MATI SYAHID!

Lonceng gereja dan klenteng kathedral telah berbunyi, menyambut datangnya ulang tahun, gaungnya telah beredar ke seluruh jiwa kota Roma seperti beredarnya roh kudus di seluruh tubuh para pendeta. Pada detik itu, di kota, turunlah seorang asing berjalan menuju Vatikan. Dengan penuh perhatian dia mendengarkan alunan irama kitab Injil yang menggema di seluruh jagat : (( … Sang perawan telah bunting dan melahirkan seorang bocah … dan memanggilnya dengan nama Yasu’a, karena dia akan menghapus ummatnya dari segala dosa …)). Suara organ melayang-layang terbawa oleh angin menembus kedua lubang telinganya seraya berdendang dengan senandung ” oratorio al-Masih ” nya Handle, dan ” oratorio kelahiran ” nya Johan Sabastian. Berbagai ayat yang bersifat agamis di nyanyikan, seluruhnya memuji kepada nabi ‘Isa yang datang untuk membawa kita menuju humanisme yang akan menghancurkan egoisme, malaikat cinta yang menyucikannya dari berbagai dosa.

Dan sampailah alunan Injil pada alinea ini : (( Berkatalah iblis padanya : seandainya memang benar kamu adalah putera Allah, maka katakanlah kepada batu ini supaya menjadi roti. Kemudian Yasu’a menjawabnya sambil berkata : sesungguhnya bukan hanya roti saja yang bisa memberikan kehidupan kepada manusia, bahkan, juga setiap kata yang keluar dari mulut Allah. Kemudian iblis membawanya ke gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkannya seluruh kerajaan dunia beserta kebesaran dan keagungannya, iblis berkata padanya : Saya akan memberikan semua ini kepadamu kalau kamu mau bersujud kepadaku. Ketika itu berkatalah Yasu’a padanya : pergilah wahai setan, semuanya sudah tertulis oleh tuhan, bahwa hanya pada tuhanmulah kamu bersujud, dan hanya padanyalah kamu

beribadah !… )).

Dari sinilah terdengar dengusan dari orang aneh tadi, dan dia berteriak di kedalaman hatinya : ” semoga mulai hari ini saya akan taat padanya !…”.

Orang asing tadi telah sampai ke istana “Paus”, dan seketika meminta utusan darinya, berdiri menghadang jalan orang tersebut bukan suatu perbuatan yang hina … kedua matanya menggambarkan kekuatan yang tak terhalang dan sesuatu yang tak tertolak. Tak ada satu orang pun yang mampu menghalangi jalannya, baik pendeta ataupun kardalah , Di depannya pintu telah di buka, masuklah dia dengan khusu’ sambil menundukkan mukanyamenuju kediaman kepala gereja.

Paus menutup matanya padanya, dan melihatnya dalam sosok lelaki, kemudian berkata dengan suara gemetar :

” Kamu !!.”

” Ya saya …”

” Apa yang kamu inginkan dariku ?.”

” Masuk dalam bimbingan iman.”

” Apa yang kamu katakan, hai laknat !!.”

Paus mengucapkannya dengan berbisik, seperti orang tenggelam dalam kebingungan, tetapi sang tamu yang aneh memotongnya dengan suara penuh kebenaran dan keihlasan yang membara, dia berkata :

” Saya masih berhak mendapatkan gelar tersebut …, oleh karena itu saya datang padamu untuk bertobat, celakalah saya seandainya anda mengabaikan atau meragukan perkataanku. Setiap sesuatu pasti ada akhirnya, pada suatu hari nanti saya harus melihat kebenaran dan harus kembali padanya, lazim bagiku untuk merindukan Allah dan meninggalkan perang panjang yang tidak ada manfaatnya, saya akan membuang sifat keras kepala dan durhaka, merasa muak sengan berbagai hidangan kejelekan serta mencoba mencicipi jamuan kabaikan. Yah …, ambillah dariku apa yang kalian inginkan, siksalah diriku dengan siksaan yang perih, jatuhkanlah padaku pembalasan yang pedih, tetapi demi tuhan alam semesta jangan halangi saya untuk mencicipi kebaikan barang sebentar. Apa rasanya sesuatu yang di namai oleh banyak orang dengan “kebaikan”, anda sekalian telah memilikinya dan sekarang mengekangnya dariku !?. Saya sudah hidup mulai dari zaman azali, ketika saya besar dan ketika saya takabbur, ketika saya abadi dan ketika saya sabar, ketika saya berkata bahwa sesuatu yang ada dalam tanganku adalah seluruh sesuatu, dan saya mencukupi dzatku dengan dzatku, saya tidak butuh pada sesuatu yang tidak saya miliki, dan kepada orang yang mengikutiku dalam genggaman kekuasaanku. Tidak ada seorang pun yang mengikutiku cuma hanya sebentar, rakyatku ada di mana-mana, bahkan sampai di sini di antara tembok itu, walaupun terdapat patung al-Masih dan salib. Tetapi berapa harga kekuasaan besar tersebut selagi saya merasa terhalang. Selamatkanlah aku dengan tuhanmu, cicipkanlah kebaikan padaku sekali saja kemudian lemparlah aku ke neraka jahim … Itulah ambisiku sekarang, menjadi salah satu dari pada orang-orang beriman, termasuk di antara orang-orang yang bergembira dengan datangnya saat-saat pembaptisan, sujud kepada tuhan bersenandung injil, bersorak dengan hari lahirnya al-Masih mengulang-ulang sabdanya menyanyikan perbuatannya. Wahai Paus, wahai wakil al-Masih. Saya datang dengan sungkem di kedua kakimu, supaya kau angkat diriku dengan kedua tanganmu, dan memasukkan aku dalam agama, dan akan memperlihatkan padaku anak-anak gereja yang baik dan ihlas.

Paus merasa kaget di singgasananya oleh tekanan suara yang panas dan jujur, tetapi dia tidak bisa menyudahinya.

” Kamu ?. Kamu iblis …, kamu sekarang ingin memeluk agama ?!.”

” Kenapa tidak ?. Bukannya dalam sabda al-Masih terdapat : ( Saya berkata : begitulah, langit akan lebih gembira di sebabkan oleh seorang yang berbuat maksiat kemudian bertaubat, dari pada sembilan puluh sembilan orang berbuat kebajikan yang tidak membutuhkan taubat ). Apakah al-Masih membedakan antara satu orang dengan lainnya?. Bukankah seluruh manusia mendapatkan jatah pengampunan yang sama?. Kenapa kalian semua menutup pintu taubat untukku?. Saya akan bertaubat. Masukkanlah aku dalam agamamu, dengarkanlah suara iman yang telah menyebar ke seluruh jiwaku!.

Paus termenung keheranan, pikirannya kalut dan semrawut, dia menjerit bagaikan orang yang berbicara pada dirinya sendiri : ( Tidak … tidak … saya tidak sanggup untuk melakukan itu …)

Ketika itu organ sedang mengalunkan lagu “almis” untuk paus Marcelius dengan irama musik lama “Palestrina” khayalan paus telah naik di atas sayap-sayapnya untuk siap terbang menuju cakrawala pemikiran : Seandainya iblis beriman, maka bagaimana jadinya nanti keagungan gereja setelah hari ini? bagaimana masa depan vatikan beserta museum, persembahan dan peninggalan-peningalan agamanya? Seluruhnya akan kehilangan makna beserta keindahannya. Gereja “Sikstin” yang di hiasi oleh lukisan-lukisan Michael Angelo tentang “dosa Hawa”, “para nabi”, “taufan”, papan-papan aula dan istana dari bulu Rafael tentang “penciptaan Allah”, “keluar dari firdaus”, dan “pembaptisan al-Masih”… Iblis adalah pokok pembahasan kitab suci dengan dua perjanjiannya yang lama dan baru. Bagaimana semuanya akan di hapus, tanpa menghilangkan seluruh gambaran, mithos, dan makna yang mendekam dalam hati orang-orang yang beriman, dan menghancurkan hayalan mereka ?. Apa artinya hari perhitungan “yaum al-hisab” seandainya kejelekan di hapus dari muka bumi?. Apakah para sahabat syetan yang mengikutinya sebelum dia beriman akan mendapatkan siksaan, ataukah akan di lebur seluruh perbuatan jeleknya, seandainya taubat iblis di terima?. Kemudian bagaimana perjalanan dunia yang sunyi akan kejahatan ?. Apakah peperangan ini yang menjadikan eropa masehi dengan julukan ratu manusia ?. Apakah persaingan rohani dan berbagai konflik hati dan materi ini yang di mana kehangatan pemikiran dan cahaya ilmu telah menyulutkan pergesekannya ?!. Tidak … Masalahnya sangat krusial sekali. Paus tidakmempunyai hak untuk memisahkannya. Menghancurkan kejelekan dan memisahkannya dari dunia, akan mendatangkan geger yang tidak bisa di tentukan waktunya.

Paus mengangkat mukanya, dan menengok iblis dengan pusing dan sumpek :

” Kenapa kamu datang padaku, bukan pada orang lain ?. Mengapa kamu memilih kristen, bukan agama yang lain ?.”

” Peringatan hari lahirnya ‘Isa al-Masih inilah yang mengingatkanku dan mengilhamiku.”

” Dengarkan saya wahai … saya tak tahu harus memanggilmu dengan apa ? Apakah kamu melihat ? sampai namamu setelah kau bertaubat akan membikin masalah !. Tidak ! gereja akan menolak permintaanmu, pergilah kalau kau mau pada agama lain.”

Lantas pergilah dia.

* * *

Syetan keluar dari vatikan tanpa hasil, akan tetapi dia tidak kehilangan harapan, dia yakin bahwa pintu Allah sangat banyak, maka hendaklah dia menuju pintu lain. Dan menghadaplah dia kepada Hakham yahudi.

Presiden Israel menerimanya sebagaimana pemuka kristen menerimanya dan mendengarkan tentang cita-citanya, kemudian menoleh padanya dan berkata :

” Kamu ingin menjadi orang Yahudi ?.”

” Aku ingin dekat dengan Allah.”

Ha kham memikirkan perkataannya sejenak. Seandainya Allah mengampuni iblis dan menghapuskan kejahatan dari muka bumi, maka apa jadinya pengistimewaan antara satu umat dan umat lainnya ? bani Israel adalah umat Allah pilihan. Setelah hari ini tak ada lagi justifikasi tentang keterpilihan mereka atas lainnya, tak akan ada lagi keistimewaan mereka atas lainnya. Sampai penguasaan modal mereka mulai dari berbagai generasi akan lenyap sudah dari tangan mereka, bersamaan dengan perginya kejahatan dari hati, dan hilangnya keserakahan, ketamakan, serta hancurnya bakhil kikir dan egoisme. Imannya iblis akan merobah kemurnian suprioritas yahudi, dan membinasakan keluhuran anak cucu Israil.

Dan Ha kham mengangkat mukanya, sembari berkata dengan tekanan suara mengejek :

” Misionaris bukanlah kebiasaan kami, dan antusias dengan masuknya orang lain dalam agama kami, walaupun hanya seorang iblis ! pergilah ke agama lain ….

* * *

Keluarlah Iblis dengan kegagalan dan kerendahan,tetapi dia tidak putus asa, di depannya masih ada pintu : yaitu agama Islam.

Dan sang Iblis langsung menuju Syekh al-Azhar.

Syekh al-Azhar menyambutnya, mendengarkan perkatan iblis dan usahanya. Kemudian dia melihat dan berkata padanya :

” Berimannya syetan ?!. Usaha bagus, akan tetapi …”

” Apa ? Bukankah manusia berhak untuk berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah ?. Bukankah dalam al-Qur’an yang mulia termaktub ayat-ayat : “Bertasbihlah dengan memuji tuhanmu dan minta ampunlah padaNya, karena tuhan maha pengampun” ? Inilah aku, bertasbih dengan memujiNya dan minta ampun padaNya, aku ingin masuk dalam agamanya yang murni dengan hati ihlas, ingin masuk Islam dan memperbaiki Islamku, dan ingin menjadi panutan yang baik bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk !.”

Dan syekh al-Azhar memikirkan akibatnya, seandainya syetan masuk Islam, maka bagaimana al-Quran akan di baca ? Apakah manusia akan tetap memulainya dengan bacaan “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”?! Seandainya di tetapkan tentang pembatalan kata-kata tersebut, maka mau tidak mau harus di ikuti dengan pembatalan ayat-ayat al-Quran dalam jumlah besar. Karena pelaknatan terhadap syetan, waspada dari amal perbuatannya serta godaan dan bujuk rayunya memakan proporsi yang sangat banyak sekali dalam kitab suci tersebut.

Bagaimana mampu syekh al-Azhar untukmenerima Islamnya setan tanpa menyentuh norma-norma agama dan eksistensi Islam itu sendiri secara keseluruhan ?!.

Syekj al-Azhar mengangkat mukanya dan menatapIblis sembari berkata :

” Kamu datang padaku membawa masalah yang tidak bisa kuterima. Ini adalah sesuatu di atas kekuasaanku, dan lebih tinggi dari kemampuanku, dalam tanganku tidak ada sesuatu yang kau minta, dan saya sebenarnya bukanlah arah yang kau tuju untuk memecahkan masalah ini.”

” Jadi siapakah yang harus kutuju ? bukankah kamu semua pemimpin agama?. Jadi bagaimana aku harus sampai pada Allah ? bukankah setiap orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah akan melakukan itu semua ?!.”

” ya …, tetapi kamu tidak sama seperti orang-orang lain.”

” Kenapa ?. Aku tidak ingin mengistimewakan diriku dari orang lain, aku tidak ingin langsung naik ke langit, bercengkerama dengan para malaikat dan menghadap para nabi … aku mampu untuk melakukan itu semua, tetapi aku menahan kekuasaanku dan mengekang kebanggaan diriku. Aku tidak ingin mengetuk pintu langit dengan gada seperti halnya para malaikat melakukannya. Walaupun terhadap malaikat kejelekan … aku tidak mau menggoncangkan langit dengan pekikanku, dan mengetarkan ketinggiannya dengan teriakanku, kusarungkan pedangku dan kuserahkan senjataku, dan aku tunduk seperti tunduknya mahkota terhadap mahkota… akan tetapi kuingin masukpintu agama sebagai orang miskin, aku akan merangkak di atas dengkulku dan kutaburkan mahkota kepalaku dengan debu kehinaan, mengharapkan petunjuk dan pengampunan dari pembaiatan, gereja dan mesjid, seperti permohonannya manusia hina dan cucu adam yang lemah.”

Syekh al-Azhar termenung sekejap sembari menyingkap jenggotnya, kemudian berkata :

” Niat suci, tidak di ragukan lagi! … tetapi … walaupun begitu saya ingin berterus terang padamu bahwa spesialisasiku adalah mengagungkan kalimat Islam, dan menjaga kebesaran al-Azhar, dan bukannya spesialisasiku untuk menaruh tanganku dalam tanganmu.”

” Terima kasih untukmu.”

***

Iblis mengatakannya dengan sedih dan rendah hati … dia keluar bersama dengan keputus asaan yang memenuhi hatinya … dia berjalan menyelusuri dunia dengan tanpa petunjuk, menatap kebebasan anak-anak yang menyebabkan hatinya semakin rindu akan kesucian dan kebebasan … dia melihat kabajikan dalam segala perbuatan orang-orang saleh, maka dia terbakar oleh kerinduan akan setiap kebaikan .. dan dia menyaksikan buah kebajikan, iman dan takwa, dan iman telah menghiasi di dalam hati orang-orang mukmin pilihan, ia bagaikan hidangan kedai arak … dimana sian mengulurkan tangan pendeknya yang tidak mampu untuk meraihnya, dan dia menatapnya dengan pandangan mabuk dan bingung … terhalang dari kebaikan … itu adalah siksaan besar yang telah menimpa setan.

Dan dia menjerit kesakitan, jeritannya telah menguak awan dan menembus langit … dia sudah tidak sabar lagi … kemudian hatinya bergetar sampai-sampai rohnya hampir keluar. Akhirnya dia memberanikan diri, dan naiklah dia ke langit.

Dengan kedua tangannya dia mengetuk pintu langit … dan memukul istananya … kebenarannya telah lenyap, bagaikan seorang pengemis yang berpuasa mengetuk pintu rumah demi sekepal makanan ketika petang hari.

Kemudian muncullah malaikat Jibril di hadapannya:

” Apa yang kamu inginkan?.”

” Taubat.”

” Sekarang?!.”

” Apakah aku datang terlambat?!.”

” Justru sebaliknya, kamu datang sebelum waktunya. Kamu tidak mempunyai waktu untuk merubah sistem yang sudah jadi … dan membalikkan sesuatu yang sudah tetap … pulanglah ke tempat asalmu, dan hiduplah di dunia sebagaimana mestinya.

” Kamu juga telah …? aaah … aku sudah tidak mampu lagi … cicipkanlah padaku rasanya kebaikan!.”

” Kebaikan di larang untukmu, hati-hati! jangan sampai kamu mengulurkan tanganmu padanya …”

” Pohon yang di haramkan?.”

” Awas! … ya … kamu tidak akan menemukan teman untuk melanggar perintah ini. Seperti halnya Hawa telah menemanimu sebelum ini … ketika mencicipkan kepada Adam rasanya pohon jahat ini!.

” Bukankah di sana ada cinta kasih dan pengampunan?!.”

” Cinta kasih dan pengampunan tidak memiliki kemampuan untuk menyentuh sistem pemerintahan tuhan.” mahluk

” Aku bukan lain kecuali mahluk hina.”

” Ya, akan tetapi hilangnya kamu dari dunia akan menyebabkan hilangnya tiang dan menggoncangkan tembok dunia, melenyapkan berbagai paras muka, menyampurkan pembagian-pembagian, meleburkan warna-warna, dan menghancurkan langit. Maka keutamaan tidak mempunyai arti tanpa adanya kerendahan, hakikat tanpa adanya kebatilan, kebaikan tanpa adanya kejelekan, putih tanpa adanya hitam, cahaya tanpa adanya kegelapan, juga kebajikan tidak mempunyai makna tanpa adanya kejahatan, bahkan manusia tidak akan melihat cahaya Allah kecuali dari kegelapanmu. Keberadaanmu di dunia merupakan keharusan, selagi dunia masih tetap rendah terhadap sifat-sifat luhur yang di telah di sempurnakan oleh Allah atas manusia!.”

” Keberadaanku adalah keharusan demi adanya kebajikan itu sendiri?!. Diriku yang gelap akan selamanya harus begini demi mencerminkan cahaya Allah!. Aku rela terhadap nasibku yang di benci demi utuhnya kebajikan dan demi kesucian Allah … Akan tetapi … Apakah siksaan akan tetap mengikutiku dan laknat akan senantiasa menyertai namaku, sekalipun hatiku menyimpan niat baik dan suara hati yang mulia?!.”

” Ya kamu harus tetap di laknat sampai akhir zaman … Ketika laknat lenyap darimu maka hilanglah seluruh sesuatu …”

” PengampunanMu wahai tuhanku!. Kenapa kumenyandang kerendahan ini, kenapa aku di takdirkan begini? Kenapa sekarang Kau tidak menjadikanku sebagai malaikat sederhana dari beberapa malaikatMu, yang di perbolehkan padanya untuk mencintaiMu dan mencintai cahayaMu, dan di beri pahala atas cinta tersebut dengan kasih sayang dariMu dan pujian dari manusia? Inilah aku yang mencintaiMu dengan cinta tiada tara dan tidak ada bandingannya. Cinta penuh pengorbanan yang tidak bakal di temui oleh para malaikat dan tidak pernah di ketahui oleh para manusia. Cinta yang mengharuskanku menerima untuk mengenakan pakaian kemaksiatan padaMu, dan menampakkan diri dalam pakaian seorang pembangkang kepadaMu, cinta yang mewajibkanku untuk menanggung seluruh laknatMu dan laknat manusia. Cinta yang tidak di perbolehkan padaku untuk mempropagandakannya, dan tidak di perkenankan padaku untuk menisbatkannya. Cinta yang seandainya para ahli ibadah menyembunyikan cahaya di dadanya … dan aku akan merahasiakannya, akan tetapi cahayanya menolak untuk mendekati dadaku.”

Dan sang Iblis menangis …”

” Ketika itu air matanya berjatuihan menghujani bumi, bukan tetesan air hujan, melainkan gumpalan-gumpalan meteor hitam!.”

Kemudian cepat-cepat Jibril mendiamkannya.

” Sudah!. Sudah!. Air matamu berjatuhan tanpa mendapat hidayah dari tuhanMu di atas kepala-kepala manusia tak berdosa!.”

Kemudian Iblis diam seketika itu dan berkata dengan hati pedih bagaikan orang yang berbicara pada dirinya sendiri:

” Ya … Sampai cucuran air matakupun merupakan bencana!.”

Dengan tabah dan sabar dia usapi air matanya … Dan Jibril berkata dengan bahasa agak lembut:

Genggamlah nasibmu, laksanakanlah kewajibanmu, dan teruskanlah pekerjaanmu, jangan tergesa-gesa jangan menaruh iba dan jangan memberontak.”

” Memberontak?. Seandainya aku ingin berontak, memang benar aku telah berontak, berbuat maksiat, keluar dari aturan, dan aku telah membangkang hanya dengan berdiri diam tidak melaksanakan perintah dan pekerjaanku walau hanya sebentar, dan dengan penolakanku untuk menyebarkan kejahatan barang sekejap maka dunia sekarang, wahai Jibril!, akan seperti apa yang kau katakan tadi:

Hancurnya sangga alam, goncangnya tembok dunia, akan tetapi aku cinta bukannya aku berontak. Dan cintaku yang hanya kucurahkan kepadaNya adalah rahasia koherensi dalam struktur duniaNya! dan rahasia berbagai kordinasi dalam sitem perundang-undangNya!.”

” Sudah! … Dengarkan nasehatku, kembalilah pada pekerjaanmu.”

” Aku akan kembali berselimutkan beban laknakku, tanpa kuketahui kapan aku akan melepaskannya?.”

Para aktor di dunia terkadang memainkan berbagai peran lacut dan khianat. Merreka tahu bahwa dengan melepaskannya barang sebentar, mereka akan kembali menjadi orang suci dan mulia. Dan Iblis telah menjawabnya dengan ungkapan …. Kalau aku? …

” Turunlah ke bumi dan bersabarlah … Barang siapa cinta maka harus bersabar!.”

” Aku telah banyak melakukan lebih dari kesabaran … Sesungguhnya barang siapa orang yang meninggal dalam peperangan demi membela Allah, maka Allah akan memasukkannya dalam golongannya orang yang mati syahid … Dan aku telah banyak bersabar untuk menuju jalan kematian … Semoga ia adalah peperangan, semoga ia adalah kematian, kuberharap semoga aku termasuk dalam pasukannya.”

Aku harus hidup untuk berduhaka kepada dzat yang kucintai!… Berkali-kali aku membenci dan melaknati diriku dalam setiap kesempatan. Aku tidak mampu untuk mati, sampai untuk membunuh diri atau berperang untuk mati dalam membela agama Allah pun aku tetap tak bisa mati!. Akan tetapi aku menempatkan jiwaku dalam barisan kebencian dan warna warni kemarahan yang lebih parah dari kematian. Bersamaan dengan itu aku tidak mempunyai daya untuk meminta rahmat, memohon pengampunan, dan mengharap untuk berjalan dalam barisan tentara tuhan.

Jibril dengan sekilas menatap tetesan-tetesan yang mengalir dan bercucur dari kedua mata Iblis, kemudian mendahuluinya untuk berkata:

” Jangan menangis, … jangan menangis!… jangan lupa bahwa linangan air matamu adalah bencana, dan tertawamu juga akan menimbulkan bencana. Jangan terlalu banyak emosi, kasihan sama manusia … Pergil dan bersabarlah, jangan lupa kerjakanlah kewajibanmu.”

Iblis terdiam dalam kebisuan, dan berpikir panjang kemudian akhirnya bergerak dan berkata dengan berbisik:

” Kamu benar!…”

* * *

Dan Iblis meninggalkan langit sambil menunduk, turun kembali ke dunia dengan pasrah , akan tetapi nafas panjang yang tersembunyi telah keluar dari dadanya selagi dia menembus ruang angkasa, bintang-bintang dan meteor berputar-putar mengelilinginya, seperti berkumpul bersamanya dalam satu waktu untuk melantunkan jeritan berdarah:

” Aku mati syahid!… aku mati syahid!…”

TUKANG POS

Aku menemukan di tepi laut, seorang aneh yang membawa tas seperti tasnya para pegawai jawatan pos. Setiap sesuatu yang ada padanya menggambarkan suatu kemalasan kesantaian dan kebodohan … Sampai tatapaannya pun kosong menatap angkasa, sebuah tatapan orang bingung dan lemah … Dan duduknya pun bagaikan seorang malas yang capai dan bosan kepada dunia dan dirinya sendiri … Aku membayangkan bahwa dalam kamus orang tersebut tidak terdapat kata-kata yang bermacam-macam kecuali hanya kata hus!.

Aku mencoba untuk mendekatinya dan berkata padanya dengan halus:

” Kalau aku tidak salah, kamu adalah tukang pos yang sedang libur kerja?.”

” Apa?…, libur!.”

Dia mengucapkan itu tanpa menoleh padaku dan dalam kondisi agak tertawa marah yang tersembunyi, kemudian aku berkata padanya:

” Kenapa tidak? Bukankah kamu berhak untuk mendapatkan libur mingguan.”

” Aku tidak pernah memperoleh hari libur barang sehari pun selama hidupku.”

” Yah …,tukang pos yang malang! Apakah tidak ada peraturan untuk hari libur?!.”

” Jawatan posku tidak mengenal libur, tuan!.”

” Apa yang kamu katakan?!.”

” Coba bayangkan, tuan, setiap hari aku bangun pagi bersama burung dan di sertai mentari pagi, aku bawa tasku yang menganga penuh dengan surat-surat sebanyak pasir-pasir ini, setiap orang di atas dunia mempunyai mendapatkan surat …

Aku harus keliling ke segala penjuru untuk memberikan kepada setiap orang satu surat … dengan adil dan jujur … sampai terbenamnya mentari … dengan habisnya hari tasku harus bersih tanpa isi untuk kemudian akan terisi penuh kembali pada hari selanjutnya dengan surat-surat yang baru lainnya … yang harus di bagikan satu-satu kepada setiap manusia … juga dengan adil dan jujur pula, dan begitulah seterusnya. Tidak ada hari selesai, tidak ada manusia mati, tidak ada tas tak berisi, dan tidak ada sesuatu yang basi selain kesabaran hati … akan tetapi apa dayaku?. Aku harus bekerja, kalau tidak maka pekerjaanku akan menumpuk, kalau begitu aku akan menmukan kesulitan yang tidak ada jalan keluarnya.”

” Heran …!. Apakah ada tukang pos selainmu?!.”

” Tidak ada … Cuma aku satu-satunya.”

” Apakah itu keteledoran atau administrasi yang kurang sempurna?!.”

” Aku tidak tahu. Sering kali aku merasa tersiksa akibat terlalu banyak bekerja… sampai-sampai jeritanku melayang menggema di udara. Akhirnya kamu lihat sendiri bagaimana keadaanku yang selalu bertawakal.”

” Apakah mungkin kamu membagikan semua surat ini selesai dalam satu hari?!.”

” Aku hanya membagikannya saja, tidak ada satu orang pun yang menuntut lebih di luar kemampuanku … dan aku tidak melihat satu orang pun yang menegur atas kesalahan yang telah kulakukan … yang penting aku tidak pulang dengan membawa satu surat pun dalam tasku.”

Tukang pos mengatakan itu sembari membuka tasnya … seakan-akan dia ingat ada sesuatu di dalamnya … Ternyata benar, aku melihat surat-surat tersebut sangat banyak sekali … kemudian aku berkata padanya dengan gemetar:

” Kapan kamu membagikan semua ini sedangkan sekarang hari menjelang siang?!.”

” Jangan kuatir … aku akan melakukan apa telah kulakukan setiap harinya.”

Dan dia mengulurkan tangannya kepada para nelayan di dekat kami yang mulai dari pagi tadi tidak mendapatkan apa-apa … kemudian dia memasukkan ke dalam kantongnya berpuluh-puluh surat … tiba-tiba jaringnya menyangkut sesuatu, ketika ia menariknya keluarlah sosok rejeki berupa ikan yang menjadikannya bingung campur aneh, ia melompat-lompat kegirangan, sedangkan di kejauhan sana terdapat rombongan nelayan yang berusaha keras mencari rejekinya dari kedalaman laut.

Ku katakan kepada tukang pos temanku:

” Dan mereka.”

Kemudian sia melihat mereka dan berkata dengan jemu:

” Mereka jauh dariku … seperti yang telah ku katakan padamu, aku sangat lelah … tidak ada sesuatu yang memaksaku untuk mendatangi mereka satu persatu agar memberikan surat kepada mereka, aku telah memberikan surat-surat mereka kepada nelayan disamping kita ini!?.”

” Apakah kamu selalu membagikannya dengan cara seperti itu?!.”

” Pasti … Bukankah aku orang gila seandainya aku menyiksa sendi tulangku dan memotong nafasku hanya untuk berjalan berkeliling ke setiap pelosok?!. Aku berikan kepada orang-orang yang kutemui, surat-surat mereka orang-orang yang tidak ku temui … dan aku bisa beristirahat dengan tenang di bawah lindungan Allah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: