Hikmah Seorang Sahabat

Hari ini seorang sahabat datang padaku dengan membawa sekarung hikmah di berikan padaku.Hikmah kehidupan yang begitu indah.

Dia berkata:

Carilah pendamping hidup yang shaleh, jangan hanya yang alim

Karena orang alim belum tentu shaleh, sementara orang yang shaleh insyaAllah sudah alim.

Orang alim akan memberimu banyak ilmu, sementara orang sholeh akan mengajarimu beramal dengan ilmu.

Wasiat para guru dalam menjalani hidup yang utama adalah sabar.

Sabar dalam ta’lim, sabar dalam bermuamalah, sabar dalam beribadah.

Kata sabar memang mudah dan terlihat gamblang. Tetapi dalam mengamalkannya begitu rumit dan pelik.

Kesabaran menuntut kita berusaha keras mendalami ilmu yang kita pelajari dan yang belum kita mengerti bagaimanapun susah dan payahnya.

Kesabaran mengharuskan kita menahan segala amarah saat terdzalimi dalam bermu’amalah.

Kesabaran mendorong kita selalu taqwa ,taat, ikhlas dalam beribadah pada Rabb

Dengan sabar pula hidup menjadi nikmat, membetuk jiwa pema’af, ikhlas dan tawadu’. Dan semua itu tidaklah semudah saat ana menulis, memikir, mendengar, dan membayangkan nikmat kesabaran

Kesabaran itu kian rumit dan pelik saat kita dihadapkan pada kondisi nyata di mana nafsu kita berkeliaran ke sana kemari, bermain-main bersama syaithan. Sementara kita?

Kita malas berusaha keras untuk membelenggunya meski Allah membuka seribu jalan di hadapan kita.

…………………………………………………………….

Setelah mendapat hikmah-hikmah itu, akupun tersadar , betapa meruginya diriku.

Sahabatku itu, dia tak bersekolah selayaknya aku, dia tidak dapat menulis dengan benar, dia tidak dapat kesana kemari sebebas aku, kehidupan duniawinyapun masih di bawah orang tuaku,. Tapi.. Subhanallah… kesabarannya membuat semua kekurangan yang dipunyainya menjadi nikmat yang tak terkira. Ia mampu mendapatkan ilmu hikmah begitu besar, tausiah yang begitu menyentuh. Dia bukan seorang ustadzah (secara resmi) tapi bakat da’inya begitu nyata. Dia menyadarkanku betapa mursalnya aku sebagai ‘abdillah. Dia, dengan segala kehimpitan kondisi dapat begitu tawadu’nya dengan ilmunya. Sedangkan aku sering tak bersyukur atas nikmat yang begitu besar terpampang di hadapanku. Benar kata Nashihat…: Nikmat itu akan tampak bertambah jika kita mampu mensyukuri apa yang telah kita dapat bagaimanapun keadaannya.

Dan akupun sadar bahwa Ukhtiku itu seorang shalehah yang alim, sedangkan aku?….Wallahu a’lam

Astaghfirullahal’adhim..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: