Sekilas Syi’ah dan Sunnah

Syiah telah ada sejak zaman Rasulullah masih hidup. Kaum Tasayyu yaitu kaum yang gandrung pada kepemim-pinan Ali bin Abi Thalib. Akar kata Syiah sendiri kemungkinan berasal dari kata Tasayyu tsb. Menganut pola kepemimpinan berdasarkan jalur/nasab ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW).

Sunnah muncul pada zaman tabiit-tabiin dimana ada keinginan untuk menjaga sunnah-sunnah Rasulullah SAW.  Menganut pola kepemimpinan berdasarkan musyawarah.

Perbedaan pola kepemimpinan menurut Syiah dan Sunnah
====================================================
1. Masalah pemilihan khalifah

Sunnah : Pemimpin/khalifah dipilih dengan musyawarah, dasarnya Qur’an surah Assyuura 42:
“…sedang urusan-urusan meraka diputuskan dengan musyawarah…”

Syiah : Pemimpin/Khalifah mengikuti wasiat Rasul SAW. Dasarnya peristiwa “Qadir Kum”.
Diriwayatkan bahwa ketika sakit menjelang wafatnya, Nabi SAW meminta utk diambilkan
kertas dan alat tulis namun dicegah oleh Umar dengan kata2 “tidak cukupkah KitabuLlah dan sunnah Rasul?”, sehingga Nabi
tidak jadi menulis. Oleh Syiah diyakini bahwa yang akan ditulis tsb adalah wasiat
bahwa khalifah selanjutnya adalah Ali kemudian Hasan/Husain dan seterusnya (dari ahlul bait).

Dalil untuk kepemimpinan berdasarkan jalur wasiat (Syiah) tidak ditemukan secara tersurat dalam ayat AlQur’an.

Beberapa ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan menurut penafsiran para ulama mufassir Syiah kemudian digunakan sebagai dalil kebenaran Syiah.

Hal ini dikuatkan pula dengan hadis Nabi SAW yang mashur dengan sanad yang hampir sama namun berbeda di akhirnya pada versi syiah:

Bahwasannya Nabi SAW telah bersabda: “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat selamanya,…”

lanjutannya:

Versi Sunnah : “…yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
Versi Syi’ah : “…yaitu Al-Qur’an dan Ahlul bait.”

2. Masalah ke”maksum”an (maksum = suci dari dosa dan
kesalahan)

Sunnah : Hanya Rasulullah SAW sajalah yang bersifat
maksum.

Syiah : Rasulullah adalah nabi terakhir yang mak-
sum. Selain dari Rasul, ke-12 imam Syi’ah
juga diyakini maksum. Kata-kata mereka
adalah haq (pasti benar) adanya.

Syiah memiliki 12 orang pemimpin/imam sejak Rasul
SAW, Ali, Hasan, Husain dst sampai akhir zaman,
yang diambil dari jalur ahlul bait.

Imam ke-12 (terakhir) bernama Ali Al-Mahdi (Imam
Mahdi) diyakini “gaib” (tidak diketahui keberada-
annya) dan akan muncul menjelang akhir zaman untuk
mengembalikan kejayaan Islam.

Periwayatan hadis menurut Sunnah dan Syi’ah
===========================================

Sunnah : Hanya perkataan Rasulullah yang bisa
dianggap sunnah.

Syi’ah : Sebagai konsekuensi “maksum”nya para imam
syiah maka yang dianggap hadis tidak hanya
perkataan Rasul tetapi termasuk pula per-
kataan Ali, Hasan, Husain dan imam2 syiah
lainnya.

Kata “syiah” tidak dapat ditemukan dalam Al-Qur’an,
oleh karenanya pembenaran syiah dimulai dari hadis.
Muncul dua jalur periwayatan yang berbeda.

Beberapa sahabat Rasul yang mashur sebagai perawi
hadis dari jalur sunnah, dinafikkan/tidak dipercaya
oleh jalur perawi syiah, misalnya Umar Ibn Khattab
dan Abu Hurairah.

Banyak hadis syiah yang meriwayatkan sisi-sisi
negatif dari sahabat selain Ali, walaupun sebenar-
nya wajar terjadi dan menunjukkan sifat manusia
para sahabat (tdk maksum). Sebaliknya sulit/tidak
mungkin menemukan cacat pada figur Ali.

Beberapa hadis dari jalur sunnah menceritakan pula
kelemahan Ali yang menunjukkan bahwa ia bukanlah
seorang yang maksum.

Perbedaan cara menetapkan hukum/fiqh Syiah dan Sunnah
=====================================================

Sunnah : Dalam penetapan hukum berpegang pada
kesepakatan ulama, sehingga ada yang
disebut “ijma” (kesepakatan semua ulama)
“jumhur ulama” (kesepakatan sebagian
besar ulama) atau “tiga ulama bersepakat”
dll.

Syiah : Hukum ditentukan oleh imam. Konsekuensi
dari masih “gaib”nya imam Ali Al-Mahdi,
maka hak untuk menentukan suatu hukum di-
wakilkan ke “Marja'” yaitu salah seorang
Mullah (ulama syiah). Setiap orang syiah
memiliki satu orang Marja’yang dipilih
dan wajib untuk ditaati fatwanya, dan
tidak wajib baginya untuk mentaati fatwa
Marja’ selain Marja’ yang diikutinya.

Beberapa contoh perbedaan hukum/fiqh Syiah dan Sunnah
=====================================================

Sunnah : 1. Sholat 5 waktu.
2. Zakat diberikan pada golongan2 seperti
tersebut dalam Qur’an
3. Nikah mut’ah dilarang

Syiah : 1. Sholat hanya 3 waktu (digabung
zuhr+ashr,magrib+isya), dalilnya bahwa
di Qur’an secara eksplisit hanya di-
sebutkan 3 waktu solat. Dikuatkan dgn
beberapa hadis jalur syiah.
2. Zakat digunakan juga para Mullah syiah
yang menuntut ilmu.
3. Nikah mut’ah dibolehkan dengan alasan
hanya hadis dari Umar ibn Khattab
yang menyatakan nikah mut’ah telah
dilarang kembali oleh Nabi SAW, sedang
Umar tidak dapat dipercaya.

One Response to Sekilas Syi’ah dan Sunnah

  1. […] Maret 8, 2010 in Uncategorized Sekilas Syi’ah dan Sunnah […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: