuah novel akan bergantung pada konteks tertentu, yakni konteks cara pandang yang dominan terhadap kehidupan yang ada pada ruang dan waktu tertentu.

Untuk membangun dunia alternatif, apalagi dalam bentuk novel yang panjang dan utuh, para novelis dituntut bisa keluar dari eksistensinya sebagai bagian dari dunia sistem. Novelis juga harus bisa mengambil jarak dari cara pandang masyarakat ‘normal’. Dan yang tak kalah penting, novelis juga dituntut dapat keluar dari proses kehidupannya -yang di dalamnya ia bersama dengan orang kebanyakan terseret di sana-, kemudian melakukan refleksi mengenai kehidupan di sekitarnya.

Fenomena “Arus Balik”

Di tengah rendahnya produktivitas dan kecenderungan novel yang menyerupai cerpen yang dipanjang-panjang itu, secara implisit ia mengakui masih ada karya yang memiliki kedalaman. Paling tidak fenomena itu tampak ketika Faruk membahas Arus Balik-nya Pramudya Ananta Toer.

Jika dibandingkan Para Priayi atau Durga Umayi misalnya, cerita dalam Arus Balik lebih kaya dengan apa yang disebut Faruk sebagai peristiwa singular. Sedangkan pada Para Priayi atau Durga Umayi, ceritanya cenderung dikuasai peristiwa-peristiwa repetitif, yakni semacam kebiasaan yang sudah berpola.

Selain itu, Arus Balik juga kaya dengan gambaran dan perlengkapan perang yang memukau. Arus Balik juga kaya dengan gambaran perdebatan yang mengasyikkan. Gambaran tata cara pergaulan dan adat istiadat masyarakat Tuban saat cerita terjadi, tata cara hubungan antara raja dengan rakyatnya, juga ikut memperkaya gambaran keseluruhan yang dihadirkan Arus Balik. Di antara rangkaian cerita itu sering pula terungkap kata-kata bijak.

“Hanya Perang karya Putu Wija-ya yang memperlihatkan kualifi-kasi yang demikian: kaya peristiwa, kaya perdebatan, kaya kata-kata bijak,” ujar Faruk HT.

Akan tetapi, tambahnya, di da-lam novel Putu tersebut peristiwa-peristiwa hanya sampai batas episodik yang lalu lepas dari episode lainnya. Kata-kata bijak itu begitu membanjir dan sengaja dipermainkan sehingga tidak membangun makna (tentang hal ini Faruk malah menyebutnya nonsense!). Sebaliknya, dalam Arus Balik karya Pramudya semua itu sangat ber-konsentrasi, memusat, bergerak dari kekayaan variasi permukaan untuk masuk ke dalam sebuah esensi di kedalaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: