Menjadi Manusia Unggul

oleh: Drs. Nasukha, MSc

Peneliti di Institute for Science and Technology Studies (ISTECS)


Belakangan, istilah unggul, walaupun barangkali seringkali subjektif sesuai dengan kriteria para penggagasnya, tengah ngetrend di kalangan masyarakat. Apakah itu berupa Riset Unggulan Terpadu (RUT), Riset Unggulan Terpadu Internasional (RUTI), Sekolah Unggulan, ataupun bibit unggul.

Namun, kalau kita mau lebih mencermati, dalam setiap penggunaan kata ‘unggul’ itu, selalu terselip makna ‘seleksi’ dan ‘kompetisi‘. Misalnya, untuk bisa masuk ke SMU Unggulan, tentunya seorang siswa harus memiliki NEM SLTP yang tinggi. Demikian juga untuk bisa terpilih dalam 10 besar RUTI atau diterima dalam program RUT, maka peneliti harus berkompetisi dengan semua proposal yang masuk. Artinya, sesuatu yang dianggap unggul harus telah melalui suatu proses ‘seleksi’, ‘kompetisi’ dan tahapan dengan kriteria-kriteria yang terukur. Karena tanpa hal itu, yang ada adalah ‘rekayasa’, ‘pemaksaan’ dan segala tindak unfair lainnya.

Hakikat unggul dan unggulan adalah sebuah ‘proses‘. Adalah sesuatu yang harus dijalani dan diikuti. Bukan sesuatu yang given jatuh dari langit atau diperoleh dengan cara by passing (tiba-tiba). Hal inilah yang melandasi Michael Hart dalam bukunya Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah memilih dan mengakui bahwa generasi sahabat Rasulullah Saw adalah generasi terbaik yang pernah ada dalam sejarah umat manusia (ukhrijat linnas). Mengapa bisa demikian? Tak lain karena keberhasilan Rasulullah dalam proses membentuk sebuah sosok masyarakat ideal, khalifatul fil ardy. Sebab itu, Muhammad Quthb mengatakan, sesungguhnya keunggulan itu dapat dibentuk. Namun bagaimana caranya?

Penelitian membuktikan, bahwa keunggulan seorang manusia ditentukan oleh banyak elemen kehidupan, terutama indra yang dimilikinya termasuk mata hati. Elemen kehidupan ini mempunyai peranan penting dalam proses pengamatan, investigasi, pendengaran, penelitian dan pengembangan diri. Dengan berfikir tentang alam semesta (atau dalam bahasa Al-Quran yatafakkaruna fi khalqissamawati wal ardy) maupun berzikir mengingat Allah (Yadzkuruunallah) secara maksimal dapat melahirkan manusia unggul dan unggulan.

Karena itu, kalau dulu para pakar psikologi menjadikan Kecerdasan Intelektual (IQ) sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai tingkat intelektualitas seseorang. Maka belakangan ada yang menambahkan Kecerdasan Emosional (EQ) sebagai ukuran keunggulan. Bahkan pada perkembangan terakhir, mereka menambahkan Kecerdasan Spiritual (SQ) sebagai tolak ukur yang memiliki andil besar dalam menuai kesuksesan dan keunggulan seseorang.

Penulis buku ESQ menggambarkan, bahwa seorang muslim yang telah bersyahadah -secara teoritis- tentunya telah memiliki mission statement (misi dan tekad) yang sangat tinggi. Karena dengan misi dan cita-cita itu, akan melahirkan motivasi dan harapan untuk mencapainya.

Bisa dibayangkan, ketika pada hati seorang muslim tertanam kokoh bahwa Allah tujuan dari segala tujuan hidupnya. Lalu melaksanakan shalat sebagai upaya formatting sekaligus character building (pembentukan sifat, sikap dan karakter diri). Kemudian ditambah training pada setiap bulan Ramadhan sebagai self controlling ( kontrol dan kendali diri). Maka, semestinya dalam kalangan muslim akan muncul generasi-generasi unggul yang mampu menghadapi segala macam tantangan zaman.

Belum lagi dengan ketersediaan networking (jaringan dan kepedulian) yang dibangun melalui zakat, yang merupakan sebuah strategic collaboration. Dan terakhir diformulasikan dalam total action (ketundukan dan kepasrahan dan rela berkorban demi sang Maha Agung) yakni suatu kerja terpadu dan mengglobal, yang diimplementasikan dalam ibadah haji. Maka lengkap sudah teori manajemen diri dalam islam.

Dengan gambaran seperti itu saja, sepertinya sudah cukup jelas bahwa keunggulan seorang muslim seharusnya terlihat dalam segala aspek kehidupan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya. Namun pertanyaannya, mengapa keunggulan itu tidak muncul pada generasi kita? Padahal syahadah telah kita ulang setiap hari, shalat sehari, puasa wajib sebulan dalam setahun, zakat terus mengalir, dan jutaan hujjaj bertawaf mengelilingi ka’bah tiada henti? Adakah yang hilang dari kita? Apa yang salah? Apakah dengan ketiadaan Rasulullah Saw bersama kita merupakan alasan yang sah untuk berkata ‘kita pantas kalah’?

Tentunya tidak. Karena ada satu makna yang tersembunyi dibalik kata unggul yang belum kita eksplorasi. Makna itu adalah kualitas. Karena akan selalu ada suatu batu uji empiris atas aktivitas ibadah mahdhah kita. Dan ini menentukan bagi timbangan kualitas kita. Apapun klaim kita atas Mission Statement, Character Building, Self Controlling, Networking, Strategic Collaboration, Total Action yang tersembunyi dibalik syahadah, shalat, puasa, zakat dan haji kita. Pada ghalibnya dia akan diuji pada wilayah public-empiris dimasa hidup dan kelak dialam akhirat. Termasuk juga ibadah ghairu mahdhah (ibadah sosial) yang profan.

Kedua terminal pengujian ini mempunyai kriteria yang sama, yakni kualitas dari sudut kebenarannya (itqanul amal) dan dari sudut keikhlasannya (ikhlasunniyah). Dimana yang satu berkaitan dengan ‘profesionalitas’ dan yang lain berkaitan dengan kemurnian komitmen kepada Allah yang Maha Pencipta. Perpaduan kedua energi inilah sebenarnya rahasia dibalik kata ‘unggul’ itu. Dan inilah yang pantas disebut sebagai energi spitual dan natural.

Dua hal itulah kata kunci dari terciptanya manusia unggul. Karena profesioalitas merupakan sunnatullah dalam memahami ayat-ayat kauniyah. Sedang keikhlasan adalah sunnatullah untuk memperoleh ridha-Nya. Pada kedua bagian inilah kita mesti bermuhasabah seberapa jauh komitmen kita pada kualitas amal dan hati. Karena inilah kunci keunggulan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: