GENDANG KALENG & NOBEL SASTRA

Ayahku berkata : “kamu adalah anak laki-laki yang akan mewarisiku sebagai pedagang”. Akhirnya kita jadi tahu kenapa kita harus bekerja keras membanting tulang sepanjang waktu. Tetapi ibuku sama sekali tidak memikirkan masalah itu, beliau hanya menyiapkan kewajiban terhadap anaknya : “saya tahu dia adalah anak laki-laki, walaupun saya menjerit seribu kali bahwa saya ingin mempunyai anak perempuan”.

Beginilah hubunganku mulai tumbuh dengan suara seorang perempuan yang selalu membisikkan kata-kata berarti lewat telingaku: ”kalau kamu sudah berumur tiga tahun, maka kamu akan mendapat hadiah gendang”. Gendang…, yah…., cuma hanya gendang kecil yang terbuat dari kaleng, hadiah pertama yang ia peroleh dalam hidupnya, yang akan berperan besar dan sangat menentukan hari depannya kelak.

Hanya gendang satu-satunya yang menjadikan Oscar mempunyai pegangan dalam hidupnya. Di tabuhnya untuk memecahkan demonstrans para nazi, di pukulnya untuk menghibur para serdadu kolonialisme nazi di Prancis, di kumandangkannya untuk mengumpulkan biaya peperangan.

Si pendek Oscar yang kelihatan ideot, pada hari ulang tahunnya yang ke tiga menghentikan masa pertumbuhannya, sehingga tidak menjadi seorang pedagang seperti ayahnya, dan tidak menjadi politikus bagaikan Adolf Hitler. Dia hanya ingin sekedar menjadi saksi hidup yang bebas, atas semua kejadian-kejadian besar pada paroh pertama abad ke dua puluh. Menyerukan tentang norma-norma orthodox, tentang nazi dan kejelekannya, tentang perang dunia ke dua yang menyebabkan kehancuran, kerusakan, dan tentang keberadaan masyarakat pasca perang dunia ke dua yang telah melupakan tragedy besar tersebut.

Oscar menginginkan untuk tetap hidup walaupun hanya menjadi orang-orang pinggiran, tetap ingin bisa mendengar, membaca dan memikirkan segala sesuatu, tidak mau melepas dan meninggalkan semuanya, Oscar punya gendang, dengan pekikan gendangnya dia mampu mengusik kenyataan, menghancurkan jendela kaca, menembus tembok besi, untuk membuktikan bahwa dialah satu-satunya orang yang mampu untuk menghancur leburkan fenomena-fenomena kepalsuan yang penuh dengan kebohongan, kemunafikan, kejahatan, kekerasan, kedzaliman dan penipuan.

Bagaikan Wiranggaleng dalam “Arus balik” nya Pramoedya, Oscar, seorang bocah dusun yang sederhana, protagonis dalam novel “Die Blechfrommel “ atau gendang kaleng, di lukiskan sebagai pahlawan super sakti yang dengan suara nyaring gendangnya Oscar berani menantang realita, menandingi badai suara bom yang memekakkan telinga, ia berusaha untuk mengubah sejarah menangkis ombak peluru, membalikkan arus senjata yang begitu dahsyat hanya dengan sebuah mainan yang terbuat dari kaleng. Mampukah Oscar untuk merealisasikan impiannya ?

Die Blechfrommel adalah salah satu di antara novel karya sastrawan besar Jerman Guenter Grass yang paling monumental, dengan keluesan bahasa yang mudah di cerna oleh para pembaca, dengan leksia sederhana yang tidak terlalu bombastis dengan stylistic khas yang menjanjikan tidak hanya keindahan melainkan juga keberartian, karena sesuatu yang indah hanya memberi kesan nilai indrawi, sedangkan yang berarti mengandung pengertian yang lebih luas, karena sastra yang paling baik adalah sastra yang berarti bagi seseorang, dengan plot yang lurus, dengan gaya epic yang menawan, dengan kisah realita sejarah yang faktual, Grass mampu menggugah hati Academi Swedia -yang sejak tahun 1901 telah memberikan hadiah nobel sastranya kepada para pujangga, sastrawan, seniman, atau novelis terbesar abad dua puluh, diantaranya: Bernard Shue, Thomas Man, Gabriel Garcia Markiz, Hemengaway, Heinrich Boell, Jean Paul Sartre, Naguib Mahfoudz dll- untuk menganugerahkan nobel sastra ‘99 kepadanya di penghujung abad dua puluh yang lalu.

Grass adalah sastrawan Jerman ke enam yang mendapatkan nobel sastra setelah penantiannya selama dua puluh tahun, “saya merasa akan tersenyum, saya telah menunggunya selama dua puluh tahun, dan ini yang menjadikanku untuk selalu merawat semangat dan jiwa mudaku, sekarang usiaku kembali seperti semula” tutur Grass yang hanya mengenal sastra arab lewat Naguib Mahfoudz. Sebenarnya dunia sastra Eropa merasa kecewa atas keterlambatan Academi nobel Swedia yang memandang sebelah mata karya-karya besar Grass, dan atas hibaan nobelnya yang telah usang, padahal Grass patut mendapatkannya dua puluh tahunan yang lalu. Tapi walau bagaimanapun Grass tetaplah seorang penyair sekaligus novelis terbesar yang pernah Jerman miliki.

Grass di lahirkan pada tanggal 16 oktober 1927 di Danzig daerah perbatasan antara Jerman dan Polandia, (sekarang masuk walayah kekuasaan Polandia) blasteran dari seorang bapak jerman dan ibu polandia. Pada tahun 1944 Grass yang baru berusia 17 tahun di panggil oleh pemerintahan Hitler untuk melaksanakan wajib militer, yang mengakibatkan Grass tidak bisa menamatkan sekolah menengahnya demi memanggul senjata tuk mendengar jerit ketakutan, menghirup asap kematian dan melihat mayat-mayat berserakan pada perang dunia ke dua, Grass terluka dalam perang tahun 1945, dan dalam tahun itu juga Grass jatuh di tangan orang-orang America sebagai tawanan perang di Chekoslovakia, kemudian di penjara di Amerika dan di bebaskan pada tahun 1946.

Setelah menyelesaikan wajib militernya Grass mulai hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lainnya, berbagai pekerjaan ia lakukan mulai dari cocok tanam, pertambangan, menebang kayu sampai menjual koran, menulis puisi, cerita dll, kemudian pada tahun 1948 Grass masuk Akademi seni di Berlin barat dan memperdalaminya di Dusseldorf.

Grass mulai meniti karirnya bergelut dengan kata-kata ketika ia berusia dua puluh tujuh tahun tepatnya pada tahun 1954, itu terjadi ketika salah satu siaran Jerman mengadakan lomba baca syair, dan ini di jadikan ajang percobaan oleh Grass untuk menciptakan lirik-lirik syairnya. Tak di nyana tak di duga Grass mampu melewati jalan yang berkerikilkan pujangga-pujangga senior dan sanggup menerobos tembok yang berpagarkan sastrawan-sastrawan kawakan, untuk membuktikan kwalitasnya, sehingga mendapatkan juara ke tiga, mulai detik itu Grass di angkat menjadi anggota “Kelompok 47” yang telah melahirkan seniman dan sastrawan besar Jerman lainnya, antara lain Ilse Aichinger, Heinrich Boell – sastrawan ke lima Jerman yang meraih nobel sastra sebelum Grass- Guenter Grass sendiri dan seniman-seniman lainnya. “Kelompok 47” terdiri dari empat puluh tujuh sastrawan-sastrawati muda yang sedang mengkaji masa depan kesusastraan Jerman setelah hancurnya bahasa dan rusaknya sastra Jerman pada pemerintahan Nazi, Hitler.

Selang dua tahun kemudian (1956) Grass mencetak dan mempublikasikan kumpulan syair perdananya “Die Vorzuege der Windhuehner”. Dalam lirik-liriknya pembaca tidak akan menemukan sesuatu yang lembut, halus bahkan harmonis, juga tidak akan pernah mendengarkan kicauan burung yang sedang bercanda tawa di musim semi, gaya bahasa dalam syair-syair Grass sangat sederhana sekali dan tidak berliku-liku, tetapi berorientasi pada kehidupan sehari-hari dan berinteraksi dengan realita, semuanya ia lakukan dengan kesadaran dan keterus terangan. Begitu juga Grass tidak akan membawa kita terbang ke lautan angkasa bersama pikiran mulia. “Saya adalah orang yang selalu ragu terhadap sesuatu yang belum pernah kusentuh dengan jari jemariku, terhadap sesuatu yang belum pernah kucium dan kurasa, terhadap sesuatu yang tidak lain hanya sekedar pemikiran”. Ungkapan ini bisa kita buktikan pada liriknya yang menceriterakan “Diana” tuhan pemburu menurut orang Romawi kuno, Grass mengatakan:

-Saya selamanya menolak

-mengizinkan pemikiran yang tidak mempunyai bayangan

-untuk melukai jiwa ragaku yang penuh dengan bayangan.

Pada pertengahan lima puluhan Grass mengunjungi berbagai negara eropa, di antaranya Italia, Spanyol dan Prancis, di negara terakhir inilah Grass menetap, bekerja sebagai penulis dan pengukir. Di Paris, Grass sebagai novelis besar mulai menulis meesterwerken nya “Die Blechfrommel” dan di terbitkan pada tahun 1959, yang mengakibatkan geger besar di Jerman, di sebabkan metode stilistik representasinya terhadap nazi, -walaupun Grass sendiri adalah pentolan serdadu nazi- dan membangkitkan pertentangan antara orang-orang yang pro dan kontra terhadapnya, dalam novelnya itu Grass banyak mendapat hujatan dari berbagai partai konservatif dan pihak gereja, karena guratan penanya yang menggelitik dimana Grass mengungkapkan tentang berbagai rahasia, skandal dan mithos mereka dengan gaya epic sarkastis tanpa terlalu banyak alegori dan parabel, bahkan usut punya usut ternyata karya-karya Grass yang berjiwa reformis juga ikut berperan dalam membangkitkan semangat rakyat Jerman untuk meruntuhkan tembok bersejarah, Berlin.

Perlu di catat, bahwa gendang kaleng tersebut lebih pantas untuk di sebut autobiografi dari pada novel, karena kalau kita tengok, kita akan menemukan bahwa pemeran utama dalam cerita itu (Oscar) adalah sang narator yang menceritakan kisahnya sendiri; pusat pengisahan ini biasanya di sebut metode orang pertama (metode aku atau Ich-Erzahlung) dalam hal ini Grass memakai metode “aku sertaan”, di mana Grass menceritakan pengalamannya sendiri dengan menyebut tokoh utama sebagai aku. Jadi dalam novel tersebut Grass ber-aku mengisahkan dirinya sendiri. Dan acap kali Grass menceritakan dirinya dengan menggunakan orang kedua, terkadang sebagai orang ketiga.

Tak kalah dari trilogi hikmah abadinya pujangga besar arab Kahlil Gibran (Sang Nabi,Taman Sang Nabi dan Suara Sang Guru), adalah novel Die Blechfrommel (1959) bagian pertama dari trilogi Grass yang akan terkenal dengan “Trilogi Danzig”, yang ia ciptakan di Paris, telah membuktikan kapasitasnya sebagai novelis brilian, di situ kita akan tahu grandeur Grass sebagai novelis yang mampu menggabungkan antara seni narasi dan nostalgia. Bagian kedua berjudul Kats und Maus atau tikus dan kucing (1961) yang sedikit banyak telah mempengaruhi sastrawan-sastrawan Mesir untuk menuduh seorang novelisnya Fathi Ghonim sebagai plagiator dalam novelnya dengan judul yang sama “kucing dan tikus dalam kereta” (1995). Ala kulli haal karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya, karya sastra merupakan respon, jawaban atau resepsi terhadap karya sastra sebelumnya (Riffaterre}. Dalam hal ini K&T nya F.Ghonim dapat di sebut sebagai karya sastra yang mentransformasikan K&T nya Grass sebagai hipogram nya atau karya sastra yang menjadi latar belakang penciptaan, Julia Kristeva sendiri mengatakan bahwa setiap teks sastra itu merupakan mosaik kutipan-kutipan, penyerapan dan transformasi teks-teks lain. Dan yang terakhir berjudul “Hundejahre” tahun-tahun sengsara (1963) di mana Grass mengkonsentrasikannya untuk mengutuk kebiadaban nazi pada perang dunia kedua, kedua novel terakhir dari triloginya ini ia ciptakan ketika ia kembali ke tanah kelahirannya, Danzig.

Dalam triloginya ini Grass menemukan -dalam otobiografinya dan perjalanan sejarah Jerman- materi novel yang sangat subur. Grass kembali menghidupkan dunia anak-anak dan remajanya kemudian melukiskan fase-fase tersebut. Fase pasca peperangan di sela-sela selamatnya penduduk Jerman Barat dan para kolonialis-kolonialis Jerman pada perang dunia kedua, ini adalah fase yang terkombinasi dalam keresahan kesusahan kesakitan dan kekrisisan yang selalu menjadi teman akrab masyarakat baik individu, keluarga, tua atau muda, mereka melontarkan banyak pertanyaan untuk mereka sendiri ” Apa yang telah kita perbuat dan apa yang akan kita buat ?”.

Sebenarnya Grass adalah seorang penyair sebelum menjadi novelis, ia mulai masuk ke rumah sastra lewat pintu puisi bukan lewat pagar novel, kisah atau cerpenpan, ini terbukti lewat peluncuran kumpulan syair perdananya (1956), setelah itu baru Grass mulai menggeluti alam novel lewat (DB) nya. Bahkan mayoritas rakyat Jerman yakin bahwa Grass akan menghabiskan sisa hidupnya untuk menekuni dunia barunya itu. Tapi sayang hipotesa mereka kurang tepat, karena Grass bukanlah type orang yang mudah puas dengan satu bidang, justru malah sebaliknya Grass mulai menekuni berbagai bidang sastra lainnya untuk mengungkapkan jiwa seninya, tidak hanya melalui kata-kata, tapi juga lewat seni lukis, seni rupa, ukir pahat, theatre dan lain-lain. Setahun kemudian setelah penulisan novel DB Grass kembali ke dunia lamanya untuk merampungkan kumpulan syairnya yang kedua berjudul “Gleisdreieck” (1960), kemudian pada tahun 1970 Grass menulis kumpulan syairnya yang ketiga “Ausgefragt” yang mayoritas berisikan syair-syair politik. Grass adalah seorang sastrawan Jerman yang paling kreatif dalam bidang politik, maka tidak aneh lagi seandainya dalam tulisan-tulisannya banyak sekali di temukan unsur-unsur politik, karena Grass tidak pernah berkhayal adanya dinding pemisah antara sastra dan politik serta masyarakat, dalam hal ini Grass terpengaruh oleh teori sastra Marxis dengan ide komunisnya yang bersemboyan “seni untuk rakyat” dan “politik sebagai panglima”.

Akhirnya hanya ada satu kata yang tertinggal, dengan kemenangan sastrawan besar Guenter Grass dalam meraih nobel sastra menjelang millenium ke tiga, kita berharap semoga kesepuluh jari tangan penerjemah kita mulai mengembang, untuk senantiasa siap menerjemahkan karya-karya besar sastrawan dunia, bukan hanya Kahlil Gibran saja yang hampir seluruh karyanya di terjemahkan ke dalam bahasa kita oleh yayasan bentang budaya, nun jauh di sana, di lembah nil, di menara Effiel, di patung Liberty, di negri Metador, di tembok Berlin, di negri beruang putih, ada ribuan bahkan jutaan karya-karya sastra yang belum sempat tersentuh apalagi terbaca oleh kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: